Chapter 36
Golok pusaka itu menangkis empat kali. Ketika kepala patung iblis itu meluncur datang, Cu Liong mengerahkan seluruh _lweekang_ ke tangan kiri dan menampar kepala itu. "Plakkkkk!" Terdengar bunyi benturan yang keras, disusul suara "brakkkkk...!!" Genteng di atas ruangan kuil hancur bersamaan dengan kepala iblis yang meluncur menjebolnya.
Secercah sinar keemasan merah menerobos masuk melalui lubang genteng dan tanpa sengaja mengenai potongan-potongan tubuh serta kaki tangan. "Busssss... brukkkkk...!!" Cu Liong meludah ke arah tumpukan batu di lantai. "Mampusssss kau setan...!" Lalu ia pun melesat mencari penggerak benda-benda sihir itu.
Keadaan dalam ruangan samadhi kedelapan tosu tua berjubah abu-abu tampak mengenaskan. Kedelapan tosu itu mendekap dada, dan dari sudut bibir mereka mengalir darah kemerahan yang sebagian membasahi jubah mereka. "Hemmmmm, kiranya di sini tempat persembunyian kalian?" maki si Tosu Juling lirih. "Anak muda keparat! Jangan kau kira dapat mengalahkan kami. Terimalah kematianmu...!" Salah seorang membentak, tubuhnya meluncur dengan kedua tangan membentuk cengkeraman. Sepasang mata tosu itu tampak mengerikan, dan tiba-tiba kedua tangan mereka mengeluarkan api berkobar.
Cu Liong melihat serangan tangan tosu itu dengan senyum dingin. Begitu tangan kanannya bergerak, seleret sinar hijau memapaki tubuh lawannya. Terjadilah pertemuan di tengah udara antara tosu yang meluncur dengan kedua tangan berapi, disambut putaran senjata golok Hui-liong-to yang melayang sambil mengeluarkan desing menderu. "Singgggg... crakkkkk... gedebuuukkkkk...!!" Tubuh tosu itu jatuh menimpa tanah berbatu licin, ubin tempat samadhi. Namun, keadaannya sungguh mengerikan! Kepalanya terpotong setengahnya, dan api yang keluar dari tangannya membakar jubah abu-abunya sendiri.
Melihat seorang rekannya tewas, ketujuh tosu tua lainnya nekad mengeluarkan tenaga penghabisan berusaha mengadu nyawa dengan lawan yang berdiri di pintu kamar. "Hiaaattttt...!!" "Singgg-singg-singgg...!!" "Ser-ser-ser...!!" "Ting-ting-ting... tak-tak... crakk-crakk-crakkk...!!" Kejadiannya begitu cepat, sukar diikuti pandangan mata. Hanya tampak percikan-percikan kecil seperti kembang api di pintu kamar, lalu disusul berkelebatnya sinar kehijauan ke segala arah. Tiba-tiba bergelimpanganlah tubuh ketujuh tosu dalam keadaan mengenaskan! Enam orang tosu tua langsung menghadap Giam-lo-ong karena tubuh mereka terpotong di tengah. Sedangkan yang seorang, yaitu Tosu Juling, masih merintih-rintih kesakitan. Tosu Juling menderita luka cukup lumayan, kedua tangannya telah hilang sebatas siku.
"Aduuuuuhhhhh... aduuuuhhhhh... bunuhlah akuuuuu, keee...pa...rattt..." "Enak saja! Sekarang tunjukkan di mana persembunyian nenek cabul berjuluk Dewi Seruni Ungu?" ejek Cu Liong. "Banggggg...saaattttt...jaaa-jaaa...ngannnnn...haaarrr...raaappp aaa...kuuu...kaa taaaaa...auuhhhhh!" Tosu Juling pun mampus dengan lidah putus. Ternyata saling tidak kuat merasakan rasa sakit, tosu ini memilih bunuh diri daripada dipaksa mengaku. Dia tidak ingin menjadi bahan ejekan anak muda itu. "Keparattttt tua bangka...!" Cu Liong terlambat untuk menotok leher Tosu Juling. Sambil membanting kaki, jengkel pemuda ini lalu keluar dan memeriksa seluruh isi kuil. Namun, tiada orang lain yang ditemui di dalam kuil itu. Maka setelah puas memeriksa, ia pun melesat keluar.
Tiba-tiba saja di kejauhan tampak sesosok bayangan serba ungu menuruni bukit. Gerakannya cepat dan ringan, sehingga sebentar saja hilang di kelokan bebatuan di kejauhan! "Nenek cabul... Mau lari ke mana kau iblis betina!" Cu Liong meloncat mengejar. Sebentar saja pemuda itu telah hilang dari pandangan saking cepatnya tubuhnya meluncur.
Hari telah menjadi siang ketika Cu Liong mengejar ke arah Si Baju Ungu! Pemuda itu telah melupakan sama sekali rombongannya, yaitu orang-orang Kera Sakti dan sahabatnya yang tinggi besar Thio Hwie Kian! Keduanya saling kejar, naik turun bukit dengan cepat, bagaikan dua ekor kumbang sedang memadu kasih! Akan tetapi, jarak di antara kedua orang itu tidak berubah sama sekali. Walaupun Cu Liong telah mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya, tetap saja pemuda itu ketinggalan di belakang. Ternyata Dewi Seruni Ungu memang memiliki ilmu _gin-kang_ yang tinggi. Telah dua bukit dilewati. Namun, Cu Liong tidak mau melepaskan iblis betina yang pernah meracuninya itu, iblis penyebar maut yang membunuhi anak-anak muda setelah dihisap sarinya!
Di kejauhan tampak sebuah kota. Benteng tinggi itu telah nampak di atas bukit. Dewi Seruni Ungu menujukan larinya ke dalam kota. Entah apa maksud perempuan itu. "Gilaaaaa... Sungguh luar biasa daya tahan bocah itu. Wahhh, kalau saja dulu ia menjadi... tentu aku sekarang memiliki kepandaian luar biasa!" Ketika menoleh, Dewi Seruni Ungu memuji ketahanan ilmu cepat anak muda calon korbannya dulu. "Bangsat setan kurang ajar, Pek-tung Lo-kai! Awas kau tua bangka. Akan datang masanya kau harus menebus penghinaanmu kepadaku...!"
Prajurit jaga di pintu gerbang hanya melihat bayangan ungu lewat ketika Dewi Seruni Ungu memasuki kota. "Ehhh, apakah yang lewat tadi...?" tanya seorang penjaga yang baru saja keluar dari gardu. "Entahlahhh... Sepertinya burung besar terbang lewat!" "Anehhhhh...?" katanya pula sambil berdiri tegak di pinggir pintu. Tiba-tiba saja terasa ada angin dingin menyambar lewat depan mukanya. Penjaga itu pun menoleh untuk melihat, akan tetapi dia hanya melihat asap kehitaman terbang lewat dan hilang di kelokan jalan. Tubuh penjaga itu pun tiba-tiba seperti orang terserang demam, menggigil! "Seeeee...tannnnn...!!" Mendengar teriakan ini, penjaga lainnya berubah pucat wajahnya. Keringat dingin telah membasahi seluruh mukanya mendengar ucapan temannya. Siapa lagi kalau bukan setan. Begitu cepat gerakannya. Tadi dia mencium bau harum ketika bayangan ungu memasuki pintu gerbang dan sekarang lagi-lagi dia seperti melihat asap kehitaman melayang masuk. Tanpa dapat dicegah lagi, kedua penjaga itu lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah sambil membaca doa penyelamat! Memang tidak aneh perbuatan kedua penjaga itu. Kepercayaan pada dewa dan iblis masih tebal mempengaruhi seluruh kehidupan di zaman kuno seperti itu. Mereka masih percaya dengan adanya hantu-hantu yang berkeliaran, apalagi di siang hari itu mereka melihat dan mencium bau harum aneh. Melihat bayangan bergerak cepat tak dapat diikuti pandang mata! Kalau bukan setan atau dewa, siapa lagi?
Cu Liong menghentikan larinya ketika ia tiba di jalan sunyi. Bayangan Dewi Seruni Ungu telah hilang dalam keramaian kota di siang hari itu. Apalagi jarak antara keduanya cukup jauh sehingga ia tidak dapat melihat ke arah mana iblis betina itu menyembunyikan diri. Hanya tadi ia melihat Dewi Seruni Ungu membelok di gang itu dan ketika ia tiba di tempat itu, ternyata gang itu adalah jalan tembus ke arah pasar. Otomatis Cu Liong segera menghentikan larinya dan keluar ke jalan besar dengan melenggang kakung.
Ketika melewati sebuah rumah makan, tiba-tiba perutnya terasa berkeruyuk lirih. Ini disebabkan oleh kerja sang hidung yang mencium bau masakan dari dapur di samping restoran itu. Angin nakal telah membawa bau sedap tersebut ke jalan sehingga menggugah selera. "Mari, silakan masuk Tuan Muda," sambut pelayan setengah tua ramah. "Terima kasih, Paman." Cu Liong segera mengikuti si pelayan. Setelah duduk, ia pun memesan beberapa macam masakan. Tak berapa lama kemudian, pelayan itu pun kembali dengan sebuah nampan besar penuh dengan masakan yang mengepulkan bau sedap. Cacing dalam perut Cu Liong menggeliat. "Silakan, Tuan Muda." Setelah pelayan tua itu berlalu, Cu Liong segera mengerjakan sumpit di tangannya, menikmati hidangan lezat di meja. Duduk seorang diri, pemuda ini makan tanpa melihat ke kanan kiri, agaknya saking nikmatnya dia menikmati masakan itu.
"He-he-he, akhirnya ketemu juga!" Cu Liong mengangkat muka mendengar suara teguran di sampingnya. Wajahnya berubah merah, menahan malu. "Enak ya, bocah! Sampai tak melihat orang lagi! Haha...!" "Looo... Locianpwe... silakan duduk, Locianpwe. Maaf, maaf, saya tidak tahu akan kedatangan Locianpwe..." Cu Liong dengan gagap mempersilakan. Lalu tanpa menanti orang tua yang bukan lain adalah pengemis bergigi tonggos tinggal dua: Pek-tung Lo-kai, ia memanggil pelayan dan memesan beberapa macam masakan lagi. "He-he-he, dasar perut lagi beruntung. Datang-datang dapat pesta, ha-ha-ha..." Seluruh orang dalam rumah makan menengok ke arah mereka, heran melihat seorang pemuda tampan berpakaian perlente menjamu seorang pengemis tua. Apalagi melihat wajah si pengemis, tidak dapat tidak mereka merasa geli. Akan tetapi, tak seorang pun berani mencela, tahu bahwa kedua orang itu bukan orang-orang sembarangan, tokoh-tokoh kang-ouw yang memiliki watak dan tabiat aneh-aneh! "Silakan, Locianpwe." Begitu pesanan datang, Cu Liong segera menawarkan. Akan tetapi sebelum pemuda itu menawarkan, ternyata pengemis tua itu telah mencomot ayam panggang dari pundak si pelayan, yakni ketika pelayan itu lewat di sampingnya. "He-he-he... kenapa sungkan-sungkan segala, Liong? Sikat saja sampai kenyang, ha-ha-ha...!" Pek-tung Lo-kai menikmati makanan itu sambil sekali-kali minum arak wangi. Cu Liong hanya tersenyum kecut melihat cara makan Pek-tung Lo-kai. Ia makan dengan pelan, hanya sekali-kali saja menjawab pertanyaan pengemis tua. Sebentar saja masakan di atas meja telah tinggal duri-duri ikan dan tulang-tulang ayam.