Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 26

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 26

"Set! Set! Set!"

Belasan senjata rahasia dilemparkan oleh lima orang pemuda dan pemudi murid Perguruan Hoa-san. Senjata-senjata itu berkelebat cepat mengarah ke punggung sosok berpakaian putih. Walaupun tengah berlari cepat, orang berpakaian serba putih itu seolah-olah memiliki mata di punggungnya. Tangan kanannya mengibas ke belakang menyambut datangnya *am-gi* (senjata rahasia).

"Wut!"

Bagaikan digulung angin puyuh, belasan senjata rahasia itu melesat ke samping. Mendadak, sosok berpakaian serba putih dengan wajah pucat itu membalikkan tubuh dan mendorongkan kedua tangannya ke depan. Angin yang luar biasa kuat menderu dari kedua tangannya, menyambut kedatangan kelima muda-mudi murid Hoa-san tersebut.

"Hebat!" teriak pemuda yang paling muda saat menyambut dorongan tangan lawan. Meskipun ia yang termuda di antara mereka, ternyata ilmu meringankan tubuhnya adalah yang paling hebat.

"Awas!" Dua orang kakak seperguruannya segera melompat ke depan. Setelah menangkap tubuh adik seperguruannya dan memastikan ia tidak terluka, mereka segera maju mengepung lelaki berpakaian putih berwajah pucat tersebut.

"Ha-ha-ha, inilah makan siangku! Dua dara cantik jelita yang masih perawan, ha-ha-ha!" Orang berpakaian putih itu adalah seorang pembunuh sadis yang tidak mengenal peri kemanusiaan. Ia mengaku sebagai Golok Naga Terbang, atau lebih tepat jika disebut Iblis Naga Terbang. Ia terkekeh senang.

"Keparat!" umpat kedua dara berpakaian merah dan biru itu hampir bersamaan. Ketiga saudara seperguruan lainnya pun ikut memaki dengan tak kalah sengitnya.

"Srat!"

Dengan cepat kelimanya menghunus senjata andalan masing-masing.

"Hari ini, jangan harap kau bisa lolos dari *Hoa-san Ngo-liong-kiam*! Keparat sadis, bersiaplah untuk menyerahkan nyawamu!" bentak murid tertua dari Hoa-san Ngo-liong-kiam.

Pemuda itu kemudian memberikan aba-aba. Formasi (*tin*) Ngo-liong-kiam pun bergerak; kelebat pedang mereka meluncur ke arah Iblis Naga Terbang.

"Ha-ha-ha, keluarkanlah seluruh kepandaian ajaran Si Tua Hoa-san! Ingin kulihat apa yang bisa dilakukan barisan ciptaannya itu terhadapku, ha-ha-ha!" Sambil berkelebat menghindar, Iblis Naga Terbang mencabut goloknya. Senjata berat itu segera diputar untuk menahan serangan kelima anak muda tersebut.

"Trang! Trang! Trang!"

Berulang kali terdengar denting senjata yang beradu. Setiap kali golok besar itu menangkis, pedang lawan pasti terpental balik. Tenaga sakti orang bermuka pucat ini sungguh kuat, benar-benar di luar dugaan kelima murid Hoa-san. Dalam sekejap, kelima orang itu mulai kerepotan menerima serangan balik Iblis Naga Terbang. Walaupun sesekali serangan pedang mereka berhasil mendesak sang iblis, barisan mereka tetap tidak dapat berkembang sesuai keinginan. Tangan yang memegang gagang pedang terasa seakan terkelupas kulitnya setiap kali senjata mereka beradu dengan golok lawan.

"Ha-ha-ha, lebih baik kalian tinggalkan gadis-gadis cantik ini. Kalian tiga lelaki murid Sin Seng Tojin, akan kuberi ampun. Beritahukan kepada gurumu bahwa aku, murid Pendekar Golok Terbang, ingin menyunting dua muridnya. Ha-ha!"

"Bangsat! Lebih baik mati!" Kedua gadis itu berteriak melengking panjang. Dua batang pedang menyambar dari atas dan bawah dengan kecepatan kilat. Mereka tidak lagi mempedulikan pertahanan diri; niat di hati mereka hanyalah mengadu nyawa dengan Iblis Naga Terbang.

Ketiga rekan seperguruan mereka kaget melihat tindakan kedua gadis ini. Tanpa dapat dicegah, rusaklah barisan Ngo-heng-tin. Dengan hancurnya keteraturan barisan, daya kesatuan Ngo-heng-tin yang sambung-menyambung pun menjadi tidak berguna. Mereka akhirnya mengeluarkan ilmu pedang tunggal Hoa-san Kiam-sut dan mengeroyok Iblis Naga Terbang secara bersamaan.

"Ha-ha-ha!" Sambil tertawa terbahak-bahak, orang berbaju putih itu menyelinap di bawah hujan pedang lawan. Gerakannya luar biasa gesit, dan permainan golok besarnya pun, selain kuat, juga sangat aneh—menyerupai gerakan serangan tongkat atau pedang, bukan sekadar ilmu golok biasa.

Melihat ilmu yang dikeluarkan orang tersebut, kelima murid Hoa-san mulai curiga akan pengakuannya sebagai murid Pendekar Golok Terbang. Mereka sedikit banyak mengetahui ciri-ciri Ilmu Golok Terbang milik sang pendekar, Liok Ing Gie, karena guru mereka pernah memberitahukan ciri-ciri tokoh *kang-ouw* beserta jurus andalan mereka.

Karena tidak tahan lagi, murid termuda yang gerakannya paling gesit membentak, "Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau menyamar sebagai murid Pendekar Golok Terbang lalu melakukan pembunuhan dan pemerkosaan?"

"Keparat! Terpaksa aku harus melakukan pembunuhan lagi!"

Setelah mengumpat, goloknya berputar-putar laksana ombak Laut Selatan yang menerjang pantai karang. Tubuh pemuda berbaju putih itu lenyap, terbungkus gulungan golok besarnya yang menerjang ke kanan dan kiri dengan dahsyat.

"Lari!" sang kakak tertua berteriak memperingatkan.

Namun, semuanya sudah terlambat.

"Trang! Crak! Trang! Trak! Bless! Tuk-tuk!"

Tiga pemuda murid Hoa-san tergeletak bersimbah darah. Dua orang hampir terpotong tubuhnya, sementara seorang lagi dadanya tertembus golok besar lawan. Gadis cantik berpakaian merah jatuh pingsan karena totokan, sedangkan adik seperguruannya yang berwajah cantik dengan sepasang mata lebar dibawa lari oleh orang itu sambil tertawa-tawa.

Orang yang mengaku sebagai Pendekar Golok Terbang itu mengira tidak ada saksi atas perbuatannya. Ia terlalu percaya diri hingga melakukan kebodohan. Mungkin nafsu telah memenuhi otaknya sehingga ia terburu-buru ingin mencicipi tubuh ranum dara berpakaian biru tersebut.

Entah berapa lama dara berpakaian merah itu pingsan akibat totokan jari lawan. Saat ia tersadar dan membuka matanya, hari sudah menjelang pagi. Hawa dingin dari bukit menyadarkannya. Perlahan ia bangkit dan memandang ke sekeliling. Tampaknya ia belum sepenuhnya ingat akan kejadian yang menimpanya.

Namun, saat pandangannya menembus kabut pagi, matanya terbelalak. Seakan tidak percaya pada apa yang dilihatnya, ia melangkah sempoyongan mendekat, lalu tiba-tiba menjerit histeris.

"Suheng!" Tubuhnya menubruk ke depan, tanpa mempedulikan darah beku yang membasahi pakaiannya. "Suheng! Sute! Ngo-sute! Hik... hik..."

Gadis berpakaian merah itu menjerit-jerit dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipi. Ia menubruk jenazah ketiga saudara seperguruannya bergantian. Karena tidak kuat menahan kesedihan, ia kembali pingsan.

Begitu sadar kembali, dengan sesenggukan dan air mata yang tak kunjung kering, ia menggali tiga lubang kubur untuk saudara-saudaranya. Setelah bersusah payah memakamkan mereka, sambil terisak, gadis ini bersumpah di depan makam tersebut.

"Suheng dan kedua Sute, aku akan membalaskan sakit hati ini! Aku akan meminta Suhu menurunkan ilmu yang lebih tinggi agar aku dapat membalas dendam pada Iblis Naga Terbang. Tenanglah kalian, dan bantulah aku mendapatkan ilmu yang lebih tinggi lagi."

Dengan langkah sempoyongan dan isak tangis, dara berbaju merah itu menuruni bukit untuk kembali ke Gunung Hoa-san dan melaporkan nasib malang yang menimpa mereka. Setelah beberapa lama menuruni bukit, ia bertemu dengan kedua paman gurunya, Ji Seng Tojin dan Sam Seng Tojin, yang merupakan adik seperguruan Ketua Hoa-san, Sin Seng Tojin.

"Celaka, Paman Guru! Kami semua celaka di tangan orang yang menyamar sebagai murid Pendekar Golok Terbang. Semuanya... binasa!" Gadis berbaju merah itu kembali terkulai pingsan.

Ji Seng Tojin dan Sam Seng Tojin segera merawat keponakan murid mereka. Setelah mendengar seluruh cerita, kedua tosu itu segera mengajaknya menemui sang Ketua. Mereka berjanji akan mencari Iblis Naga Terbang, si pembunuh sadis itu. Ketiganya pun berjalan cepat menuju Gunung Hoa-san.

Kasus pembunuhan dan penculikan tersebut hanyalah sebagian dari kejahatan Iblis Naga Terbang yang mencatut nama murid Pendekar Golok Terbang, Liok Ing Gie. Banyak orang persilatan dibantai dengan keji, sehingga kalangan *kang-ouw* menjadi marah. Kabar pun segera tersiar bahwa murid Pendekar Golok Terbang harus menanggung akibat perbuatannya. Banyak tokoh silat, baik dari golongan putih maupun hitam, mulai memburunya. Namun, keberadaan golok pusaka tersebut masih belum diketahui, dan mereka terus mencarinya.

Suatu hari, di jalan menuju kotaraja, seorang pemuda tampan bertubuh tinggi tegap berjalan sendirian dengan kepala menunduk. Sepasang matanya memandang sayu ke jalanan di depannya. Ia berjalan seakan-akan menghitung langkah kakinya. Pemuda ini adalah Li Cu Liong. Tentu saja hatinya sedih mendengar berita yang mencemarkan nama baik guru dan dirinya sendiri. Tekad di hatinya hanya satu: mencari siapa orang yang telah menyamar sebagai dirinya.

"Minggir, tolol! Berjalan di tengah jalan seenaknya!"

"Punya kakeknya, barangkali!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment