Chapter 05
"Hemmm, sungguh sadis luar biasa! Semua orang dibunuhnya dengan sadis sehingga tak meninggalkan jejak sama sekali siapa pelakunya," gerutu seorang prajurit setengah tua.
"Tolong...!" terdengar suara jeritan melengking dari sebuah kamar di dalam rumah.
"Ada apa? Ada apa? Siapa yang menjerit tadi?" tanya komandan kepala prajurit.
Dari dalam kamar tampak berlarian seorang prajurit muda dengan wajah pucat. Begitu tiba, dia menuding-nuding ke arah kamar belakang dan kamar besar; mulutnya membuka-tutup, tetapi tak keluar sepatah kata pun.
Akan tetapi, begitu tiba di kamar tengah, sepasang matanya segera melotot dan kumisnya bergerak-gerak. Sepasang matanya merah penuh nafsu kemarahan dan jijik. Apalagi ketika beberapa orang prajurit menyusul masuk dan melihat pemandangan di dalam kamar. Ada beberapa prajurit yang muntah-muntah karena tidak tahan.
Sebenarnya, apakah yang mereka lihat? Ternyata tampak di atas pembaringan itu dua sosok tubuh telanjang dari dua orang wanita yang memiliki paras cukup cantik. Akan tetapi, yang membuat mereka muntah-muntah ialah melihat isi perut yang berceceran dan membasahi seluruh pembaringan serta lantai di sekitarnya. Tampak pula di lantai dua buah jantung yang tinggal separuhnya.
"Biadab! Sungguh tak mengenal perikemanusiaan sama sekali! Entah iblis mana yang berani mengacau kota ini. Cepat urus semua jenazah itu. Tutup rumah ini dan jaga. Jangan biarkan seorang pun memasuki rumah ini sebelum ada perintah dariku!" perintahnya.
Beberapa orang prajurit segera berlari keluar untuk mencari peti mati, sementara sebagian lagi mengumpulkan semua mayat itu dan menaruhnya di pendapa. Sedangkan mayat dua wanita yang hancur tubuh bagian depannya itu dibawa dengan ditutupi seprai besar.
Akan tetapi, sampai hari menjelang siang, ternyata tak ada kejadian apa-apa lagi. Setelah ada pemeriksaan dari pejabat yang berwenang, diambil keputusan bahwa besok ketika hari telah terang, semua jenazah itu akan segera dikuburkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah bau busuk akibat mayat yang mati tidak wajar dan penuh luka yang menyebarkan bau amis serta daging busuk.
Ketika matahari telah sepenggalah tingginya, berangkatlah iring-iringan ini menuju ke pekuburan di luar kota. Ketika tiba di luar benteng kota, rombongan ini berpapasan dengan seorang laki-laki gagah, tinggi, dan besar yang membawa bungkusan panjang di punggungnya. Sepasang mata lelaki ini mencorong mengawasi iring-iringan. Ketika ada seorang tua yang ikut berjalan mengiringi jenazah-jenazah itu, hati orang tinggi besar ini tercekat.
"Ah, jangan-jangan...!" Dia tidak berani melanjutkan angan-angannya, tetapi segera berjalan cepat menuju ke rumah sahabatnya yang tidak lain adalah kediaman Bangsawan Li Ceng Ong.
Betapa terkejut hatinya ketika di depan rumah itu tampak banyak prajurit berjaga dengan senjata terhunus.
"Tak salah lagi, pasti telah terjadi sesuatu di rumah ini," demikian batinnya.
Kebetulan banyak orang menonton di situ, segera saja dia bertanya kepada salah seorang yang tampaknya melihat kejadian itu sejak tadi.
"Paman, ada kejadian apakah di rumah itu? Kenapa banyak sekali prajurit berjaga dengan senjata terhunus?"
"Eh, apakah kau belum mendengar kabar itu? Semalam rumah Bangsawan Li kedatangan perampok. Menurut cerita tetangga-tetangga di kanan-kiri rumah itu, kemarin malam terjadi perampokan dan pembunuhan. Semua penghuni rumah Bangsawan Li tak seorang pun dibiarkan hidup. Semua dibunuh secara kejam!"
"Siapakah para perampok itu, Paman? Apakah ada orang yang tahu?"
"Entahlah, aku sendiri hanya mendengar cerita ini dari mulut ke mulut. Siapa pelakunya belum ada yang tahu sebab tetangga-tetangganya tidak ada yang berani mengintip keluar. Ah, sungguh kasihan sekali Bangsawan Li yang dermawan itu," katanya menutup keterangan.
Sepasang mata Pendekar Golok Terbang mencorong tajam mendengar Li Ceng Ong dibunuh bersama seisi rumah. Ketika paman tua itu menatap wajah penanyanya, tanpa terasa tubuhnya gemetar. Dari sepasang mata itu seakan-akan keluar bara api dan nafsu membunuh yang mengerikan. Tanpa banyak bicara atau menoleh lagi, paman tua itu segera meloyor pergi meninggalkan Pendekar Golok Terbang.
Ketika ada orang yang meraba bungkusan panjang di punggungnya, barulah Pendekar Golok Terbang tersadar. Cepat tangannya meraih ke belakang dan mencengkeram jari tangan seorang pelayan muda. Ketika Pendekar Golok Terbang hendak menegur, tiba-tiba ia merandek saat melihat pelayan muda itu berkedip dengan sebelah mata. Maka tanpa banyak bicara lagi, ia segera pergi sambil tetap memegang tangan pelayan muda tersebut. Mau tidak mau pelayan itu harus mengikuti orang tinggi besar yang menarik tangannya.
"Kenapa kau mau mencuri barangku? Siapakah kau sebenarnya dan mau apa kau berkedip tadi? Ayo, cepat ceritakan yang jelas kalau kau tidak ingin kehilangan tangan kananmu!" Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie menghardik pelayan muda itu.
Sambil meringis menahan sakit, pelayan muda itu berkata, "Ampun... saya tidak bermaksud jahat. Toaya, ampun. Saya pernah melihat Toaya menjadi tamu majikan hamba."
Liok Ing Gie melepaskan cekalannya dan bertanya kembali, "Siapa majikanmu? Awas kalau bohong, kupuntir lehermu nanti!"
"Majikan hamba adalah... Li... Li Wangwe...!"
"Hah!"
"Benar, Toaya. Saya tahu siapa yang membunuh mereka!" Pelayan itu menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan-akan takut ucapannya ketahuan.
Setelah merasa tidak ada orang yang memperhatikan mereka, perasaan pelayan muda itu menjadi lega. Tampak benjolan sebesar telur ayam berwarna kebiruan di dahinya.
"Ayo, ikut aku," ajak Pendekar Golok Terbang.
Si pelayan pun mengangguk setuju. Berdampingan keduanya berjalan menuju ke luar kota, mengarah ke kuburan.
"Pembunuhnya adalah seorang gendut bundar seperti gentong, Toaya. Ketika tersadar dari pingsan, lamat-lamat hamba mendengar Li Wangwe menyebut-nyebut nama Ketua Dua Naga Terbang. Hamba lupa siapa namanya, tetapi hamba merasa pasti bahwa yang menyerang kami semalam adalah orang-orang Perkumpulan Naga Terbang yang dipimpin oleh wakil ketuanya sendiri. Mungkin Toaya mengenal mereka. Saya keburu pingsan lagi sehingga tidak mendengar kelanjutannya. Begitu tersadar, hamba berusaha bangun dan... dan... huhu!" Pelayan muda itu pun menangis sedih, tidak dapat melanjutkan keterangannya.
Pendekar Golok Terbang dapat menduga siapa mereka. Akan tetapi, mimik wajahnya tetap tidak berubah, hanya sepasang matanya saja yang mencorong menakutkan!
"Kalau kau ingin hidup terus, rahasiakan saja ceritamu ini. Lebih baik kau pindah dari kota ini! Ini sekadar bekalmu di perjalanan." Setelah memberi saran kepada pelayan muda dan menyerahkan sekeping uang emas, Liok Ing Gie berjalan menuju ke kuburan.
Ketika tiba di kuburan, suasana di sana telah sepi. Tak seorang pun tampak di tanah pekuburan. Apalagi hari telah menjelang sore, kebanyakan penduduk merasa takut berada di sana. Setelah merasa benar-benar aman, Liok Ing Gie segera berkelebat cepat menuju ke makam baru di mana tampak beberapa gundukan tanah segar.
Begitu Liok Ing Gie berdiri di depan kuburan Li Ceng Ong, wajahnya berubah-ubah dengan cepat; sebentar kemerahan dan sebentar kemudian menjadi pucat. Sepasang matanya pun mengikuti perubahan mukanya; sebentar penuh kedukaan dan penyesalan, lalu berubah tajam penuh kemarahan, kemudian meredup seakan kedua mata itu tak kuat melihat gundukan tanah di depannya.
"Taijin, aku pasti akan membalaskan sakit hati ini. Biarlah dendam sedalam lautan ini putramu sendiri yang akan mencari pembunuhnya dan menagih utang ini." Setelah bersembahyang, Pendekar Golok Terbang segera meninggalkan tanah pekuburan tersebut.
Begitu kakinya menggenjot tanah, tubuhnya melesat cepat sekali menembus kegelapan malam yang mulai merambah. Pendekar Golok Terbang ingin lekas tiba di pondoknya untuk memberitahukan peristiwa ini. Peristiwa yang akan mengguncang dunia persilatan, di mana pencurian kitab tak bersampul berwarna kuning tersebut secara tidak sengaja dilakukannya.
"Anjing kurap kurang ajar! Setan neraka jahanam! Berani benar menyatroni Naga Terbang!" Wajah pendeta Agama To ini kemerahan setelah mengeluarkan umpatan-umpatan yang tidak patut keluar dari mulut seorang pertapa.
"Kitab pusaka tersebut harus jatuh ke tanganku sendiri. Heh, Sim Ok, siapa itu Bangsawan Li?"
"Dia adalah kepala bagian perpustakaan, Suhu."
"Benarkah dia yang menyuruh orang menyatroni? Pinto masih sangsi, coba ceritakan semua dengan jelas!"
"Apakah Suhu tidak tahu siapa Bangsawan Li Ceng Ong?" balik tanya Coa Sim Ok, murid gemuk bundar bagaikan gentong itu. Rasanya tidak mungkin jika gurunya tidak mengenal Bangsawan Li.
"Tidak. Sepengetahuanku, kepala perpustakaan adalah Hung Siucai, siucai tua bertubuh bungkuk itu," jawab Sim Tok Tojin.
Apa yang dikatakan pendeta ini memang benar. Sebenarnya pengawas kepala gudang buku tersebut adalah Hung Siucai semenjak gurunya pergi bertapa.
"Ah...!"
"Kenapa?"
"Setelah Suhu pergi bertapa ke Himalaya, beberapa bulan kemudian datanglah bangsawan ini membawa Lengpai dari ketua. Para penjaga segera membawanya menghadap ketua baru, yaitu Suheng Wu It."
"Terus?"
"Begitu bertemu Suheng, Li Ceng Ong segera menyerahkan sepucuk surat kulit kambing. Dan begitu Suheng membacanya, segera saja surat tersebut dihancurkan. Entah apa isi surat tersebut, murid tidak tahu."