Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 07

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 07

Wut... Prang... Crot!

Bukan meja yang hancur terkena hantaman tangan besinya, melainkan mangkuk berisi masakan capjai kuah kecap atau tomat. Kuah kemerahan memercik ke atas tanpa ampun dan sebagian mengenai wajahnya sendiri. Sementara itu, hanya mangkuknya yang pecah, sedangkan bangku itu tetap utuh.

"Hi-hi-hik... hi-hi-hik...!"

"Jangan kurang ajar, Nio-ji!" bentak kakek itu lirih.

Tan Gin Nio, nama anak belasan tahun itu, tetap tidak dapat menahan tawanya. Tangan kanannya menuding-nuding ke arah wajah Si Tinju Besi. Para tamu juga tertawa, meskipun tawa mereka ditahan atau ditutupi dengan tangan agar tidak kentara.

Namun, rekan-rekan Si Tinju Besi masih tidak menyadari bahwa kejadian ini bukanlah kesembronoan rekan mereka. Melihat kejadian tersebut, mereka malah tertawa terbahak-bahak. Bahkan, ada yang sampai tersedak karena tidak kuat menahan tawa.

Coa Sim Ok terkejut. "Tak mungkin ada kejadian yang begitu kebetulan sampai dua kali," pikirnya. Ia bangkit berdiri dan mendekati sang kakek serta anak perempuan cantik yang sedang tersenyum-senyum itu. Bagaikan bola yang menggelinding, tiba-tiba ia sudah berada di dekat Si Tinju Besi.

"Pergilah...!" Sekali raih, ia menarik tubuh Si Tinju Besi hingga meluncur ke arah kursinya dan jatuh terduduk perlahan. Seakan-akan tubuhnya ditempatkan di kursi oleh tangan halus yang tidak terlihat. Bagi orang yang tidak mengerti ilmu silat, kejadian itu tampak seperti sihir.

Wajahnya penuh senyum dan kata-katanya halus saat menyapa sang kakek yang berdiri di dekat gadis remaja tersebut. "Maafkan muridku yang tidak melihat Gunung Thai-san menjulang tinggi di depan mata, Lo-enghiong. Bolehkah aku yang rendah ini mengetahui julukan Lo-enghiong yang terhormat?"

"Ah, Tuan salah sangka. Aku hanyalah seorang nelayan kecil dari timur, bukan Lo-enghiong atau apa pun itu. Aku hanya orang biasa, bukan seorang pendekar."

Akan tetapi, Coa Sim Ok tahu bahwa kakek ini bukanlah orang biasa. Ia menduga kakek ini adalah tokoh kawakan dunia persilatan (kang-ouw) angkatan tua, meskipun ia tidak mengenali ciri-cirinya. Apalagi sebagai Wakil Ketua Perkumpulan Naga Terbang, ia sebenarnya mengenal banyak tokoh tua melalui ciri fisik dan senjata andalan mereka.

"Perkenalkan Lo-enghiong, aku Coa Sim Ok, Wakil Ketua Perkumpulan Naga Terbang." Ia mencoba memancing dengan memperkenalkan dirinya, seraya mengawasi tajam wajah kakek yang mengaku sebagai nelayan itu.

Namun, ia kecewa. Ternyata kakek tersebut sama sekali tidak terkejut mendengar bahwa ia adalah Wakil Ketua Naga Terbang. Padahal, nama Naga Terbang sebagai perkumpulan besar di ibu kota sudah terkenal di delapan penjuru dunia persilatan. Aneh jika kakek ini tidak pernah mendengarnya.

"Maaf, maaf, aku hanyalah orang tua yang bukan berasal dari kalangan persilatan sehingga tidak mengenal nama Tuan yang terhormat. Maafkan Lo-hu yang bodoh," jawab si kakek tenang.

"Hi-hi-hi... Hui-liong (Naga Terbang)! Kek, benarkah ada naga yang dapat terbang? Menurut dongeng yang kudengar, naga itu pandai terbang di langit. Kalau orang gagah ini menjadi wakil naga terbang, pastilah dia bisa terbang juga, ya Kek?" ucap gadis itu renyah.

"Hush! Anak kecil tahu apa? Lihat, Tuan pendekar ini jadi marah. Kalau dia benar-benar terbang bagaimana?" bentak si kakek sambil tersenyum. Matanya melotot memandang gadis itu, namun kemudian ia tersenyum hangat melihat betapa menariknya sang cucu.

Coa Sim Ok ingin memamerkan ilmu ginkang-nya di depan anak perempuan itu, tetapi hatinya ragu. Ia ingin menguji sang kakek terlebih dahulu. Ia kembali mengangkat kedua tangan dan menjura ke arah si kakek.

"Maafkan jika kami telah mengganggu makan Lo-enghiong berdua."

Angin dingin menyambar ke arah si kakek yang masih tersenyum manis tanpa bergerak dari tempatnya. Mata kakek itu memandang geli, seakan melihat kenakalan anak kecil. Coa Sim Ok terkejut bukan main. Pukulan saat menjura tadi bukanlah sembarangan; ia telah mengerahkan seluruh tenaga lweekang-nya untuk menguji. Jika kakek itu memang tidak bisa bersilat, ia pasti sudah tewas terpukul hawa jarak jauh tersebut.

"Ah, tidak usah sungkan, Tuan Coa. Aku orang tua maklum akan hal itu. Hanya saja, tolong awasi muridmu dan jaga jangan sampai mempermalukan perkumpulanmu."

"Maaf, maaf." Dengan hati kecut, Coa Sim Ok mundur kembali ke mejanya sambil menyumpah dalam hati kepada anak buahnya. Ia merasa beruntung tidak dipermalukan di depan umum oleh kakek itu.

Saat itu, masuklah seorang lelaki setengah baya bertubuh tinggi besar membawa bungkusan panjang. Kumisnya yang hitam tebal menambah kesan tampan dan simpatik pada wajahnya. Sepasang matanya mencorong berwibawa layaknya mata harimau. Langkahnya mantap. Begitu masuk dan menyapu pandangan ke seluruh ruangan, ia tersenyum lebar melihat kakek dan gadis di sudut ruangan.

"Ah, angin apa yang membuat Nelayan Pantai Timur sampai terbang ke tempat ini?" sapa si lelaki tinggi besar itu.

"Hehe, angin baik, angin baik... Mari, silakan duduk."

"Terima kasih." Lelaki itu duduk; ia tak lain adalah Pendekar Golok Terbang, Liok Ing Gie. Matanya bersinar saat menatap gadis belasan tahun di samping sang kakek.

"Ha-ha-ha, dia adalah muridku yang nakal. Tan Gin Nio namanya." Sang kakek kemudian memberi tahu Nio siapa lelaki gagah tersebut. "Nio, di depanmu ini bukan orang sembarangan. Dia sahabat kakekmu, namanya telah menggetarkan dunia persilatan. Ia adalah Liok Ing Gie, yang dijuluki Pendekar Golok Terbang."

Tan Gin Nio berdiri memberi hormat, lalu duduk kembali sambil memperhatikan Pendekar Golok Terbang dengan saksama.

Di sisi lain, Coa Sim Ok dan anak buahnya saling pandang setelah mendengar ucapan kakek yang cukup keras itu. Coa Sim Ok memperhatikan Liok Ing Gie dengan teliti. "Cepat tinggalkan tempat ini," bisiknya.

Tanpa banyak bicara, ketujuh orang itu segera pergi setelah membayar makanan. Sesekali Wakil Ketua Naga Terbang itu menoleh ke arah Liok Ing Gie dengan sorot mata penuh arti.

"Sebenarnya aku ke sini karena mendengar berita yang tersiar di kang-ouw. Apakah benar ada orang yang berani menyatroni Perkumpulan Naga Terbang? Apa yang mereka cari?" tanya Nelayan Pantai Timur tajam.

"Sebenarnya memang terjadi hal itu. Kebetulan aku sedang berada di ibu kota saat kejadian sehingga sedikit banyak aku mengetahuinya," jawab Liok Ing Gie tenang. Meskipun wajahnya tak berubah, dalam hati ia terkejut karena berita itu begitu cepat tersiar di rimba persilatan (bu-lim).

"He-he-he, apakah Gie-te merahasiakan sesuatu dariku? Jika dugaanku tidak salah, pasti ada sesuatu sampai-sampai Wakil Ketua Naga Terbang dan anak buahnya turun tangan sendiri. Apakah Gie-te tidak mengenal laki-laki gendut pendek yang baru saja keluar tadi?"

"Wakil Ketua Naga Terbang? Wakil yang mana?" Pendekar itu menengok ke belakang dengan spontan.

"He-he-he, benar dugaanku. Agaknya kalau tidak salah..." Ucapan sang kakek terpotong saat melihat Liok Ing Gie bangkit berdiri.

"Maafkan aku, Toako. Aku memiliki urusan penting yang harus segera diselesaikan." Setelah menjura, Liok Ing Gie segera pergi tanpa menunggu jawaban.

Setibanya di pintu, ia mengawasi keadaan sekitar dengan waspada. Karena tidak ada yang mencurigakan, ia segera bergerak cepat ke arah timur. Langkahnya terburu-buru, seolah takut dugaannya menjadi kenyataan.

Tak jauh dari situ, di sebuah rumah makan di seberang jalan, Coa Sim Ok dan keenam anak buahnya mengawasi gerak-gerik Liok Ing Gie. Saat melihat sang pendekar keluar kota melalui jalan timur, mereka segera keluar, menaiki kuda, dan memacu kencang untuk mendahului orang yang mereka curigai sebagai pencuri buku pusaka Naga Terbang.

"Kita cegat di luar hutan sana!" perintah Coa Sim Ok.

"Hiyaaaa!" "He-yak!" Cambuk meledak mengagetkan para pejalan kaki. Mereka bergegas menepi sambil menyumpah serapah melihat tujuh kuda yang berlari bagai dikejar setan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment