Chapter 38
Memang, di samping rumah penginapan, rumah ini juga membuka usaha rumah makan. Hal ini dilakukan untuk melayani para penginap agar tidak perlu keluar hanya sekadar untuk mengganjal perut. Dan keuntungan yang masuk pun berlipat ganda! Tentu saja harga makanan dan minuman di tempat ini lebih mahal dari rumah makan biasa!
"Cici, diakah yang dimaksud Sianli?" tanya gadis yang mengenakan pakaian berwarna biru muda. Wajahnya yang bulat telur itu dihiasi sebuah tahi lalat di atas bibirnya.
"Tidak salah lagi! Ciri-cirinya seperti yang digambarkan Sianli kepada kita. Kebetulan sekali kita dapat menemukannya," kata wanita tertua yang mengenakan pakaian serba kuning. Wajahnya juga cantik dan kulit mukanya tampak menarik dengan bedak tipis kemerahan.
"Hi-hi-hik, dia perjaka ting-ting. Kita kerjai dia dulu sebelum kita serahkan kepada Sianli, boleh, kan, Toaci?" orang termuda, yakni wanita yang mengenakan pakaian serba kuning muda, berkata lirih. Bibirnya yang tipis itu menyungging senyum penuh arti.
"Ihhhhh, kalian ini bagaimana?" Tegurnya lirih. "Apakah kalian tidak mendengar keterangan Sianli? Kepandaian anak itu jauh di atas kita. Belum tentu kita dapat mengalahkannya walaupun kita keroyok bertiga!"
"Akan tetapi, Cici mau, kan, kalau dia kita kerjai dulu." Gadis berbaju biru mendesak, menatap kakak tertua penuh perhatian.
"Hemmm... entahlah...?"
"Entahlah bagaimana..." "Yang jelas, dong, kalau menjawab, 'Mau atau tidak?'" gadis paling muda mendesak.
Sang Kakak hanya berdiam diri. Tentu saja, melihat kegantengan anak muda itu, mana mau mereka melewatkan kesempatan baik itu? Apalagi perintahnya hanya menangkap atau meringkus hidup-hidup saja, kalau bisa!
"Hemm, boleh! Akan tetapi, aku yang paling dulu menghisap perjakanya. Bagaimana? Setuju kalian...?"
"Hi-hi-hik... tentu saja." Hampir serentak kedua adik sekandang itu menyetujui. Bibir mereka tersenyum-senyum membayangkan kenikmatan yang bakal diperoleh dari anak muda itu.
Ketiga wanita ini pun tidak tahu sama sekali bahwa semua percakapan mereka telah ada yang menguping! Tentu saja ada yang menguping. Mereka bertiga berbisik-bisik di tengah keramaian rumah makan dan penginapan yang padat pengunjung!
Tanpa terasa, malam pun tiba! Langit tampak bersih dan bintang-bintang pun berkedip-kedip sangat indah. Akan tetapi, hawa menjadi sangat dingin, walaupun di siang hari tadi panasnya luar biasa. Lampion-lampion telah dipasang di semua sudut rumah. Di depan gapura pun tidak ketinggalan dipasang lampion. Jalan-jalan di kota itu menjadi ramai dengan penjaja makanan yang keluar di malam hari. Apalagi kupu-kupu malam pun ikut keluar memenuhi tempat-tempat temaram dekat penjaja makanan dan minuman di pinggir jalan.
Meskipun telah ada tempat-tempat khusus di beberapa jalan utama kota itu, tetap saja ada wanita penghibur yang keluar ke jalan menjajakan tubuhnya! Memang tidak dapat dihindarkan lagi semua ini. Orang ingin mencari uang dengan mudah tanpa modal sama sekali. Apalagi, begitu sulitnya mencari sesuap nasi. Ini semua masih ditambah dengan adanya rumah judi yang dibuka secara terang-terangan di kota itu. Rumah-rumah penghibur pun penuh sesak dengan pengunjung yang berkantong tebal. Lampion warna-warni menghias rumah-rumah seperti ini, menarik para lelaki hidung belang!
Melangkah santai menuju Kuil Selaksa Rejeki. Akan tetapi, ketika tiba di sana, ternyata Pek-tung Lo-kai telah menghilang entah ke mana. Cu Liong pun segera berlalu. Dengan penuh kewaspadaan pemuda ini menyelidiki di mana iblis wanita itu menyembunyikan diri di kota ini. Dia merasa bahwa wanita iblis itu belum meninggalkan kota.
Tanpa terasa, langkah Cu Liong sampai di taman di tengah kota. Sambil memandang lampion berwarna-warni yang digantung di pohon-pohon tengah taman, ia melangkah menuju ke tempat duduk di dekat kolam.
"Tolong...!!!" Teriakan minta tolong itu segera teredam. Agaknya mulutnya telah didekap dengan mendadak. Darah pendekar di tubuh Cu Liong berdesir cepat. Kewaspadaannya muncul ke permukaan dan sepasang matanya berbinar. Tak ketinggalan pula pendengaran Cu Liong bekerja di luar kesadarannya sendiri. Sekali kaki Cu Liong menjejak tanah, tubuhnya meluncur ke kiri, melompati rimbunnya tanaman setinggi manusia yang tertata apik.
Brett! Terdengar kain robek. Plak!
"Diam! Kalau tidak, kumasukkan golok ini ke dadamu!" Kembali terdengar suara ancaman parau.
"Ah... uh... ah... jangan...!!" Kembali terdengar rintihan lirih.
Brett! Brett! Sebelum manusia jalang itu memaksakan kehendaknya, tiba-tiba tubuhnya terlempar tinggi. Duk! Kepala lelaki berwajah penjahat itu menabrak batang pohon. Krosak! Tubuhnya yang tanpa pakaian menyangkut di dahan di bawahnya ketika tubuh itu melayang turun. Laki-laki mesum itu tak bergerak sama sekali, ia pingsan.
"Tolong...!" jerit wanita yang berbaju biru itu ketakutan. Wanita cantik itu mengesot mundur ketakutan. Sepasang mata Cu Liong tak berkedip memandang pemandangan di depannya. Akan tetapi, tiba-tiba saja wajahnya berubah merah seperti kepiting rebus ketika dia sadar akan pemandangan di depannya. Cepat tangannya menyambar pakaian laki-laki yang tadinya hendak memperkosa gadis cantik bertahi lalat di atas bibir itu.
"Jangan takut, Nona. Aku tidak bermaksud jahat!" bujuk Cu Liong lirih. "Nih, kenakan pakaian seadanya dahulu! Nanti akan kuantar Nona pulang!" Cu Liong mengulurkan tangan yang memegang pakaian penjahat pemerkosa tadi.
Gadis itu pelan-pelan berdiri, sehingga tampak seperti patung dari pualam. Bercahaya dalam temaramnya malam. Tampak lekuk tubuhnya yang sempurna ketika gadis itu mendekat sambil berjalan. Akan tetapi, keindahan ini tidak dinikmati anak muda yang menoleh ke lain jurusan!
"Terima kasih, Taihiap!" Lembut gadis bertahi lalat itu berkata.
"Kenakan dulu pakaian itu, Nona!"
"Sudah, Taihiap."
"Ha-ha-ha!" Tanpa terasa Cu Liong tertawa melihat gadis yang ditolong itu.
"Kenapa, Taihiap, apa yang lucu?"
"Ah, tidak! Tidak apa-apa, Nona. Tidak ada yang lucu." Cu Liong cepat menjawab.
"Bohong! Tentu ada yang lucu sehingga Taihiap tertawa?"
"Tidak, Nona. Tidak ada apa-apa." Mendengar jawaban Cu Liong, gadis bertahi lalat itu menjatuhkan diri dan menangis sedih. Pundaknya sampai terguncang-guncang ketika gadis ini menangis memelas. Cu Liong kaget melihat kejadian yang sama sekali tak diduganya ini. Cepat dia maju dan memegang pundak gadis bertahi lalat itu, sambil menghibur.
"Jangan menangis, Nona. Ah, bagaimana ini? Dasar mulut tak tahu diri. Sungguh, Nona, tidak ada apa-apa. Hanya Nona mengenakan pakaian terbalik. Itu saja!"
Cu Liong sama sekali tidak tahu bahwa gadis itu menangis dengan air mata buaya. Sepasang mata jelinya tadi mengintip dari balik sela-sela jari tangannya, melihat ke arah Cu Liong. Akan tetapi, gadis itu terus bersandiwara semakin lihai. Merasakan tangan anak muda yang hangat memegang pundaknya, ia segera menubruk dan membenamkan tubuhnya dalam pelukan anak muda itu.
"Ihh, jangan begini, Nona! Tidak baik dilihat orang!" Cu Liong berusaha melepaskan diri. Akan tetapi, sepasang tangan lembut gadis bertahi lalat itu seperti seekor ular melilit pinggangnya!
Sebelum Cu Liong berbuat lebih lanjut, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Gadis bertahi lalat itu pun terus membenamkan bibirnya ke bibir Cu Liong, dengan buas menghisap dan menyedot bibir pendekar kita penuh nafsu jalang. Kedua tangannya bergerak liar menyusup ke dalam pakaian Cu Liong. Akan tetapi, tiba-tiba kedua tangan itu berhenti mendadak dan gadis bertahi lalat itu menoleh ke belakang.
"Hem, bagus ya? Ingin menikmati sendiri, ya?" Agaknya bentakan ini yang menyelamatkan Cu Liong dari percobaan pemerkosaan itu. Ternyata di tempat itu telah berdiri dua gadis cantik berpakaian kuning muda dan kuning tua. Wajah kedua gadis itu kemerahan penuh cemburu melihat hasil jebakan adik dan kakak mereka tadi. Memang kedua gadis itu sejak tadi telah membayangi ke mana pun Cu Liong pergi. Mereka bertiga lalu mengatur siasat di taman itu. Dengan menggunakan seorang buaya darat untuk melaksanakan siasat mereka!
"Tidak! Tidak, Cici. Mana saya berani mendahului Cici? Habis, tak tahan, nih, melihat betapa tampannya dia."
"Ui Nio, bawa dia ke kuil!" Perintah gadis tertua yang berpakaian kuning tua.
"Hi-hi-hik!" Sambil tertawa genit, gadis termuda itu menyambar tubuh Cu Liong dan memondongnya di pundak. Tampak betapa ringan dia mengangkat tubuh lelaki muda itu. Cepat ia mengikuti Toacinya menuju ke kuil di sebelah barat kota, yang terletak di hutan cemara!
Ketika ketiga wanita itu menyusup di jalan sepi menuju ke kuil mereka. Ketiganya agaknya telah mengenal keadaan kota itu. Terbukti bahwa mereka tidak kesulitan mencari jalan-jalan sunyi. Tak berapa lama kemudian sampailah mereka di kuil di hutan cemara.
"Rebahlah di sini sebentar, sayang. Jangan takut! Kami bertiga tidak menggigit, kok, hi-hi-hik!" Ui Nio merebahkan Cu Liong di kasur lembut di tengah ruangan itu. Tangan kanannya membelai wajah anak muda dengan mesra.
"Uii...!!!"
"Hi-hi-hik... jangan marah dulu, Toaci. Aku hanya sekadar membelai saja, kok, hi-hi-hik." Ui Nio mundur kembali sambil tertawa geli.