Chapter 17
Apakah Yoo-taihiap tidak marah kalau kupanggil Taihiap bukan? Bermaksud mencari senjata pusaka tentunya sehingga tiba di sini. "Mana saya mempunyai kepandaian seperti itu. Saya hanya ingin menonton keramaian, sambil meluaskan pengalaman mengenal dan berkenalan dengan para locianpwe." "Hi-hi-hik, kenapa merendah!" "Betul, Sianli!" Selagi keduanya asyik saling bicara sambil menikmati masakan di depan mereka, tiba-tiba melayang sebuah belati dari samping.
Singg... Dukkk! Gagangnya bergoyang-goyang saking kuatnya tenaga pelemparnya. Hampir berbareng keduanya menoleh. Seorang laki-laki bertubuh kekar dan muka penuh bekas luka, datang menghampiri. Di pinggang laki-laki ini tergantung senjata golok telanjang. Golok besar yang berkilat-kilat saking tajamnya.
"Bocah! Minggat kau dari sini. Tuan besarmu ingin makan dengan bidadari ini. Tak pantas Kutu Buku macammu, duduk berendeng dengan seorang bidadari demikian cantiknya. Pergi!" Bentaknya keras dan tangan kanannya terayun. Melihat tangan yang begitu besar menyambar kepala, Su Kien cepat mengelak. Kakinya mendorong dan tempat duduknya meluncur ke belakang. Wuutttt! Bau apak tercium ketika tamparan itu lewat.
"Huuuaaaaaciiihhhhh!!" Su Kien berbangkis. "Sial, ada orang hutan mengamuk!" katanya meledek. Dapat dibayangkan betapa marah Si Muka Cacat ini. Selain tamparan tangannya luput mengenai sasaran juga dia malah terima ejekan pemuda sastrawan itu. Orang bermuka penuh bekas senjata itu pun menggereng keras dan menubruk maju.
Sepasang lengannya terpentang menutup jalan lagi atau mengelak pemuda sastrawan tersebut. Sekali ini serangannya pasti berhasil. Di belakang anak muda itu ada sebuah meja yang ditempati beberapa tamu. Brakkkkk! Crottttt... Meja pun hancur tertimpa tubuh tinggi besar, sialnya lagi ada kuah babi kecap menyiram mukanya, memasuki bekas luka-luka bacokan di mukanya.
"Hi-hi-hik..." Terdengar ketawa nyaring yang merdu. Ternyata Dewi Seruni Ungu yang mengeluarkan suara ketawa ini. Wanita cantik ini tak dapat menahan gelinya melihat pemandangan tersebut! Suara ketawa ini disusul oleh ketawa para tamu lainnya sehingga ramailah keadaan di rumah makan itu. Orang-orang yang kebetulan lewat depan rumah makan menjadi keheranan.
Setelah membersihkan kecap babi, orang bertubuh tinggi besar ini segera mencabut golok besarnya. "Bangsat jangan lari! Hari ini jangan panggil aku Golok Setan kalau aku tidak dapat mencincang tubuhmu menjadi bakso!" Yoo Su Kien memandang waspada. Kedua kakinya bergerak maju mundur bergantian cepat sekali.
Orang bertubuh tinggi besai ini menendangi meja kursi untuk membuat tempat itu menjadi lapang lalu memutar-mutar golok besarnya di atas kepala. Desing suara goloknya menciutkan hati para tetamu yang kecil hatinya, akan tetapi banyak yang masih menonton dalam rumah makan tersebut. Mereka ini adalah orang-orang kang-ouw yang senang menonton perkelahian!
"Mampuslah!" Tiba-tiba ia menubruk maju sambil mengayun senjata golok besarnya. Yoo Su Kien yang sedari tadi telah bersiap diri tidak menjadi gugup. Dengan manis dan indah tubuhnya meletik ke atas dan dari atas, Su Kien menggerakkan jari tangannya, melakukan totokan-totokan cepat.
Dielakkan lawan dan dibalas babatan golok, akan tetapi Su Kien telah melayang pergi. Dan kembali datang serangan bertubi dari senjata golok besar, dielakkan dan dibalas dengan tak kalah hebatnya. Telah beberapa jurus berlalu dengan cepatnya. Akan tetapi kentara bahwa pemuda sastrawan itu memang lihai.
Gerakannya gesit dan cepat luar biasa dan tenaga sinkangnya pun lumayan sehingga dia dapat mendesak lelaki pemegang golok tersebut. Walaupun merasa kalah lihai, orang bertubuh tinggi besar ini tak mau menyerah begitu saja. "Hiaaattttt..." Kembali dia berteriak sambil membabat pinggang lawan.
Serangan ini masih disusul dengan tendangan menyamping. Dukkkkk!! Croottttt... Hidung pemegang golok pun bocor terkena tamparan Su Kien. Setelah mengusap darah yang mengalir dia menggerakkan kembali goloknya. "Teman-teman majuuuuu! Bunuh keparat ini dan tangkap dara cantik itu!" Lima orang temannya datang maju sambil berteriak.
Suara teriakan ini membuat takut para pelayan dan pemilik rumah makan. Wajah mereka yang sudah pucat ketika terjadi pertarungan tadi sekarang tubuh mereka menggigil. Mulut mereka tak hentinya berkemak-kemik membaca doa! "Haittt..." Terdengar seruan melengking nyaring dan berkelebat bayangan ungu cepat sekali.
Bayangan ini berkelebatan menyerang para orang kasar dengan kecepatan kilat, tak dapat diikuti pandang mata. Terdengar suara keras dari tubuh yang terkena tamparan atau tendangan dan berpelantinganlah para orang kasar tersebut ke segala jurusan. Ketika bayangan ungu tadi hilang ternyata banyak tubuh bergelimpangan dalam rumah makan sambil merintih mengenaskan.
Bersambung. "Lhohh, mana gadis cantik tadi?" teriak seseorang lantang. Agaknya dia tak pernah melepaskan matanya dari tubuh nan elok tadi. "Pemuda sastrawan itu juga tidak ada. Aneh?" "Wahh, tentu wanita itu seorang tokoh besar dunia kang-ouw. Siapakah dia, ya?" kata pula yang lain.
Akan tetapi siapakah yang dapat menjawab pertanyaan mereka. Tidak seorang pun yang ada di tempat itu mengenal siapa adanya wanita cantik berpakaian serba ungu tadi! Begitu melihat bahaya mengancam Su Kien, Dewi Seruni Ungu segera turun tangan. Dia merasa sayang kepada anak muda sastrawan tampan tadi sehingga menghajar semua orang kasar dan dengan kecepatan kilat ia pun lalu menyambar tubuh Su Kien untuk dibawa lari.
Begitu tiba di tengah hutan, Dewi Seruni Ungu segera menurunkan Su Kien. Dua kali jari telunjuknya menotok dan Su Kien menjadi tersadar kembali. Su Kien memandang ke sekeliling, keheranan. Seingatnya tadi dia masih menghajar orang bermuka penuh goresan senjata di rumah makan dan melihat bayangan ungu berkelebatan.
Kenapa sekarang dia berada di dalam hutan di pinggir sebuah sungai. "Kau sudah bangun, Kien. Ini makanan telah siap," terdengar suara merdu di atas sebuah batu. Su Kien maju mendekat dan terbelalak melihat dua ekor ayam panggang dan seguci arak terhampar di atas batu.
"Bagaimana..." "Hi-hi-hik, mari makanlah dahulu, nanti setelah makan barulah kita bicara lagi." ajak Dewi Seruni Ungu. Memang hebat wanita ini begitu bergerak telah memanfaatkan keadaan. Ternyata hari telah menjelang senja. Sehingga tanpa banyak omong lagi menyikat dua ekor ayam dan minum arak wangi.
Hawa arak segera membuat tubuh pemuda ini terasa panas, panas yang aneh sekali. Pandang mata Su Kien menjadi redup dan memandang makhluk di depannya tak berkedip. Dewi Seruni Ungu tersenyum manis melihat keadaan pemuda sastrawan ini. Di malam yang dingin itu hanya terdengar rintihan-rintihan kepuasan berkali-kali.
Dewi Seruni Ungu menghisap habis Yoo Su Kien pemuda sastrawan yang mempunyai kepandaian silat cukup lumayan itu. Tak puas-puasnya wanita ini menghisap sehingga ketika pada keesokan harinya, setelah wanita ini berkelebat pergi. Di dekat batu di pinggir kali itu, nampak tergolek sesosok tubuh yang telah tak bernapas lagi! Tubuh Yoo Su Kien!
Pemuda ini telah menjadi korban Dewi Seruni Ungu seorang iblis wanita yang jarang sekali muncul di dunia kang-ouw sejak puluhan tahun lalu. Sekarang iblis ini muncul kembali dari pertapaannya karena mendapat undangan salah seorang kekasihnya yaitu Sim Tok Tojin! Dunia persilatan selain geger dengan kabar munculnya Golok Pusaka Naga Terbang, kini akan kembali geger dengan munculnya iblis cabul ini!
Marilah kita ikuti perjalanan Li Cu Liong setelah menghajar Ketua dua Naga Terbang Coa Sim Ok bersama anak buahnya dan empat pemuda pemogoran di dalam kota Merak Emas. Setelah memberi pesan dan tantangan kepada pendeta tosu pembunuh gurunya, Pendekar Golok Terbang Lio Ing Gie, Cu Liong melesat cepat menuju ke Bukit Awan.
Pemuda ini semenjak keluar dari jurang melalui jalan yang ditunjukkan suhunya dan dapat keluar dari tempat tersebut, Li Cu Liong segera menuju ke dusun terdekat, akan tetapi kebanyakan penduduk pergi ke kota Merak Emas, sehingga dia pun ingin tahu ada kejadian apa di kota itu. Dan peristiwa pun bermunculan cepat sekali.
Sehingga dia dapat menantang pendeta penganut Agama To untuk datang di Bukit Awan. Akan tetapi karena malam terlalu gelap pemuda ini terpaksa harus menghentikan perjalanannya. Cu Liong mencari sebuah pohon yang tinggi dan tidur di dahan cukup besar! Ketika matahari telah naik cukup tinggi, Cu Liong terbangun.
Setelah mengolet dan mengendorkan otot-otot yang terasa kaku Cu Liong ingin meloncat turun. Akan tetapi, telinganya yang tajam luar biasa itu mendengar suara-suara yang mencurigakan sehingga dia membatalkan niatnya. Menanti apa yang akan terjadi dari atas pohon. Tak lama kemudian nampak iring-iringan gerobak.
Di atas gerobak nampak berkibar dengan gagahnya bendera bergambar burung garuda berwarna putih. Ketuanya Hung Ci Pao, seorang laki-laki setengah baya berjenggot panjang berwarna dua, hitam dan putih. Duduk di atas kuda dengan gagahnya dan berjalan paling depan.
Semua anak buah Piauwkiok nampak gembira dapat pulang ke kampung halaman sambil membawa barang hantaran kembali sehingga bolak-balik perusahaan mereka dapat mengangkut barang. Mereka berjalan sambil bernyanyi riang. Sudah terbayang keluarga di depan mata.
Isteri dan anak yang akan menyambut dengan senyum senang dan penuh kelegaan karena semua dalam keadaan selamat dan sehat! Belum begitu jauh rombongan ini memasuki hutan tiba-tiba terdengar suara menjepret beberapa kali dan berkesiur desing senjata tajam.