Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 13

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 13

Langkahnya tanpa terasa lagi melewati samping rumah makan di tengah kota.

Pemuda itu menoleh dan membelokkan langkahnya menuju ke rumah makan.

Seorang pelayan menyambut hormat dan mempersilakan pemuda itu menempati sebuah meja di sudut yang kosong.

Memang secara kebetulan saja ada tamu yang keluar sehingga meja satu-satunya itulah yang kosong.

Maka si pelayan segera mengantar pemuda ini ke sudut.

Setelah menerima pesanan, pelayan itu segera pergi mengambil pesanan pemuda berbaju putih.

“Uhhh, pemuda kampungan! Bantai kerbau!” terdengar gerutuan dari seorang pemuda berpakaian perlente.

Tiga orang temannya menoleh dan mengawasi pemuda berpakaian putih itu.

Begitu melihat pakaian pemuda itu, mereka tersenyum sinis.

“Benar apa katamu, Toako. Sungguh tidak tahu diri! Berani-berani masuk ke sini. Jangan-jangan…” teman yang mengejek itu kini duduk tepat berhadapan dengan Si Pemuda.

“Tidak kuat bayar maksudmu!” potong teman lainnya.

“Ha-ha-ha… Mungkin saja. Melihat pakaiannya saja dapat diketahui bahwa orang seperti itu pasti bokek (tidak punya uang). Paling-paling nanti akan melarikan diri kalau ditarik bayaran. He-he-heh!”

“Husss! Jangan menghina, siapa tahu kalau dia habis jual kerbau!” ejek orang pertama tadi sambil berkedip kepada teman-temannya.

“Kerbau tetangga kali!”

“Ha-ha-ha…!!”

“Hahi-hi-hi…!!”

“Haha… haeeppppp…!!”

Ketika sedang tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba terasa ada benda kecil memasuki mulutnya. Orang ketiga ini menjadi tersedak dan terbatuk-batuk.

Melihat ini, ketiga kawannya malah menertawakannya.

Pemuda berpakaian putih itu menengok ke samping kanan. Mulutnya tersenyum kecil ketika pandangan matanya bertemu dengan sepasang mata bintang seorang dara cantik.

Dara itu pun tersenyum dan mengangguk tidak kentara.

Ketika itulah pelayan datang membawa beberapa macam masakan pesanan si pemuda.

Setelah menaruh masakan di atas meja, pelayan itu pun berlalu sambil tersenyum.

“Gila… Apakah kuat bayar penjual kerbau itu, hee?” orang tertua berkata lagi.

Teman di samping kanannya menoleh. Sepasang matanya terbelalak melihat pesanan pemuda berbaju putih tersebut. Akan tetapi ia segera mengejek.

“Uhh, agaknya dia tidak tahu berapa harga makanan yang dimakannya itu. Dikira ini rumah makan pinggir jalan desanya. Ha-hahaaaduuhhhhh!!”

Sebutir kacang mengenai pelipis kepalanya ketika dia sedang tertawa mengejek. Ketika jari-jari tangannya meraba, ternyata di pelipis kanannya telah tumbuh jendolan sebesar telur puyuh. Terasa sakit ketika teraba. Dengan celingukan dia memandang ke sekeliling, mencari orang yang telah berbuat jahil. Ketika pandangan mata pemuda yang benjol pelipisnya itu melihat gadis cantik tertawa geli dan melihat ke arahnya, tanpa terasa bibirnya menyeringai membentuk senyum.

“Aih, cantiknya!” desisnya di sela rasa sakit.

Ketika kawannya menoleh mengikuti ke arah pandangan temannya, hampir bersamaan mereka memuji. Perhatian mereka sekarang tertuju kepada gadis cantik tersebut. Tidak memedulikan lagi pemuda berpakaian kasar berwarna putih. Tentu saja hal ini membuat pemuda berbaju putih dapat menikmati hidangan di meja dengan tenang.

“Aduhhh manisnya, aku ingin memetik kembang itu kalau bisa.” pemuda di sebelah kanan yang bermata juling berbisik perlahan.

“Mau apa?” tanya pemuda tertua yang mengenakan pakaian serbamewah.

“Mau itu tuh, hi-hi-hik.” Si Juling tertawa.

“Tampangmu seperti monyet makan terasi itu, mana sudi dia meladenimu!” ejek temannya yang berwajah codet.

Si Codet ini sebentar-sebentar melirik sambil melempar senyum ke arah sang Dara.

“Husssss! Apakah kalian tidak menghargai Toako lagi? Biar Toako saja yang menentukan.” orang keempat menyela.

“Itu baru kata-kata yang mengandung cengli. Menghormati yang tua dan mengetahui keadaan diri sendiri. Ha-ha-ha…!” Sang Toako tertawa senang mendengar ucapan pemuda keempat.

“Tentu saja! Akan tetapi, setelah nanti Toako dapat menikmati bunga segar, barulah kita yang mendapat giliran. Namun kita harus diundi terlebih dahulu agar tidak berebut!” Si Codet mengusulkan.

Kedua temannya segera mengiyakan.

Keempat orang tersebut tidak menyadari bahwa ucapan mereka walaupun lirih, tetapi terdengar jelas di telinga dara cantik yang sedang makan bersama kakeknya tersebut. Kakek yang mengenakan pakaian seperti nelayan tersebut bukan lain adalah Nelayan Pantai Timur, seorang tokoh besar di timur. Dan dara cantik itu pun bukanlah dara sembarangan, dia adalah murid tunggal Nelayan Pantai Timur. Ilmu silatnya jangan ditanya lagi. Seluruh kepandaian Nelayan Pantai Timur telah dikuasainya dengan sempurna. Hanya tinggal mematangkannya saja. Dara itu bukan lain adalah Tan Gin Nio.

Nelayan Pantai Timur berkedip, memberi isyarat agar muridnya tetap tenang. Gin Nio menahan kemarahan yang akan meledak mendengar ucapan pemuda-pemuda congkak tadi.

“Toako, ayolah, biasanya tidak pernah gagal apabila Toako merayu seorang wanita. Ayolah Toako, tunggu apa lagi?” desak Si Juling.

“Ya, cepatlah, Toako. Nanti keburu burung itu terbang lari.” pemuda keempat juga mendorong-dorongnya agar lekas bertindak.

Dengan lagak seorang kongcu tulen, langkah pemuda itu penuh gaya ketika mendekati kedua orang yang sedang makan itu. Sepasang mata gadis tersebut seperti mengeluarkan kilat melihat hal ini, akan tetapi meredup kembali ketika gurunya menegur dengan pandangan matanya!

Setelah mendekati meja kakek dan dara cantik itu, pemuda ini menjura dengan gaya yang menarik dan bibirnya tersenyum manis, menambah ketampanan wajahnya.

“Maaf, bolehkah kami berkenalan denganmu, Nona. Saya yang rendah adalah anak Kepala Daerah, Thio Si An.”

“Huh!” dengus Gin Nio tidak acuh.

Nelayan Pantai Timur terus melanjutkan makan bakmi gorengnya. Sama sekali tidak peduli akan kedatangan anak muda tersebut. Thio Si An kecele ketika dua orang itu tidak kaget mendengar bahwa dirinya adalah anak Kepala Daerah. Seakan-akan nama ayahnya hanya nama penjual bakso atau penjual tahu pinggir jalan saja! Bukanlah seorang pejabat tinggi.

Pemuda berbaju putih itu memandang ke arah pemuda bangsawan dengan alis berkerut. “Hemm, sudah kelewatan ulah pemuda-pemuda congkak itu,” katanya dalam hati.

“He, Kakek Butut. Jangan menjual lagak di depanku kalau kau tidak ingin celaka!” bentak Thio Si An lantang.

Para tamu rumah makan yang sudah mengenal siapa anak muda itu sebenarnya bersama teman-temannya, segera membayar harga makanan dan minuman mereka. Hampir berurutan mereka keluar dari rumah makan tersebut. Sebentar kemudian di ruang itu hanya ada empat pemuda congkak dan seorang pemuda yang mengenakan pakaian serba putih yang sedang makan dan minum, serta kakek dan dara cantik tersebut. Para pelayan rumah makan, tidak seorang pun yang berani mendekat.

“Heee, Kakek, bisu kau ya? Apa memang telingamu telah tuli? Kenapa sedari tadi diam seperti patung batu. Ayo cepat jawab!” Thio Si An marah-marah ketika tidak diacuhkan sama sekali.

“Kadal buduk! Kau ingin kuhajar ya, berani memaki-maki orang seenak udelmu sendiri!” Tan Gin Nio membalas dengan kemarahan meluap-luap melihat pemuda itu semakin tidak tahu diri.

“Eit, eit, eit, manisnya kalau marah-marah. Bertambah cantik lho kalau Nona marah.” Thio Si An malahan menggoda ketika gadis cantik itu marah-marah.

Ketiga pemuda yang lain ternyata telah maju mendekat ketika melihat pemimpin mereka tadi membentak kakek Nelayan Pantai Timur. Dengan cepat ketiganya telah mengambil posisi mengurung si kakek, siap mengeroyok kalau kakek itu membuat ulah.

“Pemuda hidung belang! Sebelum dihajar tidak akan kapok mengganggu gadis baik-baik!” Setelah mengeluarkan ucapan tersebut tiba-tiba entah kapan dan bagaimana, tahu-tahu tangan dara cantik itu telah mendarat di pipi Thio Si An.

Plakkk!

“Aduhhhhh!!” Thio Si An tidak dapat mengelak dari tamparan yang secepat kilat itu. Tahu-tahu pipinya menjadi bengkak biru dan beberapa buah giginya tanggal. Pemuda congkak ini terpelanting beberapa langkah ke belakang. Ketiga temannya segera maju untuk meringkus gadis cantik yang berani menampar anak Kepala Daerah.

Plakkk! Plakkk! Plakkk!

Ternyata ketiga pemuda itu pun telah mendapat hadiah tamparan di pipi mereka. Sambil merintih kesakitan keempatnya merangkak bangun dan matanya melotot memandang ke arah dara itu. Thio Si An mengusap darah yang menetes dari mulutnya sambil mengancam.

“Tunggu pembalasanku, gadis liar! Berani kalian menghajar anak murid Naga Terbang. Awas, jangan lari kalau berani!” Tanpa menanti jawaban lagi, keempatnya terhuyung-huyung pergi. Bagaikan anjing kena pukul, tanpa berani menoleh lagi!

Pandangan mata pemuda berpakaian putih berkilat ketika mendengar Naga Terbang disebut-sebut oleh anak muda congkak tadi. Akan tetapi segera melembut lagi ketika pandangan matanya beradu dengan pandangan mata gadis cantik itu. Tanpa terasa lagi dia mengangguk dan tersenyum.

“Ahh, celaka… Nio, kenapa kau tidak dapat menahan nafsumu. Cepat kita tinggalkan tempat ini.” Si Kakek, Nelayan Pantai Timur menggerutu, memarahi muridnya.

“Selalu, selalu saja murid yang disalahkan! Suhu ini bagaimana sih, jelas-jelas mereka adalah pemuda-pemuda kurang ajar, kenapa tidak boleh kalau aku menghajar mereka.”

“Bukannya tidak boleh, Gin Nio. Akan tetapi kau kan tahu, tosu bau itu masih berada di tempat ini dan kita haruslah berhati-hati!”

“Baiklah, memang murid yang salah!” Gin Nio menjawab dengan jengkel.

Nelayan Pantai Timur hanya tersenyum saja melihat kejengkelan muridnya ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment