Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 37

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 37

Semua ludes masuk ke dalam perut kedua tua muda aneh itu.

Namun, kebanyakan masuk perut pengemis tua gigi tonggos tinggal dua.

"Wuah, sedap..."

Setiap hari seperti ini tentu sebentar saja tubuhku akan pecah, gemuk seperti arca Ji-lai-hud. Ha-ha-ha!" Pek-tung Lo-kai mengusap minyak bekas makanan dengan ujung jubahnya.

Kakek ini tertawa-tawa dan merem melek.

"Hooahem, ngantuknya!" Setelah membayar harga makanan kepada pelayan, Cu Liong bersama Pek-tung Lo-kai keluar rumah makan.

"Kita menuju Kuil Selaksa Rejeki di timur kota, Liong. Di sana kita dapat omong-omong santai, eh, ya, katamu tadi Iblis Penghisap Sukma Cu Kiok Sianli berada di kota ini. Wah, kenapa semua tokoh sesat berdatangan di sini? Ada apa sebenarnya, ya?" Pek-tung Lo-kai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Agaknya pengemis ini mengerahkan seluruh daya pikirnya untuk mencari jawaban tersebut.

"Apakah Locianpwe lupa? Mungkin itu semua adalah ulah Sim Tok Tojin, tosu bau yang memfitnah diriku. Menurut perkiraan saya yang rendah, pendeta itu menghubungi konco-konconya dan meminta bantuan mereka untuk menghadapi kita. Pendeta itu takut akan kemarahan tokoh-tokoh kang-ouw delapan penjuru, Locianpwe."

"Heh-heh-heh, benar juga omonganmu. Terang pendeta tengik itu ketakutan. Ha-ha-ha. Tahukah kau di mana letak Bukit Iblis?" Sambil mencari kutu di rambut gondrongnya, Pek-tung Lo-kai bertanya.

"Heh-hehe-heh!" Pek-tung Lo-kai terkekeh.

"Di manakah letak Bukit Iblis itu, Locianpwe? Saya ingin segera membekuk tosu tua bangka itu! Agar Sim Tok Tojin mempertanggungjawabkan semua perbuatannya." Akan tetapi, tiada jawaban sama sekali. Cu Liong menoleh ke arah Pek-tung Lo-kai dan... betapa jengkel hatinya ketika melihat Pek-tung Lo-kai telah molor dengan enaknya!

"Buset! Lelah mulut ini bicara, eh, malah ditinggal tidur mendengkur. Betul-betul menjengkelkan!" gerutunya dalam hati.

Cu Liong segera meninggalkan Kuil Selaksa Rejeki. Langkah kakinya pelan. Sepasang matanya menikmati keramaian kota. Ketika melewati sebuah rumah penginapan yang cukup besar, Cu Liong menahan langkah kakinya dan membelok, masuk ke rumah penginapan.

"Apakah masih ada kamar kosong?" tanyanya kepada pengurus losmen yang bertubuh kurus dan berkulit pucat. Mukanya licin tanpa kumis. Sepasang mata sipit seperti laron itu mengawasi Cu Liong penuh perhatian. Kepalanya sampai dijulurkan untuk melihat jelas!

Pengurus itu meringis memperlihatkan gigi depan yang berwarna kehitaman.

"Ada, ada banyak Kongcu. Kongcu membutuhkan berapa kamar?"

"Cukup sebuah kamar saja!"

"Beres, Kongcu! Ditanggung, Kongcu akan senang menginap di rumah penginapan ini. Kami selalu mengutamakan pelayanan demi kenikmatan para tamu."

"Hem!"

"Apakah Kongcu sendirian saja?"

"Iya, kenapa?"

"Anu, anu, Kongcu. Apakah Kongcu tidak membutuhkan penghangat?"

"Tentu saja! Tolong sekalian diantar ke kamarku. Sekarang juga boleh kalau sudah tersedia," jawab Cu Liong senang.

"Baik. Baik, Kongcu! Akan kuantar sendiri pesanan Kongcu." Sambil tersenyum-senyum, pengurus rumah penginapan ini mengantarkan Cu Liong menuju ke kamarnya.

Kebetulan sekali anak muda itu mendapatkan kamar di loteng. Kamar Cu Liong mempunyai jendela menghadap ke jalan di samping rumah penginapan. Jalan yang cukup ramai juga! Wajahnya cerah, membayangkan akan mendapat persen lumayan dari kanan kiri, yaitu persen dari pengurus rumah pelacuran dan dari anak muda yang menginap di rumah penginapannya.

Pengurus itu menyuruh pelayan untuk membawa air panas ke kamar Cu Liong. Dia ingin memberikan pelayanan sebaik-baiknya! Sedangkan Cu Liong segera membuka pakaiannya. Mandi air hangat yang dibawa pelayan rumah penginapan. Setelah berganti pakaian, Cu Liong membuka jendela mengawasi orang-orang yang berlalu-lalang di jalan di bawah jendela kamarnya.

Tok-tok-tok...

"Ya, siapa?"

"Saya, Kongcu. Saya pengurus rumah penginapan."

"Tunggu sebentar." Cu Liong membuka pintu kamar. Bau harum menyengat hidung Cu Liong ketika daun pintu kamarnya terbuka. Sepasang mata Cu Liong mengawasi orang-orang di depan pintu dengan terbelalak lebar, mulutnya melongo!

"Ini, Kongcu. Mereka ini gadis-gadis tercantik di kota ini. Ditanggung Kongcu tidak akan melupakan pelayanan kami, he-he-he!" Si Pengurus ini menyeringai tertawa.

"Silakan pilih sendiri, Kongcu, semua dijamin panas!"

"Lho, apa-apaan ini? Kenapa Tuan Pengurus membawa lima orang gadis ke sini? Apa maksudnya?" tanyanya keheranan.

"Kongcu, inilah pesanan Kongcu tadi. Penghangat di kala dingin malam menusuk tulang, he-he-he. Yang mana, Kongcu? Apa semua Kongcu suruh menemani Kongcu malam ini?"

"Tadi sudah datang pelayan mengantar air hangat. Untuk melayani apa lagi mereka ini?" Dasar Cu Liong, pemuda polos. Dia belum kenal sama sekali seluk-beluk di rumah penginapan. Ketika pengurus tadi menawarkan penghangat, yang seperti biasa ditawarkan kepada tamu-tamu yang datang di rumah penginapannya, ia menduga bahwa pemuda itu telah tahu semua itu sehingga dia segera memesan ke rumah bordil Seruni!

"Maksud Kongcu?"

"Ya, air hangat untuk mandi. Menurut Tuan Pengurus, apa?"

"Oh, mati aku!" sambat pengurus ceking sambil menepuk dahinya. "Kukira... kukira tadi... tadi... Kongcu...?"

Kelima wanita penghibur itu sejak tadi main mata dengan Cu Liong. Apalagi melihat kepolosan pemuda itu, mereka dapat menduga bahwa anak muda itu masih hijau alias belum pernah sama sekali mengembara di lembah kenikmatan. Maka dengan sendirinya mereka semakin tertarik. Apalagi melihat ketampanan wajah jago kita, tidak dibayar pun mau. Akan tetapi, Cu Liong tidak menanggapi kelima wanita penghibur itu. Mencium bau minyak wangi yang keluar dari mereka itu pun, ia telah menjadi pusing.

"Hi-hi-hik... Kenapa malu-malu, Kongcu?"

"Tanpa dibayar pun saya bersedia menemani Kongcu semalam suntuk."

"Biarlah kami berlima melayani Kongcu bersama-sama. Kami jamin Kongcu tidak akan melupakan kami selamanya. Hi-hi-hik..."

"Mari, Kongcu, saya pijit. Biar hilang lelah Kongcu selama melakukan perjalanan. Otot-otot Kongcu yang kaku dijamin lemas kembali, deh!" Kelima wanita itu membujuk rayu dengan gaya masing-masing dan menonjolkan daya tarik mereka. Sayangnya yang dihadapi sekarang adalah pemuda hijau dan tidak mengenal sama sekali kemesuman itu. Maka ketika dengan berebut kelima wanita penghibur itu ingin memasuki kamar, Cu Liong segera menggerakkan kedua tangan ke depan.

Wut...

Bruk...

"Aduh, Mak, remuk senjata pusakaku!" Pengurus kurus itu menjerit kesakitan ketika kemaluannya tertusuk konde yang dikenakan salah seorang yang kebetulan sekali jatuh menimpa tubuhnya.

Kelima wanita penghibur tadi seperti diterjang topan dahsyat. Terpental ke belakang menimpa pengurus kurus ceking. Salah seorang, yaitu yang paling depan, kepalanya menjatuhi kemaluan Si Pengurus... dan terdengar teriakan di atas. Kelima wanita itu menjerit-jerit ketakutan. Tentu saja, setelah dapat bangun berdiri, mereka segera melarikan diri, menuruni tangga loteng dengan tergesa-gesa sehingga saking gugupnya mereka saling tabrak dan hampir saja mereka terguling menuruni tangga kalau tidak ada seorang laki-laki tinggi besar, bertampang seram dengan brewok lebat bagaikan kawat-kawat baja menyambut tubuh mereka.

"Ha-ha-ha, mau lari ke mana, bidadari-bidadariku!" Begitu kedua tangan merangkul, tiga orang wanita penghibur berada dalam pelukannya. Langsung saja muka penuh kawat itu menciumi pipi ketiganya silih berganti.

"Ihh!" Ketiga wanita penghibur meronta. Akan tetapi, mana mereka dapat melepaskan diri dari pelukan Iblis Bermuka Singa itu?

"Ha-ha-ha... hayo kalian berlima menemaniku." Sambil tertawa-tawa, raksasa bermuka singa ini mendorong kedua wanita penghibur itu menuju kamarnya, sedangkan ketiga wanita itu pun digendongnya di depan dada. Kebetulan sekali kamar Si Muka Singa ini tepat di dekat undakan loteng.

Brak...

Pintu pun ditendang menutup kembali. Segera terdengar dengusan-dengusan liar dan jeritan-jeritan lirih.

Cu Liong segera menolong pengurus rumah penginapan ceking itu. Orang bermuka pucat ini merintih-rintih sambil mendekap kemaluannya. Tampak darah membasahi celananya bersama dengan air seni yang memancar, tak dapat ditahan lagi saking tidak kuat menahan rasa sakitnya.

"Gila!" umpat Cu Liong dalam hati. Sambil menekan pinggang, ia menghentikan pendarahan. Ia membangunkan tubuh ceking itu dengan sekali tarik. Sedangkan tangan satunya mendekap hidung karena tidak kuat mencium aroma dari Si Ceking tadi.

"Nih, terimalah sebagai pembantu membeli obat!" Cu Liong menyusupkan beberapa tael ke dalam telapak tangan kurus yang dingin seperti es itu.

"Terima kasih, Kongcu. Terima kasih!" Wajah pengurus itu berubah secara mendadak ketika matanya melihat gemerlapan uang di tangan. Dengan membungkuk-bungkuk hormat, ia berlalu dari depan pendekar kita.

Cu Liong pun lalu menutup kembali pintu kamarnya. Akan tetapi, tetap saja telinganya yang tajam itu mendengar suara-suara dari kamar lain. Pemuda itu sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada tiga pasang mata jeli memandang semua kejadian sejak pengurus ceking itu membawa masuk kelima wanita penghibur menuju kamarnya. Tiga pasang mata milik tiga orang wanita cantik dan menarik yang duduk di ruangan depan, tempat tersedia banyak bangku.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment