Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 34

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 34

Mendengar pertanyaan tosu itu, Pek-tung Lo-kai malah tertawa terbahak-bahak tidak keruan.

"He-he-he... Dasar budak iblis, di mana-mana selalu membalikkan kenyataan! Tidak mencari jalan terang, eh, malahan membuat kacau dunia! Sayang... sayang..." Entah kepada siapa ucapan ini ditujukan, yang terang pengemis tua ini memandang kepada Sim Tok Tojin.

Dapat dibayangkan betapa marahnya pendeta Tao ini melihat lawan bicaranya.

"Turun kau, jembel kelaparan!" bentak Sim Tok Tojin sambil menggerakkan tangan ke depan. Angin bersiutan keluar dari telapak tangan pertapa tua ini.

*Duarrrrr!*

Terdengar letusan keras dan batu-batu pun berhamburan ke atas akibat pukulan jarak jauh pertapa itu mengenai tembok benteng di mana tadi Pek-tung Lo-kai berdiri. Sedangkan Ketua Pengemis Tongkat Putih telah melesat ke atas genting di puncak, berdiri dengan sebelah kaki dan kedua tangan terpentang ke kanan dan kiri. Lagak pengemis ini seperti seekor burung bangau yang sedang berdiri di atas satu kaki. Bajunya yang penuh tambalan itu berkibar terkena angin malam.

"Sim Tok, tua bangka tak tahu diri, bukannya mencari jalan terang, malah mengikuti murid mengumbar nafsu. Merajalela seolah tiada yang tahu perbuatanmu, he-he-he, untung aku dapat mencium akal bulusmu yang licik! Kalau tidak, entah apa jadinya dengan dunia persilatan sekarang ini," ejek Pek-tung Lo-kai.

Suaranya menggema di mana-mana. Ternyata ketika mengeluarkan ejekan ini, Pek-tung Lo-kai mengerahkan tenaga *khikang* sehingga suaranya dapat didengar di semua penjuru. Genting-genting di rumah itu seakan-akan tergetar saking hebatnya tenaga *khikang* kakek pengemis ini.

Mereka saling pandang tidak mengerti, merasa lebih baik diam daripada mencampuri urusan yang tidak diketahui ujung pangkalnya ini. Hanya saja mereka bersiap diri, menjaga kemungkinan apabila angin berubah arah. Ketua Hui-liong-pang, Coa Sim Ok, menjadi merah wajahnya, demikian pula keadaan Sim Tok Tojin. Wajah pendeta ini pun berubah-ubah cepat sekali. Pandangan mata pertapa tua itu seakan-akan ingin membakar tubuh di atas genting itu.

Tubuh Pek-tung Lo-kai yang mengeluarkan ucapan-ucapan menghina dan menusuk jantung bergerak ke sana ke mari karena begitu semangatnya ia mengeluarkan ucapan-ucapan tersebut. Dalam hati pendeta tua dan Ketua Naga Terbang itu sendiri membatin, apa benar pengemis tua itu tahu semua rahasia mereka.

"Tak mungkin!" begitu batinnya.

Sebelum kedua tokoh Naga Terbang itu memulai gerakan mereka, tiba-tiba membubung asap tebal kehitaman dari belakang gedung. Makin lama asap hitam itu pun semakin tebal, seakan asap tersebut akan menutupi Perkampungan Naga Terbang itu.

"Kebakaran... Itu kebakaran!" para tamu berteriak.

"Bukan! Bukan kebakaran! Itu awan tebal!"

"Kebakaran!"

"Awan tebal, goblok! Mana ada kebakaran tidak nampak apinya sama sekali? Itu awan tebal, pasti!" kata orang itu kepada teman di sampingnya.

"Lihat... Itu naga keluar dari awan hitam!" teriak yang lain tatkala melihat makhluk panjang seperti naga dengan lidah merah panjang nampak di dalam awan.

"Tolong!" Jeritan ini berbarengan dari beberapa tempat, dan orang-orang pun berlarian ke sana ke mari mencari jalan keluar, meloloskan diri dari amukan Sang Naga.

Naga itu ketika membuka mulut menyemburkan api kemerahan. Pek-tung Lo-kai yang berdiri di atas genting otomatis menjadi sasaran paling dahulu. Ketika Pek-tung Lo-kai mendengar teriakan-teriakan di bawah itu, ia menengok dan wajahnya berubah pucat pasi ketika sepasang matanya melihat seekor naga datang melayang-layang dari awan hitam, menyerang dirinya dengan kedua cakar terulur siap merobek-robek tubuhnya. Dari mulut naga itu pun menyambar api berkobar-kobar yang ingin menjadikannya pengemis panggang!

"Saudara Thio, harap jangan mengumpat terus. Tanpa pertolongannya kita semua pasti menjadi penghuni hutan ini, dan mayat kita pun agaknya hanya menjadi santapan binatang hutan," tegur Mo Sin Kou lirih.

A Gu pun tidak puas mendengar ucapan pemuda tinggi besar itu, akan tetapi diam saja.

"He-he-he, siapa tidak tahu dia telah menolong kita! Akan tetapi mbok ya jangan meninggalkan kita tanpa pamit begitu lho! Bilang kek kalau mau mengejar bangsat-bangsat bau itu. Kan kita juga maklum dan tidak akan memegang ekornya. Benar tidak?"

"Sudahlah, dia kan sudah pergi. Kenapa kita masih mengomel panjang pendek seperti nenek bawel saja? Lebih baik kita percepat pekerjaan ini dan mengejarnya," sahut A Gu jengkel.

"Lho, lho, lho, jangan marah dong! Aku hanya bercanda saja kok. He-he-he," Hwie Kian tertawa renyah. Pemuda tinggi besar ini tidak sakit hati lagi mendengar ejekan A Gu. Sedikit pun tidak, dia masih tertawa kecil melihat kemarahan A Gu. Akan tetapi segera saja kedua tangannya bekerja lebih cepat.

Benarkah apa yang dituduhkan murid Siucai Sinting, Thio Hwie Kian itu? Benarkah pemuda yang mendapat julukan Pendekar Naga Terbang melarikan diri dari tugas merawat dan menguburkan teman-teman seperjalanan yang menjadi korban dalam pertempuran itu? Benar sekali dugaan pembaca! Tidak mungkin pendekar kita memiliki watak sedemikian. Tentu ada sebab lain sehingga pendekar kita ini meninggalkan rombongan itu.

Cu Liong merasa marah sekali melihat banyak anak buah Kera Sakti menjadi korban kebiadaban tosu-tosu berjubah abu-abu. Dengan cepat dia melesat mengejar ke dalam hutan. Ilmu meringankan tubuh yang dipelajari dari Kitab Menjala Langit menampakkan hasilnya. Tubuh Cu Liong melesat ke puncak pohon dan ia pun lalu berloncatan dari satu dahan ke puncak pohon lainnya. Sepasang matanya yang tajam seperti mata naga itu masih melihat berkelebatnya bayangan abu-abu memasuki barisan batu-batu besar di kejauhan.

"Hem, kiranya di sana sarang kalian! Tunggu saja kalian!" desisnya marah.

Lalu tubuhnya meluncur turun. Dipandang sepintas lalu, ia nampak seperti seekor burung garuda menyambar anak ayam, begitu cepat dan gesitnya! Cu Liong dengan hati-hati memasuki barisan batu di mana tadi tosu-tosu berjubah abu-abu itu lenyap. Tiba-tiba saja setelah membelok beberapa kali, Cu Liong menemui jalan buntu.

"Gila!" umpatnya dalam hati. "Kiranya ini merupakan *bai-hok*, barisan yang menyesatkan!"

Cu Liong kembali melalui jalan masuk tadi. Dengan langkah pelan sambil menghitung langkah kakinya, ia memasuki kembali barisan batu. Setelah berjalan tujuh tindak, Cu Liong membelok ke kanan. Sebelum membelok Cu Liong membuat tanda. Mulutnya tersenyum kecil. Kembali pemuda itu berjalan memasuki barisan batu dan setiap tujuh langkah membelok, Cu Liong tidak lupa memberi tanda pada batu-batu di mana ia membelok.

Agaknya dia mengenal benar cara menghadapi formasi yang menyesatkan ini. Ini tidaklah mengherankan lagi. Pemuda murid Pendekar Golok Terbang ini telah mewarisi kitab rahasia di mana segala cara mengatur barisan pendam yang berdasarkan formasi bintang-bintang itu pun terdapat dalam Kitab Menjala Langit. Setelah dapat keluar dari barisan batu, Cu Liong tiba di lapangan terbuka.

"Hem, kiranya di sini sarang mereka!" Cu Liong melihat tembok pagar kuil di dekat puncak. Ia bertambah waspada. Baru saja pemuda itu melangkah tiga tindak, tiba-tiba terdengar suara menggetarkan tanah di depannya.

"Auuuummmm!"

Dan tanah di depan Cu Liong tiba-tiba saja mengepulkan asap tebal. Begitu asap tersapu angin, delapan ekor harimau loreng tampak berjajar memperlihatkan taring. Kembali kedelapan harimau itu mengeluarkan auman secara bersamaan. Apabila ada orang yang menghadapi kedelapan harimau ini dan mendengar suara geraman tersebut, maka dapat dipastikan orang itu akan terguling mampus dengan jantung pecah.

Pendekar Naga Terbang, pewaris Kitab Menjala Langit, sedikit pun tidak mengedipkan matanya maupun gentar melihat kegarangan kedelapan harimau itu. Tiba-tiba saja bagaikan mendapat komando, kedelapan ekor harimau itu menubruk menyerang. Gerakan mereka seperti diatur saja. Jalan keluar Cu Liong telah tertutup sama sekali.

*Wuttt... Bressss...*

"Auuuummmm!"

Ada empat ekor harimau saling tubruk sendiri ketika manusia calon korbannya lenyap dari tempatnya berdiri. Sambil mengeluarkan auman-auman mengerikan, kedelapan ekor harimau itu menubruk Cu Liong secara susul-menyusul. Kuku-kuku runcing siap merobek tubuh pemuda berompi itu, dan mulut dengan gigi bertaring pun siap mencabik-cabik daging tubuh Cu Liong apabila ia terkena tubrukan salah seekor harimau tersebut.

Melihat serangan dahsyat ini, Cu Liong bagaikan anak kecil bermain petak umpet. Tubuh pemuda ini menyelinap di bawah perut harimau dan tahu-tahu melompat tinggi, lebih tinggi dari tubrukan harimau loreng tersebut. Belum juga tubuh pemuda itu tiba di tanah, dua ekor harimau siap menyambut dengan kedua kaki depan dan mulut terbuka lebar.

Akan tetapi, Cu Liong tidak semudah itu dihadang oleh binatang yang menjadi raja rimba. Sebelum tubuhnya turun, ia melakukan *poksai* di udara dan kembali melayang ke samping. Namun, di sini pun Cu Liong disambut tubrukan tiga ekor harimau!

*Plakkk... desssss... bleekk!*

Ketiga ekor harimau itu terlempar kembali ketika Cu Liong menggerakkan kaki dan tangannya menyambut serangan. Dalam sekali serangan balasan saja, ia dapat membuyarkan tubrukan raja rimba itu. Cu Liong segera menyambut semua serangan harimau-harimau itu. Sama sekali pemuda ini tidak mau memberi ampun lagi. Tubuhnya berkelebatan menghajar kedelapan harimau tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment