Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 27

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 27

Ejek lelaki berkuda berwajah penuh brewok di belakangnya.

Tanpa menoleh lagi, Cu Liong melangkah ke pinggir jalan. Debu menggelapkan mata ketika rombongan berkuda yang terdiri dari dua belas orang lewat. Cu Liong melirik sekilas ke arah rombongan tersebut. Tak ada yang dikenalnya sama sekali. Entah dari golongan mana mereka ini? Tidak ada gambar atau benda di tubuh mereka, hanya semua mengenakan pakaian serba hijau.

"Cepat! Nanti kita ketinggalan!" Ketua rombongan itu berteriak memerintah.

"Hiyakkk… Hiyaaakkk…!" Teriakan lantang disertai lecutan di kaki kuda membuat tunggangan mereka menjadi semakin cepat menggerakkan kaki, membalap ke depan, bagaikan lomba pacuan kuda saja. Para penunggang kuda berseragam hijau itu ternyata adalah ahli dalam mengendalikan kuda mereka. Tubuh mereka tampak gagah di atas punggung kuda yang membalap cepat.

"Ada apakah sebenarnya sehingga mereka itu seperti lari dikejar setan? Sungguh mencurigakan sekali. Baiknya kuikuti saja mereka!" Begitulah jalan pikiran pemuda ini bercuriga. Maka sekali menjejakkan kaki, tubuhnya telah melesat ke depan, bagaikan sebatang anak panah terlepas dari busurnya. Cu Liong dengan hati-hati membayangi kedua belas orang berseragam hijau tersebut.

Bagaimana pemuda ini dapat berada di jalan raya menuju ke kotaraja ini? Marilah kita mundur sejenak untuk mengikuti pengalaman pemuda ini ketika dia sedang berendam dalam air sungai di puncak sebuah bukit. Direndam oleh Pelajar Sinting Soo Kian Kun!

Pada saat kedua tokoh persilatan tua itu sedang menghadapi Dewi Seruni Ungu, pendengaran Cu Liong yang tajam dapat mengikuti semua pembicaraan itu. Akan tetapi, karena dia dalam keadaan terserang racun dari Cu Kiok Sianli alias Dewi Seruni Ungu, tentu saja Cu Liong tidak dapat berbuat apa pun. Dia hanya berusaha membangkitkan tenaga dalamnya melalui latihan pernapasan dari Kitab Pusaka Menjala Langit.

Selagi Cu Liong tenggelam dalam pengaturan napas, ia merasa tubuhnya dibawa terbang cepat sekali! Dengan kaget, Li Cu Liong membuka sepasang matanya, dan pandangan matanya dapat melihat wajah penuh kesabaran dari Kakek Bukit Awan, gurunya.

"Suhu…?" desisnya lirih, hampir tidak terdengar sama sekali.

"Tenang, Liong. Jangan takut! Tidak apa-apa," ucapan lembut itu memasuki kedua telinga dan menenteramkan hati Cu Liong. Cu Liong memejamkan kedua matanya kembali, pasrah kepada suhunya ini karena dia percaya di tangan suhunya ini ia berada di tangan yang aman.

Ketika Cu Liong membuka mata kembali, dia telah berada di sebuah puncak bukit yang penuh dengan bunga-bunga merah. Bunga merah mekar, mengharumkan baunya memenuhi puncak tersebut.

"Suhu…!" Cu Liong memberi hormat sambil berlutut di depan kakek berambut putih dan beralis putih panjang. San In Lojin tersenyum lembut.

"Bagaimana rasa tubuhmu, Liong?"

"Dingin sekali, Suhu. Teecu tidak dapat mengerahkan tenaga sakti untuk melawannya sama sekali," suara Cu Liong penuh kedukaan dan gemetar.

"Ha-ha-ha, kenapa cemas, Cu Liong! Rasa cemas dan khawatir itu tidak akan menolongmu. Kau harus percaya diri dan janganlah mempunyai rasa khawatir sedikit pun. Rasa cemas hanya akan membuat penyakit itu semakin menjadi lebih parah!"

"Tapi… tapi…!"

"Biarlah ini menjadi pengalaman bagimu. Sekarang majulah ke depan!" perintah San In Lojin. "Ulurkan kedua tanganmu dan kerahkan seluruh perhatianmu untuk menimbulkan tenaga saktimu kembali. Ikutilah saja aliran tenaga yang memasuki tubuhmu!"

Cu Liong merasakan tangan kanannya menerima saluran hawa panas dari tangan kiri suhunya dan tangan kanan suhunya mengalirkan hawa panas pula sehingga kedua tangan itu mengalirkan hawa hangat. Cu Liong mengikuti kedua hawa panas itu menyelusuri semua jalan darahnya. Rasa hangat itu semakin lama semakin panas, sehingga hampir tak tertahankan lagi. Keringat sebesar kedelai telah membasahi seluruh tubuh Cu Liong.

"Tahankan, Cu Liong! Sekarang akan kuganti!" Pelan-pelan tenaga itu berubah menjadi dingin dan semakin dingin, seakan-akan membikin seluruh darah di tubuhnya menjadi beku. Entah berapa lama kedua tenaga itu bergantian memasuki tubuhnya, Cu Liong tidak merasakan lagi. Sekarang seluruh perhatiannya hanya tertuju akan perjalanan hawa di dalam tubuh.

Keadaan Cu Liong semakin membaik. Pemuda ini tidak merasakan lagi tempelan tangan San In Lojin pada kedua telapak tangannya. Dia tidak tahu bahwa dirinya telah dapat membangkitkan tenaga sakti yang tadinya mengeram akibat racun dari Dewi Seruni Ungu. Keadaan pemuda ini sampai beberapa hari tenggelam dalam samadi. Dan pada suatu hari, San In Lojin, gurunya, membangunkannya.

Cu Liong tersadar dari alam samadhinya!

"Sekarang semua racun telah bersih dari tubuhmu, Cu Liong. Pengalaman ini akan membawa hikmah besar bagimu. Kau akan menjadi semakin hati-hati dalam menghadapi segala siasat dari orang-orang kalangan sesat! Dan lagi, untuk sekarang ini, kau harus mencari penjahat yang mencemarkan nama Gurumu! Berhati-hatilah!" Setelah memesan muridnya, San In Lojin berjalan pergi. Bagaikan sedang melayang saja, kakek tua itu melayang menuruni bukit.

Sampai di sini terputuslah kenangan Cu Liong. Cepat Cu Liong mendekati arah suara itu. Sepasang mata pemuda itu terbelalak melihat pemandangan di depannya. Nampak seorang gadis cantik sedang dikeroyok dua belas orang bersenjatakan pedang panjang dan memiliki ilmu lumayan. Teriakan-teriakan liar dan ganas keluar dari orang-orang berseragam hijau.

Akan tetapi, dara yang dikeroyok itu berkelebat seperti seekor kupu-kupu bermain di antara dahan-dahan dan kelopak bunga. Gerakan tubuhnya sangat indah dan gesit. Terkadang pedang pendek di tangan kanan menangkis, sekali tangkis saja pemegang berpakaian serba hijau terlempar ke belakang. Ini menandakan bahwa gadis cantik itu memiliki tenaga sinkang luar biasa tinggi.

"Ihhhh, kalian ini seperti kerbau gila saja! Aku tidak mempunyai kesalahan apa pun terhadap kalian. Kenapa datang-datang kalian mengamuk seperti kemasukan setan, gilaaa!" Walaupun dikeroyok dua belas orang, gadis cantik itu masih dapat mengucapkan kata ejekan.

"Mampuslahhhhh!" Teriak kepala orang berbaju hijau yang bertubuh tinggi besar. Pedangnya membabat ke arah pinggang ketika dara cantik ini sedang berada di tengah udara mengelak dari sambaran pedang kawannya.

"Nanti dulu! Tidak begitu gampang aku mampus, hihi!" Sambil tertawa renyah, Tan Gin Nio, dara cantik murid Nelayan Pantai Timur, membuat putaran di udara. Dan tangan kanannya meluncur ke pedang.

"Tranggggg…!!" Tiga pedang anak buah baju hijau menyambut pedang pendek Gin Nio. Akan tetapi, ketiganya terpental ke belakang dan jatuh bergulingan.

"Tahannnnn! Aku ingin tahu sebabnya kenapa kalian membabi buta menyerangku!" Orang-orang berpakaian serba hijau ini masih mengurung gadis cantik itu di tengah. Kepala pasukan serba hijau ini segera maju dan menjura dengan kedua tangan di depan dada.

"Maafkan kami, Lihiap. Benarkah Lihiap bukan pembunuh…?"

"Pembunuh… Aku pembunuh? Tuduhan gila apalagi ini…?" bentak Gin Nio jengkel. Sepasang mata bintangnya melotot, malah menambah manis wajahnya.

"Maaf… maaf, sebetulnya kami semua sedang mengejar wanita pembunuh tuan muda kami. Menurut keterangan salah seorang anak buah perkumpulan kami, Tuan Muda berjalan bersama seorang gadis cantik. Akan tetapi, kemarin pagi, tubuhnya diketemukan telah tak bernyawa di dekat rumah perkumpulan kami." Pemimpin rombongan itu menerangkan sebab musababnya. Sepasang matanya masih memandang curiga kepada Tan Gin Nio.

"Sekarang mana itu orang yang melihat wanita cantik itu. Apa benar dia adalah aku? Hayo, mana orang itu?" bentak Gin Nio lantang.

"Maaf, kami semua mohon Lihiap sudi mengunjungi perkumpulan kami di Bukit Kera!"

"Ihhhh, memangnya aku pesakitan? Ke mana pun aku pergi, itu mah urusanku sendiri. Kenapa kau ini orang-orang Partai Kera ribut mulut!"

"Tapi…" katanya ragu-ragu.

"Sudah, pergi sana! Aku mau ketemu Ketua Si Kera Hitam Besar sendiri. Akan kulihat bagaimana muka munyuknya kalau ia melihatku! Pergi! Pergi cepat!" usir Tan Gin Nio jengkel.

Dua belas orang berpakaian serba hijau itu kaget sekali mendengar ucapan gadis cantik itu. Tak menyangka sama sekali bahwa dara jelita ini agaknya mengenal baik ketua mereka. Wah, ini bisa berabe! Salah-salah mereka semua akan mendapat dampratan dari ketua mereka, Hek-kauw-sian Gi Bong! Cepat mereka menuju kuda masing-masing dan tanpa berani menoleh lagi, mereka membalapkan kuda menuju ke Bukit Kera di sebelah selatan kotaraja.

Begitu rombongan seragam baju hijau pergi, Tan Gin Nio masih berdiri di tengah jalan. Senyumnya mengejek memandang ke arah sebuah pohon besar di pinggir jalan.

"Kenapa tidak lekas turun? Apa menanti Nonamu turun tangan?" Li Cu Liong kaget juga melihat kelihaian mata gadis yang pernah dijumpainya di rumah makan di kota Merak Emas, kota di utara Bukit Awan. Begitu tiba di tanah, dia lalu maju mendekati dara cantik itu.

"Ihhh, kiranya kau?" Tan Gin Nio menyapa geli. Tangan kiri menutupi giginya yang tadi berkilat seperti mutiara ketika dara ini tertawa.

"Benar, Lihiap. Selamat berjumpa kembali."

"Ihhh, apa-apaan ini? Kenapa lihiap-lihiap segala? Aku bukan Lihiap!" seru Gin Nio sambil melotot.

"Maaf, maaf, maafkan saya lihi… eh, maaf karena belum tahu dan mengenal nama lihia…!" Li Cu Liong menjadi salah tingkah dipandang sepasang mata bintang gadis itu.

"Kalau mau tahu namaku, yaaa sebutkan dulu namamu donggggg! Masak seorang gadis harus memperkenalkan nama terlebih dulu, tak usah yaaa!" Ucapan ini terdengar renyah di telinga Cu Liong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment