Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 20

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 20

Hatinya tercekat ketika mendengar bahwa yang diperebutkan itu ternyata adalah pusaka pemberian mendiang gurunya.

Golok Pusaka Naga Terbang!

"Apakah kau tidak ingin mencoba nasibmu, Liong?" tanya piauwsu mendadak.

Bagaikan tersentak dari mimpi, Cu Liong menoleh memandang kepada orang yang berkuda di sampingnya itu.

Sepasang matanya memandang tak mengerti.

Akan tetapi segera dia teringat akan janjinya kepada pendeta berjubah abu-abu, pendeta yang telah membunuh gurunya itu.

Maka Cu Liong cepat menjawab, "Saya menjadi tertarik sekali, Paman. Siapa tahu kalau saya berjodoh. Saya mohon diri untuk mengadu nasib dan peruntunganku di Bukit Awan, Paman."

"Hati-hatilah, Cu Liong. Kalau kau kebetulan lewat di Bunting, mampirlah ke tempatku!" teriak Hung Ci Pao dari jauh.

Setelah Cu Liong membelokkan kudanya barulah piauwsu tua ini teringat sehingga dia berteriak keras.

"Baik, Paman." Setelah menjawab, Cu Liong segera memacu kudanya menaiki bukit melalui jalan setapak.

Tahulah pemuda ini sekarang, mengapa di dekat Bukit Awan banyak perampok dan orang-orang yang datang dengan pakaian dan wajah aneh. Kiranya tosu tua itu telah menyebarkan berita tentang munculnya Golok Naga Terbang di bukit itu.

Pemuda ini berjalan mendaki ke arah sebuah bukit kecil yang penuh dengan pepohonan besar dan lebat.

Cu Liong menjalankan kudanya seperti orang mimpi. Membiarkan sang kuda berjalan seenaknya, membawa tubuhnya yang duduk di atas punggung kuda seperti orang tidur atau lebih tepat lagi seperti patung hidup.

Tiba-tiba berloncatan keluar enam orang berpakaian serbahijau menghadang jalan.

"Hiyeeeee...!!" Kuda tunggangan Cu Liong meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depannya.

Cu Liong terlempar ke belakang. Akan tetapi seperti seekor burung menukik balik, pemuda itu telah dapat berdiri di atas kedua kakinya tanpa mengalami kesukaran.

Memang di tubuh Li Cu Liong telah menyatu sebuah ilmu silat yang luar biasa. Ilmu silat yang dipelajarinya dari dalam kitab pusaka yang menurut San In Lojin, yaitu kakek gurunya di dasar jurang, bernama Kitab Menjala Langit!

"Buset...!!" umpatnya dalam hati.

Sepasang matanya mengawasi sekeliling, memandang keenam orang penghadangnya penuh perhatian.

"Haha... Ternyata seorang pemuda udik yang tidak mempunyai apa-apa." Tawa bergelak ini keluar dari mulut penuh brewok kaku bagaikan kawat.

"Akan tetapi lumayan juga dapat seekor kuda!"

"Twako, pemuda itu masih membawa buntalan panjang!" kata salah seorang dari mereka lantang.

Ternyata perampok berpakaian serbahijau itu melihat bungkusan panjang di punggung Cu Liong.

"Heee, bocah, serahkan bungkusanmu cepat!" Cu Liong tak menjawab sama sekali, matanya mencereng mengawasi kepala rampok.

"Siapakah kalian ini sebenarnya dan mengapa keluyuran sampai di sini?"

"Hoahha, ternyata kau tidak mengenal kami, sialan betul!" umpat kepala rampok galak.

"Cepat serahkan bungkusanmu kalau kau ingin melihat lagi matahari bersinar esok hari!"

"Hui-hi-hi... Dia tidak mengenal kita, Twako, hajar dulu baru nanti kita beritahukan siapa kita. Hui-hi-hik!" orang paling pendek menyahut cepat.

Cu Liong bersikap tenang menghadapi keenam orang berbaju hijau yang menghadangnya dan mengeluarkan kata-kata menghina ini. Ia malahan mendekat maju.

"Kalian ingin aku menyerahkan bungkusan ini? Itu perkara mudah! Katakan dulu siapa kalian berenam ini!"

"Bangsat kecil! Berani kau berkata seperti itu kepada kami!" bentak kepala rampok berbaju hijau.

"Kenapa tidak berani!" Cu Liong menjawab. "Apakah kalian ini bukan orang? Orang bertanya kepada orang, kan, wajar. Aku akan merasa takut kalau kalian ini bukannya sebangsa orang, ha-ha!"

Mendengar ucapan anak muda berpakaian serbaputih itu, para perampok berbaju hijau itu pun berubah merah wajahnya, sepasang mata kepala rampok itu pun mencereng menakutkan.

"Bangsat! Setan kecil ingin mampus, rasakan nih kepalan tanganku!" Tangan sebesar paha anak sepuluh tahun itu menyambar ke arah wajah anak muda berpakaian serbaputih Li Cu Liong.

Sebelum kepalan tiba, terasa angin dingin menyambar. Cu Liong yang melihat datangnya serangan ini hanya memiringkan tubuh dengan menggeser kaki kiri ke samping, dan pukulan itu luput mengenai wajahnya.

Bau apek lewat dekat hidung Cu Liong.

"Upp, baunya!" Cu Liong mengumpat lirih lalu menutup hidung dengan sebelah tangan.

"Gila ini orang, tak pernah mandi kali!"

"Setan keparat!" umpat kepala rampok, dan dia pun terus mendesak Cu Liong dengan serangan bertubi-tubi.

Lima orang kawannya hanya tertawa terbahak melihat pemimpin mereka menghajar anak muda baju putih. Akan tetapi segera suara tawa menjadi hilang tatkala sampai beberapa jurus belum juga kakak tertua itu dapat mendaratkan pukulan atau tendangan ke arah pemuda itu.

"Hanya begini saja kepandaianmu? Uh, tak usah, ya, aku harus menyerahkan bungkusanku!" ejek Cu Liong.

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati kepala rampok baju hijau itu. Sebetulnya dia bukan orang sembarangan. Mereka berenam telah terkenal sebagai perampok di Bukit Elang, nama mereka cukup disegani di sekitar bukit itu. Siapa yang tidak kenal Enam Iblis Hijau, rampok yang tidak mengenal ampun!

"Goblog kalian, ayo cepat bantu aku!" teriak kepala perampok marah. Mendengar teriakan ini segera kelima orang itu pun meluruk maju mengeroyok.

Hujan kepalan dan tendangan dielakkan dengan gesit dan lincah oleh Cu Liong. Tubuhnya menyelinap di bawah hujan senjata yang telah dihunus oleh tiga orang teman mereka. Kelima kawannya segera meniru perbuatan mereka, mencabut pedang panjang dan menyerang semakin dahsyat.

Cu Liong mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang didapatnya dari Kitab Rahasia Menjala Langit. Sekarang bayangan pemuda baju putih lenyap dan bagaikan asap keputihan saja di bawah hujan kelebatan pedang yang berkilat-kilat tertimpa cahaya matahari.

Plak-plak-plak... Terdengar suara keras, dan tiga orang perampok terlempar ke kanan kiri. Muka mereka biru lembam separuh, terkena tamparan Cu Liong. Masih untung bahwa pemuda itu tidak mengerahkan tenaga sinkang (tenaga sakti) sehingga hanya membuat kulit muka itu menjadi biru lebam. Apabila Cu Liong menghendaki, tentu kepala mereka akan hancur terkena tamparannya.

"Bangsat, iblis laknat jahanam!" Kepala rampok berbaju hijau mengutuk geram. Wajahnya kemerahan dan muka serta tubuhnya telah basah oleh keringat.

Dua orang teman atau anak buahnya menyerang dengan hati waswas. Merasa takut juga melihat kelihaian anak muda itu. Sungguh tak mereka duga sama sekali bahwa anak muda yang disangka makanan empuk ternyata adalah sebuah gading gajah yang keras!

"Mampuslah!" Pedangnya berkelebat cepat menyongsong bayangan putih yang mendekatinya. Dua orang anak buahnya juga membabat ke arah tengah-tengah tubuh.

"Ihh, tak begitu mudah, sobat, gerakanmu kurang cepat!" Cu Liong melesat ke atas melewati tubuh kepala rampok baju hijau dan dari atas mengirim tendangan ke belakang. Tendangan ini cepat sekali dan kedatangannya tak terduga. Sehingga tak ayal lagi kepala rampok itu pun menjerit keras dan terhuyung ke depan.

Trang... Bless...

Kepala rampok dapat menangkis sebuah pedang anak buahnya dengan pedang di tangan kanan yang dipalangkan. Sedangkan anak buah itu pun tidak menyangka sama sekali kalau akan mendapat sambutan di kepalanya sendiri sehingga ia pun tak kuasa membelokkan serangan pedangnya. Tak ayal lagi, senjata pedangnya melukai temannya sendiri.

"Mati aku...!" Dan tubuhnya terguling ke samping, dari perutnya mengalir darah disertai isi perut membasahi rumput-rumput yang rebah terinjak-injak kaki.

Sebelum kedua anak buah perampok berbaju hijau itu sempat menguasai diri melihat pemimpin mereka terbunuh oleh pedang mereka sendiri. Berkelebat bayangan putih. Mata mereka tak dapat mengikuti kecepatan gerakan anak muda yang akan menjadi korban mereka.

Des! Bluk...

Keduanya terlempar ke belakang. Rebah di atas tanah tak bergerak sama sekali dan dari mulut mereka muncrat darah merah yang membasahi baju depan. Ternyata dada keduanya telah menjadi tempat mendarat kedua kaki Cu Liong yang melakukan tendangan terbang!

Cu Liong mengawasi sekeliling, tak ada gerakan sama sekali. Pelan-pelan pemuda ini mencari-cari kuda tunggangannya. Sialnya kuda yang ketakutan tadi telah lari, melarikan diri ketika terjadi keributan.

Setelah kudanya hilang tak tentu rimbanya, maka Cu Liong melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Akan tetapi Cu Liong tidak khawatir karena sebetulnya dia malahan lebih suka menggunakan ilmu kepandaiannya sendiri daripada naik kuda menuju ke atas bukit.

Akan tetapi, Cu Liong tidak tahu sama sekali bahwa ada sepasang mata bintang mengawasi dirinya sejak tadi sebelum terjadi perkelahian dengan para perampok berbaju hijau. Sepasang mata itu berseri dan bersinar penuh nafsu. Bibir yang bentuknya menantang itu sesekali dijilat oleh lidah kemerahan. Wajahnya bersemu kemerahan, tubuhnya bergetar-getar menahan nafsu!

Siapakah wanita yang mengintai di balik rimbunnya pepohonan di kejauhan ini?

"Hebat! Sungguh tampan dan menarik hati. Aku harus mendapatkan dia segera!" desisnya gemetar menahan nafsu yang telah menyentak-nyentak melihat ketampanan dan kelihaian anak muda berpakaian serbaputih itu.

Wanita setengah baya ini tidak lain adalah Dewi Seruni Ungu Cu Kiok Sianli!

Dengan gesit dan ringannya Cu Liong melompati jurang-jurang yang membentang menghalangi jalan. Bagaikan seekor burung besar, tubuh pemuda itu terbang melayang di atas jurang lebar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment