Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 03

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 03

Setelah menggerak-gerakkan tubuhnya sebentar, Liok Ing Gie lalu membuang pedangnya. Ia juga melepas pakaian serbahitam tadi, lalu berganti pakaian dari sebuah buntalan panjangnya. Kini, nampaklah tubuhnya yang tinggi tegap bagaikan seorang atlet angkat besi.

Pakaian ringkas berwarna ungu tua ini semakin membuat pendekar itu tampak lebih muda beberapa tahun.

Dari buntalan panjang itu, dikeluarkanlah sebatang golok tipis. Pada gagang golok itu, nampak untaian benang halus berwarna kemerahan.

Setelah itu, dengan langkah ringan bagaikan seekor harimau, Liok Ing Gie, sang Pendekar Golok Terbang, keluar gua dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah Bangsawan Li Ceng Ong.

Matahari kemerahan telah terbit di timur, kabut pun perlahan membubung.

Seiring menguningnya cahaya matahari kemerahan, kabut pun semakin menipis. Sebagian mengumpul di daun-daun pepohonan, membentuk embun laksana mutiara yang tertimpa sinar matahari.

Butiran embun menetes ke bumi, lenyap terhisap tanah. Hal itu menambah basah permukaan tanah yang dipenuhi daun-daun kering, serta sebagian yang telah membusuk, menyiarkan bau khas tanah pegunungan.

Bagi yang sudah pernah melanglang buana di hutan dan gunung, dapat menikmati aroma daun-daun membusuk dan keharuman bunga hutan yang akan sulit dilupakan.

Sedap dan nikmatnya udara pagi yang bersih dari polusi!

Ketika Liok Ing Gie memasuki hutan di lereng gunung, tiba-tiba berkelebat beberapa sosok bayangan hitam menghadang, dengan senjata terhunus.

Wajah-wajah kasar serta mata-mata liar memandang ke arah buntalan panjang yang dipegang di tangan kirinya.

"Berhenti! Kalau mau selamat, serahkan barang-barangmu!" bentak seorang lelaki tinggi besar seperti raksasa, dengan tangan kanannya memegang sebuah golok besar dan tebal.

Agaknya, golok tersebut hanya akan kuat jika dimainkan oleh dua orang lelaki yang kuat.

Begitu melihat golok besar itu, Liok Ing Gie dapat menduga bahwa beratnya sekitar seratus kati.

Sungguh menggiriskan.

"Sobat, pagi-pagi sekali kalian sudah bangun. Apakah kalian ini penunggu hutan dan gunung? Matahari belumlah terang, akan tetapi kalian sudah mencegat orang. Hemm... siapakah kalian ini?" Dengan kalem, Liok Ing Gie menjawab, bahkan sang Pendekar Golok Terbang itu meledek para perampok tersebut.

Sama sekali pendekar itu tidak gentar melihat golok besar lawan.

"Keparat! Belum kenal siapa kami? Hah, bedebah! Belum kenal Golok Maut ini yang belum pernah bertemu tanding! Cepat serahkan bungkusanmu, sebelum aku hilang sabar!" bentak kepala rampok dengan jengkel.

Sepasang matanya melotot menakutkan.

Akan tetapi, yang dipandang tenang-tenang saja, seakan-akan sedang menghadapi anak-anak kecil yang bandel.

"Heh-heh, agaknya kalian belum mendapat makanan, ya? Pagi-pagi sudah membentak-bentak seperti orang gila. Jika menginginkan bungkusanku ini, sebutkan diri kalian dahulu. Ha-ha-ha...!"

"Bedebah...!!" bentak seorang perampok, marah sekali melihat lagak orang di depannya itu. Tanpa banyak bicara lagi, dia membabatkan senjatanya dari belakang, membacok kepala.

Sing... Duk...

Teman-temannya, yang melihat teman mereka begitu mudah dihajar, menjadi sangat marah. Mereka pun segera mencabut senjata dan maju mengeroyok sambil berteriak-teriak menakutkan.

Hujan senjata melanda tubuh Liok Ing Gie.

Akan tetapi, pendekar itu hanya mengeluarkan dengusan mengejek. Begitu kaki dan tangannya bergerak menyambut, para perampok yang menyerangnya pun terpental.

Mereka tidak tahu bagaimana hal itu dapat terjadi; tiba-tiba tubuh mereka terlempar bagaikan dilanda topan dahsyat.

Hal ini sebetulnya tidak aneh.

Para perampok itu hanya mengandalkan tenaga kasar, sedangkan sang Pendekar Golok Terbang adalah seorang pendekar yang telah membuat nama harum di kang-ouw (dunia persilatan).

Maka, dengan sambutan kaki dan tangan yang disertai tenaga lweekang tingkat tinggi, tiada seorang pun anak buah perampok itu yang kuat menerima tenaga lweekang pendekar tingkat tinggi tersebut.

Mereka kocar-kacir ketika senjata atau tubuh mereka terhantam hawa pukulan yang keluar dari tangan kanan pendekar tersebut.

Mata kepala perampok bergolok besar melotot terbelalak melihat kejadian yang tak pernah diduganya itu.

Sambil mengeluarkan suara gerungan menakutkan, kepala perampok itu memutar-mutar golok besarnya sekuat tenaga. Suara mendengung dan kilatan golok yang terkena sinar matahari tampak sangat menggiriskan hati.

Dengan mengeluarkan teriakan keras, tubuhnya yang tinggi besar meluncur maju, didahului sinar golok yang membelah udara.

Sekali golok besar itu mengenai tubuh, dapat dipastikan tubuh itu akan terbelah menjadi dua, apalagi tubuh manusia yang terdiri dari darah dan daging.

Meskipun pohon sebesar paha, apabila terkena babatan golok Si Tinggi Besar, tentu akan terpotong!

Wierrr... Siiut... Sing...

Ternyata, golok besar yang menyambar berkelebat itu hanya menyambar udara kosong.

Orang tinggi yang tadinya berdiri tak bergerak ketika golok besar yang didahului angin keras menyambar, tiba-tiba telah hilang dari hadapan Si Tinggi Besar.

Pendekar Golok Terbang telah hilang dari pandangan mata kepala perampok itu.

Pendekar itu memang memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya. Nama besar sang Pendekar Golok Terbang telah menjadi jagoan di kalangan persilatan dan jarang menemukan tandingan.

Maka, tidak mengherankan kalau hanya menghadapi perampok yang hanya memiliki tenaga luar yang besar, ia tidak mengalami banyak kesulitan.

"Bedebah! Keparat laknat! Tunjukkan dirimu jika kau benar-benar jagoan!" Sambil mengumpat dan memaki-maki dengan kata-kata kotor yang tidak pantas didengar, perampok tinggi besar itu mencari-cari dengan sepasang matanya.

Akan tetapi, tetap saja bayangan orang yang membawa bungkusan panjang itu tidak nampak batang hidungnya.

Seakan-akan telah lenyap ditelan bumi!

"Heh-heh-heh... Golok jagal anjingmu ternyata tidak berguna sama sekali. Lebih baik kau buang golokmu dan bertobat sebelum kau mandi darah oleh golok jagal anjingmu sendiri. He-he-he...!"

"Kunyuk pengecut! Tunjukkan dirimu jika kau benar-benar jantan. Jangan hanya membual dan hanya berani melawan anak buahku yang tidak berkepandaian!" Kepala rampok menantang sambil memutar-mutar senjata untuk melindungi tubuhnya.

"Heh-heh-heh, dasar dungu, tidak tahu diri! Jika kau ingin merasakan hajaranku, terimalah!" Belum habis ucapan itu, dari atas pohon menyambar berpuluh-puluh benda kehijauan dengan kecepatan kilat.

Suara mendesing nyaring terdengar dari beberapa penjuru.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya kepala rampok itu ketika mendapat serangan itu. Ia pun semakin mengerahkan tenaganya dalam memutar golok besarnya.

Melindungi tubuh dari luncuran senjata rahasia tersebut!

Tak-tak! Duk-buk!

"Aduhh...!!"

Ternyata, hidungnya yang besar mengucurkan darah segar setelah terhantam buah hijau. Buah-buah mentah itu dilemparkan dari segala penjuru oleh sang Pendekar Golok Terbang yang berloncatan secepat kilat mengelilingi dari pohon ke pohon, menghujankan senjata rahasia berupa buah mentah!

"Tobaaat...!!" Kepala rampok tinggi besar menjerit-jerit sambil meloncat ke sana-sini menghindar dari peluru-peluru kehijauan yang jika mengenai tubuh terasa sakit luar biasa.

Akan tetapi, tetap ada beberapa buah mentah yang mengenai tubuhnya.

Tak!

Sebuah benda besar mengenai kepala bagian belakangnya, sehingga membuatnya pingsan sejenak saking kuatnya lemparan itu!

"Ha-ha-ha...!!" Terdengar suara tawa melengking panjang, semakin lama semakin menjauh.

Sang Pendekar Golok Terbang melayang-layang di antara pucuk-pucuk pohon bagaikan seekor burung garuda, meluncur cepat sekali.

Sebentar saja tubuhnya tidak kelihatan lagi, saking cepatnya ia berkelebat.

Sungguh ilmu meringankan tubuh yang hebat sekali!

Duk! Duk! Duk!!

Gedoran pada daun pintu terdengar keras sekali dari dalam rumah Bangsawan Li Ceng Ong.

Para pelayan telah berkumpul di ruang tengah, saling pandang penuh tanya.

Menanti tuannya bangun dan memberi perintah kepada mereka.

Tidak berapa lama kemudian, keluarlah tuan rumah dari kamarnya dengan pakaian kusut. Kentara bahwa bangsawan itu baru saja bangun tidur.

"Gila! Siapa malam-malam berani menggedor-gedor pintu, membangunkan orang yang sedang tidur? Sungguh tidak tahu aturan!" gerutunya dengan jengkel.

Kembali terdengar suara gedoran dari pintu depan, kini lebih keras dari sebelumnya.

Seakan-akan pintu depan tersebut akan jebol dari engselnya akibat gedoran tersebut.

Disusul teriakan keras penuh tenaga dalam.

"Ceng Ong, buka pintu! Jika tidak segera dibuka, kujebol pintumu!"

"Gila! Cepat buka pintunya dan kalian bersiaplah untuk segala kemungkinan!" perintah Bangsawan Li Ceng Ong kepada pelayannya.

Mendengar itu, segera salah seorang pelayan menuju pintu depan dengan berlari, sedangkan para pelayan yang lain segera mengambil senjata dan bersembunyi.

Siap untuk menyambut segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Daun pintu yang jebol tersebut masih melayang ke dalam karena terlepas dari engselnya.

Duk...

Aduhh...

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment