Chapter 19
Keduanya diam tak bergerak. Sepasang mata mereka saling membelit dan menyerang dengan dahsyat, tak kalah hebatnya dengan pertempuran fisik para ahli silat. Keduanya tengah beradu ilmu tenaga batin. Lebih tepatnya, hwesio bernama Takonana sedang berusaha memerintahkan pemuda berpakaian serba putih, Li Cu Liong, untuk tunduk, sementara murid Pendekar Golok Terbang itu mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk menolak.
Lama keduanya terdiam mematung. Sin-chio Ma Ciu yang mulai tidak sabar segera mengeluarkan teriakan nyaring sambil memutar-mutar tombak mautnya. Tiba-tiba, ia meluncurkan senjatanya ke arah pemuda berbaju putih tersebut.
"Curang!" jerit Hung Ci Pao seraya melayangkan tubuhnya ke depan. Ia tidak rela penolongnya dicelakai oleh ulah kepala rampok yang licik itu. Ia pun menggerakkan pedangnya untuk memapak tombak sebelum senjata itu mengenai sasarannya.
*Trak!*
Mata pedang Hung Ci Pao membabat kayu di belakang mata tombak bercabang tersebut. *Krak!* Tombak itu pun patah di tengah.
"Argh!" Ang I Hwesio Takonana mengerang keras. Mendengar lengkingan bagaikan harimau marah itu, Hung Ci Pao merasa kedua kakinya lumpuh dan tubuhnya jatuh terduduk di tanah dalam keadaan lemas tak berdaya.
Melihat kesempatan ini, Sin-chio Ma Ciu segera menubruk maju dengan kedua tangan terulur, berniat menghancurkan kepala Hung Ci Pao. Wajah kepala rampok itu berseri-seri. "Mampus kau sekarang, bangsat! Lunas sudah utang darah selama bertahun-tahun ini!" serunya dalam hati dengan girang.
"Haik!" Li Cu Liong melengking panjang. Tenaga *khikang* yang keluar dari mulut pemuda ini mampu membuyarkan tenaga sihir Ang I Hwesio Takonana.
Hung Ci Pao segera tersadar tepat pada saat dirinya ditubruk. *Plak! Bless!* Hung Ci Pao menggerakkan tangan kanannya untuk menusuk ke depan, sementara tangan kirinya menangkis tangan kanan Sin-chio Ma Ciu. Hanya itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari ancaman maut.
*Des!*
"Aduh!" teriakan kematian keluar dari mulut sang kepala rampok. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Meski tubuhnya tertusuk pedang dan tangan kanannya tertangkis, Ma Ciu masih sempat memukul dengan tangan kirinya ke arah pemimpin Pek-eng-piauwkiok tersebut. Hung Ci Pao berusaha menghindar, namun pundaknya tetap terkena hantaman.
Meski begitu, Hung Ci Pao lebih beruntung. Lawannya roboh menimpa tubuhnya, namun sang kepala rampok telah menjadi mayat karena pedang tadi tepat menancap di jantungnya.
"Keparat!" umpat Hung Ci Pao sambil melontarkan tubuh Ma Ciu ke samping. Begitu ia berdiri, matanya terpaku pada pemandangan di depannya. Semua orang, baik anak buah perampok maupun para piauwsu, memandang penuh kagum ke arah dua bayangan yang saling berkelebat dan menyerang dengan sangat cepat: pemuda berbaju putih dan Ang I Hwesio Takonana.
*Plak! Duk-duk-duk!*
Saat keduanya kembali menginjak tanah, mereka saling dorong dengan kedua telapak tangan. *Blar!* Hwesio berjubah dan bertopi merah itu terlempar ke belakang bagaikan layangan putus, menabrak pohon hingga patah. Tubuh seberat seratus kilogram lebih itu tidak mampu menahan kekuatan lontaran yang luar biasa.
Ang I Hwesio Takonana bangkit berdiri dan mengusap darah di ujung bibirnya. Sepasang mata birunya menatap tajam Li Cu Liong dengan penuh kebencian. "Bangsat cilik, aku mengaku kalah. Jika kau jantan, sebutkan siapa namamu dan siapa gurumu! Aku ingin membalas budi kebaikanmu hari ini di lain kesempatan!"
"Aku bukanlah pengecut yang lari saat menemui lawan tangguh. Namaku Li Cu Liong, guruku adalah Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie," jawab pemuda itu dengan berani.
"Apa maksudmu menanyakan nama guru segala? Jika ingin membalas dendam, cari saja aku, tidak usah membawa guruku, Pengecut Gundul!"
"Bangsat sialan, lancang mulutmu! Jika aku tidak sedang menghadapi urusan penting, siapa takut padamu? Biar kau datang bersama gurumu pun, aku takkan mundur!"
"Omong kosong! Jika berani, majulah!" tantang Cu Liong lantang.
"Tunggu saja lain kali. Aku tidak ada waktu lagi melayanimu." Tanpa menanti jawaban, hwesio berjubah merah itu berkelebat masuk ke dalam hutan. Ia diam-diam merasa jerih. Melihat muridnya telah tewas, ia memilih meninggalkan gelanggang tanpa memedulikan anak buah Sin-chio Ma Ciu yang masih tersisa.
"Kawan-kawan, angin kencang!" teriak seseorang. Mendengar kode itu, para perampok lari kocar-kacir ke dalam hutan untuk menyelamatkan diri masing-masing.
Sorak kemenangan dan kelegaan terdengar. Wajah-wajah penuh kegembiraan tampak karena mereka terlepas dari bahaya maut. Dengan cepat, mereka saling membantu merawat teman yang terluka dan menggali lubang untuk mengubur jenazah.
"Taihiap," sapa Hung Ci Pao pelan saat mendekati Li Cu Liong.
"Oh, Locianpwe, harap jangan memanggil saya Taihiap. Saya bukan seorang pendekar besar," jawab Cu Liong malu-malu.
"Tidak, Taihiap. Anda adalah pendekar besar meski masih muda. Saya tahu Anda memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Sudah sepantasnya saya memanggil demikian."
"Ah, Locianpwe..."
"Benar, Taihiap." Hung Ci Pao menjura dalam-dalam. "Jika tidak ada Taihiap yang datang menolong, entah apa jadinya dengan Pek-eng-piauwkiok. Saya pun pasti sudah menjadi bangkai di hutan ini. Sekali lagi, terima kasih banyak."
Li Cu Liong membalas penghormatan itu dengan wajah kemerahan. "Harap jangan bersikap seperti ini, Paman. Sudah biasa di dunia persilatan untuk saling menolong sesama yang tertimpa musibah."
"Baiklah, jika begitu, aku akan menganggapmu sebagai keponakan sendiri jika kau berkenan," usul Hung Ci Pao.
"Terima kasih, Paman."
Keduanya asyik berbincang menanti selesainya pemakaman rekan mereka yang gugur. Tiga anggota Pek-eng-piauwkiok tewas dalam tugas membela barang kiriman tersebut. Setelah berdoa bersama, rombongan itu pun berangkat kembali. Li Cu Liong menunggangi kuda pemberian anggota piauwkiok, sementara Hung Ci Pao berjalan di sisinya.
"Sebenarnya, hendak ke manakah Cu Liong pergi hingga bisa berada di sini?" tanya Hung Ci Pao. "Apakah kau juga mencari benda pusaka itu?"
Li Cu Liong memandang heran. "Benda pusaka apakah, Paman? Saya tidak tahu sama sekali."
"Apa? Kau tidak tahu tentang benda pusaka yang sedang diperebutkan?" Hung Ci Pao memandang tidak percaya, mengira pemuda itu mungkin hanya sedang memancing informasi.
"Benar, Paman. Saya baru saja turun gunung sehingga tidak tahu berita apa pun di dunia persilatan. Saya bagaikan orang buta yang baru bisa melihat."
"Begitu rupanya," gumam Hung Ci Pao. "Apakah gurumu tidak memberitahu? Aneh sekali."
"Paman, guru saya telah lama tiada," jawab Cu Liong pelan. "Beliau terbunuh oleh musuh besarnya."
"Siapa pembunuhnya? Mungkin aku mengenalnya," desak Hung Ci Pao. Namun, Cu Liong hanya menggeleng. Ia tidak ingin rahasia kematian gurunya diketahui banyak orang.
"Baiklah jika kau tidak ingin memberi tahu. Mengenai benda pusaka itu, sekarang sedang muncul di Bukit Awan. Menurut kabar angin, pusaka yang menjadi rebutan sejak puluhan tahun lalu itu adalah Golok Pusaka Naga Terbang."
Hung Ci Pao menarik napas panjang sejenak sebelum melanjutkan. "Entah benar atau tidak kabar itu, yang jelas sekarang banyak pesilat dari delapan penjuru meluruk ke Bukit Awan. Sudah banyak korban berjatuhan karena bentrokan, namun hingga saat ini belum ada satu pun yang melihat wujud asli benda yang diperebutkan itu."