Chapter 28
`Oh, ya, benar, Nona. Maaf, sekali lagi maaf, aku bernama Cu Liong.`"
"`Nah, begitu baru benar. Eh, Liong-ko! Boleh, kan, aku memanggil kau Liong-ko?`"
"`Tentu saja boleh, Nona.`"
"`Lhoh, bagaimana sih kau ini? Memanggil 'nona-nona' terus?`"
Cu Liong bingung juga. Mana mungkin dia yang tidak tahu nama gadis ini harus memanggil apa padanya. Dasar gadis rewel, pikirnya. Akan tetapi, bukan itu yang keluar dari mulut pemuda ini.
"`Habis, kalau bukan Nona, siapa lagi? Aku belum tahu namanya, sih?`"
"`Oh, ya toh! Apa aku tadi belum memberitahukan namaku?`"
"`Uh, pikun!`" umpat Cu Liong dalam hati. Dia menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"`Namaku Gin Nio, aku bermarga Tan dan Suhu-ku Nelayan Pantai Timur.`" Begitu memperkenalkan nama, dara ini memperkenalkan nama gurunya pula. Entah mengapa dia merasa simpati kepada pemuda yang baru ditemuinya dua kali ini. Ada sesuatu pada diri pemuda ini yang menarik hatinya.
"`Oh, jadi Nona murid Nelayan Pantai Timur Lao-cianpwe. Suhu pernah memberi tahu bahwa dia mempunyai seorang sahabat dari timur. Seorang nelayan yang lihai ilmu silatnya, boleh dikatakan datuk daerah timur.`"
"`Eh, siapakah Suhu-mu? Mungkin aku juga sudah mendengar namanya.`"
"`Suhu bernama Liok Ing Gie!`"
"`Pendekar Golok Terbang!`" seru Gin Nio cepat. Sepasang mata gadis ini memandang penuh perhatian kepada Cu Liong, meneliti dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
"`Wah, celaka...`"
"`Ada apa, Nona?`" tanya Cu Liong melihat mimik dara itu menjadi pucat.
"`Apakah kau yang membunuh beberapa orang persilatan dan memperkosa gadis-gadis di Bukit Awan? Ayo, mengaku saja, tidak usah mengelak.`"
"`Lho, apa pula ini?`" Tan Gin Nio yang melihat pandang mata anak muda itu menjadi sadar. Terang bukan anak muda ini yang menjadi pembunuh sadis dan pemerkosa wanita di Bukit Awan. Kalau begitu, siapa orang itu? Wah, ada udang di balik kelambu. Ini pasti ada yang tidak beres.
"`Begini saja, Liong-ko. Aku mau ke Bukit Kera menemui Ketua Perkumpulan Kera Sakti, ingin menjelaskan persoalan ini. Marilah kau ikut serta untuk menjadi saksi. Akan kuceritakan semua kejadian di Bukit Awan kepadamu.`"
Li Cu Liong yang merasa penasaran sekali akan tuduhan dirinya sebagai pembunuh dan pemerkosa, tentu saja mau mengikuti dara itu menuju Bukit Kera. Keduanya menggunakan ilmu meringankan tubuh, berlari cepat menuju puncak bukit. Akan tetapi, Cu Liong selalu menjaga jangan sampai dara ini tahu bahwa dia memiliki kepandaian yang luar biasa tinggi. Maka dia selalu berlari di belakang murid Nelayan Pantai Timur ini; langkah kakinya terdengar berat dan napasnya terdengar memburu.
Gin Nio berjalan sambil menceritakan kejadian di Bukit Awan.
"`Celaka... Siapakah yang berbuat itu? Kurang ajar! Aku harus mencari penjahat yang mencemarkan nama Suhu itu!`" umpat Cu Liong gemas mendengar cerita Gin Nio.
"`Apakah Nona percaya semua itu perbuatanku?`"
"`Ih, bagaimana sih kau ini! Sudah tahu namaku, kok masih memanggil 'nona-nona' segala. Apa kau tidak mau kenal denganku, begitu, ya?`"
"`Maaf, aku lupa lagi. Baiklah, aku akan memanggilmu Adik!`" Sebentar saja keduanya sudah semakin akrab. Gin Nio percaya seratus persen, bukan pemuda di sampingnya ini yang menjadi pembunuh sadis dan pemerkosa tersebut. Dia sudah pernah berkenalan dengan Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie walau sekilas, akan tetapi tak mungkin jika sahabat karib gurunya akan mendidik muridnya seperti yang dituduhkan oleh orang-orang dunia persilatan.
"`Lebih baik kau tidak mengaku murid Pendekar Golok Terbang. Nanti, kalau rahasia ini telah terungkap, barulah kau mengaku kembali.`"
"`Terima kasih atas perhatianmu, Moi-moi.`"
Begitu keduanya tiba di pintu gerbang benteng Perkumpulan Kera Sakti, di depan pintu telah berbaris rapi puluhan lelaki berpakaian serba hijau di kanan kiri jalan. Berdiri tegak dengan senjata terhunus di tangan. Cu Liong melirik ke arah dara di sampingnya, akan tetapi ia kagum melihat dara itu tak secuil pun memperlihatkan sikap jerih. Wajah Gin Nio tetap berseri-seri ketika memasuki gudang harimau sarang naga ini. Maka ia pun mengikuti saja ke mana dara itu menuju.
"`Hi-hik, ternyata kita disambut bagaikan tamu agung, Liong-ko,`" kata Gin Nio keras. Li Cu Liong hanya tersenyum dan mengangguk.
Ketika keduanya tiba di halaman, tempat itu biasanya untuk berlatih silat. Dari dalam keluarlah orang yang kemarin memimpin rombongan yang menyerang Tan Gin Nio. Dari jauh orang itu telah mengangkat kedua tangan memberi hormat dengan kedua tangan diangkat di depan dada.
"`Maaf, Lihiap, kami datang terlambat menyambut. Silakan masuk, Suhu telah menanti di dalam.`"
"`Terima kasih.`" Bukan Gin Nio yang menjawab, melainkan Cu Liong.
Keduanya mengikuti orang itu menuju ke ruang pendapa tempat tampak sebuah peti mati besar dan meja sembahyangan orang mati. Begitu masuk ke ruangan ini, keduanya lalu mengambil dupa dan memberi penghormatan terakhir kepada anak Ketua Perkumpulan Kera Sakti. Pemuda yang dibunuh perempuan cantik. Setelah menancapkan dupa di tempatnya di depan peti mati, keduanya lalu memberi hormat kepada keluarga di kanan kiri peti mati. Tubuh Ketua yang kurus kering seperti cicak itu mengangkat kedua tangan membalas penghormatan Gin Nio dan Cu Liong.
Setelah itu, Ketua ini menggapai anak itu untuk mengikutinya ke belakang.
"`Panggil murid yang melihat pembunuh anakku. Cepat!`" Perintah Ketua ini kepada murid yang menyuguhkan hidangan.
Ketiga orang ini duduk di ruang dalam, ruang Ketua ini bila sedang bersantai. Tak lama kemudian masuklah seorang murid muda dari pintu tembusan. Begitu masuk, murid ini menjatuhkan diri berlutut menghadap gurunya.
"`Angkat mukamu dan lihat baik-baik! Benarkah Nona ini yang kemarin berjalan bersama anakku?`" bentaknya lantang.
Murid itu mengangkat muka dan memandang ke arah Tan Gin Nio, penuh perhatian. Akan tetapi, segera dia menggelengkan kepala.
"`Bukan, Suhu. Wanita itu cantik sekali dan mengenakan pakaian serba ungu!`"
"`Kurang ajar. Panggil A Gu, cepat! Bikin malu orang tua saja.`"
"`Sudahlah, Paman. Kenapa mesti marah-marah kepada murid sendiri. Aku sedia membantu Paman mencari pembunuh Adik Wei. Kenapa untuk urusan sepele itu, Paman mesti mengambil hati,`" kata Gin Nio lembut.
"`Uh, murid tidak becus. Bikin malu saja, Nio. Untung kau yang diserang. Kalau sampai salah bagaimana...?`"
Kepala rombongan yang menyerang Gin Nio pun masuk ke dalam ruangan itu. Wajahnya pucat melihat sepasang mata gurunya melotot tajam.
"`Goblok! Tahukah kau siapa yang kau keroyok kemarin?`" tanya Gi Bong keras.
"`Murid tidak tahu, Suhu. Mohon maaf, kalau murid keburu nafsu.`"
"`Masih untung kalian tidak dihajar babak belur. Lihat baik-baik! Gadis ini adalah tuan penolongku, tahu!`"
Dapat dibayangkan betapa takutnya A Gu mendengar ucapan Ketua Perkumpulan Kera Sakti yang menjadi gurunya ini. Sungguh tak disangkanya sama sekali bahwa dara muda itu adalah penolong Suhu-nya sendiri. Maka sambil bersujud di lantai berulang-ulang, A Gu mohon maaf kepada Gin Nio dan gurunya.
"`Sudah, pergi sana!`" bentak Gi Bong lantang. Sambil membungkuk-bungkuk, kedua murid itu kembali ke depan.
Wajahnya berubah cerah kembali setelah guru dan Nona itu memberi pengampunan.
Cu Liong yang mendengarkan keterangan murid tadi, teringat akan wanita yang ditolongnya di bukit. Wanita yang telah meracuninya itu pun mengenakan pakaian serba ungu, jangan-jangan...? Pemuda itu lalu mengutarakan pendapatnya.
"`Menurut pendapatku yang rendah, pembunuh itu tentulah seorang yang gila laki-laki. Mungkin dia seorang iblis betina, Ketua.`"
"`Hemmm...!`"
Ketua ini berpikir, mengingat-ingat siapa gerangan iblis betina yang mengenakan pakaian serba ungu itu. Akan tetapi, jalan pikirannya buntu. Tak pernah ia mendengar ada iblis betina semacam itu di dunia persilatan sekarang ini. Kalau puluhan tahun lalu mungkin ia pernah mendengar. Tak mungkin iblis itu masih hidup, bisiknya dalam hati.
"`Tak mungkin kalau masih hidup,`" ucapnya lirih tanpa disadarinya.
"`Tak mungkin apanya, Paman?`" tanya Gin Nio.
"`Eh, apa...?`" Ketua ini seperti orang linglung saja mendengar pertanyaan Gin Nio. Setelah memandang kedua muda-mudi itu, ia pun lalu berkata,
"`Tak mungkin kalau iblis betina itu masih hidup! Sudah puluhan tahun aku tak mendengar kabar beritanya ia muncul di dunia persilatan lagi.`"
"`Siapakah iblis itu, Paman?`" desak Tan Gin Nio.
"`Hemm, dia adalah Dewi Penghisap Sukma atau Dewi Seruni Ungu,`" jawab Gi Bong sambil termangu-mangu. Teringat bahwa menurut kabar orang di dunia persilatan, iblis itu pun suka mengenakan pakaian serba ungu.
"`Usianya sekarang mungkin sudah mendekati enam puluh tahun. Tak mungkin kalau dia...?`" gumamnya lirih seperti mimpi.
"`Ah, mungkin saja, Paman. Siapa tahu kalau iblis itu muncul kembali,`" bantah Tan Gin Nio.
"`Benar, Paman. Mungkin dia!`" Li Cu Liong pun turut angkat bicara.
"`Kenapa kau menduga demikian, Anak Muda?`"
"`Saya pun pernah melihat wanita cantik setengah tua mengenakan pakaian serba ungu. Mirip seperti yang diceritakan murid Ketua tadi.`" Terpaksa Li Cu Liong menceritakan wanita setengah tua yang telah menjebak dirinya itu. Kedua orang pendengarnya menjadi keheranan. Mungkinkah wanita yang berumur enam puluh tahun itu sekarang masih kelihatan seperti berumur tiga puluh ke bawah? Ah, siapa bisa percaya? Tan Gin Nio menjadi semakin tertarik kepada teman barunya ini. Sepasang matanya memandang wajah pemuda di sampingnya tak berkedip.
"`Ah, kalau begitu ketika kita berpisah di rumah makan itu, kau bertemu dengan wanita berbaju ungu tersebut?`" tanyanya.
"`Benar.`" Ketua Perkumpulan Kera Sakti memanggil pelayan untuk menyiapkan dua kamar untuk tamu agungnya ini.