Chapter 21
Namun, ketika matahari hampir tenggelam, Cu Liong belum juga sampai di puncak Bukit Awan. Ternyata, pemuda itu telah tersesat; arah yang ditujunya bukan Bukit Awan, melainkan menuju Bukit Kera di sebelah selatan Bukit Awan.
Memang tidak dapat disalahkan kalau pemuda ini sampai tersasar. Jalan yang ditempuhnya belum pernah dilaluinya semenjak dia menjadi murid Pendekar Golok Terbang, Liok Ing Gie. Ketika pemuda itu melalui sebuah jalan penuh dengan batu-batuan besar, tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara rintihan memelas.
Cu Liong berhenti dan mendengarkan. Cepat, pemuda ini berkelebat ke arah datangnya orang minta tolong tadi. Tubuhnya bagaikan berubah menjadi asap saking cepatnya dia bergerak.
"Airrr... tolong... airrrr...!" rintihan memelas ini terdengar berulang kali.
Cu Liong meloncat ke atas batu besar dan sepasang mata anak muda ini terbelalak memandang tubuh yang tergolek setengah telanjang. Bentuk tubuh yang merangsang tergolek menantang. Kulit tubuh yang putih halus tampak di balik kain yang robek-robek di sana-sini. Tubuh itu hampir nampak seluruhnya.
Wanita yang merintih itu merayap dengan susah payah, berusaha untuk mencapai mata air yang tak begitu jauh dari tempatnya. Ketika ia merayap, tampak pinggul besarnya menari ke kanan-kiri. Akan tetapi, ketika tubuh itu sampai di pinggir batu, tiba-tiba tergelincir ke bawah, menjauhi mata air. Tubuhnya melorot ke bawah di tebing yang curam.
"Aaaa... aiirrr... tooo toolooonggg... aaaaiiiirrrr!" desahnya terputus-putus.
Cepat Cu Liong membawa mangkuk air dan mengambil air dari mata air kecil di atas bukit. Dengan pelan, pemuda ini membantu wanita itu untuk minum air. Sebelah tangannya menopang tubuh wanita dari belakang, dan tangannya yang lain membawa mangkuk berisi air ke mulut.
Setelah dapat minum air, tak berapa lama kemudian wanita itu agaknya tersadar akan keadaannya.
"Jangan... jangan... ammpunnn...!" Kedua matanya terbelalak memandang ketakutan. Lalu berusaha berdiri dan lari.
Wanita bertubuh bahenol itu tidak memedulikan dirinya, larinya ke arah mana lagi. Pokoknya, dia ingin cepat-cepat dapat lari dari anak muda berbaju putih yang memberinya minum. Tidak tahu bahwa dia berlari ke arah jurang yang curam.
"Awassss...!" Cu Liong berteriak keras, dan sebelum teriakannya habis, tubuhnya telah meluncur mendahului. Tubuh wanita itu pun telah berada dalam pondongan anak muda tampan ini. Sekali meloncat, Cu Liong telah mencari tempat yang cukup aman.
Lalu, pemuda ini segera mencari kayu bakar dan membuat api. Dia dapat berbuat demikian setelah menotok roboh perempuan cantik setengah baya tersebut. Hal ini dilakukan agar supaya perempuan yang ketakutan tadi tidak melarikan diri dan mendapat celaka. Dapat saja wanita cantik setengah baya ini menjadi nekat dan membunuh diri dalam jurang.
Entah apa yang menyebabkan wanita ini bersikap demikian. Cu Liong berkelebat cepat ke dalam hutan, dan ketika dia kembali, di tangannya telah membawa dua ekor ayam hutan yang gemuk. Tanpa banyak omong lagi, Cu Liong segera membuat api unggun. Setelah api besar, ia pun lalu membersihkan kedua ayam dan segera membakarnya.
Cu Liong tidak sadar sama sekali bahwa segala perbuatannya dipandang dengan mata bersinar-sinar dari wanita cantik setengah tua tadi. Pemuda ini sibuk dengan kerjanya, apalagi dengan pandainya wanita itu merintih dan mendesah seakan ketakutan. Ketika Cu Liong tidak memperhatikan, bibir wanita setengah tua itu tersenyum penuh arti.
"Hemmmmm, dapat olehku sekarang!" bisiknya dalam hati.
Ketika Cu Liong mendekat sambil membawa dua ayam panggang, wanita cantik setengah tua menjerit-jerit ketakutan. Sepasang matanya terbelalak takut. Cu Liong melihat bahwa kedua mata itu, walaupun sedang ketakutan, tetapi tampak menarik dan indah sekali.
"Jangan... jangan lakukan lagi... ampunnn... bunuhlah saja saya...!" Kepalanya bergoyang ke kanan-kiri. Tubuhnya sama sekali tidak dapat digerakkan selain kepalanya, sehingga dia hanya menjerit dan menggeleng saja.
"Tenanglah Toanio, aku tidak bermaksud jahat. Aku ingin menolong dirimu." Cu Liong maju mendekat.
"Jangan takut! Aku bukanlah salah seorang dari mereka!"
"Be... be... benarkah? Tidak bohongkah kau...?" tanya wanita cantik setengah baya ragu.
Cu Liong mengangguk. Lalu tangan kanannya bergerak dua kali, melepaskan totokan tadi. Dia menotok untuk membuat wanita itu dapat bergerak kembali. Seraya mengangsurkan ayam panggang.
"Makanlah...!"
Tanpa menjawab sama sekali, wanita cantik itu lalu menyambar ayam bakar dan memakannya dengan rakus, sepertinya wanita ini sedang kelaparan sekali. Setelah beberapa gigitan, barulah wanita itu menoleh dan memandang wajah tampan Cu Liong.
"Te... terima kasih! Telah dua hari aku tidak mereka beri makan!" ujarnya untuk menutupi caranya makan yang rakus tadi.
"Ohhh, kasihan," tanpa sadar Cu Liong menjawab. Lalu dia pun menikmati ayam yang satunya lagi. Ia makan secara pelan-pelan sambil mengawasi ke arah wanita cantik setengah baya.
"Sekarang Nyonya dapat menceritakan sehingga Nyonya sampai di tengah bukit berbatu tadi. Siapakah diri Nyonya dan apa yang telah menimpa diri Nyonya sehingga keadaan Nyonya sampai begini mengenaskan?"
Mendengar pertanyaan ini, wanita cantik setengah baya yang bukan lain adalah Dewi Seruni Ungu menunda makannya. Kedua matanya menjadi merah dan air matanya menetes membasahi pipinya. Sungguh pandai sekali Cu Kiok Sianli bermain sandiwara untuk menjebak calon korbannya ini. Dengan mengguguk dan tersendat-sendat, terkadang menangis sedih, Cu Kiok Sianli menceritakan riwayatnya.
"Saya diculik oleh enam orang perampok berbaju hijau. Dari desa saya dilarikan dengan paksa dan suami... suamiku... di di... dibunuh. Hi-hik-hik... saya... saya... saya disekap dalam goa... disu... suruh menemani mereka dan melayani kebutuhan mereka. Kalau saya menolak, saya dihajar... hik-hik-hik...!"
Cu Liong mendengarkan penuh perhatian. Ia tak memotong sepatah kata pun cerita wanita cantik setengah baya tadi. Akan tetapi, ketika wanita itu tenggelam dalam tangisnya, ia segera bertanya, "Toanio, apakah keluargamu masih ada, yaitu, selain suamimu yang telah dibunuh itu?"
"Saya tidak tahu! Saya dibawa lari setelah suamiku dibunuh di luar rumah. Mungkin keluarga yang lain selamat..." desahnya memelas.
Cu Kiok Sianli memandang kepada Cu Liong penuh perhatian, seakan sepasang matanya yang kemerahan bekas tangis tadi melekat pada wajah tampan anak muda baju putih di depannya ini.
"Maukah Taihiap..." dia tidak meneruskan ucapannya.
"Bagaimana Toanio. Ahh, sedari tadi kenapa Toanio tidak mengenalkan diri. Siapakah sebenarnya nama Toanio?"
"Cu Kiok," jawabnya pendek. Lalu wanita ini pun menundukkan wajahnya, dan dari sudut matanya keluar kerling tajam. Bibirnya yang kemerahan menyungging senyum penuh arti. Cu Liong, pemuda yang baru saja keluar dari jurang ini, mana tahu akan kerling genit si wanita yang bernama Cu Kiok ini. Dia hanya merasa bahwa wanita cantik ini sungguh manis sekali kalau tersenyum.
Dalam benak Cu Liong tidak pernah ada sedikit pun pikiran yang bukan-bukan terhadap wanita ini. Setelah selesai makan ayam panggang, keduanya saling pandang di balik cahaya api unggun. Segera saja Cu Liong menundukkan kepalanya ketika pandang mata Cu Kiok menjelajahi dirinya. Terasa likat dan risih. Akan tetapi tidak marah, hanya malu. Cu Kiok tersenyum manis melihat hal ini.
"Taihiap," panggilnya pelan.
Cu Liong mengangkat muka.
"Maukah Taihiap mengantar saya?"
"Tentu saja Toanio. Akan tetapi sekarang malam hampir tiba, lebih baik besok saja kuantar pergi ke rumahmu."
"Saya... saya... takut di hutan...!" sambil berpindah tempat duduk dan mendekati anak muda itu, Cu Kiok berjalan melenggang.
Auuuuuuummmmmm... "Taihiaaappppp!" Cu Kiok menjerit dan menubruk tubuh Cu Liong. Kedua tangannya merangkul leher Cu Liong, ketat. Kepalanya disusupkan di dada bidang anak muda, dan tubuhnya menggigil.
"Jangan takut. Harimau itu masih jauh, tidak akan berani mendekat karena di sini ada api unggun besar!" Suara Cu Liong agak gemetar ketika dirinya didekap erat dan dua bukit keras menekan dadanya. Entah bagaimana darah anak muda ini berjalan cepat. Ia tidak tahu apa sebabnya!
"Ha... harimau... hihiii!" Pelukan itu pun semakin erat dan dekapannya semakin kencang.
Cu Liong sejenak membiarkan saja dirinya didekap. Akan tetapi dengan pelan, dia lalu menolak tubuh wanita berkulit halus itu.
"Tenang Toanio, saya ada di sini menjaga Toanio. Tidak ada yang perlu ditakutkan," katanya menghibur.
"Tetapi, bagaimana kalau dia datang?"
"Kalau raja rimba itu nekat datang, harimau itu akan aku bunuh. Kemudian besok pagi kita makan daging harimau itu, mau kan?" kata Cu Liong kalem, dan tanpa terasa lagi bibirnya tersenyum.
"Ihhh, tampannya kalau tersenyum!" puji Cu Kiok Sianli dalam hati.
"Saya ingin segera pulang, Taihiap," pintanya kemudian.
"Malam-malam begini...?"
"Ada Taihiap di sampingku yang menjaga, kenapa mesti takut."
"Hemmm, baiklah." Cu Liong lalu membuat obor dari kayu-kayu yang dijadikan satu. Kebetulan sekali rembulan muncul di malam itu, sehingga keadaan tidaklah terlalu gelap.
Akan tetapi, Cu Kiok yang berjalan di depannya menuruni bukit berbatu, tiba-tiba menjerit keras dan tubuhnya terguling.
"Tolong...!!" jeritnya ketakutan. Akan tetapi sebelum tubuh itu menimpa tanah, tiba-tiba tubuhnya telah ditarik ke atas, dan tanpa dapat dicegah lagi keduanya bertabrakan saking kuatnya tenaga tarikan itu.
"Ihhhhh...!" jerit manja Cu Kiok Sianli. Akan tetapi segera ia merintih kesakitan dan jatuh terduduk ketika pemuda itu melepaskan dirinya. Kedua tangannya mengurut kaki kanan, agaknya mata kakinya terkilir ketika terpeleset dari batu tadi.