Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 22

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 22

Salah satu tangannya meraba kaki tersebut setelah wanita itu membuka sepatunya.

Wajah pemuda itu memerah padam melihat begitu indahnya kaki wanita paruh baya ini.

"Sungguh mempesona!" desisnya dalam hati.

Pemandangan indah ini tidak pernah ditemuinya selama hidup, bahkan dalam mimpi sekalipun!

"Di mana yang sakit?" tanyanya.

"Ya, agak ke atas sedikit. Di situ tepatnya."

"Ah, tidak apa-apa, tidak ada yang cedera. Untungnya, uratnya tidak keseleo." Cu Liong meraba-raba kaki Cu Kiok, memeriksanya, merasakan betapa kulit wanita itu begitu lembut dan hangat dalam sentuhan jari-jemarinya.

Akan tetapi, sedikit pun dalam benak anak muda ini tidak ada maksud kotor.

Maka walaupun jari-jari tangannya meraba kulit putih halus itu, ia tidak merasakan gairah sama sekali.

Seakan-akan dia sedang memeriksa kaki domba saja!

Sedangkan Cu Kiok Sianli yang merasa betapa kakinya diraba-raba dan diperiksa oleh anak muda bernama Cu Liong di depannya ini menggigit bibirnya, menahan gejolak yang menyesakkan dada.

Memang wanita ini telah menjadi budak nafsu jalang sejak muda. Ia mempergunakan ramuan untuk mengawetkan tubuh dan kecantikannya.

Lidahnya yang kemerahan menjulur-julur ketika merasa betapa kakinya ditekan-tekan jari-jari anak muda itu.

"Ssssshhh... ahhh... eeessssshhh... aaahhhhh...!!" desah Dewi Seruni Ungu.

Suaranya agak gemetar karena menahan gejolak nafsunya, nafsu jalang itu seakan meremas otaknya.

Sepasang mata Dewi Seruni Ungu bergerak-gerak aneh dan napasnya memburu seperti suara lokomotif uap!

Tubuhnya agak gemetar menahan gejolak menyentak-nyentak yang menuntut pelampiasan.

"Bagaimana? Apanya yang sakit?" Cu Liong bertanya.

Pemuda hijau ini tidak menduga sama sekali akan mendapat pengalaman aneh seperti ini, dan selama hidupnya belum pernah membayangkan atau mengimpikannya sekalipun.

Mendengar desah tersebut, Cu Liong salah sangka sehingga jari-jemarinya yang tadinya mengurut dan memijit untuk mengurangi rasa sakit, kini mengurangi tekanan jarinya.

Bukan menekan-nekan, melainkan seperti mengelus paha di atas tempurung lututnya!

Cu Liong tidak menyadari sama sekali akibat perbuatannya ini dan terus mengelus-elus untuk mengurangi rasa sakit!

"Ahhhhh... ssttttt... ahhhhh...!" Dewi Seruni Ungu semakin menggelinjang tak karuan.

Tubuhnya rasanya seperti dibakar dari dalam.

Elusan jari-jemari pemuda ini semakin membakar darahnya sehingga nafsu jalangnya hampir tidak tertahan lagi.

Sepasang mata wanita ini telah terbalik!

Karena sudah tidak dapat menguasai dirinya sendiri, tiba-tiba Dewi Seruni Ungu menggerakkan jari-jemari tangan kanannya menyambar ke depan.

Tukkk! Tukk! Dua totokan mendarat di tubuh Cu Liong.

Cu Liong yang tidak menyangka sama sekali akan mendapat serangan dari wanita cantik paruh baya itu tidak dapat mengelak.

Tubuhnya terasa lemas tanpa daya sehingga obor yang dipegangnya pun jatuh ke samping.

Tidak disangka sama sekali bahwa wanita cantik yang ditolongnya ini ternyata memiliki ilmu beladiri yang tinggi.

Sepasang mata Cu Liong terbelalak penuh pertanyaan dan keheranan!

"Hi-hi-hik... tampan... mari, mari... akan kubawa kau ke langit..." ucapan wanita ini terputus di tengah jalan.

Bibirnya yang merah menantang telah mendarat di mulut anak muda berpakaian putih itu.

Ia tahu bahwa anak muda ini memiliki ilmu silat tinggi karena ketika Cu Liong mengalahkan perampok baju hijau, ia mengintai dari kejauhan.

Ia segera tertarik dan merasa bergairah terhadap pemuda itu.

Maka ia pun kemudian menjebak pemuda itu dengan siasatnya yang licik!

"Apa... apa... yang kau lakukan ini?" tanya Cu Liong kaget.

Dewi Seruni Ungu tidak menjawab pertanyaan pemuda ini, justru seluruh gairahnya ingin segera dilampiaskan setelah ia menciumi seluruh wajah pemuda itu.

Bibirnya yang merah seakan-akan ingin menghisap seluruh darah di tubuh Cu Liong.

Tukk! Dan Cu Liong terkulai pingsan.

Melihat ini, sambil mengeluarkan ringkikan tawa anehnya, Cu Kiok Sianli segera menyambar tubuh pemuda berpakaian putih itu dan membawanya melayang cepat sekali menuju ke tepi sungai, tempat sebuah goa berada.

Wanita ini mengeluarkan dua butir pil berwarna merah dan dengan paksa memasukkan dua butir pil itu ke dalam mulut Cu Liong.

Segera saja wanita ini melepas seluruh pakaiannya dan dia pun berdiri bagaikan seorang orok yang baru keluar dari rahim ibunya.

Akan tetapi, Dewi Seruni Ungu bukannya sesosok orok kecil yang menawan saja, bahkan lebih dari itu.

Wanita ini bagaikan seorang dewi turun dari kahyangan, dengan tubuh polos keemasan terkena cahaya rembulan.

Wanita ini tidak sabar menanti reaksi dua butir pil merah itu!

Dengan buas, ia layaknya seseorang yang kelaparan melihat hidangan makanan yang siap disantap.

Ia menubruk ke depan dan menggumuli Cu Liong!

Perbuatan Dewi Seruni Ungu ini memang sangat tidak terpuji.

Wanita ini telah kehilangan seluruh norma dan aturan kehidupan serta kesopanan sama sekali.

Hilang sudah segala petunjuk dan ajaran agama dari benak wanita yang telah dikuasai nafsu setan ini.

Dia hanya mencari pemuasan dari nafsu rendah yang telah mencengkeram dirinya.

Ia tidak menyadari bahwa kepuasan dari hubungan semacam itu tidaklah benar dan sangat dilarang oleh agama mana pun.

"Ihhh, setan perempuan kecil! Di mana-mana selalu menyebarkan maksiat! Keluarlah setan cabul!" Dewi Seruni Ungu tersentak!

Wajahnya berubah merah seperti kepiting rebus dan dengan cepat wanita itu kemudian menyambar pakaiannya dan meloncat ke luar!

"Bangsat, mencari mati! Siapa berani mengganggu kesenanganku?!" makinya begitu ia tiba di luar goa.

Sepasang matanya merah menyala penuh nafsu membunuh, memandang seorang Kakek pengemis yang berdiri santai di atas batu di tengah sungai.

"Cu Kiok, semakin tua kau semakin binal saja. Tidakkah kau melihat anak muda itu patut menjadi cucumu sendiri? Hemmm, sungguh binal!" kata Kakek Pengemis itu pelan.

"Keparat! Apa hubungannya denganmu, tua bangka! Orang tua kudisan, tukang minta-minta!"

"Heh-heh-heh... benar apa kata-katamu, bocah. Aku sudah tua bangka yang sebentar lagi mati, tetapi kukira umurku tidak selisih banyak dengan nenek peot seperti kau, heh-heh-heh...!"

"Mampuslah!!!!" Saking marahnya Dewi Seruni Ungu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan serangan tangan kanan yang dipukulkan ke depan.

Segumpal angin dingin menyambar ke arah berdirinya Kakek itu.

Angin dingin bukan sembarang angin dingin, tetapi angin dingin yang mengandung tenaga sinkang luar biasa!

Air yang terlanda angin pukulan itu pun dapat berubah menjadi bongkahan-bongkahan es!

Kakek pengemis itu menjadi kaget juga melihat kelihaian iblis wanita ini.

"Wah, hebat juga sinkang nenek peot itu!" katanya dalam hati.

Akan tetapi, Kakek pengemis itu tidak gentar, ia menjulurkan tangan kanannya menyambut serangan pukulan jarak jauh Dewi Seruni Ungu.

Wajahnya yang penuh keriput itu terlihat jenaka.

Apalagi mulutnya ketika terbuka memperlihatkan dua gigi kuning yang tersisa, tepat di depan!

Bleeeppppp...!!

Bukan letusan hebat yang terdengar, melainkan seperti benda terjatuh ke dalam air!

Walaupun tidak terdengar letusan dahsyat ketika dua tenaga pukulan jarak jauh itu saling beradu, namun akibat pertemuan kedua sinkang luar biasa itu dahsyat sekali.

Dewi Seruni Ungu terlempar ke belakang beberapa langkah.

Sedangkan Kakek pengemis itu juga berteriak kaget ketika tubuhnya terhuyung ke belakang.

Kuda-kudanya terguncang sehingga tidak dapat dicegah tubuhnya terguling dari batu!

"Eit, eittt... bagaimana ini... Eittt...!" Kakek pengemis itu berteriak-teriak seperti anak kecil.

Dan... Byuuuuurrrrr...!!

Tubuhnya tenggelam di tengah sungai.

"Mampuslah Kakek keparat!"

Dewi Seruni Ungu setelah berhasil menguasai dirinya segera melanjutkan serangannya dengan senjata rahasia berupa jarum ke arah Kakek pengemis itu tercebur ke dalam sungai.

Clup-clup-clup... Belasan batang jarum berwarna kehitaman menyusup ke dalam air sungai menyusul Kakek pengemis itu.

Aneh! Tidak terdengar sama sekali teriakan!

Jarum-jarum tersebut lenyap begitu saja dalam air.

"Uaahhhhh... dinginnya...!!" Dari balik batu muncul kepala penuh uban.

"Hiiihhhhh... dinginnnnn...!" Mulut Kakek pengemis gemeretuk tanpa suara.

Tiba-tiba kepala yang baru muncul itu lenyap kembali.

Ting-ting-tinggg...!!

Bunga api memancar ketika kembali belasan jarum hitam menghujani serta menimpa batu di depannya.

Dewi Seruni Ungu gemas sekali karena lagi-lagi serangan jarum mautnya gagal.

Dengan penasaran ia kemudian meloncat ke atas batu.

Sepasang matanya memandang tajam ke arah air sungai!

Sinar rembulan kekuningan yang memantul bagai perak dari air sungai menimbulkan pemandangan indah.

Namun, wanita ini tidak dapat melihat keindahan ini.

Seluruh perasaannya dibutakan oleh kemarahan yang menyesakkan dada karena kesenangannya terganggu!

Tiba-tiba terlihat beberapa benda putih menyambar dari tengah sungai dengan kecepatan kilat!

Prattt! Praattttt...!!

Tangan Dewi Seruni Ungu menangkis benda-benda keputihan itu!

Namun, begitu tertangkis, benda itu pun hancur dan bau amis memenuhi jari-jemarinya!

"Setan keparat iblis sungai!" umpat Dewi Seruni Ungu.

Wanita cantik ini pun berdiri tegak di batu tepi sungai.

Sepasang matanya mencereng ke arah sungai tidak berkedip.

Dengan gemas wanita itu kemudian kembali ke dalam goa.

Dapat dibayangkan betapa marahnya ketika melihat korbannya telah tidak ada lagi dalam goa.

Sambil menyumpah-nyumpah dan memaki-maki pengemis tua itu habis-habisan, wanita itu kemudian melampiaskan kemarahannya dengan menghancurkan batu-batu di tepi sungai.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment