Chapter 18
Tiga anak panah melesat dengan kecepatan kilat, diiringi suara "wirrr...", "siuttt siuttt-siuttt!", dan "cap-cap-cap!", lalu tahu-tahu telah menancap di atas gerobak terdepan. Batang anak panah bergoyang-goyang menimbulkan dengung aneh.
"Seiittt!" desis Hung Ci Pao tajam. Kepala piaosu ini memandang ke arah asal anak panah itu datang. Sepasang matanya tajam mengawasi rimbunan semak di depan. Tiba-tiba terdengar suara tawa memecahkan keheningan, disusul suara bentakan dari kanan kiri.
"Ha-ha-ha, akhirnya ketemu juga kau, keparat busuk! Sudah lama hal ini kunantikan. Ha-ha-ha!" Dari dalam hutan keluarlah seorang laki-laki yang cukup menyeramkan. Wajahnya penuh dengan cambang tak terawat. Sementara itu, rombongan piaokiok tersebut kini telah dikepung puluhan orang yang menghunus senjata.
Hung Ci Pao merasa marah. Dia merasa seperti kenal dengan orang tinggi besar bersenjatakan tombak bercagak itu, akan tetapi ia lupa lagi. Ia hanya merasa pasti bahwa ia pernah berjumpa dengan orang ini.
"Keparat!" umpatnya. "Siapa kalian dan apa maksud kalian menghadangku? Menyingkirlah kalian! Sebelum kalian hancur dibabat anak buahku!"
"Hung Ci Pao, keparat sombong! Lihat matamu baik-baik, lebarkan matamu dan lihatlah siapa aku. Jangan bilang bahwa kau tidak kenal lagi kepadaku, bangsat hina!" bentak kepala rampok keras dan ucapannya memandang rendah kepala piaokiok Hu-eng ini.
Hung Ci Pao mengawasi tajam kepala rampok di depannya ini sekali lagi dan tiba-tiba saja piaosu ini mendengus mengejek, menghina. "Huh, tak tahunya kau keparat busuk. Kiranya kau tidak mampus ketika jatuh ke jurang itu, heh-heh-heh." Hung Ci Pao tertawa mengejek. "Mana teman-temanmu yang lain? Kenapa tidak nampak batang hidung mereka? Mungkin sudah mampus?"
"Bangsat! Hari ini jangan harap kau dapat terlepas dari tanganku." Setelah berkata demikian, kepala rampok yang tak lain adalah Si Tombak Sakti Ma Ciu, orang termuda dari Tiga Tombak Maut Heng-san, segera menggerakkan tombaknya, menyerang dengan tusukan kilat. Ujung tombak bercabang di tangannya menusuk dengan kecepatan kilat ke arah dada Hung Ci Pao. Serangan tipuan ini hebat sekali karena dilakukan ketika ia menjawab pertanyaan lawan.
Akan tetapi, Hung Ci Pao bukanlah jago kemarin sore. Dia adalah Ketua Piaokiok Pek-Eng yang telah malang melintang di dalam rimba persilatan. Keluar masuk hutan dan mengenal banyak kecurangan yang dilakukan para perampok yang mengingini barang yang dikawalnya. Maka sejak tadi Ci Pao telah waspada. Begitu kepala rampok Tombak Sakti Ma Ciu menggerakkan senjatanya, tanpa banyak kesukaran ia menggeser kakinya ke samping beberapa langkah.
Gerakan tombak yang tak mengenai sasaran itu diputar cepat membabat kaki lawan. Gerakan Sin-chio Ma Ciu sungguh luar biasa. Tak heran orang ini mendapat julukan Tombak Sakti karena memang permainan tombaknya hebat sekali. Hung Ci Pao sampai kaget. Tak disangka sama sekali bahwa setelah enam tahun tidak bertemu, yaitu semenjak ia mengalahkan ketiga bersaudara ini di Bukit Iblis! Cepatlah ia mencabut pedang dan menangkis, lalu membalas serangan lawan tak kalah hebatnya.
Suara "cring-cring!" dan "tak-tak-tranggg!" berulang-ulang terdengar. Berkali-kali kedua ujung senjata, yakni ujung tombak dan mata pedang, beradu. Bunga api pun berloncatan, saking kuatnya dua orang itu menggerakkan senjata mereka. Tak heran kalau keduanya telah mengerahkan sinkang (tenaga sakti) untuk menyerang lawan. Puluhan jurus telah berlalu cepat sekali. Akan tetapi, Sin-chio Ma Ciu tak dapat mendesak piaosu tua ini. Ia masih sedikit kalah dari Hung Ci Pao. Permainan pedang dari piaosu tua ini memang hebat. Ilmu Pedang Garuda Putih dari cabang Siauw-lim memang terkenal kuat dan tangguh. Rapat dalam penjagaan dan ganas dalam penyerangan.
"Maju! Bunuh semua piaosu dan rampas barangnya!" kepala rampok Ma Ciu memerintahkan anak buahnya menyerang. Begitu mendengar teriakan pimpinannya, bagaikan air bah, para perampok itu pun maju sambil berteriak-teriak dan menggerakkan senjata di tangan mereka. Para piaosu Piaokiok Pek-Eng tak lagi berdiam diri ketika diserang perampok anak buah Sin-chio Ma Ciu. Mereka pun melolos senjata dan menyambut tak kalah garangnya. Pertempuran terjadi dengan serunya di tengah hutan itu. Saling bacok dan saling babat silih berganti. Teriakan kemenangan dan jerit kesakitan dari orang yang terluka memenuhi angkasa. Akan tetapi, keduanya tak memedulikan ini. Hanya memainkan senjata untuk membunuh sebanyak-banyaknya dan mendapat kemenangan secepat mungkin. Pertempuran sengit ini terjadi secara brutal; senjata digerakkan menyerang lawan terdekat!
Tiga tusukan tombak Ma Ciu, diiringi suara "wuttt-wuttt-wuttt", dielakkan dengan manis oleh Hung Ci Pao. Pendekar tua ini pun lalu menusukkan pedangnya. Tusukan pedang ini dilakukan dari tengah udara selagi tubuh Hung Ci Pao melayang. Sin-chio Ma Ciu kaget juga mendapat serangan balasan ini. Kecepatan pedang dari jurus Garuda Putih Menyambar Hati ini sungguh tak dapat diduganya sama sekali dan sialnya tombak berada dalam keadaan yang sukar untuk menangkis. Maka Ma Ciu mendoyongkan tubuhnya ke kiri sambil memutar tombak menyambut. Terdengar suara "tranggg..." disusul "crooottt..." dan pundaknya pun berdarah terkena tusukan ujung pedang lawan. Sedangkan dengan indah, bagaikan seekor burung garuda putih, tubuh Hung Ci Pao melayang ke belakang beberapa tombak. Pendekar tua ini dapat berdiri di tanah dengan ringannya!
"Bangsat busuk! Tunggu saja pembalasanku, jangan kau kira kau telah dapat mengalahkan aku. Walaupun ujung senjatamu dapat melukai pundakku ini." Ma Ciu menotok pundak untuk menghentikan keluarnya darah. "Suhuuuuu... tolonggg!" teriaknya kemudian. Kepala rampok ini setelah melirik ke anak buahnya segera meneriaki suhunya minta pertolongan. Ternyata anak buahnya dibuat kocar-kacir oleh para piaosu Piaokiok Pek-Eng yang rata-rata juga memiliki ilmu kepandaian yang cukup lumayan.
"Haheh-heh... Siapa berani lancang mengganggu muridku?" Terdengar suara yang mengandung tenaga khikang tingkat tinggi. Kentara sekali dari kuatnya gema ucapannya yang tak kunjung hilang. Seakan-akan dari seluruh penjuru hutan itu berteriak banyak orang secara bersama-sama. Para perampok bersorak mendengar suara ini dan para anak buah piaokiok menjadi pucat wajahnya. Mereka segera meloncat mundur dan saling melindungi dengan senjata siap di tangan. Hung Ci Pao sendiri juga memandang penuh perhatian. Hati pendekar tua ini juga merasa cemas, dan ia tahu bahwa yang akan tiba di sini pastilah bukan orang sembarangan. Dilihat dari suara tawa itu saja ia tahu bahwa ia merasa tidak sebanding dengan lawan yang akan segera tiba.
Belum hilang gema suara tawa tadi, tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu di samping Sin-chio Ma Ciu berdiri seorang hwesio tua dengan pakaian serba merah. Kepalanya yang gundul pelontos itu pun ditutup kopiah berwarna merah pula. Sepasang mata hwesio ini lebar dan alisnya lebat tebal berwarna kemerahan pula. Malah kumis dan janggutnya juga kemerahan. Seakan-akan pendekar ini adalah api kemerahan yang terbang datang!
"Mana dia orangnya, heh?" katanya dengan logat suara asing. Bentuk tubuhnya yang tinggi besar dan bulu-bulu yang ada di tubuh kemerahan menandakan bahwa hwesio itu tentulah keturunan orang barat. Apalagi dari logat bicaranya.
"Itulah orangnya, Suhu. Dialah yang telah membunuh kedua saudara teecu."
"Hemmm, tak seberapa, tak seberapa!" Begitu memandang Hung Ci Pao, Hwesio berjubah merah berkata mengejek. Sepasang matanya berwarna kebiruan memandang tajam penuh ejekan. "Hee kau! Hayo maju ke sini terima binasa!" bentaknya nyaring.
Hung Ci Pao tidak menggubris sama sekali panggilan ini. Akan tetapi, aneh bin ajaib! Seakan-akan pendekar tua ini tidak dapat menguasai dirinya sendiri, ia melangkah perlahan-lahan menuju ke arah hwesio jubah merah.
"Haha... cepat serahkan nyawamu!" Hwesio jubah merah mengulur tangan kanannya. Hung Ci Pao terbelalak melihat tangan maut itu mendekati dirinya. Ingin pendekar tua ini memberontak dan mengelak dari serangan tersebut, akan tetapi ia merasa tubuhnya tidak lagi mau menuruti keinginannya. Maka piaosu tua ini hanya memandang tangan maut tersebut, rasanya hati tak karuan! Akan tetapi, sebelum tangan maut pendeta berkopiah merah mengenai sasaran, berkelebat sesosok bayangan putih dengan kecepatan tak dapat dijangkau pandang mata.
"Wirrrr..." Hung Ci Pao hanya merasa tubuhnya terbang dan angin menyambar keras mukanya. Tahu-tahu dia telah berdiri beberapa tombak dari tempat di mana maut siap menyambutnya. Sepasang mata pendekar tua itu memandang penuh keheranan kepada pemuda berpakaian serba putih di depannya.
"Terima kasih, Taihiap. Taihiap telah menyelamatkan diriku yang tak berdaya ini."
"Tidak apa, Locianpwe. Hwesio itu menggunakan ilmu siluman untuk mengalahkan Locianpwe. Saya kira, apabila pendeta gundul itu menggunakan ilmu silat, Locianpwe tidak akan kalah!"
"Hoat-sut!"
"Mungkin!"
"Setan kecil kurang ajar! Hayo kau, Si Baju Putih, pandang mata pincang ini baik-baik!" Terdengar bentakan menggeledek dari arah hwesio berjubah merah.
"Hiyehhh-hiyehhh... Mampus kau sekarang! Hayo hadapi Suhuku Ang I Hwesio Takonana!" ejek Sin-chio Ma Ciu keras.
Pelan-pelan Li Cu Liong, pemuda berpakaian serba putih murid Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie, memutar tubuhnya. Sepasang mata anak muda ini mencorong tajam. Dengan tenang Cu Liong menatap sepasang mata kebiruan Ang I Hwesio Takonana. Dua pasang mata yang sama tajamnya saling beradu pandang.