Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 29

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 29

Kakek ini pun meminta diri untuk kembali ke ruang perkabungan, di mana seluruh keluarga mereka duduk di kanan dan kiri peti jenazah.

"Maafkan saya, Sicu. Saya harus kembali ke depan untuk menyambut tamu-tamu yang datang. Nio, anggap saja di rumah sendiri, ya. Dua kamar telah kusuruh siapkan untuk kalian berdua."

"Kenapa repot-repot?" jawab Gin Nio lirih.

"Terima kasih, Locianpwe," ucap Cu Liong sambil berdiri memberi hormat.

Kedua orang ini menjadi tamu Perkumpulan Kera Sakti sampai selesainya penguburan anak sang ketua, Gi Wei. Setelah selesai penguburan jenazah, keduanya lalu memohon diri untuk melanjutkan perjalanan. Ketua ini memberi dua ekor kuda sebagai tanda terima kasih atas keterangan Cu Liong mengenai wanita berbaju ungu yang telah membunuh anaknya.

"Ah, kenapa sungkan-sungkan, Locianpwe? Saya tidak merasa telah memberi banyak keterangan tentang pembunuh itu. Hal ini membuat saya malu saja," ucap Cu Liong menolak pemberian tersebut.

"Hi-hi-hik, kenapa malu-malu segala, Liong-ko? Bukankah lebih enak melakukan perjalanan dengan berkuda? Betul tidak, Paman?" kata Gin Nio renyah. Senyumnya merekah menambah manis wajahnya. "Paman memberi kuda tidak secara cuma-cuma, lho! Beliau ingin kita mencari pembunuh itu dan membantu membalaskan sakit hatinya."

"Ikh, jangan begitu, Nio. Tidak sedikit pun terlintas di benak pamanmu ini bahwa pemberian ini sebagai bayaran untuk mencari pembunuh itu. Sama sekali tidak! Aku akan mengerahkan seluruh murid Kera Sakti untuk mencari wanita tersebut. Syukur kalau keponakanku yang cantik ini dapat menemukannya lebih dahulu, malah kebetulan, tidak usah keluar tenaga tetapi dapat menikmati hasilnya, heh-heh!"

"Benar tidak kataku? Ke mana lagi larinya kalau tidak ke situ. Hi-hi-hi!"

"Walaupun tidak diberi apa-apa pun, saya akan berusaha untuk menumpas iblis itu. Ini sudah menjadi kewajiban para pendekar untuk menentang ketidakbenaran, bukanlah begitu, Locianpwe?"

"Idih, gayanya...!" ledek Gin Nio yang langsung menaiki kudanya dan memacunya kencang. "Paman, selamat tinggal. Hiyaaaaakkkk!"

"Permisi, Paman." Cu Liong menjura dan meloncat ke atas kuda. Ia melecutnya dan mengejar Gin Nio yang telah jauh menuruni Bukit Kera. Sebentar saja yang tampak hanya debu mengepul tinggi, menutupi bayangan kedua anak muda yang menuju ke kotaraja tersebut.

Ketua Perkumpulan Kera Sakti pun lalu menuju ke dalam rumah, mengumpulkan seluruh muridnya untuk mengejar pembunuh anaknya; seorang wanita setengah tua yang mengenakan pakaian serba ungu.

Sementara itu, Gin Nio yang membalapkan kudanya tidak memedulikan lagi temannya yang tertinggal jauh. Seakan-akan dara ini mengajak lomba adu kecepatan kuda. Li Cu Liong hanya menjalankan kudanya mengikuti di belakang; sama sekali tidak ada niat di hatinya untuk adu cepat dengan dara cantik murid Nelayan Pantai Timur itu.

Akhirnya Gin Nio merasa lelah juga memacu kuda terus-menerus. Ketika tiba di tanah datar dengan pemandangan persawahan yang menghijau, dara ini memperlambat lari kudanya. Ia menoleh dan menggerutu, "Ikh, laki-laki memacu kuda kok seperti siput. Cepat ke sini! Apa pantas berjalan sendiri-sendiri dan tidak beriringan? Tidak lucu, ya!"

Cu Liong hanya tersenyum dan memacu kudanya untuk mendampingi Tan Gin Nio. Sekarang keduanya berjalan beriringan sambil menikmati pemandangan indah di kanan-kiri jalan.

Matahari telah naik tinggi ketika kedua muda-mudi ini memasuki sebuah desa di sebelah selatan kotaraja. Gin Nio langsung menjalankan kudanya menuju ke rumah penginapan di dekat perempatan jalan. Li Cu Liong hanya mengikuti ke mana dara ini menuju.

"Gila! Matamu ditaruh di mana? Jalan nabrak-nabrak!" tiba-tiba Gin Nio memaki.

Seorang pendeta gundul berjubah merah yang baru saja melangkah beberapa tindak di undakan menoleh. Sepasang matanya mencorong mengawasi dara yang memakinya tadi. Sebetulnya pendeta ini tidak sengaja hampir menabrak ketika keluar dari rumah makan karena sedang tergesa-gesa mengurus hal penting. Untungnya ia cepat mengelak sehingga tidak terjadi tabrakan. Namun, ia malah dimaki.

"Omitohud... Maafkan Pinceng kalau bersalah, Nona. Pinceng tidak sengaja..."

Walaupun mulutnya memuji nama Sang Buddha, sepasang mata pendeta berjubah merah ini melotot. Pikirannya penuh dengan lekuk tubuh gadis jelita yang menegurnya itu.

"Ikh, cabul...!" tanpa terasa Gin Nio berseru ketika pandangan matanya beradu dengan sepasang mata pendeta berjubah merah tersebut. Ia melihat nafsu berahi membakar mata pendeta itu.

