Chapter 35
Jangan dipandang ringan setiap tamparan atau tendangan kaki pemuda itu, karena semua gerakan Cu Liong mengandung tenaga sinkang yang dapat menghancurkan isi perut harimau-harimau tersebut.
Des... plak-plak!
"Aum!"
"Gila! Ternyata binatang itu semua jadi-jadian, keparat!" umpat Cu Liong.
Telah beberapa kali kedua tangannya berhasil menghajar binatang-binatang itu dan kakinya dapat pula menendang perut sang raja hutan. Namun, kedelapan harimau itu tetap maju kembali dengan ganasnya.
"Mampuslah!" Cu Liong mengebatkan Golok Pusaka Naga Terbang. Begitu harimau loreng itu terkena tebasan golok bersinar kehijauan, tubuhnya terbelah dan langsung raib saat menyentuh tanah.
Bus!
"Ha ha ha! Ayo keluarkan lagi mainanmu yang lain, bangsat!" tantangnya lantang.
Suara teriakan ini melengking menembus tembok benteng kuil sampai ke dalam ruangan samadi, di mana tampak delapan tosu tua berambut putih sedang duduk menghadapi pedupaan yang mengepulkan asap tebal.
"Keparat jahanam!" salah seorang tosu tua di sudut itu mengumpat. Tosu ini berwajah kemerahan seperti kulit bocah sehat, namun sepasang bola matanya tampak bersinar aneh, tajam menusuk, dan penuh nafsu jalang.
"Gila, sihir kita tidak mempan! Ayo kita coba kembali! Kita kerahkan seluruh tenaga dan mempersatukannya," ajak tosu tua bermata juling itu kepada teman-temannya. Tangannya menaburkan bubuk hitam ke pedupaan di depannya hingga asap kehitaman mengepul naik. Ketujuh tosu lainnya mengikuti perbuatan Tosu Juling dengan menaburkan pula bubuk hitam ke dalam pedupaan. Asap hitam tebal pun membubung ke atas.
Cu Liong tiba di depan pintu kuil. Tanpa ragu sedikit pun, ia mendorongkan tangan kanan ke depan.
Brak!
Daun pintu gerbang yang terbuat dari papan kayu tebal itu pun terbuka dengan suara keras. Ternyata kayu palang pengganjalnya telah patah. Dengan hati-hati sang pendekar melangkah maju, namun tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap bunyi berderit lirih. Cu Liong berhenti.
Siut! Siut! Siut!
Belasan batang anak panah menyambar dari bawah, kanan, dan kiri dalam jarak yang sangat dekat, siap menyate tubuhnya di lantai gapura.
"Hait!" Ia berputar cepat dan puluhan anak panah itu pun tersapu mawut. Tak sebuah pun dapat mendekati tubuh anak muda yang penuh dengan tenaga sakti itu. Inilah Ilmu Puting Beliung!
"Ha ha ha! Anak muda, kalau ingin mampus masuklah ke mari!"
"Keparat licik! Kau kira aku takut pada ilmu setanmu?"
"Masuklah! Ingin kulihat apakah kau bukan seorang pengecut hina! Hi hi hi!" terdengar suara melengking tinggi seperti suara wanita menjerit.
"Baik!" Cu Liong meloncat menuju ruangan terbuka kuil itu. Namun, ketika tubuhnya melayang maju, tiba-tiba saja ia terpental ke belakang. Ia seolah menabrak dinding baja yang tidak tampak.
"Kenapa, Anak Muda? Tidak berani masuk? Takut? Hi hi hi!"
"Setan! Kau kira aku takut dengan segala ilmu setanmu. Hyaat!" Cu Liong mendorongkan kedua tangan ke depan. Dari gerakan itu keluar angin menderu menghantam ke tengah ruangan.
Blar!
Terdengar ledakan dahsyat ketika pukulan tenaga sakti Cu Liong menghantam tirai ilmu gaib kedelapan tosu dalam ruangan samadi. Akan tetapi, terasa angin membalik keras dan baju di tubuh sang pendekar berkibar.
"Gila!" umpat Cu Liong dalam hati. "Tenaga dahsyat apa ini? Kenapa tidak dapat ditembus tenaga saktiku? Heran?"
Pemuda ini tidak tahu bahwa tenaga gaib yang menjadi benteng tak kasatmata itu terbuat dari persatuan tenaga delapan orang tosu yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sihir yang sangat kuat. Jika tadi ia dapat menghancurkan kedelapan harimau jadi-jadian karena menghadapi lawan yang menggerakkan satu per satu, sekarang seluruh tenaga sihir mereka dipersatukan sehingga kekuatannya menjadi sangat besar.
Cu Liong mengerahkan seluruh tenaga. Sepasang bola matanya mencorong dan perlahan ia meloloskan golok pusaka Hui-liong-to. Cahaya kehijauan memancar ke segenap penjuru. Makin lama cahaya itu semakin terang, pertanda golok tersebut semakin banyak dialiri sinkang.
Kini tampak tirai tipis berwarna kehitaman melingkupi ruangan depan kuil. Cu Liong dapat melihat sihir kedelapan tosu itu berkat pancaran sinar golok pusaka dan tenaga batin yang disatukan dengan pandangan mata.
"Hem, kiranya demikian. Jangan kalian tertawa dulu karena kemenangan tadi."
"Bagaimana, Anak Muda? Lebih baik menyerah saja! Tak mungkin kau akan dapat memasuki kuil kami. Ha ha ha!" Suara tersebut bagaikan datang dari tengah angkasa.
Mendengar ejekan tersebut, Cu Liong sama sekali tidak tergoyahkan. Hatinya tetap tenang dan penuh pemusatan diri. Sedikit pun ia tidak terpancing amarah. Dengan langkah satu-satu, Cu Liong mendekati tirai kehitaman yang melingkupi ruangan kuil. Penuh percaya diri, Cu Liong menggerakkan tangan kanan.
Cring! Bus!
Asap hitam tebal menguar naik menggelapkan pandangan. Ketika tirai ilmu sihir itu terkena bacokan golok Hui-liong-to, bagaikan ada cahaya kilat kebiruan yang membelah, seperti aliran listrik yang bertemu.
Ia melihat ke kanan dan kiri, meneliti seluruh ruangan. Pandangan matanya bentrok dengan sepasang mata patung tinggi besar berwarna merah membara. Patung itu berwarna hitam seluruhnya dengan tanduk di kanan-kiri kepala.
"Patung iblis," desisnya lirih.
Pada saat Cu Liong menoleh untuk mencari jalan masuk, sepasang mata patung itu bergerak hidup dan tanpa bersuara sedikit pun, patung iblis besar itu menubruknya. Mendengar desir angin dari belakang, Cu Liong menggerakkan tangan kiri untuk menyampok dengan menggunakan setengah bagian tenaga.
Duk!
Cu Liong sempoyongan ke depan. Ia kaget saat melihat siapa yang telah menyerangnya tadi.
"Setan! Terimalah pembalasanku!" Dengan menekuk kedua kaki, Cu Liong mendorongkan kedua tangan ke depan, menyambut serangan patung iblis secara terbuka. Patung itu pun mendorongkan kedua tangan besarnya.
Blar!
Bangunan kuil seakan terkena gempa bumi. Banyak genting melorot jatuh menimbulkan suara hiruk-pikuk. Akan tetapi, Cu Liong kembali terdorong ke belakang beberapa tindak, meski kedua kakinya masih menempel di lantai ubin yang kini menyisakan lekukan panjang.
"Gila!" umpatnya.
Sejenak pendekar muda ini berdiri tegak mengawasi patung tinggi besar berwarna hitam dengan sepasang mata merah mencorong itu. Ia mulai merakit serangan, namun sebelum rencana matang, makhluk iblis itu kembali menyerang dengan tenaga dahsyat.
"Hait!"
Cu Liong menghindar dengan gesit, lalu dari samping membalas serangan. Tangkisan lawan menimbulkan suara keras berkali-kali. Pertempuran terjadi dengan hebatnya. Namun, meski beberapa pukulan bertenaga lwekang tinggi mendarat tepat di tubuh patung, benda itu tidak hancur, malahan gerakannya semakin brutal.
"Gila! Ilmu sihir jahanam!" umpatnya mangkel. "Kalau aku tidak dapat menemukan kelemahan iblis ini, mungkin diriku akan menjadi korbannya. Aku harus cepat menyelesaikan pertempuran ini."
Sing! Trang! Crak! Crak!
"Setan jahanam!" Cu Liong kembali mengumpat. Ia semakin penasaran karena setelah berhasil memutus kedua tangan patung tersebut, ternyata makhluk itu masih tetap menyerang. Dalam satu kesempatan baik, Cu Liong menebas putus kedua kaki patung iblis itu.
Cras! Crak!
"Mampus kau sekarang! Ayo bergerak lagi kalau berani!"
Bagaikan mengerti tantangan itu, patung yang telah putus tangan dan kakinya itu justru melayang menyerang Cu Liong.
"Gila!" umpat Cu Liong keras, antara kaget dan kagum. "Aku harus dapat mencari penggerak setan-setan itu!"
Tanpa ayal lagi dia melejit dan menyelinap ke belakang meja sembahyang.
Wir! Wut! Wir! Brak!
Meja itu hancur tertimpa tubuh patung tanpa tangan dan kaki tersebut. Alat sembahyang mencelat ke mana-mana.
Wir! Del!
Kepala patung itu pun terlempar ke belakang menghantam tembok dengan suara keras. Namun, tak berapa lama kemudian, kepala itu terbang mengejar sang pemuda.