Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 10

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 10

"Biar aku saja yang menanyakan apa maksud kedatangannya ini," pesannya lirih.

"Tapi, Suhu..."

"Tidak ada tapi. Selamatkan saja kedua pusaka itu, jangan sampai jatuh di tangan orang jahat!" Liok Ing Gie memerintah.

"Jangan membantah, Liong!" katanya kemudian karena melihat keraguan muridnya.

"Murid mentaati perintah."

"Bagus. Apa pun yang terjadi jangan kau keluar. Kau harus melarikan diri dan menyempurnakan ilmu-ilmu di dalam kitab itu sebelum membalas..."

"Bangsat, Liok Ing Gie, kalau kau tidak keluar akan kuhancurkan pondok bututmu!" Bentakan ini memotong ucapan Liok Ing Gie pada Cu Liong.

"Cepat, kalau terlambat bahaya," Liok Ing Gie mendesak muridnya.

Pendekar ini lalu memadamkan lampu satu-satunya dalam kamar. Setelah mencabut golok andalannya lalu keluar melalui pintu depan. Sepasang mata pendekar ini mencorong tajam ketika mengawasi orang berpakaian abu-abu dan berambut putih riap-riapan yang berdiri di pelataran pondok. Tangan kanan pendeta ini memegang sebuah tongkat kehitaman berkelak-kelok seperti tubuh ular. Sepasang mata pendeta tua tersebut mencorong tajam seakan-akan mengeluarkan sinar api ketika menatapnya.

"Siapakah Totiang ini dan mau apakah malam-malam teriak-teriak tidak karuan di rumah orang? Kalau mau meminta sedekah, besok 'kan masih ada waktu," ejeknya.

Liok Ing Gie berbuat demikian ini untuk membesarkan hati sendiri. Wajah Sim Tok Tojin berubah kemerahan karena marah mendengar ejekan tersebut.

"Bangsat! Keparat lancang! Aku datang bukan mengemis, akan tetapi akan mencabut nyawamu yang tidak berharga, tahu! Mungkin Pinto dapat mengampuni nyawa anjingmu itu kalau kau menyerahkan kitab yang kau curi! Ha-heh-heh-heh...!!"

"Tosu bau! Sebutkan namamu sebelum kepalamu menggelinding terkena Golok Terbangku!" bentak Liok Ing Gie tak kalah galaknya.

"Heh-heh-heh, baik. Kau dapat melaporkan kepada penjaga neraka siapa yang telah mengirimmu ke sana. Dengarlah baik-baik, jangan salah melapor nantinya. Aku pelindung Naga Terbang dan orang-orang memanggilku Sim Tok Tojin!" Liok Ing Gie tercekat juga hatinya mendengar nama ini.

"Wah, ternyata pendeta gadungan ini murid termuda dari Ketua lama Naga Terbang yang juga menjadi guru dari Li Ceng Ong. Gawat...!" katanya dalam hati.

Kedua ujung kakinya berdiri di atas tanah, tumitnya diangkat ke atas sedikit. Kuda-kuda ini membuat gerakan pendekar ini menjadi gesit luar biasa dan dia pun menyalurkan seluruh tenaga lwe-kang ke tangan. Melihat pembukaan ini, Sim Tok Tojin hanya tertawa saja tanpa memedulikan keadaan lawannya, pendeta ini melangkah maju ke depan sambil mengayun tangan kanannya.

Wuuttttt... Wuttttt-wuuttttt...!!

Tiga kali serangan tongkat hitamnya dapat dielakkan dengan manis oleh Liok Ing Gie. Akan tetapi tangan kiri tosu ini tak tinggal diam begitu saja, membantu dengan serangan pukulan jarak jauh yang membawa angin panas bagaikan ada api besar datang melanda. Liok Ing Gie menjadi kewalahan juga mendapat serangan bertubi-tubi ini, cepat ia menggerakkan senjatanya untuk membendung serangan lawan.

Tranggggg...!

"Ahhhhh...!" Liok Ing Gie menjerit kaget ketika goloknya menangkis toya dan terpental kembali ke belakang. Tubuhnya terhuyung-huyung saking kuatnya ayunan toya hitam di tangan lawan.

"Gila... tenaga dalam pendeta tua itu sungguh luar biasa!" umpatnya dalam hati.

Akan tetapi tanpa keder sedikit pun Liok Ing Gie mengambil inisiatif menyerang terlebih dahulu. Goloknya diputar-putarkan di udara menderu suaranya bagai sebuah baling-baling kapal udara siap untuk meninggalkan landasan. Semakin lama semakin cepat sehingga hanya tampak selarik sinar berputar cepat.

"Hiaaattttt... Mampuslah!" Golok pun menyambar tosu berjubah abu-abu dengan kecepatan kilat.

"Heh-heh-heh, keluarkan seluruh kebisaanmu, bangsat kecil!" ejek Sim Tok Tojin sambil melejit ke samping. Begitu sinar golok lewat, Sim Tok Tojin meluncur maju dengan tongkat menotok dada lawan.

"Mampuslah kau pencuri kecil!"

"Haittt...!" Tranggggg...!!

Walaupun serangan ini di luar dugaan sama sekali. Karena golok yang tadi luput itu ternyata dapat berputar dari belakang menyerang belakang tubuh Sim Tok Tojin. Tosu tersebut segera menahan serangannya dan menangkis ke belakang. Liok Ing Gie melesat jauh ke belakang. Pendekar ini segera mengatur pernapasannya yang memburu ketika beberapa kali goloknya ditangkis lawan. Sedangkan Sim Tok Tojin menjadi bertambah marah ketika menyerang lebih dari sepuluh jurus belum juga dapat mengalahkan lawannya. Pendeta ini lalu mengeluarkan teriakan melengking tinggi, semakin lama lengkingan itu semakin meninggi. Liok Ing Gie menjadi pucat wajahnya ketika kedua daun telinganya tidak kuat menahan serangan lengkingan lawan. Jantung dalam dada Liok Ing Gie bagai meloncat-loncat ingin ke luar dari mulut pendekar ini. Belum juga Pendekar Golok Terbang dapat menguasai dirinya tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan abu-abu meluncur ke depan.

"Celaka...!" Teriaknya sambil membuang tubuh ke belakang dan bergulingan di atas tanah beberapa kali.

"Mampuslah...!" seru Sim Tok Tojin sambil menyusuli totokan-totokan ke arah kepala Liok Ing Gie.

Tuk! Tukk!! Takk! Tranggg...!!

Tiga kali tongkat berwarna hitam tersebut menghantam tanah keras dan batu-batu pun hancur, memercik ke sana-sini. Akan tetapi totokan yang keempat kalinya hampir saja mengenai kepala Liok Ing Gie. Untung bahwa Pendekar Golok Terbang ini masih sempat menggerakkan goloknya menahan tongkat yang dapat mencabut nyawa itu. Sayang sekali, keadaan Pendekar Golok Terbang ini tak menguntungkan dirinya. Setelah mengeluarkan suara keras goloknya terlempar ke udara.

"Ha-ha-ha... mau lari ke mana kau sekarang?" Seruannya dibarengi dengan babatan tongkat ke arah tubuh Liok Ing Gie. Sedangkan tangan kirinya siap untuk memberi serangan susulan dengan pukulan jarak jauh yang ampuh.

"Pendeta keparat! Aku akan mengadu nyawa denganmu!" Liok Ing Gie yang telah tertutup segala jalan larinya menjadi beringas dan menjadi nekat. Dengan lwe-kang dikerahkan di kedua tangan Liok Ing Gie menyambut datangnya tongkat lawan.

Blarrr! Desssss...

Bagaikan layangan putus talinya tubuh Pendekar Golok Terbang melayang ke belakang beberapa tombak. Ternyata dadanya telah terkena pukulan tangan kiri Sim Tok Tojin. Pukulan yang mengandung racun! Pendekar ini masih berusaha untuk bangkit, akan tetapi kembali tubuhnya tak kuat dan dia lalu terjerambab ke depan!

"Suhu...!" Sesosok bayangan kemerahan meluncur. Sebelum tubuh Pendekar Golok Terbang jatuh di atas tanah telah disambar dan dibawa meloncat ke dalam pondok. Ternyata Li Cu Liong belum pergi meninggalkan pondok. Pemuda ini mengintai dari dalam melihat betapa gurunya dipermainkan oleh Si Tosu yang bernama Sim Tok Tojin. Maka setelah melihat suhunya terluka, tanpa memedulikan bahaya lagi ia lalu keluar untuk menyelamatkan gurunya.

"Liong... ji... ce-ce... la-la-la... ri!" dan kepala Liok Ing Gie terkulai setelah menyuruh pemuda itu cepat-cepat melarikan diri. Mendengar ini, Li Cu Liong hanya merandek sebentar. Akan tetapi begitu melihat gurunya tewas, kemarahan telah membakar dada pemuda ini sehingga tanpa memedulikan apa pun dia lalu menuju ke belakang pondok sambil membopong tubuh gurunya.

"Ha-ha-ha, keparat cilik, ayo serahkan kitab yang dicuri gurumu kepadaku. Mungkin Pinto akan memberi jalan hidup kepadamu, ha-ha-ha!" Suara itu terdengar semakin dekat.

Akan tetapi Cu Liong acuh saja.

Brakkkkk...!!

Pintu depan pun hancur terkena pukulan jarak jauh Sim Tok Tojin. Akan tetapi keadaan dalam ruangan itu gelap dan bayangan manusia tak tampak sama sekali. Melihat ini, Sim Tok Tojin lalu melesat ke dalam sambil tangan kirinya bergerak memukul.

Wuttttt... Brakkkkk...!!

Kembali dinding belakang jebol dan sekarang tampaklah sesosok tubuh sedang membopong seseorang dan berjalan menuju ke tepi jurang.

"Tahan... Jangan kaulanjutkan langkahmu, anak muda!" Teriaknya lantang disertai tenaga sihir.

Cu Liong merasa kakinya tidak mau mengikuti perintahnya lagi. Ia berhenti mendadak. Pelan-pelan ia menoleh, begitu melihat pendeta tua ini melangkah satu demi satu mendekati dirinya ia segera meletakkan jenazah gurunya di atas tanah. Sepasang matanya merah dan beringas. Penuh rasa penasaran dan kemarahan, memandang pendeta tua berambut putih yang dikenalnya bernama Sim Tok Tojin. Entah apa kedudukannya di Perkumpulan Naga Terbang.

"He, anak muda, cepat keluarkan kitab yang dicuri gurumu. Kalau tidak..."

"Keparat...! Terimalah pembalasanku...!" Ucapan Sim Tok Tojin diputus oleh bentakan Cu Liong yang segera meluncur sambil menggerakkan senjata Golok Pusaka Naga Terbang yang dicuri gurunya dari kamar perpustakaan. Seleret sinar hijau mengarah kepala Sim Tok Tojin yang masih berjalan mendekati anak muda tersebut. Pendeta ini memandang rendah kepandaian anak muda itu, maka ketika sinar kehijauan tersebut menyambarnya dia lalu menggerakkan tangan kanan menyambut.

Singgggg...! Takkkkk...!!

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Sim Tok Tojin ketika tahu bahwa tongkat pusakanya dapat terputus oleh benda bersinar kehijauan tersebut. Walaupun pemuda itu juga terlempar ke belakang akibat kuatnya tenaga yang berada dalam tongkat hitam. Sepasang mata Sim Tok Tojin mengawasi senjata bersinar kehijauan penuh perhatian.

"Bocah! Apakah senjatamu itu adalah Golok Pusaka Naga Terbang? Itu lambang kekuasaan perguruanku yang hilang ratusan tahun lalu?" tanya Sim Tok Tojin ragu. Sepasang mata pendeta tua itu bercahaya penuh harapan.

"Kalau benar, mau apakah kau, Pendeta Bau?" jawab Cu Liong berani.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment