Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 11

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 11

"Bocah kurang ajar! Serahkan golokmu itu!" Sim Tok Tojin meloncat maju dengan kedua tangan membentuk cengkeraman. Dari kedua tangannya keluar hawa berbau amis.

Cu Liong tidak berani memandang ringan serangan tosu tersebut. Golok di tangan kanan diputar di depan dada, melindungi tubuh depannya dengan kecepatan kilat, bagaikan sebuah payung berwarna kehijauan membentengi tubuh dari serangan kedua tangan yang tak boleh dipandang ringan itu.

Terdengar suara keras ketika Tenaga Pukulan Beracun dari tangan Sim Tok Tojin bertemu dengan putaran senjata golok yang digerakkan dengan tenaga Iweekang tingkat tinggi. Akan tetapi, tetap saja Cu Liong terdorong beberapa langkah ke belakang.

"Berhenti, anak muda! Awas, di belakangmu jurang!" Tanpa terasa Sim Tok Tojin berteriak memperingatkan. Tosu ini merasa sayang kalau barang pusaka di tangan pemuda tersebut nanti jatuh ke dalam jurang, bukan menyayangkan diri si anak muda.

"Ciat!" Cu Liong melengking keras dan tubuhnya meluncur ke depan bagaikan panah terlepas dari busurnya. Golok hijau di tangan diputar bagaikan baling-baling, cepatnya mengarah tubuh pendeta Agama To itu dari berbagai jurusan.

Cring-cring-cring! Desss!

Tubuh Cu Liong bagaikan layangan putus mencelat ke belakang. Lebih celaka lagi, tubuhnya melayang, melewati pinggir jurang dan tanpa ampun pemuda ini terjatuh ke dalam jurang yang tak terukur dalamnya. Awan putih menutupi atas jurang membubung naik menyambut tubuhnya.

"Aaaaaaa!"

"Celaka!" Sim Tok Tojin berseru kecewa. Tanpa membuang waktu lagi, tosu ini segera meloloskan angkin dari tubuhnya dan... Bet, bet, bet! Bagaikan ular hidup, angkin itu meluncur mengejar tubuh pemuda tersebut.

Plak!

Cu Liong menggunakan tangan kiri menangkis. Akibatnya, Cu Liong terlempar semakin ke tengah. Bagaikan batu disedot pusaran angin, tubuhnya berputar jatuh ke dalam jurang!

"Sialan! Gara-gara keparat tak tahu diri ini semua menjadi berantakan!" umpatnya jengkel.

Tosu berpakaian serba abu-abu ini menggerakkan kaki kanannya mencokel tubuh Pendekar Golok Terbang.

Desss!

"Haha! Biar kalian berdua bersama-sama menghadap Giam-Io-ong!" Setelah puas tertawa, tosu ini lalu berkelebat lenyap menuruni Bukit Awan. Bagaikan setan gentayangan, tubuhnya berkelebat cepat menuruni puncak bukit.

***

Kota Merak Emas, di sebelah utara Bukit Awan, siang itu ramai sekali. Para penduduk desa di sekitar kota telah berdatangan sejak kemarin lusa. Mereka mengenakan pakaian serba indah dan baru. Apalagi penduduk Kota Merak Emas sendiri, mereka tidak mau kalah dalam hal pamer kekayaan dan kebagusan pakaian dengan para pendatang dari luar kota. Wajah-wajah penuh keceriaan memenuhi kota tersebut.

Hal ini tidaklah aneh. Sebab di Kelenteng Dewa Langit akan diadakan arak-arakan Dewa Langit mengelilingi kota. Hal ini sudah menjadi tradisi selama puluhan tahun semenjak kuil itu dikepalai oleh pendeta baru. Memang, semenjak pendeta yang berjuluk Pek Bin Tojin menguasai kuil, banyak sekali perubahan di Kuil Dewa Langit. Menurut para penduduk yang datang mengunjungi kuil, kuil itu sangat manjur dan dapat memberi berkah kepada mereka. Maka tidaklah mengherankan apabila sekarang keadaan di dalam kuil menjadi demikian mewah dan indahnya. Banyak sekali penyumbang bagi kehidupan kuil ini.

Dewa Langit yang menjadi pujaan tunggal di tempat itu terbuat dari batu yang diselaputi emas, tinggi patung ada sekitar dua meteran. Ditaruh di tengah ruangan. Seolah hidup dalam kepulan asap yang selalu mengepul keluar dari berbagai ukuran dupa biting. Apalagi di kanan kiri meja depan tampak banyak sekali sesaji dan lilin-lilin besar kecil menyala, sehingga menimbulkan bayang-bayang aneh. Sejak beberapa hari lalu, tampak banyak sekali orang masuk kuil sambil membawa bungkusan besar kecil. Agaknya mereka datang untuk menyumbang atau membayar kaul. Maka tak mengherankan kalau di depan kuil itu banyak sekali penjual makanan dan kebutuhan sembahyang memenuhi jalan menuju ke kuil.

Akan tetapi, bukan keanehan ini yang menjadi berita utama di kota itu, melainkan berita yang tersiar dari mulut ke mulut tentang keluarnya atau munculnya senjata Golok Pusaka Naga Terbang! Senjata pusaka yang menjadi incaran semua orang rimba persilatan. Tak mengherankan apabila Kota Merak Emas menjadi ramai dengan kedatangan para pesilat dari delapan penjuru dunia. Mereka selalu memburu benda-benda yang akan membuat nama mereka terangkat tinggi-tinggi apabila dapat menguasai benda tersebut.

Rumah makan dan rumah penginapan telah penuh sejak kemarin. Jangankan rumah penginapan, emper toko pun dijadikan tempat tidur, daripada tidak bisa tidur sama sekali. Apalagi ruangan-ruangan kuil, semuanya penuh dengan manusia. Seakan-akan manusia di seluruh bumi dituangkan di Kota Merak Emas! Dengan banyaknya pesilat di kota ini, kerusuhan pun tak dapat dihindarkan lagi. Apalagi kedatangan mereka semua demi sebuah pusaka kuno. Maka sudah wajarlah apabila setiap hari terjadi pembunuhan dan perkelahian di sembarang tempat. Baru saja berjalan dan saling pandang, sudah cukup menjadi alasan untuk mencabut senjata dan saling menyerang hingga adu nyawa. Semua ini membuat para petugas keamanan bertugas ekstra ketat dan kuat!

Ketika itu, masuklah rombongan piauwkiok dari luar daerah. Bendera di tiang yang tertancap di atas gerobak tampak berkibar dengan gagahnya. Dasar bendera yang berwarna merah tampak menyala di siang yang panas itu, apalagi gambar Garuda Putih di tengah bendera. Seperti garuda putih hidup dan terbang di atas puncak gerobak tersebut. Pek-eng-piauwkiok (Perusahaan Pengawal Barang Garuda Putih) adalah nama perusahaan pengiriman barang itu!

Tar-tar-tar!

"Minggir! Minggir!"

Tar-tar-tar!

Orang-orang yang memenuhi jalan menepi ketika mendengar suara cambuk dan teriakan keras penunggang kuda di depan rombongan piauwsu. Mereka minggir sambil mengumpat-umpat kesal. Akan tetapi, ketika serombongan prajurit datang menyongsong, tiba-tiba saja piauwsu berkuda yang berjalan di depan tersebut menahan lari kudanya dengan mendadak, sehingga kudanya meringkik dan berdiri mengangkat kedua kaki depan.

"Hiyeeeee!"

Orang-orang di pinggir jalan menengok dan memandang kagum piauwsu tua tersebut. Walaupun kuda itu berdiri dengan kaki belakang saja, piauwsu tersebut masih dapat duduk di pelana dengan amat baiknya, tidak terpelanting akibat kagetnya kuda.

Kepala prajurit memberi hormat dan berkata sopan setelah melihat piauwsu itu dapat menguasai kudanya. "Maafkan kami kalau kami membuat kaget Tuan. Kami diperintahkan oleh Kepala Daerah untuk menyambut kedatangan rombongan Tuan."

"Ahh, untung aku tidak terlempar dari kuda," tegur piauwsu tua berwibawa. "Tolong antarkan kami menuju rumah Kepala Daerah segera."

"Silakan, Tuan." Kepala prajurit segera memerintahkan anak buahnya untuk membuka jalan bagi rombongan piauwsu ini. Maka rombongan Piauwkiok yang berbendera Garuda Putih itu pun segera melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, kini yang membuka jalan adalah prajurit penjaga kota. Sehingga sebentar saja sampailah rombongan tersebut di rumah Kepala Daerah.

Ketua rombongan Pek-eng-piauwkiok yang bernama Hung Ci Pao turun dari kudanya. Ketua ini berusia antara lima puluh sampai lima puluh lima tahunan dan perawakannya tidaklah begitu tegap, akan tetapi sepasang mata yang agak sipit itu berkilat-kilat ketika memandang. Wajahnya yang kurus dihiasi jenggot panjang dua warna, putih dan hitam.

"Ha-ha-ha, akhirnya sampai juga." Kepala Daerah tertawa senang menyongsong Ketua Garuda Putih ini. Wajahnya bersinar senang.

"Berkat doa restu Taijin, semua berjalan tanpa halangan sedikit pun." Hung Ci Pao menjura sambil menjawab.

Ketua Garuda Putih Hung Ci Pao membuka pintu kereta dan tak lama kemudian turunlah dari dalam kereta seorang wanita setengah umur yang mengenakan pakaian indah. Wajahnya berbentuk kuaci dengan sepasang bibir merah basah menyungging senyuman dan sepasang matanya memandang dengan kerlingan yang dapat meruntuhkan iman lelaki. Kulitnya putih mulus, seolah-olah jika lalat hinggap akan terpeleset saking halusnya. Bentuk tubuhnya sangatlah menggairahkan, penuh tonjolan merangsang.

"Selamat datang, Dewi." Sambil membungkuk hormat, Kepala Daerah menyambut perempuan cantik tersebut penuh kehormatan.

"Hemmm!" Wanita cantik yang bernama Dewi tadi hanya mendengus pendek menerima sambutan ini. Dengan langkah anggun, Dewi melangkah menuju rumah Kepala Daerah. Langkah yang indah, membuat pinggulnya menari-nari, menambah daya tarik wanita cantik ini.

Banyak pasang mata terbelalak melihat keindahan wanita yang berjalan memasuki rumah Kepala Daerah itu. Malahan ada di antara mereka yang sampai ternganga dan kedua mata tak berkedip melotot melihat goyangan pinggul Sang Dewi.

"Ck-ck-ck, betapa eloknya!"

"Amboi, elok nian!"

Suit-suit!

Pujian ini hampir terdengar di mana-mana ketika mereka menerima lirikan sepasang mata menantang dari wanita cantik ini. Akan tetapi, wanita cantik itu terus berjalan masuk, diiringkan dengan hormat oleh Kepala Daerah. Beberapa orang prajurit segera menurunkan beberapa peti besar dari beberapa kereta.

Setelah wanita cantik dan barang-barang dibawa masuk, tak lama kemudian mereka melanjutkan perjalanan tanpa henti-hentinya membicarakan wanita cantik yang menjadi tamu Kepala Daerah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment