Chapter 30
Segera dia mengatur napas menurut ilmu dalam Kitab Menjala Langit. Dan sebentar saja pengaruh sihir itu pun lenyap dan pelan-pelan tenaga batinnya diarahkan ke arah Tan Gin Nio. Berusaha menembus sihir yang menguasai dara murid Nelayan Pantai Timur. Hawa dingin menyusup memasuki tubuh Gin Nio.
"Lhooh, ada apa, Suheng. Siapa yang akan datang ke sini?" tanya pendeta Takonana. Pendeta ini pun berdiri bagaikan patung ketika mendengar bentakan kakak seperguruannya ini. Sungguh luar biasa sekali kekuatan ilmu sihir pendeta yang bernama Takonaya ini.
"Tunggu saja! Nanti sebentar lagi kau akan tahu. Ha-ha-ha ..." Tiba-tiba keheningan malam itu dipecahkan oleh suara melengking tinggi menusuk telinga! Lengking itu terdengar jauh sekali, akan tetapi semakin dekat dan semakin dekat. Tiba-tiba bagaikan segumpal asap saja di depan kedua pendeta berjubah merah ini berdiri sesosok bayangan putih.
Sayang sekali bahwa orang itu membelakangi Cu Liong. Sehingga pemuda itu tidak dapat memandang wajah pendatang baru itu! "Hebattttt, wah ilmu meringankan tubuhmu sekarang bertambah maju, Sim ..." Takonaya menghentikan ucapannya ketika matanya bentrok dengan pandang mata orang berbaju putih yang datang.
"Hemmm, jangan sembrono! Belum waktunya pinto memperkenalkan diri!" "Maaf, maaf, Lohu terima salah!" "Kita harus semakin berhati-hati! Banyak sudah tokoh-tokoh kang-ouw mengejar Iblis Naga Terbang. Langkah yang diambil perlu diperhitungkan masak-masak dahulu. Dan pembunuhan serta perkosaan supaya dihentikan untuk sementara!" Orang berbaju putih itu memerintah kedua orang pendeta jubah merah Takonaya dan Takonana.
"Wahhh, sekarang aku tak bisa menikmati angsa-angsa mulus lagi," ucap pendeta Takonana kecewa. "Kalau hanya ingin menikmati angsa-angsa mulus saja kenapa tidak bisa! Yang tidak bisa lagi ialah cara kita menyaru sebagai murid Liok Ing Gie si Pendekar Golok Terbang itu. Sebab aku khawatir kalian berbuat ceroboh sehingga membuka kedok kita!" "Perkara itu beres. Tak perlu Toako khawatir!" kata Takonaya lirih dan melihat ke arah dara jelita yang berdiri bagaikan patung hidup di depan altar.
Li Cu Liong yang mendekam di atas wuwungan kuil mendengarkan pembicaraan ketiga orang itu dengan penuh perhatian. "Ohh, kiranya mereka inilah yang menyaru sebagai diriku! Pembunuh dan pemerkosa di Bukit Awan! Keparat jahanam!" umpat pemuda ini di dalam hati. Dia semakin berhati-hati mengawasi keadaan di dalam ruangan kuil. Menjaga kalau-kalau dara jelita murid Nelayan Pantai Timur mendapat bahaya!
"Kalian berdua kuminta berkumpul di cabang Hong-ma-cung!" perintah orang misterius bertopeng yang mengenakan pakaian serba putih. "Baik!" Hampir berbareng kedua pendeta berjubah merah itu menyahut. "Ha-ha-ha, kita bagi berdua, ya, angsa mulus ini," kata Takonana sambil menjilat bibirnya dengan lidah. Agaknya nafsu jalang telah menyesak di kepala pendeta bertopi merah ini, nyatanya dari tadi sepasang matanya tak pernah meninggalkan tubuh Tan Gin Nio yang berdiri tegak bagaikan patung itu.
"Ihhh, tidak bisa! Lohu yang akan menggarapnya sendiri! Dara ini akan kujadikan penambah umur Lohu sendiri, tahu?" Takonaya ngedumel. "Apakah kalian tidak bisa kalau tidak berebut. Kayak anak kecil saja tingkah kalian ini!" bentak orang berbaju putih lantang. Cu Liong tercekat mendengar ucapan kedua pendeta berjubah merah. Cepat pemuda ini mencari jalan untuk menyelamatkan Tan Gin Nio dari perbuatan biadab kedua pendeta itu.
Sekali meloncat saja tubuhnya telah berada di luar kuil. Setelah merasa bahwa siasatnya ini yang paling baik maka Cu Liong segera melaksanakan apa yang menjadi jalan pikirannya. Ketiga orang di dalam ruangan itu menengok ke arah pintu depan. Pandang mata ketiga orang itu mencereng penuh perhatian mengawasi pintu masuk ruangan. "Tolonggggg, tolonggggg, ada setannn!" Seorang pemuda berambut awut-awutan berlari memasuki ruangan di mana ketiga orang itu berada.
Pemuda ini berlari jatuh bangun sambil berteriak-teriak ketakutan. Cepat sekali larinya, walaupun suara kakinya bagaikan suara kaki gajah kerasnya menandakan bahwa dia bukan seorang ahli silat yang lihai ilmu meringankan tubuhnya. "Setannn" Mana setannya?" tanya Takonana keras. "Setan adalah sahabatku, mana ada setan di kuil ini?" Takonaya tak mau ketinggalan berkata.
"Tahannnnn!" Orang bermuka pucat yang mengenakan pakaian serba putih membentak lantang ketika melihat anak muda berambut awut-awutan itu berlari sempoyongan akan menabrak wanita yang berdiri bagaikan patung di dekat altar. Begitu membentak tubuhnya telah melejit mendahului larinya anak muda berambut awut-awutan. Wirrrrr ... Tahu-tahu tubuh Tan Gin Nio telah berada dalam pondongannya dan sekali lagi tubuhnya membuat gerakan tahu-tahu pendeta ini telah berada di sudut ruangan.
"Bunuh keparat itu!" perintahnya. Kedua orang pendeta berjubah merah pun kaget mendengar perintah ini. Akan tetapi tanpa membuang waktu lagi kedua pendeta itu menggerakkan tangan menyambut ke arah pemuda yang sempoyongan itu. Sekali saja salah satu tangan itu mengenai anak muda berambut awut-awutan yang bukan lain adalah Cu Liong, mungkin dapat membuat anak muda itu menderita luka dalam cukup parah.
"Ehhhhh ..." jerit Takonana kaget ketika sambaran tangan kanannya luput mengenai sasaran. Pendeta ini tadi telah merasa pasti bahwa telapak tangannya akan membikin hancur kepala berambut awut-awutan itu. Akan tetapi sebelum kepalan tangannya bertemu dengan kepala, tahu-tahu kepala itu melengos ke samping dan kepalan tangannya luput mengenai sasaran. Sedangkan pendeta ahli sihir Takonaya pun tak kalah kagetnya dengan adik seperguruannya itu.
Pendeta itu menggerakkan tangan kanan untuk menghajar dada anak muda berambut awut-awutan. Maka dengan sendirinya hajarannya ke dada itu pun gagal. Kedua pendeta jubah merah segera menyusul dengan serangan yang lebih ampuh lagi. Aneh bin ajaib. Pemuda itu kelihatan sempoyongan ke kanan kiri bagaikan orang mabuk dan serangan gencar kedua pendeta itu dihindarkan dengan baiknya!
Dengan kemarahan meluap-luap kedua pendeta jubah merah segera mengeluarkan seluruh kebisaan mereka! "Hiattttt ..." Bagaikan seekor burung terbang, Takonaya menubruk dari udara, kedua tangan membentuk cakar. Jari-jari tangannya berubah kemerahan dan ada uap tipis mengepul dari jari-jari tangannya. "Mampuslah ..." bentak Takonana sambil meluncur dengan tubuh lurus ke arah dada. Kedua telapak tangan disatukan membentuk ujung tombak.
Jangan dipandang ringan gerakan pendeta bertopi merah ini, jari-jari tangannya kalau diluruskan seperti itu kuatnya melebihi ujung tombak. Batu karang pun akan hancur tertimpa jari yang dirapatkan seperti tombak. Pernah pendeta ini menghajar kerbau gila dengan menyambut kepala kerbau yang keras itu dengan luncuran seperti ini. Dan hasilnya, kedua tangan itu masuk ke dalam kepala kerbau sampai di pergelangan tangannya. Maka dapat dibayangkan hebatnya kalau jari-jari itu mengenai tubuh manusia biasa!
Li Cu Liong yang mendapat serangan atas bawah ini, tercekat juga hatinya. Akan tetapi pemuda ahli waris Kitab Menjala Langit ini tak menjadi gugup. Dengan tipu Bintang Mars Berpindah Tempat, tubuhnya telah berputaran dengan ujung kaki cepat sekali dan tahu-tahu kedua serangan dahsyat kedua lawan lewat di samping tubuhnya. Hanya baju dan rambutnya saja yang berkibaran saking kuatnya angin yang ditimbulkan oleh serangan kedua pendeta berjubah merah tadi.
Cu Liong segera mainkan Ilmu Silat Seribu Bintang dengan tangan kosong. Tubuhnya bergerak cepat menyambar kedua pendeta jubah merah. Anehnya, kedua kaki pemuda itu berdiri dengan ujung-ujung jari kaki dan membentuk gerakan-gerakan atau lebih tepat lagi putaran-putaran seperti bintang. Hasilnya sungguh luar biasa. Plakkkkk! Brettttt ... Akan tetapi bukan kepala pendeta itu yang hancur, namun hanya topi merahnya saja terobek tangan Si Anak Muda.
"Gerrrrr, Anak Muda terimalah kematianmu!" Terdengar bentakan lantang dari samping dan ketika Cu Liong menoleh, sepasang matanya terbelalak kaget. Dari samping menyambar dahsyat sekali makhluk sebangsa kera tinggi besar dengan bulu-bulu berwarna kemerahan. Jari-jari tangan sebesar pisang ambon dengan kuku-kuku jari runcing menghitam siap mengkoyak-koyak tubuhnya. Dari mulut bertaring itu keluar hawa busuk bagaikan bau bangkai orang mati! Sepasang mata makhluk itu merah melotot mengerikan.
"Haittttt!" Cu Liong menjerit dan tubuhnya membuat putaran di tanah enam kali ke belakang. Begitu tubuhnya dapat tegak kembali, Cu Liong segera mencabut senjata dari pinggangnya, dan sinar kehijauan menyambar. "Golok Naga Terbang!" Hampir berbareng teriakan ini keluar dari mulut ketiga orang. Dua pendeta dan orang misterius itu.
Takonana, pendeta yang topinya telah hancur itu pun segera mencabut senjata andalannya yaitu sebuah kepala tengkorak binatang mirip kera yang diberi gagang berwarna kehijauan telah terpegang di tangan. Pendeta ini membaca mantra dan dari sepasang mata tengkorak itu keluarlah cahaya kemerahan. "Grrrrr ..." Binatang jadi-jadian hasil sihir pendeta Takonaya menggereng dan sepasang mata makhluk itu pun bersinar semakin tajam.
Sambil mengeluarkan pekik yang menggetarkan seisi ruangan kuil serta membuat beberapa buah genteng bangunan itu melorot turun, makhluk itu menerjang maju. Li Cu Liong yang mendapat serangan dahsyat dari makhluk itu menjadi marah juga. Apalagi ketika ia melirik, dia melihat pula senjata lawannya yang lain juga siap menyambut tubuhnya kalau mengelak atau menghindar dari serangan berbahaya makhluk jadi-jadian itu.