Chapter 12
Siapakah gerangan wanita tersebut? Akan tetapi, tak seorang pun dapat menjawabnya, karena mereka kebanyakan hanya penduduk kota dan dusun biasa saja.
Akan tetapi, apabila ada tokoh-tokoh kang-ouw kalangan tua melihatnya, mereka akan menjadi kaget.
Begitu tiba di ruangan dalam rumah kediaman Kepala Daerah, Dewi Seruni Ungu tersenyum manis melihat orang-orang yang menyambutnya di ruangan itu.
Sepasang mata wanita yang jeli ini mengerling ke seluruh ruangan, mencari dan meneliti semua yang hadir dalam ruangan itu, kalau-kalau ada yang ditujunya!
"Hik-hik-hik. Mana itu tosu bau Sim Tok? Kenapa belum kelihatan batang hidungnya? Apakah orang yang mengundang malah belum datang sendiri? Gila! Hi-hi-hik...!" Dewi Seruni Ungu tertawa renyah.
Seorang lelaki pendek gemuk dengan wajah bagaikan bulan dan mulut lebar maju menjura.
"Selamat datang, Sianli. Suhu sedang membereskan sebuah urusan penting sehingga beliau datang terlambat."
"Hi-hi-hi... Jadi kau inilah murid tosu bau itu. Sungguh seperti Siluman Babi! Hi-hi-hik...!" Para tamu dalam ruangan itu tersenyum geli mendengar kelakar ini.
Akan tetapi, tak seorang pun berani tertawa, maklum bahwa orang gendut itu bukanlah orang sembarangan.
Memang benar, dia bukan lain adalah Coa Sim Ok, Wakil Ketua Naga Terbang!
Sedangkan Coa Sim Ok sendiri ketika mendengar ucapan Dewi Seruni Ungu ini hanya tersenyum kecut.
Dengan ramah ia mempersilakan tokoh wanita sahabat baik gurunya ini menempati tempat duduk kehormatan.
Setelah Dewi Seruni Ungu duduk, dengan langkah gagah Coa Sim Ok menuju ke tengah ruangan.
Akan tetapi, sebelum dia mengucapkan sepatah kata pun, tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak.
Suara tawa yang tinggi menusuk gendang telinga.
Suara yang disertai tenaga Iweekang tingkat tinggi.
"Haha... ternyata engkau menepati janji, Sianli. Haha...!!" Sebelum gema tawa itu hilang, ternyata di tengah ruangan telah berdiri seorang tosu berjubah abu-abu.
Kakek tua ini bukan lain adalah Sim Tok Tojin, guru Coa Sim Ok!
"Tua bangka bangkotan! Kalau mengundang orang, seharusnya kau menyambut sendiri di depan pintu. Dasar tua bangka pikun!" Dewi Seruni Ungu menegur Sim Tok Tojin.
"Maaf, maafkan Pinto, Sianli. Sebenarnya, sejak kemarin dulu Pinto menanti kedatanganmu. Akan tetapi, aku mendengar kabar bahwa kau datang dengan menyewa rombongan piauwsu Pek-eng-piauwkiok, karena itu, Pinto segera mengejar orang jahil sendirian saja."
"Hi-hi-hik, apakah ada anak ayam menggugah seleramu?" ejek Dewi Seruni Ungu.
"Wah, kau terlalu memandang rendah Pinto, Sianli. Mana ada anak ayam yang dapat menggugah selera kalau akan datang seorang dewi seperti engkau ini." Sim Tok Tojin membalas memuji wanita ini.
Para tamu di ruangan itu mendengar omongan ini hanya tersenyum-senyum penuh arti.
Tidak ada seorang pun yang berani angkat bicara ketika kedua tokoh besar ini sedang saling tegur.
Pandang mata mereka rata-rata tertuju ke arah Dewi Seruni Ungu penuh dengan gairah.
Apalagi ketika ucapan Sim Tok Tojin terakhir tadi.
Membuat mata mereka bercahaya dan pikiran mereka melayang ke awang-awang!
"Kalau begitu, kenapa?"
"Agaknya Si Nelayan Pantai Timur yang ingin membuat ulah. Ketika Pinto kejar, Nelayan Pantai Timur mengajak Pinto main kucing-kucingan selama dua hari satu malam, akan tetapi, akhirnya keparat itu hilang di tengah keramaian kota ini. Benar-benar keparat!"
"Hi-hi-hik!" Sim Tok Tojin segera menuju kursi di samping Dewi Seruni Ungu dan menjatuhkan pinggulnya yang tepos di kursi.
Sepasang mata pendeta ini tidak pernah lepas dari tubuh wanita di dekatnya, seakan dengan pandang matanya, pendeta ini membelai seluruh tubuh Dewi Seruni Ungu.
Akan tetapi, wanita cantik itu hanya tersenyum kecil dan melirik ke arah tamu muda yang juga memenuhi tempat itu.
Matanya mengerling genit dan tersenyum-senyum menantang.
Para tamu muda menjadi panas dingin ketika pandang mata mereka beradu dengan pandangan dan senyum mengajak dari wanita yang bernama Dewi Seruni Ungu!
Mata mereka tak pernah lepas dari wanita cantik tersebut.
Sambutan Coa Sim Ok hampir tidak masuk dalam telinga mereka.
Seluruh perhatian hanya ditujukan kepada gerak-gerik Dewi Seruni Ungu seperti sudah terkena sihir maut!
"Kuminta bantuan Saudara-saudara untuk mencari dan menemukan pusaka kami tersebut! Kami dari Hui-liong-pang tidak akan melupakan budi Cuwi sekalian. Sebelumnya kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang Cuwi berikan. Atas nama Ketua Naga Terbang saya akan membalas semua kebaikan yang telah Cuwi limpahkan kepada kami." Coa Sim Ok menutup keterangan dan sambutannya.
Dua kali tangannya bertepuk memberi isyarat. Plok! Plok!
Dari dalam ruangan belakang masuklah para muda yang mengenakan pakaian seragam dan di dada kanan mereka tampak gambar naga bersayap.
Mereka memasuki ruangan dengan memanggul peti-peti besar.
Begitu peti dibuka, terbelalaklah semua hadirin melihat isinya.
Mata mereka berkilat melihat harta bertumpuk-tumpuk tersebut.
Bibir mereka merekah senyum berseri dan wajah-wajah mereka berbinar-binar.
"Sebagai tanda persahabatan dari Pinto sebagai wakil dari Hui-liong-pang, saya akan membagi-bagikan sekadar tanda persahabatan." Sim Tok Tojin berkata lembut dan berwibawa.
"Kuharap saja berita ini tidak bocor keluar. Siapa yang sengaja atau tidak sengaja telah membocorkannya, dia akan menerima hukuman dari Pinto." Coa Sim Ok, begitu menerima isyarat dari gurunya, segera membagi-bagikan hadiah yang cukup besar kepada semua hadirin.
Ternyata mereka yang datang dalam ruangan ini bukanlah orang sembarangan, melainkan para kepala perkumpulan atau kepala kaum sesat di seluruh penjuru.
Setelah pembagian harta selesai, maka dimulailah pesta besar-besaran.
Semua pelayan yang melayani mereka ternyata adalah anak buah Perkumpulan Naga Terbang.
Tak seorang pun prajurit atau pelayan di rumah Kepala Daerah yang menampakkan batang hidung.
Pesta pun berjalan meriah sampai malam.
Ternyata iring-iringan Dewa Langit berwujud patung tersebut telah dimulai.
Di barisan paling depan, para prajurit dengan pakaian serba gemerlap dan tombak di tangan berbaris rapi.
Suara tambur dan seruling, gembreng dan rebab memenuhi angkasa di malam hari itu.
Di belakang prajurit ini, berjalan pula penduduk kota dan dusun dengan mengenakan pakaian para dewa dan binatang-binatang raksasa.
Mereka mengenakan topeng berwarna-warni, bahkan ada yang membuat patung besar dari bambu dan kertas. Patung-patung tersebut kebanyakan berbentuk liong, ikan mas, dan ada pula binatang kilin.
Setelah barisan ini barulah tampak barisan para tosu.
Di tengah-tengah barisan inilah, dipanggul oleh beberapa puluh orang patung Dewa Langit yang dilapisi emas.
Tampak tinggi besar dan berwibawa.
Bau dupa biting pun menyengat hidung saking banyaknya.
Di belakang pendeta tosu dan patung, masih tampak pula iring-iringan penduduk yang menyambut gembira perayaan diaraknya Dewa Langit ini.
Semua muka mereka dicat seperti tokoh-tokoh wayang.
Senjata-senjata wayang pun tidak ketinggalan mereka bawa sehingga semakin semaraklah pesta mengarak Dewa Langit ini.
Semua penduduk kota, desa, dan pendatang dari jauh menyembah dengan hormat ketika patung Dewa Langit melewati mereka.
Mereka percaya bahwa Dewa Langit akan melihat penghormatan dan pengorbanan yang mereka lakukan untuk menyembahnya.
Di dalam barisan ini, tak ketinggalan pula wajah-wajah berwujud setan dengan tangan membawa senjata mengerikan, serta tubuh dan topeng mereka yang dapat membuat orang ketakutan.
Wajah-wajah yang menjadi gambaran dari setan neraka dalam versi mereka!
Darrr! Tarr-tar-dung! Dung! Blearrr...!!
Suara mercon pun memecah angkasa.
Ternyata mereka telah menggunakan anak panah untuk melontarkan mercon ke udara.
Suara letusan ini sambung menyambung, menambah meriah dan gembira kota Merak Emas.
Dalam keadaan saling berjubel ini, banyak tangan jahil berpesta pora.
Meraba-raba tubuh dan menggerayangi kantong, memindahkan isi kantong uang ke dalam kantong sendiri alias mencopet.
Sedangkan lelaki hidung belang memanfaatkan keadaan ini untuk memuaskan tangan dan nafsu mereka.
Menggaet pasangan!
Pintu kota Merak Emas selama semalam suntuk tak pernah ditutup, dibiarkan terbuka tanpa ada penjaga sama sekali.
Agaknya mereka percaya bahwa dengan diaraknya Dewa Langit mengitari kota, semua bencana atau yang berniat jahat akan mundur, takut akan kemurkaan Dewa Langit.
Percaya bahwa Dewa Langit akan memberi keselamatan bagi semua yang hadir dalam pesta arak-arakan tersebut.
Ketika matahari telah naik tinggi, dan banyak orang di kota sudah kembali ke desa masing-masing, masuklah dari pintu utara seorang lelaki tampan mengenakan pakaian serba putih seperti pakaian orang sedang berkabung.
Kainnya dari bahan sederhana.
Wajahnya tampan dengan hidung mancung yang menarik, sepasang matanya memandang ke bawah, ke arah jalan di depannya.
Seakan-akan pemuda itu takut kalau-kalau ada batu yang dapat membuatnya tersandung.
Akan tetapi, apabila kebetulan ada yang bertatap muka dan melihat pandang mata pemuda tersebut, maka dapat dipastikan bahwa orang itu akan kaget saking tajamnya sinar mata pemuda itu.
Seakan sinar mata itu dapat menembus ke dalam jantung orang yang dipandangnya!