Chapter 08
Orang tersebut telah tiba tepat di tengah jalan tatkala tujuh ekor kuda datang dengan kecepatan kilat. Sebuah tabrakan maut pasti terjadi!
"Gila!" Belum hilang gemanya, tiba-tiba terlihatlah sesosok bayangan meluncur melebihi kecepatan lari kuda. Orang-orang di pinggir jalan menjerit melihat kejadian tadi. Akan tetapi, ketika ketujuh ekor kuda itu lewat, ternyata tidak terdengar jerit kematian orang tua yang memanggul karung tersebut. Mereka terbelalak memandang.
Setelah debu tebal akibat larian kuda menipis, ternyata tidak ada seorang pun yang tertabrak!
"Eh, ke mana Kakek A-sam tadi?" tanya penjual kue kepada penjual bakpao di sampingnya.
"Se... tan...!" jawab penjual bakpao dengan gagap. Ia mengira bahwa yang berjalan tadi bukanlah A-sam, melainkan bayangan setan yang menyamar.
"Setan gundulmu! Tadi si A-sam yang berjalan, bukan setan. Aku tadi melihatnya keluar dari toko itu," umpat penjual kue kesal.
"Tapi... tapi kalau bukan setan, ke mana dia sekarang? Aku yakin tadi itu setan yang menyamar," penjual bakpao tetap bersikeras pada pendiriannya.
"Goblok! Mana ada setan keluyuran di siang bolong? Jangan ngawur kau!" Keduanya malah saling bersitegang. Orang-orang pun beralih menonton kedua penjual tersebut.
Di tengah keributan ini, A-sam berjalan mendekat dan berusaha melihat lebih dekat. Segera saja ia menegur keduanya.
"A-piao, A-kui, apa yang kalian ributkan? Sesama tetangga bertengkar itu tidak baik," katanya keras sambil maju melerai.
Melihat siapa yang melerai, keduanya saling pandang. "A-sam? Benarkah ini kau?" teriak penjual bakpao keras.
"Ah, kau selamat, A-sam! Bagaimana ini? Apakah kau tidak apa-apa?" penjual kue yang bernama A-kui pun tak mau ketinggalan menegur.
"Sebenarnya apa yang kalian ributkan? Siang-siang bertengkar di pinggir jalan," tanya A-sam.
A-kui dan A-piao saling pandang dan tanpa terasa keduanya tertawa terbahak-bahak, sehingga membuat orang-orang yang menonton bertambah heran.
"Kami ribut karena dirimu, A-sam," sahut keduanya hampir bersamaan.
"Karena diriku?" A-sam terkejut mendengar ucapan itu.
"Ya!" jawab keduanya serempak.
"Kenapa?"
"Benarkah tadi kau yang berjalan di tengah jalan? Bukan setan yang menyamar sebagai dirimu?" A-piao bertanya ragu-ragu.
"Kalian anggap siapa lagi? Apa ada setan berjalan siang hari? Gila!" jawab A-sam cepat.
"Apakah kau mengigau, Piao?"
"Tidak!"
"Nah, benar kataku. Yang berjalan sambil memanggul karung tadi adalah A-sam," tukas A-kui.
"Iya, iya, aku percaya sekarang. Akan tetapi, bagaimana kau bisa tidak tertabrak kuda-kuda itu?" A-piao bertanya sambil matanya memandang ke arah jalan dan ke arah A-sam bergantian. Agaknya penjual bakpao ini masih sangsi.
"Ooh, itu. Entah bagaimana, aku sendiri tidak tahu. Ketika tiba di tengah jalan tadi, aku sangat terkejut melihat ketujuh ekor kuda dipacu seperti dikejar setan hingga hampir menubrukku. Aku tidak dapat bergerak karena takut. Akan tetapi, entah dari mana, tiba-tiba tubuhku seperti dibawa terbang menuju pinggir jalan. Hanya terasa angin menyambar dan tahu-tahu aku sudah berada aman di pinggir jalan. Seorang laki-laki gagah, tinggi besar, berkumis tebal yang tangan kirinya membawa bungkusan panjang berada di sampingku," katanya lirih.
Melihat kedua temannya terbelalak seakan tidak percaya, A-sam segera menyambung. "Laki-laki tersebut tidak meninggalkan nama, hanya menyuruhku segera ke sini karena mendengar kalian bertengkar!"
"Wah, aneh!" gerutu A-piao. "Apakah... apakah yang menolongmu tadi betul-betul manusia?"
"Tentu saja manusia!" A-sam menjawab cepat. "Kau kira siapa?"
"Se... tan...!" jawab A-piao sambil memandang ke kanan dan ke kiri.
Akan tetapi, jalanan telah menjadi sepi. Tak ada lagi yang menonton sehingga hanya mereka bertiga yang berada di tempat itu.
"Dasar takhayul! Penakut!" ejek A-kui.
Ketika A-sam menoleh, ternyata penolongnya telah tiada. Mendengar omongan A-piao, dia pun menjadi ragu dan bingung. Jika manusia, bagaimana bisa menghilang begitu cepat? Akan tetapi jika bukan manusia, tadi ketika dipondong, ia merasa bahwa penolongnya adalah manusia dari darah dan daging. Ketiga orang ini pun saling pandang tanpa bisa menjawab teka-teki tersebut.
Tiba-tiba A-piao menjatuhkan diri berlutut dan menyembah ke tengah jalan; mulutnya tak henti mengoceh menyebut segala dewa. Kedua temannya segera terbawa oleh ulah penjual bakpao ini. Mereka juga menjatuhkan diri di pinggir jalan sambil menyebut nama Buddha yang mulia.
Sebenarnya, bayangan tadi bukanlah setan. Bayangan itu adalah seorang pendekar yang namanya sudah menggetarkan seluruh delapan penjuru rimba persilatan. Orang itu tidak lain adalah Pendekar Golok Terbang, Liok Ing Gie. Secara kebetulan sang pendekar tiba di tempat tersebut dan menolong tepat pada waktunya.
"Gila! Benar-benar tidak tahu aturan! Siapakah ketujuh orang itu?" umpatnya dalam hati. "Awas kalian kalau bertemu denganku!"
Setelah menyelamatkan penyeberang tadi, sang pendekar segera berkelebat lenyap. Ia tidak mau disanjung oleh orang-orang. Begitu tiba di luar kota, Liok Ing Gie mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya sehingga dalam sekejap ia telah menempuh jarak yang jauh.
Namun, setelah beberapa lama berlari seperti terbang dan hampir mencapai kaki Bukit Awan yang berhutan lebat, tiba-tiba Liok Ing Gie menghentikan langkahnya. Tujuh orang bersenjata telah mencegat jalan. Salah seorang bertubuh gemuk pendek dan bersenjatakan golok besar, sedangkan enam lainnya bersenjata golok tipis dan pedang. Wajah mereka nampak angker dan penuh permusuhan.
"Siapakah kalian? Mengapa menghalangi jalan? Apa maksud kalian sebenarnya?" tanya Pendekar Golok Terbang kalem.
"Ha-ha-ha! Walaupun kau lari ke ujung bumi sekalipun, aku tetap akan mencarimu!" Coa Sim Ok, Wakil Ketua Naga Terbang, menjawab. "Hayo, cepat serahkan kitab yang kau curi!"
"Kitab? Kitab apa? Kalau kau menghendaki kitab, ini ada Su-si Ngo Keng." Sambil berkata demikian, tangan Liok Ing Gie bergerak merogoh saku dalam bajunya.
"Tahan!" bentak Coa Sim Ok menggelegar.
Liok Ing Gie menahan tangannya. Sepasang matanya mengawasi si gemuk dengan penuh perhatian. "Ah, tak salah lagi," bisik hatinya.
"Jangan pura-pura bodoh, Pendekar Golok Terbang! Apakah kau ingin segera menyusul rekanmu, si Kutu Buku Li Ceng Ong? Ha-ha-ha! Cepat keluarkan kitab yang kau curi itu! Jangan sampai aku hilang sabar!"
"Apa maksudmu?" Liok Ing Gie masih pura-pura tidak mengerti, walaupun kemarahan telah menyesak di dadanya. "Jadi, inilah pembunuh-pembunuh itu. Kebetulan sekali," pikirnya.
"Bangsat pengecut! Temanmu si tua bangka itu telah mengaku kepadaku," pancing Coa Sim Ok. "Maka tidak perlu kau main sandiwara di depanku. Cepat serahkan kitab yang kau ambil!"
"Ha-ha-ha! Jadi kalianlah pembunuh sadis di rumah Li Ceng Ong? Jangan keburu girang dulu, kawan!" ejek Liok Ing Gie.
Melihat lagak Pendekar Golok Terbang, salah seorang anak buah Naga Terbang tidak dapat menahan amarah. Sambil berteriak nyaring, ia menerjang ke depan dengan babatan goloknya.
"Mampuslah kau, keparat!"
Seketika, sebuah kepala menggelinding. Ternyata itu kepala anak buah Naga Terbang yang sembrono tadi. Pendekar Golok Terbang hanya menggeser kakinya untuk mengelak, lalu tangan kirinya mencengkeram tangan lawan dan membalikkan senjata ke arah kepala pemiliknya sendiri.
"Keparat!" terdengar teriakan beruntun. Lima senjata menghujani Pendekar Golok Terbang.
Dengan gesit dan lincah, Liok Ing Gie berkelebat di bawah hujan senjata tersebut. Tubuhnya seakan berubah menjadi bayangan di bawah sinar senjata yang mencari nyawa. Namun, begitu tangannya bergerak membalas, dalam beberapa jurus saja tubuh-tubuh tanpa kepala berjatuhan di tepi hutan.
Coa Sim Ok terbelalak seakan tak percaya melihat kejadian itu. Setelah anak buahnya tumbang semua, barulah dia tersadar.
"Tahan!" bentaknya lantang.
"Ha-ha-ha! Bagaimana sekarang?" Liok Ing Gie mengejek.
"Keparat laknat! Aku, Coa Sim Ok, takkan melupakan kejadian hari ini. Tunggulah pembalasanku, Liok Ing Gie!" Setelah berkata demikian, tubuhnya yang gemuk melesat ke dalam hutan.
Liok Ing Gie tidak menyangka bahwa Wakil Ketua Naga Terbang itu akan se-pengecut itu. Ketika ia berusaha mengejar, Coa Sim Ok telah hilang di kerimbunan hutan yang mulai gelap, sehingga menyulitkan pencarian jejak.
"Sialan! Sungguh pengecut, tidak berani bertanggung jawab!" umpatnya.