Chapter 02
Suaranya seperti suara anak perempuan saja. Keringatnya masih mengucur, membasahi wajahnya yang bundar dan gemuk. Sim Tok Tojin mengawasi muridnya sejenak, lalu desisnya terdengar. "Keparat, aku telah kedahuluan!"
Sepasang mata bundar itu terbelalak keheranan, seakan tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya dari mulut gurunya tadi. "Ya... Lebih baik aku malam ini juga melakukan pengejaran!" Sim Tok Tojin segera menuju keluar. Wakil Ketua Perkumpulan Naga Terbang ini mengikuti gurunya keluar dari ruang perpustakaan.
Baru saja mereka sampai di depan pintu luar, Ketua Perkumpulan Naga Terbang muncul. "Supek, apakah ada benda berharga yang dicuri penjahat?" Setelah memberi hormat kepada Paman Gurunya, Ketua Naga Terbang Wu It bertanya serius. Tubuhnya yang tinggi besar dan wajahnya yang tampan penuh brewok itu menyembunyikan usianya yang telah lebih dari setengah abad. Sepasang mata Ketua Naga Terbang ini mencorong tajam ketika melihat wakilnya, yaitu Si Gendut Coa Sim Ok.
"Hemm, tidak ada barang yang dicuri! Coba kau periksa lagi lebih teliti, aku akan mencari orang yang berani mengganggu kumis harimau itu," jawab Sim Tok Tojin cepat. Sekali tubuhnya berkelebat, pendeta itu telah berada di taman. "Sute, bagaimana pendapatmu?" "Kelihatannya tidak ada yang hilang, Suheng. Begitu aku tiba di sini, Suhu telah memeriksa isi ruangan perpustakaan. Maaf, Suheng, aku ingin membantu Suhu mengejar penjahat." Tanpa menanti jawaban lagi, Coa Sim Ok berkelebat cepat menuju taman.
Para anak buah Naga Terbang mengubek taman sambil membawa obor di tangan. Keadaan malam itu terang seperti siang hari karena banyaknya obor yang menerangi taman itu. Akan tetapi, yang dicari ternyata tiada lagi. Orang berbaju hitam dan mengenakan topeng hitam itu lenyap begitu saja dari tempat tersebut, bagaikan ditelan bumi.
Benarkah demikian? Sebetulnya tidaklah demikian. Pada waktu Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie ini tiba di tengah taman dan menyelinap di balik pepohonan, ia segera mencari tempat rahasia yang telah diberitahukan kepadanya. Sepasang matanya yang tajam segera meneliti keadaan taman itu. Bagaikan asap hitam terbawa angin, tubuhnya melayang cepat menuju ke sudut taman yang penuh semak perdu karena tak terawat.
Dengan meraba-raba, tangannya mencari batu bundar di sudut taman. Begitu tangannya dapat memegang batu tersebut, segera saja tangannya memutar batu itu beberapa putaran ke kiri. Terdengar suara berderit pelan, dan tiba-tiba tembok dinding di depannya terbuka sedikit. Dengan miringkan tubuhnya, Liok Ing Gie menyelinap memasuki tembok. Tak berapa lama kemudian, tembok pun menutup seperti semula, seakan-akan tak pernah ada kejadian tembok itu membuka tutup.
"Bagaimana sekarang, Suhu?" tanya Coa Sim Ok lirih. "Diam kau! Jangan banyak omong, tahu! Pinto akan mengejar keparat itu sampai dapat. Biar dia lari sampai ke ujung langit sekalipun," bentak Sim Tok Tojin gemas. "Benar-benar iblis laknat sialan..." Sejenak Coa Sim Ok terdiam, akan tetapi tak berapa lama kemudian, orang bertubuh gendut ini berkata lagi. "Apakah Suhu tidak bercuriga ada orang dalam yang membocorkannya?"
"Hemmmmm..." Sim Tok Tojin berhenti mendadak, mendengar ucapan murid kesayangannya ini. Hampir sepuluh tahun pendeta ini meninggalkan muridnya bertapa di Pegunungan Himalaya. Begitu tiba di Perkampungan Naga Terbang, dia disambut muridnya ini dengan sebuah berita yang mengejutkan! Pendeta tua ini sambil mengelus-elus jenggotnya mendesis. "Mungkin benar juga dugaanmu, akan kuselidiki siapa orangnya itu?"
Setelah mencari-cari ke sana ke mari dan ternyata tidak melihat bayangan pencuri tersebut, Sim Tok Tojin diikuti Si Gendut Coa Sim Ok segera menuju pusat perumahan Naga Terbang. Begitu pendeta ini lewat di pintu gerbang, para penjaga segera memberi hormat. Tanpa mempedulikan penghormatan mereka lagi, kedua orang ini segera berkelebat cepat. Bagaikan dua bayangan setan berkeliaran, kedua orang itu sebentar hilang dari pandangan anak buah Naga Terbang.
Begitu jauh dari tempat itu, Sim Tok Tojin segera membisiki muridnya, memberitahukan siasatnya. Coa Sim Ok mengangguk-anggukkan kepala yang bundar seperti buah semangka, dan mulutnya tersenyum lebar. "Pinto pergi!" Tahu-tahu, tosu itu telah lenyap dari samping orang bertubuh gemuk bagaikan gentong tersebut. Bayangan abu-abu meluncur maju laksana meteor, cepatnya sehingga dalam waktu tak berapa lama kemudian lenyap di tikungan jalan.
Walaupun tubuhnya buntek pendek, namun ternyata dia memiliki gerakan yang gesit juga, sehingga sebentar saja Coa Sim Ok memasuki pusat Perkumpulan Naga Terbang. Segera dia mencari Hui-liong Pangcu untuk membantu kalau ada apa-apa yang perlu dibantu. "Bagaimana, Suheng? Apakah ada yang hilang?" Begitu tiba di ruangan dalam, dia bertanya. "Hemm, kukira tidak ada sesuatu yang hilang! Hanya dua orang murid kepala yang kedapatan telah tewas, dan dua orang lagi menderita luka dalam cukup parah."
"Ehhh, kenapa aku tidak melihatnya, ya. Di mana dua orang yang luka itu, Suheng?" "Dia dirawat kepala tabib di kamar samping." "Aku ingin menjenguknya, Suheng. Maaf, aku permisi dulu, Suheng." "Kalau Sute telah selesai, perintahkan perkuat penjagaan. Aku ingin mengaso dahulu!" "Baik, Suheng!" Hampir berbareng, kedua Ketua ini pergi meninggalkan ruangan.
Coa Sim Ok menggelundung ke samping kiri, menuju ruangan kerja Si Tabib yang sedang mengobati dua orang murid kepala Naga Terbang. Begitu memasuki ruangan, segera saja orang bertubuh gendut itu menanyai dua orang anak murid kepala Naga Terbang tersebut. "A Mau, siapakah yang melukai kalian? Bagaimanakah bentuk tubuh orang itu? Bersenjata apakah dia?" "Adduuhhhhh... Di... dia... berkedok... hi... tam... tu tu tu... buh... ting... gi... Aaaaaddu du duuuuuhhhhh... ped... ped... angg..." Dengan tersendat-sendat, A Mau menjawab, diseling dengan rintihan.
Mendengar jawaban murid kepala ini, Coa Sim Ok belum bisa menerima gambaran secara jelas, maka ia lalu kembali mendesak. "Tahukah kau dari aliran mana permainan pedangnya? Mungkin saja aku dapat menebak siapa dia kalau kau tahu aliran jurus-jurus silatnya." A Mau menarik napas panjang beberapa kali, setelah merasa dadanya agak mendingan, dia lalu menuturkan kejadian di malam itu ketika bersama dengan ketiga rekannya mencegat orang berpakaian serba hitam dan wajah yang tertutup kedok hitam pula itu.
"Teecu tidak bisa menduga dari aliran manakah ilmu pedangnya, Ji-Pangcu. Gerakannya terlalu cepat bagi teecu berempat, serta pencuri itu memiliki lweekang luar biasa kuatnya. Hanya dalam beberapa gebrakan saja teecu telah dirobohkan, malahan dua orang adik seperguruan teecu, A Sin dan A Sam, keburu tewas dengan dada berlubang terkena senjata pedangnya yang luar biasa gerakannya." "Jadi kalian tidak tahu sama sekali dari aliran mana dia?" Goblok, bodoh! Murid tiada guna!" Sambil mengumpat, Coa Sim Ok membalik dan meninggalkan ruangan itu.
Hatinya penuh kedongkolan karena belum juga dapat menduga siapa adanya orang berkedok serta berpakaian serba hitam tersebut. "Betul, betul sialan... Goblok semua! Menahan seorang maling saja tidak becus. Goblokkkkk..." Di tengah kesibukan para anak murid Perkumpulan Naga Terbang yang berjaga di segala sudut, dan Si Gendut yang mondar-mandir di ruangan tengah, jauh di bawah ruangan itu, di mana ada sebuah lorong rahasia membentang panjang dan penuh liku-liku, nampak sesosok bayangan hitam melangkah dengan hati-hati.
Sepasang matanya mengawasi jalan di depan penuh perhatian, dan pendengarannya yang tajam mendengarkan kalau-kalau mendengar suara yang mencurigakan, akan tetapi ternyata bahwa perjalanannya tidaklah mengalami hambatan sama sekali. Entah sudah berapa kali dia membelok dan menikung, naik turun di bebatuan goa bawah tanah yang menjadi jalan rahasia di Perkampungan Naga Terbang itu.
Sebentar-sebentar, orang berpakaian dan berkedok hitam yang bukan lain adalah Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie ini berhenti dan mendeteksi keadaan, biarpun suara napas tikus tanah dan goa telah membuat langkahnya merandek. Dalam kegelapan di jalan bawah tanah ini, Liok Ing Gie telah membuang kedok penutup wajahnya, sehingga pendekar ini leluasa dalam mendengarkan dan melihat keadaan sekelilingnya.
Walaupun keadaan jalan di goa itu gelap sekali sehingga tangan sendiri tiada tampak, akan tetapi dari hembusan angin yang memasuki goa, Pendekar Golok Terbang ini dapat mengetahui jalan keluar. Apalagi ketika sepasang matanya yang terlatih telah terbiasa di dalam gelap, walaupun samar-samar, Liok Ing Gie dapat mengamati keadaan di sekeliling goa.
"Semoga saja terowongan ini tidaklah terlalu jauh, sungguh tidak enak berjalan tiada tahu tempat di mana akan muncul nanti. Jangan-jangan..." Liok Ing Gie memutus angan-angannya ketika sepasang matanya melihat cahaya bintang di langit kelam. "Ah, akhirnya sampai juga di tempat terbuka!" Sekali berkelebat saja, Pendekar Golok Terbang ini telah tiba di depan goa, dan setelah meneliti keadaan sekeliling goa, ia pun lalu kembali memasuki goa dan mencari tempat di batu datar.
Tak berapa lama kemudian, Pendekar Golok Terbang telah tenggelam dalam samadhi, memulihkan tenaga dalamnya. Suara kokok ayam hutan menggugah Liok Ing Gie dari dalam samadhinya. Ternyata hutan depan goa telah penuh dengan kabut pagi hari, uap keputihan membubung ke atas, menggelapkan jarak pandangan mata. Yang nampak hanya benda putih bergerak-gerak pergi datang.
Hawa pun menjadi dingin, menyusup tulang sumsum, akan tetapi Pendekar Golok Terbang ini tidak merasakan dingin sama sekali karena jalan darahnya sehabis melakukan samadhi tadi masih berjalan cepat, sehingga membuat tubuhnya tidak merasa dingin dalam kabut pagi di hutan di lereng gunung tersebut.