Chapter 24
"Dinginnya..."
"Ngiingiiiinnn..."
"Tooo...longgggg dinginnyaaa...ngiiingiiiinnn...!!" Sastrawan tua itu memandang sejenak lalu berkata konyol.
"Dingin ya, Bi? Cepat saja atur pernapasanmu. Atur seperti biasanya kau melatih sinkang!" Cu Liong berusaha menuruti perintah sastrawan tua tersebut, akan tetapi kesulitannya tak tertolong! Tubuhnya sama sekali tidak bisa menahan hawa dingin pagi hari di puncak gunung ketika kabut tebal masih menyelimuti.
Pelan tetapi pasti, akhirnya Cu Liong dapat mengatur pernapasannya. Entah berapa lama pemuda ini tidak tahu atau tidak peduli lagi akan keadaan di luar dirinya! Pikirannya hanya tertuju kepada jalannya napas yang keluar masuk.
"Hebat! Lumayan juga anak muda ini. Kalau dia dapat menggunakan tenaga aliran air itu untuk membantu, tak sampai tiga hari tenaga bocah itu kembali!" puji Sastrawan tua lirih. Sepasang mata tua yang awas itu memandang tajam ke arah dada terendam air itu.
Ketika matahari telah naik tinggi, Siucai Sinting masih duduk bersila di atas batu. Sesekali matanya melirik ke arah anak muda dalam air, dan tak lama kemudian pandangan matanya telah tenggelam dalam huruf-huruf di buku yang dibacanya!
"Sastrawan gila! Sinting! Tak berbudi sama sekali!" Terdengar suara umpatan di belakang Kakek Sastrawan. "Orang sakit disuruh berendam di air, kalau tidak gila entah apa namanya ini?" Tanpa menoleh sama sekali, Kakek Sastrawan ini tahu bahwa temannya, Si Pengemis Tua Tongkat Putih, telah bangun dari tidurnya dan mendekati tempat duduknya di atas batu tersebut.
"Haiyaaa, dasar pengemis malas, tahunya tidur melulu. Gembel bau, apakah kau sudah menggosok gigimu? Cepat sana digosok sampai mengkilap agar gigi tikusmu bersinar, he-he-hehhh!"
"Digosok gundulmu itu! Tak usah kau suruh, tentu sudah kugosok sehabis bangun tidur! Tidak seperti kau, Sastrawan gila, sepasang matamu masih ada keraknya, hiiiiiiehhhhhh-hehhhhh-heh!" Pek-tung Lo-kai menjatuhkan pinggulnya yang telah tidak berdaging di batu, dekat sastrawan itu duduk. Sepasang matanya mengawasi anak muda yang masih tenggelam dalam pengaturan napas di tengah sungai.
"Apakah pemuda itu tidak kedinginan? Kakek sinting, kenapa anak itu kau siksa sedemikian rupa?"
"Dasar pengemis goblok! Aku tidak menyiksa, tahu! Menurut buku resep pengobatan kuno, air mengalir itu membantu membersihkan racun dan dapat membangunkan tenaga dalamnya kembali."
"Omong kosong! Mana ada air dapat membantu mengobati?"
"Dasar pengemis pikun! Air yang mengalir terus-menerus itu seperti aliran listrik, membuat darah anak muda ini berjalan cepat dan menguatkan isi perut! Perut kosong tak terisi apa pun tersebut seperti dipijat-pijat, dan semua ini masih ditambah tenaga sinkang yang berada di tan-tian anak muda yang dibungkus racun, sedikit demi sedikit akan timbul kembali, lepas dari pengaruh racun. Heh-heh-heh... dasar pengemis bau tak berpengalaman, heh-heh-heh...!"
"Menghina ya..."
"Lebih baik kau menyusul anak muda itu!" Tanpa disangka sama sekali, tangan Pek-tung Lo-kai telah mendorong ke arah Kakek Sastrawan itu. Akan tetapi, Sastrawan Sinting ini sudah biasa menghadapi sobat karib semenjak muda ini, tanpa mengalami kesukaran kakek ini melenting menubruk ke arah temannya!
"Eeeittttt... Gilaaaaa!" maki Pengemis tua.
"Byuuuuurrrrr...!!" Air sungai pun muncrat ke atas!
"Ha-ha-ha... tahu rasa kau sekarang!" ejek Sastrawan tua sambil tertawa.
"Hieh-heh-heh, dasar sinting! Sekali sinting tetap sinting!" umpat Kakek Pengemis sambil menyerang temannya dengan cipratan air. Jangan dipandang rendah air sungai yang didorong tangan Pek-tung Lo-kai ini, batu pun akan bolong apabila terkena!
"Gilaaaaa... Apa kau ingin membunuhku?" Sastrawan Sinting tahu-tahu telah melesat ke atas batu. Gerakan kakek sastrawan ini sungguh cepat sekali. Tahu-tahu dia telah berdiri di atas batu.
"Jangan lari, Sastrawan gila! Tunggu balasanku!"
"Heh-heh, kejarlah aku. Kalau ketangkap kuhadiahi...!!"
"Hadiah apa...?" Pek-tung Lo-kai bertanya sambil mengejar. Dua orang kakek tua ini seperti berubah menjadi dua orang anak kecil saja. Saling kejar sambil tertawa-tawa riang!
"Hayo hadiahnya apa coba...?" kembali Pek-tung Lo-kai bertanya.
"Heh-heh-heh, makanan sisa tentu saja. Hehha...!!"
Selagi kedua kakek itu saling kejar, tiba-tiba tampak berkelebat bayangan ramping menuju ke arah air terjun! Tiba-tiba bayangan ini berhenti dengan mendadak ketika sepasang mata bintangnya mengawasi ke arah tengah sungai di bawah air terjun.
"Hik-hi-hik... kiranya di sini kau disembunyikan, bocah bagus! Hi-hi-hik...!!" Cu Kiok Sianli terkekeh genit. Sepasang bibirnya merekah membentuk senyum dan sepasang matanya berbinar-binar penuh nafsu jalang. Sambil berloncatan, wanita cantik setengah baya ini mendekati tempat di mana Cu Liong berendam.
"Budak cabul, tahannnnn...!!" Dewi Seruni Ungu segera menahan langkah kakinya dan menengok ke arah suara bentakan mengejek itu. Wajahnya berubah kemerahan menahan marah ketika melihat siapa yang datang!
"Kiranya kau tua bangka bangkotan yang membuat ulah! Jangan harap sekarang kau dapat menyelamatkan kepala tikusmu lagi!" umpatnya marah.
"Hiyaaaaakkkkk, omong sih gampang! Buktinya... buktinya mana, heh-hehheh...!" Pek-tung Lo-kai melangkah sambil menggoyang pinggul, bagaikan bebek berjalan. Tongkat berwarna putih diputar-putar di tangan kiri, lagak pengemis ini seperti orang besar atau hartawan sedang melenggang kangkung meneliti di sebuah toko barang antik.
"Tua bangka keparat! Kalau aku hari ini tidak dapat mengirim nyawamu ke neraka, jangan panggil aku Dewi Seruni Ungu!"
"Siapa mau memanggilmu namamu seperti itu, kalau saya mah, lebih baik memanggilmu Iblis Tua Gila Lelaki. Hiah-ha-hah...!!" ejek Pek-tung Lo-kai sambil cengar-cengir.
"Mau apa kau sekarang, Nenek bawel?" Dewi Seruni Ungu tak dapat menahan lagi marahnya. Ubun-ubunnya bagai dibakar mendengar ucapan-ucapan pengemis tua bergigi dua bagaikan gigi tikus itu. Memang tidak salah kalau wanita cantik setengah tua menyebut kepala tikus. Gigi Pek-tung Lo-kai memang tinggal dua buah di depan atas sehingga persis gigi tikus!
"Mampuslah!" Tubuh Dewi Seruni Ungu meloncat menerjang kakek tua, didahului dengan sepasang tangan mengarah dua tempat, yang kalau mengenai sasaran akan membuat nyawa melayang. Bukan hanya sepasang tangan membentuk cakar yang mengarah kepala dan dada itu saja, akan tetapi masih ditambah kedua kaki menjejak ke arah perut. Betul-betul serangan maut!
"Tolonggggg... ada seorang Nenek gilaaa!" Pek-tung Lo-kai menjerit sambil melempar tubuhnya ke belakang mengelak, dan begitu dapat terhindar dari serangan maut ini, kakek pengemis tua ini segera membalas dengan serangan tongkat putihnya. Dielakkan Dewi Seruni Ungu dan dibalas cengkeraman maut dari wanita cantik setengah tua ini. Ditangkis dan dibalas serangan kembali. Kedua orang ini segera terlibat dalam perkelahian seru. Semua serangan mereka menimbulkan angin dahsyat dan suara tongkat diputar pun mendengung-dengung menggiriskan hati.
"Terimalah ini, tua bangka!" Seleret sinar putih dari pedang pendek di tangan Dewi Seruni Ungu mengejar kepala Pek-tung Lo-kai. Ketika pengemis tua itu mendesak tongkat putihnya, Dewi Seruni Ungu yang menggunakan Ilmu Silat Tangan Pencabut Nyawa merasa tak berdaya, segera mencabut senjata pedang pendeknya. Dengan jurus Mengejar Iblis Di Kala Terang dari Ilmu Pedang Pencabut Nyawa, wanita ini balas menyerang!
"Tranggggg..." Dewi Seruni Ungu yang sedang kegirangan ketika hampir saja pedang pendeknya mengenai Pek-tung Lo-kai yang sudah tidak lagi dapat menangkis, menjadi kaget sekali ketika pedangnya tertangkis sehingga menyeleweng ke samping sehingga tidak mengenai sasaran. Pek-tung Lo-kai yang lolos dari maut, terkekeh senang sambil mengejek lawannya.
"Hee, Nenek genit, bagaimana sekarang...?" Mulutnya terbuka memperlihatkan dua buah gigi depan!
"Bangsat lancang! Siapa kau?" bentak Cu Kiok Sianli ganas.
"Tenang, Sianli. Jangan sewot, kalau kau gampang marah, ubanmu nanti keluar, Iho, heh-heh-heh!" jawab Siucai Sinting sambil tersenyum. Kakek ini merasa geli ketika wanita ini tidak mengenalnya sama sekali. Memang, ketika muda pernah sastrawan ini jatuh cinta kepada wanita yang bertubuh aduhai dan wajah cantik jelita ini. Cantik menarik laksana seorang dewi kahyangan turun ke dunia, akan tetapi bukanlah bidadari penuh belas kasih Cu Kiok Sianli ini, melainkan seorang siluman betina berwajah dewi jelita!
Ketika Sastrawan Soo Kian Kun ini melihat watak asli dari Cu Kiok Sianli, membuat hati menjadi patah dan berubahlah jalan pikiran Soo Kian Kun. Tadinya sebagai seorang bajingan perlente, menjadi sastrawan yang angin-anginan sehingga di dunia kang-ouw terkenalah namanya sebagai Siucai Sinting!
"Pelajar kempot, majulah sekalian! Hari ini Nonamu pasti dapat mengirim kalian menghadap Giam-lo-ong di neraka!" Cu Kiok Sianli segera memainkan pedangnya dengan jurus-jurus pilihan. Sinar berkilat-kilat menyambar dahsyat mengarah nyawa. Serangan ini masih disertai dengan pukulan-pukulan tangan kiri yang tak kalah ampuhnya. Pukulan jarak jauh Ilmu Silat Tangan Kosong Pencabut Nyawanya!
"Uuuahhh, ganasnya!" Pek-tung Lo-kai kembali mengelak sambil membalas dengan Ilmu Tongkat Penakluk Srigala! Ilmu Tongkat Penakluk Srigala yang telah diubahnya. Ini ilmu silat mirip dengan ilmu silat tongkat dari Siauw-lim yang ampuh!
"Sabarrrrr, Cu Kiok. Mosok ketemu kawan lama kau tidak merasa kasihan sama sekali, jangan marah-marah seperti nenek-nenek kebakaran jenggot, Manis." Sastrawan Sinting Soo Kian Kun melesat cepat ke samping sambil menggerakkan sepasang po-koan-pit besi di kedua tangannya.