Pendeta setengah tua berjubah merah ini pun kaget mendengar ucapan itu. Ia segera menundukkan kepala dan berlalu. Sambil menghitung biji-biji tasbih dengan jari tangan, mulutnya berkomat-kamit tiada henti. Cu Liong mengawasi pendeta jubah merah itu dengan penuh perhatian. Sepertinya ia pernah melihat pendeta seperti ini, bahkan pernah bertemu.

Setelah pendeta itu pergi, Cu Liong merenung sejenak, namun ia tetap melangkah memasuki rumah penginapan.

"Beri kami dua kamar!" Gin Nio langsung meminta kepada pengurus penginapan. Pengurus segera memanggil pelayan untuk menunjukkan kamar. Gin Nio dan Cu Liong mengikuti pelayan itu menuju kamar masing-masing. Kebetulan sekali dua kamar itu pintunya saling berhadapan.

"Saya ingin tidur dulu, Twako. Nanti tolong bangunkan, ya?"

"Masak baru datang langsung tidur? Marilah kita mengisi perut dulu! Cacing-cacing ini sudah minta makan."

"Tidak usah! Pokoknya aku ingin tidur dulu. Terserah kamu mau makan atau tidak, masa bodoh!" Setelah berkata begitu, Gin Nio menutup pintu kamar.

Melihat ulah dara murid Nelayan Pantai Timur ini, Cu Liong geleng-geleng kepala. Sebelum pelayan pergi, Cu Liong memesan beberapa masakan untuk diantar ke kamar, lalu ia memasuki kamarnya sendiri.

Kedua orang itu akhirnya tertidur sampai larut malam. Entah bagaimana Gin Nio bisa tidur begitu lama tanpa merasa lapar sedikit pun. Ketika tengah malam, Cu Liong mengetuk pintu kamar temannya.

"Moi-moi... bangunlah! Sekarang sudah malam, ayo makan dahulu!"

Tak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar. Cu Liong mengulangi beberapa kali, tetapi hasilnya nihil. Tak terdengar suara sahutan sama sekali. Karena heran, pemuda ini mencari pengurus rumah makan dan bertanya apakah mereka melihat temannya keluar. Namun, jawaban pengurus dan pelayan semakin membuat hatinya gelisah.

"Gila! Apa lagi yang dikerjakan anak itu? Aneh."

Karena merasa penasaran, Cu Liong keluar dan menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk meloncat ke atas genting. Cu Liong membuka genting di atas kamar murid Nelayan Pantai Timur tersebut. Dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara, Cu Liong berhasil. Begitu melihat pemandangan di dalam kamar, sepasang matanya terbeliak.

Dari atas ranjang di sudut kamar itu, tampak Tan Gin Nio bangun dari tidur bagaikan sebuah patung hidup. Ia kaku dengan kedua mata yang masih terpejam, atau lebih tepatnya bagaikan sosok mayat hidup. Pelan-pelan Gin Nio membuka pintu dan berjalan keluar kamar.

Cu Liong segera curiga ada yang tidak beres dengan dara cantik itu. Ia cepat meloncat turun dan membayangi Gin Nio. Bagaikan patung, Gin Nio keluar dari rumah penginapan itu. Ia hanya mengangguk jika ada pelayan yang menyapa, lalu terus menuju ke luar kota. Ia melangkah pasti ke arah yang seolah-olah dibisikkan ke telinganya.

Tak berapa lama kemudian, sampailah dara ini di sebuah kelenteng rusak di luar kota. Tanpa ragu sedikit pun, Tan Gin Nio memasuki kelenteng itu.

"Ha-ha-ha, akhirnya kau datang sendiri, Manis! Ha-ha-ha, mari ke sinilah!" Suara tawa terbahak-bahak menyambut dari tengah ruangan kuil rusak tersebut.

Di tengah ruangan tampak seorang pendeta gundul setengah tua berjubah merah sedang duduk dikelilingi api lilin dan gambar rajah yang berantakan. Li Cu Liong yang mengikuti dari kejauhan segera menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk melompati pagar tembok di belakang kuil. Begitu sampai di halaman belakang, ia meloncat ke atas genting.

Ketika Cu Liong melihat pemandangan di tengah ruangan, sepasang matanya mencorong tajam bagaikan sepasang mata naga. Wajahnya memerah menahan amarah. Cu Liong tiba-tiba mendekam di atas wuwungan kelenteng ketika melihat sesosok bayangan merah berkelebat cepat menuju ke kuil itu.

"He-he-he, bagaimana Suheng Takonaya, berhasil?" Belum tiba di depan kuil, pendeta yang ternyata adalah pendeta jubah merah Takonana berteriak lantang.

"He-heh-heh, apakah pernah Lohu gagal melaksanakan keinginan Lohu, Takonana? Lihatlah sendiri hasilnya, heh-heh!"

Sesosok bayangan merah tinggi besar berkelebat masuk. Pendeta Takonaya yang mengenakan topi merah tinggi telah berada di tengah ruangan kuil rusak tersebut. Sepasang matanya liar memandang ke arah dara cantik yang berdiri di dekat patung Buddha di tengah ruangan.

"Huih, cantiknya! Hebat! Sungguh menarik dan menggiurkan barang yang kita dapatkan ini, Suheng! Ha-ha-ha!"

"Tahan! Jangan kau jamah dulu, Sute. Lohu masih ingin menanti sahabat kita dulu!" kata Takonaya keras. Bentakannya menggelegar penuh wibawa, tampaknya mengandung tenaga sihir yang sangat kuat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment