Chapter 06
Sejak saat itu, Bangsawan Li menjadi kepala pengawas di gedung perpustakaan tersebut. Pekerjaannya hanya membaca di tempat itu dari pagi sampai petang.
"Hem!" Sim Tok Tojin mendengus pendek. Hatinya terasa panas sekali. Ia menduga bahwa semua ini pasti ulah gurunya. Tidak mungkin terjadi kebetulan yang sedemikian rupa, sehingga sepeninggalnya, Hung Siucai langsung diganti. Aneh bin mustahil!
"Pasti dialah biang keladi semua ini. Hem... keparat!"
"Bagaimana sekarang, Suhu?"
"Siapa saja keluarga bangsawan tengik itu? Apakah semua telah kalian basmi habis?" tanyanya menegaskan.
"Semua sudah kukirim ke kampung asalnya di neraka, Suhu. Seorang pun tidak ada yang lolos. Akan tetapi... rasa-rasanya sepertinya ada yang kurang. Apa, ya?" Setelah berkata demikian, Coa Sim Ok menepuk-nepuk dahinya. Orang gendut ini agaknya sedang berpikir keras sekali.
Pendeta berambut putih yang dibiarkan terurai itu memandang ulah muridnya yang gemuk bulat seperti gentong air. Sepasang matanya bersinar tajam. Sim Tok Tojin semakin jengkel setelah lama menanti, namun Coa Sim Ok belum juga teringat akan sesuatu itu. Dengan marah, pendeta tua ini segera membentak.
"Sim Ok, murid dungu! Sedari tadi kau memegang-megang dahi seperti monyet silau sinar matahari. Ayo, cepat jelaskan apa maksudmu tadi!"
Mendengar teguran gurunya, Coa Sim Ok bukannya takut, melainkan justru berteriak senang. "Nah, ketemu sekarang! He-he-he... Suhu, aku ingat sekarang. Teecu teringat bahwa si kutu buku Li Ceng Ong itu mempunyai seorang putra. Sebelum ini, anak itu pergi berguru kepada seorang pendekar pengelana. Pada waktu Teecu menjarah rumah kediamannya, anak tersebut tidak kelihatan. Pasti si keparat itu berhubungan dengan guru anak tersebut! Teecu merasa yakin, Suhu."
Wajah Coa Sim Ok berseri-seri dan hidungnya kembang-kempis seperti hidung babi mencium terasi. Pendeta agama To yang bernama Sim Tok Tojin itu mengelus-elus jenggotnya sambil mendengarkan uraian muridnya. Sesekali kepalanya mengangguk dan sepasang matanya bersinar terang. Bibirnya mengulum senyum penuh arti.
"Hem, tak salah lagi. Pasti guru anaknya yang mencuri kitab tersebut. Keparat!" umpatnya dalam hati.
"Bagaimana Suhu, apakah benar dugaan Teecu?"
"Kemungkinan besar hal itu terjadi. Sekarang lebih baik kau bawa beberapa orang murid untuk menyelidiki. Awas, jangan sampai rahasia ini bocor!"
"Baik, Suhu!"
Keduanya lalu keluar dari kamar rahasia di rumah Coa Sim Ok, Wakil Ketua Naga Terbang. Tanpa banyak bicara, Coa Sim Ok segera mencari beberapa murid yang dipercayainya untuk melaksanakan tugas tersebut. Ia pun ikut mencari bersama beberapa anak buah Naga Terbang tanpa menimbulkan kecurigaan dari Ketua Naga Terbang sendiri. Agaknya, sang Ketua tidak begitu tahu mengenai kehilangan kitab pusaka andalan perkumpulannya.
Entah ada maksud apa Wakil Ketua ini terhadap perkumpulannya. Ternyata, walaupun Coa Sim Ok bertubuh gemuk dan pendek, otaknya cukup cemerlang. Ia bertanya ke sana kemari dan mendekati para sahabat Li Ceng Ong, sehingga dalam waktu singkat ia mendapat informasi bahwa guru anak Li Ceng Ong tidak lain adalah Si Pendekar Golok Terbang, seorang pengelana yang memiliki nama harum di dunia persilatan dan ahli dalam memainkan senjata golok.
Ia pun berpamitan kepada Ketua Naga Terbang untuk pergi keluar. Bukan untuk mencari pendekar tersebut secara langsung, melainkan mencari alasan yang dapat dimengerti oleh sang Ketua. Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan dan bertanya kepada kenalan di berbagai kota, sampailah Coa Sim Ok di lereng Bukit Awan, tepatnya di sebuah kota kecil di lereng timur.
Bersama enam murid yang dibawanya, Coa Sim Ok memasuki sebuah rumah makan di pinggir jalan. Setelah makanan terhidang, ketujuh orang tersebut segera menyantapnya hingga habis. Karena dasar wataknya yang gemar makan, Coa Sim Ok segera memesan tambahan makanan kepada pelayan.
Pada saat itu, dari luar masuklah seorang laki-laki sambil menggandeng anak perempuan. Anak perempuan tersebut berwajah cantik dan menarik walaupun masih berusia belasan tahun. Langkahnya ringan dan gesit dengan gerak-gerik yang memikat. Matanya tajam, bersinar lincah, dan jenaka. Kedua orang ini segera mencari tempat duduk di sudut yang agak jauh dari pintu masuk. Setelah memesan makanan, keduanya asyik berbisik-bisik lirih.
Coa Sim Ok yang sedang menanti pesanannya, seketika matanya bersinar dan bibirnya tersenyum-senyum melihat kedua orang itu. Memang sudah menjadi watak Wakil Ketua Naga Terbang ini yang tidak bisa menahan nafsu jalangnya apabila melihat wanita cantik, sebagaimana ia tidak dapat menahan rasa lapar perutnya yang tidak pernah puas.
Coa Sim Ok telah diperbudak oleh nafsunya sendiri sehingga menjadi rakus seperti babi. Sepasang matanya mengawasi segala gerak-gerik kedua orang tersebut. Dalam benaknya, ia mulai mereka-reka jalan agar bisa mendapatkan gadis cantik tersebut. Enam orang muridnya yang sudah paham akan kesukaan guru mereka segera saling berkedip dan memberi isyarat. Mereka tersenyum kecil tanpa sepengetahuan Coa Sim Ok yang sedang tenggelam dalam angan-angan mesumnya.
Kedua orang itu makan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, sama sekali tidak menyadari adanya bahaya yang mengancam. Tiba-tiba, si kakek hampir saja tersedak ketika terdengar bentakan kasar di belakangnya.
"Hei, berduaan saja! Boleh aku ikut duduk di sini?"
Tanpa sopan santun, murid Naga Terbang ini menyapa orang yang tidak dikenalnya. Mungkin ia sudah terbiasa memaksakan kehendak dengan mengandalkan nama besar Perkumpulan Naga Terbang. Sementara itu, Coa Sim Ok hanya mendiamkan saja ulah anak buahnya, bahkan tersenyum senang.
"Oh, maaf... kami tidak mengenal Tuan," jawab si kakek dengan gagap. Sedangkan si anak hanya melirik sekilas dengan sikap tak acuh.
"Ha-ha-ha! Si Tinju Besi namaku. Semua orang di kotaraja mengenal siapa diriku ini!" Sambil tertawa terbahak-bahak, Si Tinju Besi menarik kursi dan langsung mendudukinya tanpa dipersilakan.
Akan tetapi, terjadilah sesuatu yang lucu. Ketika Si Tinju Besi hendak duduk, tiba-tiba saja kursi tersebut bergeser ke belakang dengan sangat cepat, seakan-akan ditarik oleh tangan yang tidak terlihat. Tanpa dapat dicegah, Si Tinju Besi menduduki tempat kosong dan tubuhnya terjengkang ke belakang dengan suara keras.
"Aduh!" Si Tinju Besi menjerit kesakitan. Ketika tangan kanannya meraba pinggul, ia memegang duri ikan yang cukup besar. Entah bagaimana tulang ikan itu bisa mengenai pinggulnya.
Kawan-kawannya malah menertawakan kejadian tersebut karena merasa lucu. Coa Sim Ok sendiri pun tertawa; ia tidak menduga ada hal yang tidak beres di balik kejadian tadi.
"Eh, hati-hati, Tuan."
"Hi-hi-hik! Tangannya besi, tapi pinggulnya seperti tahu," terdengar suara merdu yang nyaring. Ternyata anak perempuan itulah yang tertawa.
Dengan wajah kemerahan karena malu, Si Tinju Besi bangkit berdiri. Sepasang matanya memandang tajam ke sekeliling dengan sorot menakutkan. Orang-orang di ruangan itu menjadi ketakutan, terutama mereka yang bukan petualang dunia persilatan. Si Tinju Besi bertambah marah mendengar ejekan anak perempuan tersebut.
"Diam!" bentaknya sambil melotot. Akan tetapi, gadis itu justru menahan tawa sambil menutupi mulut dengan tangan.
"Keparat!" Si Tinju Besi mengumpat sambil mengayunkan tangan besinya ke arah meja. Ia hendak menunjukkan kebolehannya dengan menghantam hancur meja di depan anak perempuan dan si kakek tersebut.