Chapter 32
Sepasang matanya menatap jenaka, seolah meledek sang penyerang. Hal itu membuat pria berkumis tebal itu semakin naik pitam. Sepasang matanya melotot merah, seakan ingin melumat pemuda itu hanya dengan pandangannya.
"Mampuslah!" teriaknya sembari mengayunkan senjata di tangan kanannya untuk membabat lagi.
Serangan itu berhasil dielakkan, namun segera disusul dengan terjangan tangan kiri dan tendangan kaki yang mengarah ke bawah pusar. Jika salah satu dari serangan itu mengenai sasaran, tamatlah riwayat pemuda itu.
"Wah, belum Tuan. Aku masih ingin hidup! Jangankan mampus, kena pun tidak. Tidak usah memaksakan diri, nanti cepat tua," goda pemuda itu.
Para penjaga pintu gerbang lainnya terkejut melihat rekan mereka belum juga berhasil membereskan pemuda yang tampak masih sangat muda itu. Setelah saling pandang, tiga orang penjaga lainnya segera merangsek maju. Senjata mereka berkelebatan mengincar nyawa.
"Eh, eh, lho! Gila agaknya orang-orang ini. Kenapa bermain keroyokan seperti tukang pukul pinggir jalan? Tunggu, tahan dulu!" teriaknya. Meskipun mulutnya terus berteriak, tubuhnya melejit ke kanan dan ke kiri dengan lincah, menghindari babatan empat senjata murid Naga Terbang yang bertugas menjaga pintu gerbang tersebut.
Gerakan pemuda ini sama sekali tidak mengendur. Malah, tubuhnya berkelebat semakin cepat. Untungnya, jalanan saat itu sedang sepi. Jika ada orang yang lewat, mereka pasti akan terheran-heran melihat seorang remaja mampu menghadapi keroyokan empat murid Naga Terbang yang terkenal tangguh.
Kejadian itu berlangsung di siang bolong tepat di depan markas cabang perkumpulan tersebut. Saat kelima orang itu tengah bertarung sengit, tampak seorang pria berperawakan gemuk pendek dengan wajah bundar dan mulut lebar muncul. Saking lebarnya, mulut itu seolah membelah wajahnya menjadi dua. Sepasang matanya menatap tajam ke arah pertempuran.
"Tahan! Mundur kalian!" bentaknya lantang. Suara itu begitu menggelegar hingga menggetarkan jantung.
Keenam penjaga segera melompat mundur dan menghentikan serangan. Wajah mereka memerah. Dengan cepat, mereka memberi hormat.
"Pangcu!" seru mereka hampir bersamaan.
"Hem, mengapa kalian bertempur dengan Sicu ini?" bentak pria yang baru datang itu, yang ternyata adalah Pangcu Hui-liong-pang, Coa Sim Ok.
"Dia kurang ajar, Coa Pangcu! Dia menghina perkumpulan kita dan meremehkan Pangcu," jawab salah seorang penjaga dengan napas tersendat.
Coa Sim Ok meneliti pemuda itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Setelah mendengus pendek, ia bertanya, "Benarkah Sicu memandang rendah Hui-liong-pang? Siapakah Sicu, murid siapa, dan apa maksudmu membuat keributan di sini?"
Pemuda itu mengangkat kedua tangannya di depan dada, menjura ke arah Pangcu. "Maafkan saya jika telah membuat keributan. Sebenarnya tidak demikian. Saya bermaksud menemui Ketua perkumpulan ini untuk memenuhi undangan. Nama saya Thio Hwie Kian. Guru mengutus saya untuk menemui Ketua Naga Terbang dan mohon petunjuknya."
"Hem," Coa Sim Ok memandang tajam. "Siapakah gurumu?"
"Guru saya seorang pelajar miskin bernama Soo Kian Kun."
"Si Pelajar Sinting?"
"Dugaan Tuan tidak salah."
"Akulah Ketua Naga Terbang, Coa Sim Ok!"
"Maaf jika saya berlaku kurang hormat karena belum mengenal Tuan," kata Thio Hwie Kian sembari kembali menjura.
Coa Sim Ok mendongakkan kepala sedikit, tampak memandang rendah anak muda di depannya setelah mengetahui bahwa ia adalah murid Siucai Sinting. "Pertemuan baru akan diadakan seminggu lagi. Jika Sicu mau, silakan masuk dan menunggu di dalam markas kami."
"Terima kasih, saya tidak ingin merepotkan Pangcu. Saya akan menunggu di kota saja sambil melihat-lihat keramaian. Mungkin ada kenalan saya di sana sehingga nanti kami bisa datang bersama-sama."
"Jika itu kemauanmu, silakan. Seminggu lagi kita bertemu," balas Coa Sim Ok formal.
Setelah pemuda itu pergi, Coa Sim Ok menegur keenam penjaga agar lebih berhati-hati karena waktu pertemuan sudah dekat. Ia kemudian masuk ke dalam, menuju ruang belakang tempat gurunya menunggu bersama dua orang tamu.
"Pangcu!" sapa Thio Si An, putra Kepala Daerah Merak Emas.
"He-he-he, kapan kalian datang? Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Coa Sim Ok.
"Saya mendapatkan bunga indah berduri, Suhu. Mari lihat sendiri," ajak Thio Si An.
Keduanya menuju sebuah kamar besar. Saat pintu dibuka, Coa Sim Ok terbelalak melihat seorang dara cantik berpakaian serba merah tergolek di atas pembaringan. Tangan dan kakinya terikat di empat sudut tempat tidur. Mata Ketua Naga Terbang itu menggerayangi tubuh wanita yang terus menggeliat berusaha melepaskan diri.
"Kenapa harus diikat? Mengapa dia diam saja?"
"Urat gagu-nya saya totok, Suhu. Perempuan ini sangat lihai. Saya berhasil meringkusnya berkat bubuk pemberian Suhu," jelas Thio Si An.
Coa Sim Ok hanya mendengarkan sambil lalu. Perhatiannya terpusat pada tubuh sintal di dipan tersebut. "Apakah Suhu sudah tahu?"
"Belum, Suhu. Saya mohon Suhu untuk..." Thio Si An menggantung kalimatnya sambil berkedip penuh arti.
"Ha-ha-ha, beres! Jangan khawatir, kau pasti akan mendapat imbalan yang setimpal." Coa Sim Ok tertawa lalu meninggalkan kamar tersebut untuk menemui gurunya yang sedang menjamu dua pendeta berjubah merah, Takonaya dan Takonana.
Keempat orang itu berbincang panjang lebar. Namun, para pendeta berkepandaian tinggi itu sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengintai dari atas genting. Hal ini membuktikan bahwa pengintai berbaju hitam itu memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Setelah kedua pendeta berjubah merah pergi, Coa Sim Ok berbicara dengan gurunya, Sim Tok Tojin, seorang pendeta berjubah abu-abu dengan rambut putih menjuntai. Coa Sim Ok bisa menjadi Ketua Naga Terbang berkat bantuan gurunya yang telah melumpuhkan ketua lama dan menjebloskannya ke penjara bawah tanah.
"Suhu, ada barang baru di kamar, persembahan dari Thio Si An," lapor Coa Sim Ok.
"Hem?"
"Wanita ini memiliki ilmu silat yang lumayan dan paras yang cantik. Bisa menjadi penghibur sambil menunggu malam pertemuan tiba," ujar Sim Ok sambil tertawa.
Keduanya lalu menuju kamar masing-masing. Namun, Sim Tok Tojin tidak masuk ke kamarnya, melainkan langsung menuju kamar tempat wanita cantik itu berada. Begitu pintu dibuka, ia mengelus jenggot kambingnya. Matanya menatap lapar ke arah tubuh yang terikat itu.
Tiba-tiba, terdengar suara kain yang terkoyak. Pakaian wanita itu robek dalam sekali renggut, menampakkan kulit putih mulusnya. Hal itu semakin membakar gairah sang pendeta tua. Sim Tok Tojin kemudian menotok tubuh wanita itu untuk membebaskan urat gagunya.
Begitu bisa bicara, wanita itu langsung memaki dengan kemarahan meluap. Namun, Sim Tok Tojin tidak memedulikannya. Tangannya mulai meraba dan membelai dengan napas yang memburu.
"He-he-he, Manis, kenapa berhenti meronta?"
Dara berbaju merah itu terbelalak ketakutan, seperti kelinci di hadapan harimau. Ia tidak berdaya menghadapi perlakuan keji tersebut. Matanya memancarkan kebencian mendalam saat menatap tosu berambut putih di hadapannya.