Chapter 09
Walaupun malam telah melingkupi bumi, pendekar ini tanpa kesukaran sama sekali dapat mendaki bukit tersebut.
Ketika tiba di depan pondok di puncak Bukit Awan, seorang pemuda tampan menyongsongnya.
"Suhu sudah pulang. Bagaimana, Suhu? Apakah keadaan Ayah baik-baik saja?"
Liok Ing Gie tersenyum masam. Sepasang matanya memandang sayu ke arah pemuda tegap dan berwajah tampan di depannya. Untunglah malam itu tiada rembulan sehingga mimik wajahnya tidak begitu kentara.
"Marilah masuk ke pondok dahulu, Cu Liong. Apakah pantas kau berkata seperti ini?" ajak Liok Ing Gie lirih.
"Oh, maafkan Cu Liong, Suhu."
"Tak apa, tidak apa. Aku maklum akan rasa rindumu terhadap ayahmu itu. Nanti kuterangkan segala sesuatu yang ingin kau ketahui."
"Terima kasih, Suhu."
Li Cu Liong mengikuti gurunya menuju ke pondok. Keduanya berjalan tanpa banyak bicara. Begitu memasuki pondok, Cu Liong segera berkata, "Suhu, air hangat masih tersedia. Silakan jika Suhu ingin mandi dahulu. Murid akan memanaskan masakan."
"Hemmm," Pendekar Golok Terbang hanya mengeluarkan dengusan pendek.
Begitu Liok Ing Gie selesai mandi dan berganti pakaian, dia langsung memasuki ruangan tengah pondok. Tercium bau sedap masakan. Ternyata di atas meja telah terhidang berbagai masakan buatan muridnya.
"Silakan, Suhu."
"Ayo Cu Liong, temani Suhumu makan."
"Terima kasih, Suhu."
Setelah keduanya selesai makan, Liok Ing Gie berjalan keluar pondok, sedangkan Li Cu Liong membereskan piring serta mangkuk. Selesai dengan pekerjaannya, dia menyusul gurunya. Di tepi jurang di belakang pondok, Liok Ing Gie berdiri dengan kepala menengadah memandang angkasa yang penuh bintang. Dia tidak merasakan hawa dingin di malam tersebut.
"Suhu...!"
Liok Ing Gie seakan ditarik kembali dari dunia luar ketika mendengar sapaan muridnya. Pelan-pelan dia menoleh mengawasi wajah murid yang sangat disayanginya ini. Setelah menghela napas panjang berkali-kali, barulah dia berkata, "Liong, kuharap kau tabah menerima berita ini."
Liok Ing Gie tidak segera melanjutkan ucapannya.
"Apakah ini menyangkut Ayah, Suhu?"
Setelah dapat menenangkan hatinya, Liok Ing Gie menceritakan semua peristiwa semenjak dia tiba di rumah Li Ceng Ong, ayah muridnya. Li Cu Liong mendengarkan dengan penuh perhatian. Akan tetapi, ketika mendengar bahwa seluruh isi rumah—baik ayahnya maupun para pelayan—telah ditumpas habis, tanpa terasa Cu Liong terduduk lesu. Seakan-akan seluruh tulang dilolosi dari tubuhnya.
"Semua ini karena permintaan ayahmu. Dia meminta agar aku menyelamatkan Golok Pusaka tersebut, tidak peduli bagaimanapun caranya. Ini semua karena perintah dari guru ayahmu sebelum dia meninggalkan ayahmu."
Liok Ing Gie berhenti sejenak untuk menarik napas ketika teringat kepada keluarga muridnya yang terbasmi.
"Entah bagaimana, ternyata Wakil Ketua Naga Terbang bisa tahu bahwa ini semua adalah perintah ayahmu."
"Keparat! Tunggu saja pembalasanku...!" teriak Cu Liong keras. Suaranya memecah keheningan malam.
"Sebetulnya aku telah berjumpa dengan keparat itu di bawah gunung ini. Sayang, si pengecut itu dapat meloloskan diri... sayang sekali!"
"Suhu... biarlah murid sendiri yang akan membereskan durjana itu untuk membalaskan dendam Ayah!" Ucapan ini terdengar tegas. Cu Liong meremas-remas jari tangannya. Sepasang matanya mencorong penuh dendam.
"Baik! Akan kuturunkan ilmu andalanku kepadamu sekarang. Selain itu, aku berhasil mengambil kitab kuning tak bernama dari dalam kamar perpustakaan tersebut. Entah buku apa itu, aku belum sempat menelitinya."
Setelah berkata demikian, Liok Ing Gie mengajak muridnya memasuki pondok. Di bawah sinar penerangan api di sudut ruangan, Pendekar Golok Terbang meloloskan sebuah benda panjang dari dalam buntalannya. Ternyata benda tersebut adalah sebuah senjata yang panjangnya sekitar sedepa. Begitu gagang ditarik, sinar kehijauan berkeriapan menyilaukan mata, menyorot keluar dari sarung golok.
"Uhh, senjata pusaka yang ampuh. Inilah Pusaka Golok Naga Terbang! Senjata pusaka yang menjadi tanda kekuasaan Perkumpulan Naga Terbang!" kata Liok Ing Gie kagum ketika meneliti golok tersebut.
Liok Ing Gie lalu mengeluarkan kitab kuning tak bersampul. Ketika pendekar ini membuka lembaran kitab, wajahnya berubah dan sepasang matanya terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kitab apakah itu, Suhu?" tanya Cu Liong ketika melihat gurunya merandek saat membuka lembaran kitab tadi.
"Haaa... ah, inilah kitab pusaka yang langka! Kitab yang menjadi rebutan semenjak ribuan tahun lalu. Sayang sekali sampulnya telah hilang. Kalau tidak salah, menurut dongeng turun-temurun, kitab ini bernama Kitab Menjala Langit. Siapa pembuat kitab ini, aku sendiri pun tidak tahu."
Wajah Liok Ing Gie bercahaya dan sepasang matanya berbinar-binar. "Kalau kau dapat mempelajari isinya, Liong, kau akan menjadi seorang pendekar pilih tanding di zaman sekarang ini."
"Mohon petunjuk, Suhu."
"Tentu... tentu saja. Baiklah, mulai besok kita berdua mencoba mempelajarinya."
Setelah berkata demikian, Liok Ing Gie menyerahkan kitab tersebut kepada muridnya. "Simpanlah, Liong!"
Li Cu Liong menerima kitab dan golok pusaka tersebut dengan kedua tangan gemetar. Hati pemuda ini penuh keharuan atas kecintaan gurunya terhadap dirinya. Keduanya lalu menuju ke peraduan masing-masing.
Pemandangan dari atas puncak itu sangatlah indah. Awan-awan berarak di bawah puncak sehingga apabila seseorang berada di atas sana, dia seakan berada di dunia lain, tepatnya di istana atas angin. Awan yang menyelimuti Bukit Awan sangat tebal, memantulkan cahaya merah kekuningan dari matahari yang siap masuk ke peraduannya. Bias pelangi nampak di sana-sini dengan warna-warni yang indah.
Di dekat jurang di belakang pondok Pendekar Golok Terbang, dua bayangan berkelebatan saling serang dengan sangat cepat. Hampir jarang sekali kedua kaki mereka menginjak tanah berbatu, diselingi teriakan-teriakan nyaring. Saling kejar dan saling libat, sesekali terdengar dencing suara senjata beradu disusul muncratnya bunga api.
Siapakah kedua bayangan tersebut? Mereka tidak lain adalah penghuni puncak Bukit Awan, Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie bersama muridnya, Li Cu Liong. Telah lebih dari sebulan Cu Liong dilatih gurunya di puncak tersebut. Seluruh ilmu kepandaian seakan ingin dipindahkan oleh sang guru kepada murid tunggalnya ini. Liok Ing Gie mendesak muridnya untuk belajar siang dan malam, sehingga dalam tempo sebulan, kepandaian Cu Liong menjadi berlipat ganda.
Isi kitab belum sempat dipelajari oleh keduanya. Mereka lebih mementingkan Ilmu Golok Terbang andalan Liok Ing Gie agar dikuasai secara matang terlebih dahulu. Dengan demikian, saat mempelajari isi kitab nanti, Cu Liong sudah memiliki dasar yang cukup lumayan.
"Awas... gunakan kegesitanmu, Cu Liong!" seru Liok Ing Gie sambil meluncurkan goloknya. Golok itu pun terbang dengan kecepatan kilat sambil berputar. Serangan dari jarak dekat ini jarang sekali dapat dihindarkan oleh lawan bagaimanapun lihainya, karena sungguh di luar dugaan.
Sihggggg... Tranggggg... Singggg...
Cu Liong meloncat tinggi beberapa tombak di udara dan berputar beberapa kali. Begitu golok terbang berputar balik, Cu Liong menggerakkan senjata di tangan kanannya untuk menepis sehingga golok tersebut menyeleweng. Akan tetapi, pemuda ini agaknya masih memandang ringan kelihaian golok terbang gurunya. Setelah mengeluarkan suara keras, goloknya patah tepat saat menangkis golok berputar tadi.
Liok Ing Gie menarik tali hitam di tangan dan mencela muridnya. "Jangan kau pandang ringan golok yang sedang terbang, Liong. Seluruh tenaga putaran itu menjadi berlipat ketika membalik, sehingga hanya dengan tali ini aku dapat menguasai terbangnya."
"Maafkan murid, Suhu."
"Kau mendapat kemajuan lumayan dalam tempo sebulan ini, Liong. Hanya tenaga dalammu masih jauh dari sempurna. Apabila kau dapat memiliki lweekang dua tingkat dari sekarang, kukira ilmumu sudah berada di atasku," puji Liok Ing Gie.
Pendekar ini merasa senang dan bangga akan kemajuan muridnya. Keduanya lalu kembali memasuki pondok. Matahari telah lenyap di balik bukit sehingga pelan-pelan kegelapan merambah menggantikannya. Satu dua bintang telah muncul menggantikan sang surya. Hawa di puncak semakin dingin hingga terasa menyusup ke dalam tulang.
Sebuah bayangan abu-abu berkelebat dari bawah puncak. Bagaikan bayangan setan pencabut nyawa, ia meluncur cepat sekali dan dengan mudah melompati jurang-jurang yang membentang di bawah bukit. Tanpa menimbulkan suara sama sekali, kedua kaki bayangan abu-abu itu akhirnya berhenti di dekat pondok. Dua orang di dalam pondok sama sekali tidak mendengar gerakan orang yang baru datang ini. Hal itu menandakan bahwa orang berpakaian abu-abu tersebut memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi, mungkin jauh di atas Pendekar Golok Terbang dan muridnya.
"Ha-ha-ha... Liok Ing Gie, pencuri busuk, ayo serahkan nyawamu!"
Dapat dibayangkan betapa kagetnya guru dan murid yang sedang berbincang di dalam pondok tersebut. Akan tetapi, sebagai seorang pendekar kawakan, Liok Ing Gie dapat menguasai dirinya. Dia tahu bahwa lawan di luar tak boleh diremehkan. Dia saling pandang dengan muridnya, Cu Liong.
"Liong, kuharap kau jangan keluar."