Chapter 15
Li Cu Liong masih sadar ketika dia terjatuh ke dalam jurang. Ketika tubuhnya meluncur tanpa sengaja, kakinya tertekuk ke atas dan tubuhnya meluncur cepat bagaikan melayang. Ketika memasuki halimun, hampir saja pemuda ini pingsan, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya tersedot angin kuat sekali. Li Cu Liong tak kuasa melayani sedotan angin tersebut. Maka dia lalu menyerah saja dibawa angin tersebut. Akan tetapi akhirnya, Li Cu Liong jatuh pingsan. Dan selagi dalam keadaan pingsan inilah, Li Cu Liong tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
Tahu-tahu ketika dia sadar, tubuhnya terasa sakit semua. "Air... air...!" Sebuah tangan lembut halus meraba dahi Li Cu Liong. Lalu dengan kecepatan tak terkira jari tangan itu menotok beberapa tempat di tubuh anak muda yang masih rebah telentang di atas batu hitam itu. Wajahnya yang putih kemerahan bersinar lembut, penuh kesabaran dan pengertian. Sepasang matanya bagaikan mata telaga yang tenang sinarnya, berseri dan penuh pengertian. Membuat siapa saja yang beradu pandang merasa tenang damai. Bibirnya tersenyum wajar dan lembut.
"Tenang anak muda. Ini minumlah dahulu, obat ini akan menghilangkan rasa sakitmu." Kakek ini membantu meminumkan obat ke mulut Li Cu Liong. Tak lama kemudian pemuda ini pun tertidur setelah meminum obat tersebut. Dalam tidurnya pemuda ini seperti mimpi terjatuh ke dalam jurang tak berdasar dan tubuhnya menabrak dinding jurang dan terpental kembali ke dasar jurang. Hancur berkeping-keping! "Tolong... Tolong...!"
Ketika kedua matanya telah biasa dengan keadaan di sekelilingnya, Cu Liong terheran-heran melihat dirinya tidak kurang suatu apa. Sepasang matanya meneliti seluruh tubuh dan merasakan rasa sakit di tubuh telah banyak berkurang. Pemuda ini seakan bangun dari sebuah mimpi. "Tak mungkin! Pasti ini di neraka!" desisnya lirih. Tidak mengherankan apabila pemuda ini mengira bahwa dirinya berada dalam neraka. Neraka seperti yang pernah didengar atau diceritakan orang tua dan gurunya.
Tempat itu penuh dengan batu-batu besar, ada yang menggantung berujud kerucut, ada pula yang berbentuk sebuah pintu, akan tetapi ada pula yang berbentuk aneh. Bentuk-bentuk seperti binatang atau kepala-kepala setan! Apalagi matanya belum begitu melihat jelas dalam keremangan cahaya obor kecil di kejauhan! "Sudah bangun, Anak Muda!" terdengar teguran lembut dari dalam. Li Cu Liong mencari-cari dari arah mana asal suara tadi. Tiba-tiba sepasang mata Cu Liong terbelalak ketika dari tempat gelap nampak sesosok bayangan putih melayang datang!
Ingin pemuda ini berteriak, tetapi lidahnya terasa kelu. Sehingga dia hanya ah-ahuh-uh tak jelas maknanya! "Jangan takut! Aku manusia biasa seperti engkau, Nak!" Bayangan yang datang itu berkata lagi ketika melihat anak muda itu berahuh. Setelah dekat, barulah Cu Liong melihat bahwa yang datang adalah seorang kakek yang mengenakan jubah putih. Rambut dan jenggot kakek itu telah putih semua seperti perak dan alisnya pun dibiarkan panjang di kanan kiri pipi, berjuntai ke bawah, juga telah berwarna putih.
Akan tetapi wajahnya masih kemerahan kulitnya dan sepasang mata kakek tersebut memandang lembut, apalagi senyum ramah selalu menghiasi wajahnya. "Benarkah... " Apakah saya belum mati...?" "He-he-he... mengapa kau menduga demikian, Nak?" "Apakah ini bukan Neraka" Dan... Kakek ini bukan Malaikat Pencabut...?" "Bukan... bukan... aku manusia biasa. Dan kau masih hidup, Nak, walaupun kau telah rebah di batu itu hampir sebulan lamanya," ucapan lembut ini malah mengagetkan Li Cu Liong.
"Se... se... bulan?" "Benar, Nak. Kalau boleh, aku ingin tahu bagaimana kau sampai terjatuh ke dalam jurang ini dan siapakah orang tua gagah yang telah tewas itu?" Cu Liong segera bangun dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek berpakaian jubah putih. "Terima kasih atas pertolongan Siansu. Teecu... teecu... murid Liok Ing Gie. Suhu di dunia kang-ouw dikenal sebagai Pendekar Golok Terbang dan nama teecu Li Cu Liong." "He-he-he...!" Kakek berjubah putih ketawa geli.
Dia maklum bahwa anak muda ini belum sadar betul sehingga ucapannya tidak teratur. "Ini sebuah golok dan kitab yang kutemukan di sampingmu." Kakek itu menyerahkan sebuah kitab kuno kepada Cu Liong dan sebuah golok. Golok itu adalah senjata Golok Pusaka Naga Terbang yang menjadi rebutan di dunia persilatan. Li Cu Liong melihat benda itu menjadi terkejut sekali. Samar-samar dia teringat apa yang terjadi. Suhunya dibunuh tosu berpakaian abu-abu bernama Sim Tok Tojin. Dan dia pun terlempar ke dalam jurang oleh tangan pendeta lihai itu.
Kakek itu pun mendengarkan cerita Li Cu Liong penuh perhatian. Semua kejadian yang menyangkut diri pemuda itu diceritakan tanpa ada yang terlewat sehingga dia terjatuh ke dalam jurang. Kakek berjubah putih tersenyum maklum, seakan-akan dalam pandang matanya telah tahu apa yang terlah terjadi dan akan terjadi! "Ha-ha-ha, semua sudah terjadi seperti apa yang telah digariskan, Liong, kau berjodoh dengan kedua pusaka itu, dan aku. Tinggallah di sini mempelajari isi kitab, dan sedikit ilmu dariku!" "Terima kasih atas kemurahan dan bimbingan yang Suhu berikan. Teecu mentaati."
Sejak saat itu, Li Cu Liong mempelajari isi kitab kuno. Kitab pusaka itu ternyata berisi pelajaran ilmu silat dan tenaga dalam yang sangat hebat. Sedangkan dari kakek berjubah putih itu pun menurunkan ilmu meringankan tubuh yang sukar dicari tandingannya di dunia persilatan. Kakek itu bukanlah seorang pertapa biasa. Ketika Cu Liong ingin mengetahui namanya, kakek berjubah putih menjawab lembut. "He-he-he sebut saja San In Lojin. Aku berada di Bukit Awan maka sudah wajar kalau kau memanggilku Kakek Bukit Awan. Ha-ha-ha." Ilmu Golok Terbang yang diwarisinya dari Pendekar Golok Terbang pun tak ketinggalan menjadi bertambah lihai.
Sekarang Li Cu Liong dapat menguasai Golok Naga Terbang dan membuat senjata terbang tanpa tali seperti senjata gurunya. Liok Ing Gie masih membutuhkan tali halus untuk membuat goloknya terbang. Sekarang dengan kepandaiannya, Cu Liong telah dapat membuat senjata itu terbang bagaikan sebuah bumerang. Apalagi gagang golok telah dirubah oleh Kakek Bukit Awan sedemikian rupa. Entah berapa bulan Li Cu Liong tidak tahu. Pemuda ini hanya berlatih dan berlatih. Di samping menerima latihan ilmu silat, Cu Liong juga menerima petunjuk tentang kehidupan dan kebatinan.
Sehingga pada suatu hari Kakek Bukit Awan telah membolehkan pemuda itu untuk keluar dari jurang. Li Cu Liong terbelalak. "Ke... ke... keluar?" "Ya!" Kakek berjubah putih tersenyum melihat keheranan Cu Liong. "Apakah kau ingin tinggal di sini selama hidupmu?" "Ohhh," Li Cu Liong terpana. "Tapi, lewat manakah, Suhu?" "Ha-ha-ha, tentu saja lewat dari mana kau datang!" Li Cu Liong tak dapat buka mulut mendengar ucapan gurunya ini.
Melihat ini dengan tersenyum penuh pengertian, Kakek Bukit Awan segera menerangkan jalan masuk menuju ke jurang itu. Li Cu Liong mendengarkan penuh perhatian dan setelah mengerti dia pun mengucapkan terima kasihnya. Ketika Li Cu Liong bangun dari tidur, ia tidak melihat kakek berjubah putih lagi. Walaupun telah dicari-carinya di seluruh goa dan dasar jurang tak nampak bayangan Sang Kakek. Maka setelah memberi hormat kepada batu yang biasa dibuat tempat samadhi Kakek Bukit Awan, Cu Liong mengikuti petunjuknya.
Pemuda ini keluar dari jurang setelah samadhi di dekat makam gurunya Si Pendekar Golok Terbang selama tiga hari tiga malam! Li Cu Liong berjalan perlahan di tengah malam. Pada waktu melewati sebuah gedung besar di perempatan jalan, dari dalam gedung besar keluarlah seorang laki-laki gendut pendek. Laki-laki gendut ini diiringi oleh empat orang anak muda yang siang tadi dihajar dara cantik bernama Gin Nio di rumah makan. Melihat keempat anak muda itu, Cu Liong segera mengintilnya.
"Wah, Suhu sungguh luar biasa! Tiga bunga digasak sokaligus. Suhu ajarilah saya ilmu itu." Thio Si An memuji-muji orang gendut yang berjalan di depannya. "Heh-heh, tenaga kalian belum mencukupi. Mana bisa kalian seperti aku, ha-haha!" "Suhu sebagai Wakil Ketua Naga Terbang tentu saja telah memiliki sinkang tinggi luar biasa. Tentu saja dapat menghadapi lima bunga sekaligus," puji Si Codet mengumpak.
Mendengar omongan ini, Cu Liong segera berkelebat. Tahu-tahu ia telah menghadap di depan Si Gendut. Sepasang matanya mengawasi tajam ke arah lima orang itu. "Siapa kau" Berani menghalangi jalan Tangan Maut Coa Sim Ok." bentaknya garang. Akan tetapi yang dibentak hanya diam seribu bahasa. Hanya sepasang matanya mencorong mengawasi orang bernama Coa Sim Ok yang tadi dia ketahui sebagai Ketua kedua Naga Terbang.
"Ia pemuda dusun itu." Tiba-tiba orang bermata juling berteriak. "Benar!" Thio Si An maju ke depan, dengan lagak gagah pemuda ini mengusir pemuda dusun itu. "Hee, kerbau jelek, minggat kau dari depanku!" Wuttttt... Plakkkk... Blekkkkk... Ketiga kawannya segera memburu maju dan segera menolong anak Kepala Daerah. Berusaha untuk menyadarkannya.
Coa Sim Ok kaget juga melihat kecepatan gerak anak muda berpakaian putih di depannya itu. Akan tetapi kemarahan melihat anak Kepala Daerah dibuat tak berdaya telah memenuhi kepala. Tanpa anak banyak cincong lagi Coa Sim Ok menerjang dengan pukulan maut. Wuuttttt... Plakk! Dukk! Dukkk! Coa Sim Ok terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Sepasang mata orang gendut ini terbelalak seakan tak percaya akan kejadian ini. Tak mungkin anak begini muda dapat membuatnya terpelanting. Mungkin dia telah menguras tenaga tadi di rumah bordil, pikirnya.
Setelah mengatur napas kembali, Sim Ok menggerakkan tangan dengan sinkang sepenuhnya.