Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 16

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 16

Dua telapak tangan didorongkan ke depan, dan bau amis mendahului tangan yang meluncur itu. Tubuh Coa Sim Ok melayang kembali ke belakang bagaikan layangan putus. Tiga orang pemuda pemogoran, teman anak kepala daerah, melongo.

"Keparat!" Setelah dapat berdiri kembali, Coa Sim Ok mengumpat. Ketika itu, dari pintu rumah bordil itu keluarlah beberapa lelaki mengenakan pakaian ringkas, di dada mereka nampak sulaman naga bersayap. Begitu melihat pemimpinnya tergelincir, tanpa banyak omong lagi, mereka mencabut senjata dan menerjang pemuda berpakaian putih berkabung.

Senjata anak murid Naga Terbang itu menghujani lawannya seperti kilat di kala hujan. Akan tetapi, mereka kecele kalau mengira dapat dengan mudah menjatuhkan lawan tersebut. Begitu senjata-senjata mereka tiba, ternyata anak muda itu telah berkelebat, tak sebuah pun senjata anak murid itu dapat menyentuh ujung baju Si Pemuda.

Dengan berteriak-teriak, mereka menggerakkan senjata mereka terlebih cepat dan ganas. Akan tetapi, tetap saja pemuda berpakaian putih dapat menghindar dengan baiknya, seakan-akan tubuhnya seringan bulu ayam saja. Begitu senjata datang disertai angin menguik, tubuhnya telah melayang pergi.

Kedua tangannya memukul dan menebak dengan ilmu pemberian Sim Tok Tojin yang mengandung racun. Kembali dua orang murid Naga Terbang terpental dan merintih-rintih di pinggir jalan. Tak dapat melanjutkan pengeroyokan mereka lagi. Entah berapa tulang iganya yang patah kena tamparan Cu Liong.

Sekarang pemuda berpakaian putih ini membalas serangan mereka. Ternyata sejak tadi Cu Liong hanya menggunakan kegesitan mengelak dari hujan serangan. Melihat hasil serangan ini, Cu Liong bertambah semangat. Coa Sim Ok melengking dan menubruk, tetapi tubuhnya terlempar menabrak dinding tembok pinggir jalan.

Bagaikan karung terkena air, tubuhnya melorot turun dan tak bangun kembali. Dari pinggir mulutnya mengalir benda cair kemerahan. Darah! Ternyata Sim Ok telah menderita luka dalam akibat tenaga dalamnya membalik. Wajah orang gendut ini pucat bagai kertas.

Melihat ini, keempat pemuda pemogoran menjadi pucat. Thio Si An kebetulan sudah sadar dari pingsannya. Maka melihat kejadian ini wajahnya berubah seperti kertas pula, apalagi ketiga temannya. Mata mereka terbelalak ketika melihat anak muda itu mendekati dengan langkah satu-satu.

"Ammmm... puuunnnnn! Sa... sa... saya... ampunnn!" Si Juling cepat berlutut dan merintih memelas. Ketiga temannya mengikuti ulahnya, berlutut di pinggir jalan, tak peduli kain mereka kotor. Cu Liong hampir tak dapat menahan rasa gelinya melihat keempat pemuda itu.

Tidak seperti di rumah makan, lagak keempatnya. "Hemm, biar kuancam mereka!" katanya dalam hati. "Hee, kalian berempat, katakan kepada Sim Tok, tosu bau itu. Katakan ditunggu murid Pendekar Golok Terbang!" "Baaaaa... baaa... ikkkkk!" Hampir berbareng mereka menjawab.

"Kutunggu di Puncak Awan!" Keempat pemuda itu mau berlalu begitu saja. Tiba-tiba mereka kaget ketika pemuda dusun itu membentak lagi. "Hayo kalian jalan dengan empat kaki! Kalian kerbau-kerbau tolol!" Tanpa berani membantah, keempat pemuda itu menuruti perintah.

Mereka merangkak tanpa berani menoleh lagi. Untung bahwa keadaan jalan itu telah sepi dari orang berlalu-lalang, apabila tidak, entah akan ditaruh di mana muka mereka! Setelah menahan ketawa geli, Cu Liong mengawasi bekas lawannya. Lalu sekali berkelebat, pemuda itu telah lenyap.

Ketika prajurit peronda lewat dan melihat tubuh tamu tuannya menggeletak di pinggir jalan, segera para prajurit itu menolong. Dengan cepat mereka membawa mereka menuju rumah Kepala Daerah. Keadaan menjadi ribut dan kacau.

Sim Tok lojin yang sedang menikmati lawan jenisnya terpaksa keluar ketika mendengar laporan di depan pintu bahwa muridnya menderita luka parah. Betapa marah hati pendeta ini ketika mendapat laporan anak buah Naga Terbang. Wajahnya berubah menjadi ungu, dan sepasang matanya seperti mengeluarkan bara api.

"Keparat! Budak kecil tunggu saja kau!" umpatnya. Sim Tok Tojin kembali ke kamar, ingin melanjutkan petualangannya ke sorga ke tujuh. Akan tetapi, begitu membuka pintu, matanya menyipit. Dewi Seruni Ungu tidak ada lagi dalam kamar!

"Sialannnnn..." Di tempat lain, seorang wanita cantik berpakaian ungu berdiri di depan rumah makan, memandang ke atas Bukit Awan penuh perhatian. Orang-orang dalam rumah makan pun menengok, mendengar ucapan keras beberapa orang.

Pandang mata mereka tertuju kepada semaug wanita yang mengenakan pakaian serba ungu di depan rumah makan. Wanita itu seakan tidak melihat mata yang hampir menjuling karena mengawasinya ini. Langkahnya menuju ke arah pemuda tampan di sudut, pemuda yang duduk sendiri saja.

"Bolehkah aku duduk di sini, Kongcu," sapanya lirih. Pemuda sastrawan itu tidak menjawab. Pandang matanya melekat di wajah gadis baju ungu. Kembali diulanginya permintaan itu beberapa kali.

"Cantiknya, luar biasaaa!" hampir tak kedengaran pujian anak muda berpakaian sastrawan ini. Akan tetapi, tentu saja Dewi Seruni Ungu mendengar jelas. Wajahnya kemerahan, dan senyumnya merekah.

Bagaikan seorang dungu, tanpa mempersilakan untuk duduk, wanita di depannya semenjak tadi. Semua tamu rumah makan melihat ke arah mereka penuh iri. Sungguh beruntung anak muda tersebut, bisik hati mereka.

"Ehhemmm..." Terdengar suara dehem agak keras di belakang anak muda itu. Kembali Dewi Seruni Ungu berkata. Wanita ini merasa bangga sekali menjadi perhatian demikian banyak pasang mata.

Bibirnya menyungging senyum menantang, dan sesekali lidah merah itu menjilat bibir, sehingga hampir saja semua orang menelan ludah beberapa kali. "Sila... silakan... silakan... Sianli!" Tanpa sengaja, anak muda ini menyebut Sianli.

Dalam benak anak muda sastrawan ini hanya terisi bahwa wanita di depannya yang cantik jelita ini pastilah seorang bidadari. Tanpa terasa lagi, dia mengucapkan isi pikirannya ini spontan. "Hi-hi-hik..." Sambil tertawa, Dewi Seruni Ungu duduk di depan anak muda itu.

Seorang pelayan maju mendekat. Dewi Seruni Ungu segera memesan beberapa macam masakan. Sebentar saja, terhidang di atas meja bermacam masakan. "Mari silahkan, Kongcu. Biarlah saya menjamu Kongcu untuk merayakan pertemuan ini."

"Terima kasih..." Akan tetapi, tetap saja anak muda sastrawan ini tak bergerak. Hanya pandang matanya menggerayangi seluruh tubuh wanita di depannya sepuasnya. Setelah kembali Dewi Seruni Ungu mengulang ucapannya, barulah pemuda itu menggerakkan sumpitnya.

"Bolehkah aku tahu nama Kongcu dan dari aliran manakah?" "Hekkk..." "Cegluk-cegluk!" Setelah minum beberapa teguk untuk mendorong daging yang mengganjal, sastrawan muda itu menjawab.

"Saya bernama Su Kien, bermarga Yoo. Bukan dari perguruan manapun. Saya belajar dari ayahku sendiri," jawabnya lirih. "Uhhh, kebetulan sekali kalau begitu!" bisik hati wanita ini.

Setelah beberapa saat keduanya berdiam diri sambil makan, tiba-tiba Dewi Seruni Ungu bertanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment