Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 33

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 33

"Kau ... jahanam! Pembunuh keji! Manusia iblis itu ... ?" umpatnya.

"Heh-heh-heh, kalau benar mau apa. Sekarang pinto tidak akan meninggalkan bekas lagi, heh-heh-heh!"

"Keparat! Iblis laknat! Kiranya kau pembunuh dan pemerkosa di Bukit Awan itu! Tunggu saja kau keparat, pasti akan tiba pembalasanku kemudian, walaupun aku menjadi mayat."

"Huh! Murid cilik Hoa-san sepertimu ini bisa apa terhadap pinto. Biar seluruh Hoasan datang, bisa apa mereka menghadapi pinto dan seluruh murid-murid pinto, ha-haha ... !"

Begitu tertawa pendeta ini lalu melepas jubah abu-abu, siap untuk melakukan pertempuran dahsyat!

"Kebakarannnnn ... Kebakarannnnn ... !"

"Cepat padamkan! Bawa air ke sini cepat ... !"

"Di timur juga ada kebakarannnnnn!"

"Kebakarannnnn ... !!!"

"Tolonggggg kebakarannnnn ... !!"

Selagi Sim Tok Tojin menaiki kuda, terdengar lengking mengagetkan. Segera saja pendeta tua ini menahan diri dan cepat mengenakan kembali pakaiannya. Sekali berkelebat, Sim Tok Tojin telah berada di luar kamar dan menuju ke arah api di belakang dan di timur. Sepasang mata pendeta ini mencereng marah. Banyak anak buah Naga Terbang berusaha memadamkan api yang membakar secara aneh dua rumah gedung itu. Entah bagaimana, tiba-tiba saja kedua tempat itu dapat terbakar dengan sendirinya. Api yang membulat itu menandakan bahwa api itu bukan kebakaran biasa melainkan disengaja. Ternyata ada orang yang berani menyatroni rumah cabang Perkumpulan Naga Terbang. Entah apa maksudnya.

"Celaka ... !" Sim Tok Tojin cepat berkelebat, kembali ke dalam. Akan tetapi ketika tiba di kamar, sepasang matanya mencelos, marah dan penasaran.

"Bangsat! Keparat iblis laknat! Kiranya itulah tujuannya!" Sim Tok Tojin mengumpat-umpat. Tidak patut kata-kata demikian keluar dari mulut seorang pendeta, tapi, nyatanya ini terjadi di tempat cabang dari Perkumpulan Naga Terbang di Hong-ma-cung ini! Kata-kata kotor keluar bagaikan banjir yang menjebol bendungan! Apalagi ini dilakukan oleh seorang pendeta yang seharusnya memberi jalan penerangan bagi sesama untuk melakukan yang bajik dan terpuji. Ini semua menandakan bahwa Sim Tok Tojin hanya jubahnya saja pendeta! Kelakuan dan ucapan dan perbuatan pendeta ini tidak mencerminkan dia sebagai seorang pendeta. Lebih tepat kalau dilakukan seorang hamba nafsu setan! Pakaian pendeta yang dikenakan Sim Tok Tojin ini hanyalah sebagai kedok saja, menutupi isi sebenarnya dari hati busuk penuh nafsu terkutuk! Pendeta tua ini marah sekali, daging di mulut yang siap dilahapnya hilang tak tentu rimbanya! Ternyata kebakaran itu dilakukan hanya untuk memancingnya keluar sehingga bangsat itu dapat menolong orang yang akan menjadi korban nafsu jalangnya. Dengan menyumpah serapah pendeta ini lalu mencari muridnya, Ketua Hui-liong-pang Coa Sim Ok.

"Iblis jahanam keparat! Sim Ok, cari di seluruh Hong-ma-cung! Tangkap kembali perempuan itu hidup atau mati!" Begitu perintahnya kepada Coa Sim Ok. Sim Tok Tojin marah dan uring-uringan karena merasa bahwa rahasianya terbuka!

"Baik Suhu." Coa Sim Ok lalu membawa beberapa anak murid dan menggeledah seluruh penginapan di Hong-ma-cung. Akan tetapi orang yang dicari tidak ketemu. Malahan berita ini menggegerkan Hong-ma-cung! Cabang Hui-liong-pang disatroni musuh! Sim Tok Tojin lalu memberi tahu kedua pendeta jubah merah untuk membantu mencari orang yang menyelamatkan dara cantik murid Hoa-san dari kamar di mana dia disekap. Pergilah kedua pendeta jubah merah ini mencari orang yang menyatroni Huiliong-pang di Hong-ma-cung! Sehingga malam pertemuan di Hong-ma-cung dilaksanakan, tetap saja tidak ada kabar berita tentang penculik gadis Hoa-san.

Banyak tokoh silat menemui undangan Partai Naga Terbang ini. Mereka berdatangan dari delapan penjuru. Ada yang datang bersama dengan para murid dan ada pula yang datang bersama anak buah perkumpulan mereka. Banyak terlihat pula para pengemis dan pendeta berdatangan ke Hong-ma-cung! Dalam tempo tiga hari bekas kebakaran di rumah perkumpulan itu telah diperbaiki dan dicat baru kembali. Sekarang ini ruangan dan pelataran yang luas dari rumah perkumpulan cabang Hui-liong-pang, penuh meja kursi. Di mana banyak sekali tokoh silat dari berbagai macam golongan berada di tempat itu. Bau masakan dan bau arak memenuhi tempat itu, baunya sampai teruar di balik benteng rumah perkumpulan. Malam itu keadaan di sana seperti siang hari saja. Banyak sekali lampu gantung memenuhi segala tempat di rumah cabang Hui-liong-pang. Di sekeliling benteng, nampak berjalan hilir-mudik anak buah Naga Terbang berjaga, senjata telanjang di tangan, berjalan di atas tembok benteng!

Ketika itu Coa Sim Ok berjalan di atas panggung tinggi depan ruangan tengah. Kakinya yang pendek melangkah tegap. Begitu berdiri di atas panggung, Coa Sim Ok lalu bertepuk tangan, mohon perhatian dari sekalian yang hadir.

"Selamat malam dan selamat datang di rumah perkumpulan kami yang buruk ini. Saya mewakili Suhu mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran Cu-wi." Coa Sim Ok berhenti sejenak, menarik napas dalam.

"Seperti kita ketahui bersama, sekarang muncul Iblis Naga Terbang yang mengganas di kang-ouw. Suhu mengundang Cu-wi sekalian untuk bersatu padu menghadapi iblis itu. Untuk tidak menjadi salah pengertian, di samping itu, kami juga ingin memohon bantuan Cu-wi sekalian untuk mencari benda pusaka perkumpulan kami yang hilang dicuri orang!"

"Heh-heh-heh ... omong kosong! Omong kosong ... !" tiba-tiba terdengar kekeh tawa yang mengatasi semua keheningan malam setelah Coa Sim Ok berhenti bicara. Semua orang yang berada di tempat itu menoleh ke arah dari mana datangnya suara. Mata mereka terbelalak melihat pemandangan di atas benteng itu. Seorang kakek pengemis tua, duduk di atas tubuh belasan orang ditumpuk tumpang-tindih! Ketika menyeringai, nampak dua gigi depan kakek itu mengkilap terkena cahaya lampu di dekatnya.

"Heh-heh-heh, omongan penjual jamu pinggir jalan! Menarik, menarik dan mengelus hati, mencari pembeli, Hehhe ... !!" Pek-tung Lo-kai kembali terkekeh. Pengemis ini agaknya merasa geli sendiri ketika merasa tubuhnya bergerak-gerak akibat gerakan tubuh yang diduduki pinggulnya itu.

"Pek-tung Lo-kai ... Pek-tung Lo-kai ... !" Terdengar teriakan di sana-sini ketika mengenal siapa orangnya yang mengeluarkan ucapan-ucapan menghina Ketua Coa Sim Ok itu. Rata-rata mereka kaget juga mendengar ucapan ini. Apakah maksud pengemis aneh itu dengan ucapannya tadi?

"Jembel busuk, jangan menjual lagak tengikmu di sini!" Sesosok bayangan merah melesat ke arah Pek-tung Lo-kai. Ang I Hwesio Takonana menubruk ke arah pengemis tua dengan kedua tangan terulur membentuk cengkeraman, mencengkeram ke arah kepala dan dada depan pengemis tua itu. Pek-tung Lo-kai masih tertawa haha-hihi ketika dirinya diserang pendeta berjubah merah ini. Begitu kedua tangan Ang I Hwesio yang terulur dekat, tiba-tiba saja Pek-tung Lokai membentak, "Sambutlah!" Dan tubuh anak buah Naga Terbang yang didudukinya tadi tahu-tahu telah dilontarkan berturut-turut, menyambut serangan pendeta berjubah merah Takonana.

"Celaka ... !!" Seru Ang I Hwesio Takonana. Pendeta ini lalu menahan serangan kedua tangannya dan menyambut tubuh anak murid Naga Terbang itu berturut-turut dan melemparkannya ke bawah. Ang I Hwesio Takonana kembali meluncur ke tanah. Begitu kedua kaki pendeta ini menyentuh tanah, sekali menjejak saja, tubuhnya telah melayang kembali melakukan serangan. Dengan kedua tangan memukul bergantian menggunakan pukulan jarak jauh. Wuttt! Wuttt ... !! Angin dingin menyambar Pek-tung Lo-kai. Pengemis ini pun merasakan gempuran pukulan tangan kosong yang tak boleh dipandang ringan itu. Cepat Pek-tung Lo-kai mengangkat kedua tangan menyambut serangan lawan, dorongkan kedua tangannya pula. Blarrrrr ... Blarrrrr ... !! Ang I Hwesio Takonana terlempar ke belakang kembali, sedangkan pengemis tua itu hanya bergoyang-goyang tubuhnya. Ini dapat terjadi karena kedudukan Pek-tung Lokai lebih menguntungkan. Pengemis tua ini bisa memasang kuda-kuda dengan baiknya di atas benteng, sedangkan lawannya tidak mendapat tempat untuk memasang kuda-kuda karena tubuhnya dalam keadaan meluncur!

Sebelum Ang I Hwesio menyerang kembali, terdengar suara di pintu depan. "Tahannnnn ... !!" Dan seorang pendeta tua dengan rambut putih terurai memasuki halaman. Tangan kiri pendeta tosu ini memegang sebuah tongkat berwarna hitam berlenggang lenggok, seperti seekor ular melilit tongkat.

"Jembel busuk apa maksudmu buang omongan tidak karuan! Apa nyawamu sudah rangkap berani mengacau pertemuan para pendekar ini, jembel kurang makan!" Begitu datang Sim Tok Tojin menegur pengemis tua dengan lantang.

"He-he-he, biang kerok telah datang nih! Siapa mengganggu pertemuan para pendekar yang ingin menumpas iblis pembunuh dan pemerkosa? Aku hanya ingin memperingatkan mereka supaya jangan tertipu oleh perbuatan busukmu. He-he-heh ... !!" jawab Pek-tung Lo-kai sambil tertawa terkekeh. Para pesilat yang berada di ruangan, maupun di halaman, yang menjadi tamu dari Hui-liong-pang menjadi terheran mendengar tanya-jawab dua tokoh angkatan tua ini. Mereka tak bergerak dari tempat duduknya. Hanya mendengarkan dan mengira-ngira apa maksud dari perkataan pengemis tua yang menjadi Ketua Pek-tung Kai-pang (Partai Pengemis Tongkat Putih) itu.

"Apa maksudmu, jembel kelaparan? Jangan main-main dengan pinto. Aku dapat membunuhmu dengan sekali tepukan tangan saja!" Sim Tok Tojin membentak lantang. Sepasang mata pendeta ini mencorong tajam mengawasi Pek-tung Lo-kai. Pengemis tua itu hanya menyeringai memperlihatkan gigi depan yang tinggal dua dan tonggos lagi. Sepasang mata Pek-tung Lo -kai melirik-lirik lucu, memandang ke arah para tamu tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment