Chapter 23
Hebat luar biasa bekas telapak tangannya! Batu-batu karang besar yang keras itu hancur saat wanita ini menjatuhkan tangan atau kakinya. Malahan, ada bagian yang melesak ke dalam ketika telapak tangan wanita ini berubah menjadi kehitaman. Sungguh hebat dan dahsyat pukulan telapak tangan Dewi Seruni Ungu yang dihantamkan ke batu-batuan di pinggir sungai itu!
Dewi Seruni Ungu mengeluarkan lengkingan tinggi! Lengkingan penasaran dan kemarahan bercampur aduk, sementara tubuhnya berkelebat menuruni puncak bagaikan bayangan setan.
Setelah wanita cantik itu pergi, dari semak belukar di pinggir sungai muncullah sebuah kepala penuh uban, layaknya hantu sungai. "Hiiiii... sungguh berbahaya...!" gumamnya.
Kakek ini menyeret sesosok tubuh telanjang dari semak alang-alang di pinggir sungai. "Wahhhhh... bagaimana ini? Aku tidak dapat menguras racun biang iblis tadi!" Setelah berusaha keras, kakek ini pun menyerah kalah karena tidak dapat mengusir racun dari tubuh anak muda tersebut. Tangannya menggaruk rambut putih di kepalanya yang lengket karena basah.
Kakek pengemis ini lalu masuk ke dalam gua untuk mengambil pakaian si anak muda. Setelah mengenakan pakaian dan menyarungkan golok di pinggang, pengemis tua aneh yang tidak lain adalah Pek-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Putih) itu memondong tubuh si pemuda, Li Cu Liong, menuju ke arah barat.
Gerakan kakek ini sangat cepat saat melayang terbang menembus kegelapan dan kerimbunan hutan. Agaknya kakek pengemis ini telah hafal dengan keadaan tempat itu, terlihat dari caranya mencari jalan dalam kegelapan yang hanya diterangi sepotong bulan di langit.
Tujuannya adalah sebuah pondok bambu sederhana yang dibangun di dekat air terjun. "He, tua bangka malas, bangun! Ini kubawakan oleh-oleh kesenanganmu...!" teriak Pek-tung Lo-kai lantang. Tanpa basa-basi lagi, pengemis ini membangunkan penghuni rumah tersebut.
Begitu pintu depan terbuka, seorang sastrawan tua berdiri di ambang pintu. "Lo-kai, malam-malam begini kau datang seperti kebakaran jenggotmu yang bau itu, sungguh *bo-ceng-li* kau! Besok apa tidak bisa?" tegurnya.
"Tidak bisa! Kau ini Siucai malas yang selalu saja mengurung diri di pondok bututmu sehingga tidak tahu dunia sedang geger!" sahut Pek-tung Lo-kai sambil melangkah maju.
"Tunggu! Jangan kau bawa masuk bocah itu!" seru Siucai tua lantang. Sekali bergerak, tubuhnya telah melayang memapaki, dan dengan satu gerakan tangan kanan, tubuh Cu Liong telah berpindah ke tangannya.
"Nah, nah! Sekarang matamu bersinar kegirangan melihat barang bawaanku!" ejek Pek-tung Lo-kai. Pengemis ini tidak marah oleh perbuatan temannya. Agaknya dia sudah tahu akan kelihaian sastrawan ini sehingga tidak heran. Memang tujuannya datang ke sini adalah untuk meminta tolong kepada orang tua ini.
"Cerewet! Cepat buatkan aku api besar dan panaskan air di dalam tong kayu itu!" perintah Siucai setengah tua itu, seakan-akan memerintah kacungnya sendiri. Anehnya, Pek-tung Lo-kai segera melakukan apa yang diminta tanpa banyak tanya.
Tangan Siucai tua ini bergerak sangat cepat, menotok sana-sini dan mengurut jalan darah di tubuh Cu Liong. Kulit tubuh Cu Liong yang tadinya berwarna merah tua perlahan berubah menjadi merah jambu. Ketika Pek-tung Lo-kai berteriak dari dalam rumah, dengan cepat sastrawan tua itu membawa tubuh Cu Liong ke dalam.
Keadaan Cu Liong semenjak diselamatkan dari dalam gua—tempat ia nyaris menjadi korban Cu Kiok Sianli si Iblis Penghisap Sukma—sangatlah memprihatinkan. Seluruh tubuh pemuda itu berubah kemerah-merahan akibat dua butir pil pemberian wanita cantik tersebut. Entah racun apa yang terkandung di dalamnya. Pemuda itu telah ditotok agar lemas dan tidak menimbulkan kesulitan saat disembunyikan di semak pinggir sungai.
Pek-tung Lo-kai kebingungan karena usahanya mengusir racun tidak berhasil. Maka, ia segera mengunjungi sahabat kentalnya, Siucai Sinting, untuk memohon pertolongan. Entah mengapa, kakek pengemis ini merasa tidak tega jika anak muda itu menjadi korban Dewi Seruni Ungu.
Sekarang kakek pengemis ini mengawasi Siucai Sinting dengan penuh perhatian. "Kenapa kau masak anak muda itu?" tanya Pek-tung Lo-kai heran.
"Pengemis gendeng! Kenapa kau bawa dia ke sini sebelum melakukan hubungan?" tegur Siucai Sinting keras.
Mendengar teguran itu, Pek-tung Lo-kai malah melongo dengan wajah bodoh. Sepasang matanya melotot heran, tidak percaya akan ucapan sahabatnya. "Apakah kau sudah...?" Pengemis tua ini memiringkan telunjuknya di dahi.
"Gila! Kau bertanya apakah aku sudah gila? Tua bangka bangkotan, kau sendirilah yang gila!" Siucai Sinting mencak-mencak marah. "Kalau kau tahu sebabnya, kau tidak akan memakiku gila. Tua bangka bodoh, lancang!"
"Apa? Aku lancang? Jangan asal berkoar, Siucai Sinting! Sudah lama tongkatku ini tidak menghajar orang, kau tahu?" Kakek Pengemis Tongkat Putih memasang kuda-kuda dan memutar-mutar tongkat putihnya. Terdengar suara angin menderu aneh dari putaran tongkat tersebut.
Siucai Sinting yang umurnya sebaya dengan Pengemis Tua Tongkat Putih tertawa terbahak-bahak melihat ulah temannya. "Heh-heh-heh, benar kata orang, umur enam puluh tahun lebih membuat manusia kembali seperti kanak-kanak! Heh-heh-heh...!"
Ketika Pengemis Tongkat Putih hendak menjawab, tiba-tiba terdengar rintihan dari tong tempat anak muda tadi direndam. Kakek Pengemis meradang. "Kau ingin membunuhnya, ya? Jangan harap!"
Pek-tung Lo-kai menerjang ke depan untuk mencegah Siucai Sinting "memasak" anak muda itu. Siucai Sinting segera mengelak dengan cepat. Tubuhnya berputar di atas lantai bagaikan pemain akrobat. Begitu berhasil menghindari serangan tongkat, ia berseru, "Tahan! Apakah kau mengira aku benar-benar ingin memasak anak itu? Tunggu saja sampai dia sembuh, baru aku akan melayanimu, tua bangka bangkotan!"
Pek-tung Lo-kai segera menahan tongkatnya dan memandang ke dalam tong. Di sana, si pemuda berendam dalam air panas bercampur rempah-rempah. Sepasang mata tua kakek itu meneliti kulit tubuh yang tadinya berwarna merah kini telah memutih kembali, hanya menyisakan rona kemerahan karena air hangat.
"Gila... kau betul-betul gila, Siucai Sinting!" pujinya keras. "Ck-ck-ck... bukan main!"
Siucai Sinting mendekat dan segera mengangkat tubuh pemuda itu. Cu Liong merintih lirih, namun matanya masih tertutup rapat. Sastrawan ini melakukan pengurutan di beberapa titik, lalu Cu Liong tertidur kembali.
"Celaka... gara-gara kau, darah anak ini telah keracunan!" keluh si sastrawan tua dengan penuh sesal.
Pek-tung Lo-kai semakin heran. "Bagaimana? Apa maksudmu?"
"Diamlah dan jangan banyak bicara! Aku sedang pusing memikirkan jalan keluarnya," sela sastrawan itu jengkel sambil berjalan mondar-mandir. Cu Liong kini telah dibungkus selimut tebal dan ditidurkan di atas dipan kayu.
"Nah, ketemu sekarang!" sorak sastrawan tua itu girang. Namun, Pek-tung Lo-kai tidak menyambut kegembiraan itu. Ketika sastrawan tua itu menoleh, ternyata si pengemis tua sudah tertidur lelap di sudut dekat perapian.
Sambil menggerutu, Siucai Sinting menuju rak buku di sudut ruangan. Ia segera tenggelam dalam keasyikan membaca hingga tidak mempedulikan sekelilingnya lagi. Tanpa terasa, hari mulai menjelang pagi. Suara kicauan burung menyambut datangnya mentari. Kabut tebal membubung menyelimuti puncak gunung, termasuk pondok Siucai Sinting. Hawa dingin menusuk hingga ke tulang.
"Aaduuhhh...!" terdengar rintihan lirih.
Sastrawan tua itu menoleh, lalu bangkit mendekati anak muda yang meringkuk kedinginan. "Bagaimana rasa tubuhmu, Anak Muda?"
"Diiingiiin... sekaliii... hiiiihhh!" Li Cu Liong menggigil hebat hingga giginya beradu.
"Heh-heh-heh... hawa segar begini dibilang dingin. Tidak lucu," ujar sastrawan itu asal. Sebagai orang sakti yang sedang sinting, ia seolah tidak peduli bahwa anak muda itu belum bisa mengerahkan tenaga dalam akibat pengaruh racun Dewi Seruni Ungu. Tanpa bicara lagi, ia malah melepas pakaian Cu Liong. Tentu saja pemuda itu semakin kedinginan dengan gigi yang gemeletuk tanpa irama.