Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 04

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 04

!" Teriakan ini keluar dari mulut pelayan yang dahinya terkena pinggiran daun pintu itu.

Benjolan sebesar telur angsa segera tumbuh di pelipis pelayan itu dan sialnya dia terjatuh tertimpa daun pintu depan yang tebal.

Sebelum pelayan itu dapat bangun, dari luar berlarian beberapa orang dengan senjata terhunus memasuki halaman depan sambil menginjak daun pintu.

"Uhh... Uhhh... Uhh...!" Orang terakhir yang memasuki daun pintu yang terbuka lebar itu ternyata seorang laki-laki gemuk bundar seperti gentong.

Begitu masuk, lelaki tua ini langsung saja berdiri di atas daun pintu yang jebol itu sehingga membuat pelayan yang semula akan membuka pintu depan, tetapi malah tertimpa daun pintu, menjadi tergencet dan mengerang tidak karuan.

"Ceng Ong, menyerahlah! Lebih baik mengaku daripada kusiksa terlebih dahulu sebelum kau mau mengakui kedosaanmu. Ha-ha-ha!" kata Wakil Ketua Naga Terbang yang bertubuh gemuk pendek, tak lain adalah Coa Sim Ok.

Akan tetapi, ketika merasakan daun pintu yang diinjaknya terasa bergerak-gerak, ia segera melihat ke bawah.

"Uwahhh, ternyata ada binatang di bawah kayu ini." Sambil menggerutu, ia lalu meloncat ke depan, ke tengah halaman.

Ternyata pelayan bernasib sial tadi telah tak bergerak lagi. Entah hidup atau mati, tak seorang pun yang tahu karena tidak ada yang memedulikannya.

Li Ceng Ong berdiri di atas undakan tangga batu di tengah ruangan dalam. Sepasang matanya memandang tajam kepada Ketua Dua dari Perguruan Naga Terbang di tengah halaman. Tangan kirinya mengelus jenggot putih seperti perak sampai ke dada dan tangan kanannya memegang sebatang golok telanjang di balik tangan.

"Ahh, kiranya Ji-Pangcu yang datang! Ada keperluan apakah sehingga Ji-Pangcu sampai menjebol daun pintu dan membawa begitu banyak anak buah Naga Terbang dengan senjata di tangan untuk menemuiku? Kesalahan apakah yang kuperbuat sehingga aku disuruh mengaku? Apakah Ji-Pangcu sedang mendem (mabuk) air keras?!"

"Tak usah banyak bicara! Pasti kau yang telah membocorkan rahasia perkumpulan. Hayo, mengaku saja!" bentak Coa Sim Ok lantang, tanpa mau menjawab atau memberi tahu apa yang menjadi sebabnya.

Lalu dia memerintahkan anak buah Naga Terbang untuk mengepung ketua perpustakaan yang mantan bangsawan tinggi itu.

Melihat ini, Li Ceng Ong tersenyum sinis. Dia dapat menduga bahwa barang itu tentu telah berada di tangan guru anaknya, Si Pendekar Golok Terbang. Senyuman senang tersungging di wajahnya.

"Ahh, pasti ia telah berhasil mencuri benda itu, dan puaslah hatiku membalas dendam," katanya dalam hati.

Li Ceng Ong dengan langkah tenang menuju ke tengah halaman, mendekati Ketua Dua Perkumpulan Naga Terbang. Dengan wajah penuh senyuman, lelaki tua ini menjawab.

"Ji-Pangcu, sebetulnya ada kejadian apakah? Kenapa tidak menanti hari menjadi terang baru menemuiku untuk membicarakan sesuatunya dan tidak membuat kekacauan di malam buta seperti ini? Seperti sekumpulan perampok saja. Apakah demikian ajaran pendiri Naga Terbang? Ataukah aku yang telah salah menilai tentang ajaran kita?"

"Diam! Siapa orang yang telah kau suruh mencuri...?"

"Karena aku yakin betul bahwa kaulah biang keladi kejadian ini. Hayo, mengaku saja sebelum kusuruh menyusulnya ke akhirat!"

"Apa? Dia... dia... telah...?"

"Ha-ha-ha... akhirnya ketahuan juga belangmu. Anak-anak, ringkus tua bangka pengkhianat ini!"

Li Ceng Ong kaget. Dirinya merasa terjebak oleh kata-kata Wakil Ketua Perkumpulan Naga Terbang ini. Sungguh tak ia sangka sama sekali bahwa orang gemuk ini memiliki otak yang begitu cemerlang.

Karena sudah terlanjur, tanpa banyak bicara lagi, Li Ceng Ong segera menggerakkan goloknya. Mendahului menyerang ke arah Coa Sim Ok dengan jurus Naga Hitam Pulang Sarang. Tubuhnya meluncur ke depan dengan kecepatan kilat, didahului goloknya yang dimainkan dengan limpahan tenaga dalam yang kuat. Angin dingin menyambar tubuh gendut seperti gentong.

Akan tetapi, sebagai Wakil Ketua Perkumpulan Naga Terbang, tentu saja Coa Sim Ok bukanlah orang sembarangan. Meskipun tubuhnya gemuk pendek, ia tetap memiliki kepandaian yang tak boleh dipandang remeh.

Bagaikan sebuah bola menggelinding tertiup angin, tubuhnya mengelak ke kanan. Sebelum golok Li Ceng Ong diubah gerakannya karena mengenai angin kosong, tangan kiri Coa Sim Ok meluncur dengan kecepatan yang tak dapat diukur dengan pandang mata.

Telapak tangan dengan jari-jari besar pendek itu seperti sebuah kipas raksasa menerjang lambung. Angin yang keluar dari telapak tangan Coa Sim Ok jangan dipandang remeh. Angin tersebut mengandung bau amis dari telapak tangan beracun yang mengerikan.

Akan tetapi, Li Ceng Ong ternyata pendekar tua yang juga tak begitu mudah untuk dijatuhkan dalam sekali serang. Dia pun tahu akan bahaya yang mengancam dirinya, maka, sambil berteriak keras ia lalu melonjakkan tubuhnya ke udara dan dari udara balas menyerang dengan goloknya.

Dielakkan dan dibalas serangan tangan kosong kembali. Pertempuran pun terjadi dengan sengit di tengah halaman yang cukup luas pada malam itu.

Ketika para anak buah Naga Terbang ingin membantu menangkap kepala pengurus perpustakaan itu, para pelayan Li Ceng Ong yang sejak tadi bersembunyi segera keluar menyambut serbuan.

Ternyata para pelayan itu bukan pelayan biasa, melainkan anak buah Li Ceng Ong yang juga memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi sehingga terjadi pertempuran di beberapa tempat.

Suara denting senjata tajam beradu dan teriakan galak memecah keheningan malam di rumah Bangsawan Li Ceng Ong.

Akan tetapi, tak seorang pun tetangga yang berani keluar untuk membantu. Mereka merasa takut kalau-kalau yang datang pada malam itu adalah para perampok ganas.

Bukan membantu, melainkan malah akan mengantar nyawa.

Maka para tetangga itu pun merasa lebih baik diam di rumah saja, seolah-olah tidak mendengar denting adu senjata dan teriakan orang memainkan senjata.

Entah berapa jurus telah berlalu, akan tetapi Coa Sim Ok, Wakil Ketua Naga Terbang, semakin mendesak Li Ceng Ong dengan pukulan-pulan jarak jauhnya.

Bangsawan yang sudah lanjut usia ini agaknya sudah terlalu lelah untuk dapat mempertahankan dirinya dengan baik. Apalagi dia mendapat tugas di kamar perpustakaan. Sebagai seorang kutu buku, tentu saja dia segera tenggelam di lautan buku.

Hanya secara kebetulan saja dia dapat menemukan senjata pusaka di gudang buku itu.

Telah banyak para pelayan berjatuhan dibabat senjata anak buah Naga Terbang, walaupun sebagian dari mereka ada juga yang dapat membunuh para penyerang.

"Mampuslah, tua bangka keparat!" Sebelum ucapan terakhirnya hilang, telapak tangan Coa Sim Ok telah mendarat di dada bangsawan tua pengurus gedung perpustakaan.

Deesssss...

"Hueekkkkk...!!" Darah segar menyembur keluar dari mulut Li Ceng Ong, membasahi jenggot putih seperti perak.

Tubuh bangsawan ini mencelat beberapa tombak ke belakang dan jatuh menimpa undakan batu.

Li Ceng Ong masih berusaha untuk bangun, akan tetapi tiba-tiba sebelum bangsawan tua ini dapat berdiri tegak kembali, tubuhnya telah melengkung, kemudian terjerembap.

Ternyata nyawanya telah meninggalkan tubuh.

"Ha-ha-ha...!" Sambil tertawa, Wakil Ketua Naga Terbang ini berkelebat ke sana kemari.

Segera terdengar suara jeritan yang bersahutan dari mereka yang tewas, akibat tubuh mereka telah terkena tamparan atau tendangan luar biasa hebat dan keras dari Coa Sim Ok, Wakil Ketua Naga Terbang.

Sebentar saja keadaan rumah Bangsawan Li Ceng Ong menjadi sunyi senyap. Tubuh-tubuh bergelimpangan berserakan di sana-sini. Bau amis tercium, bau amis darah yang berceceran.

Segera saja para anak buah Naga Terbang mengurusi teman-teman mereka yang terluka. Sedangkan Coa Sim Ok sendiri segera mengobrak-abrik seluruh kamar Bangsawan Li Ceng Ong dan kamar-kamar lainnya.

Kentara dari wajahnya yang merah dan penuh penasaran bahwa apa yang dicari tidak ditemukan di dalam rumah ini.

Akan tetapi, dasar Coa Sim Ok, seorang yang telah diperbudak nafsu jalang.

Begitu memasuki ruangan belakang, tempat berkumpul pelayan-pelayan wanita yang banyak memiliki paras lumayan, lelaki ini tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Dua orang pelayan wanita tercantik segera diboyong ke kamar besar sang majikan. Sedangkan yang lain ditotoknya hingga tewas!

"Ampun, kasihanilah saya, Tuan! Jangan... jangan... lakukan itu terhadap saya...!"

"Ha-ha-ha, jangan takut, manis, aku akan membawamu pesiar ke surga yang penuh kenikmatan. Ha-ha-ha!"

"Tolonggg... Tolonggg...!"

Tuk! Tuk! Begitu jari tangan Coa Sim Ok menotok dua kali, kedua pelayan itu pun kini tidak dapat bersuara lagi. Ternyata urat gagunya telah terkena totokan.

Bagaikan seekor binatang buas, Coa Sim Ok mengumbar nafsu kebinatangannya. Entah berapa kali dia menodai kedua perawan itu.

Ketika pria ini keluar dari kamar, wajahnya agak pias. Akan tetapi, matanya memancarkan kepuasan. Pintu kamar dibiarkan terbuka saja.

"Hayo, cepat pergi! Ternyata barang itu tidak ada di sini. Entah dibawa ke mana oleh si pencuri laknat itu?" Perintahnya kepada para anak buah Naga Terbang.

Mendengar ini, segera saja mereka bergegas keluar dari rumah itu. Bagaikan bayangan-bayangan hantu, mereka berkelebat dari atas genting menuju ke luar kota.

Para prajurit penjaga keamanan yang berdatangan ke tempat itu hanya melihat mayat-mayat bergelimpangan di sana-sini dan pemilik rumah itu sendiri tampak tergeletak di undakan batu.

Ketika salah seorang prajurit membalikkan tubuh Li Ceng Ong, ternyata baju di dada bangsawan tua ini telah hancur. Kulit dada yang putih itu tampak menunjukkan bekas telapak tangan berwarna biru kehitaman dan berbau amis menusuk hidung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment