Chapter 39
Cu Liong menjadi panas dingin.
Ia teringat akan pengalamannya ketika terjebak wanita iblis berpakaian serba ungu dulu.
Sekarang ia terjebak kembali hanya karena ingin menolong gadis yang hampir diperkosa itu.
"Dasar tolol! Mudah terpikat paras cantik!" umpatnya marah terhadap diri sendiri.
Sejak dirinya terkena totokan di taman, Cu Liong telah mengatur napas menurut petunjuk kitab pusaka yang dicuri gurunya, Liok Ing Gie! Maka dia diam saja diperlakukan semaunya oleh kedua wanita tadi.
Sekarang jalan darahnya hampir terbuka. Dia mengawasi ketiga wanita itu bergantian.
Di bawah cahaya lampion merah, kuning, dan hijau, ketiga gadis itu tampak seperti dewi-dewi yang turun ke dunia. Wajah ketiganya semakin cantik terkena cahaya lampion tersebut. Akan tetapi, Cu Liong tahu bahwa di balik kulit putih halus itu tersembunyi iblis betina, siluman!
Ketiga wanita itu sambil tertawa haha-hihi telah meloloskan pakaian mereka. Satu per satu! Sehingga tubuh mereka tampak berkilat aneh di bawah cahaya lampion. Ketiganya tanpa malu sedikit pun mendekati tempat tidur!
"Hi-hi-hi...!" Sambil tertawa genit, Ui Nio mengulurkan kedua tangannya.
"Ingat, aku yang mendapatkan giliran pertama!" Sang Toaci berseru.
"Ya, tentu saja sebagai orang tertua, Toaci berhak lebih dahulu!" Si Baju Biru pun menyela sambil tertawa genit.
Ketiga orang itu maju sambil mengulurkan tangan-tangan mereka. Keadaan ini membuat Cu Liong memperkuat usahanya menjebol jalan darah yang sebagian telah terbuka tadi.
Plak-plak-plak...!!
"Aduh...!" Hampir bersamaan, ketiga wanita cabul itu berteriak kesakitan. Pipi kanan terasa panas dan pedih. Ketika mereka saling pandang, tampak di pipi kanan itu telapak tangan membekas kemerahan. Dan darah merah mengalir dari sudut bibirnya!
"Bangsat wanita terkutuk! Perbuatan kalian ini sungguh tidak patut dilakukan wanita baik-baik. Untung aku masih menaruh kasihan kepada kalian!" tegur Cu Liong keras.
"Keparat...!" "Lelaki jahanam...!" "Bangsat terkutuk! Pemuda calon intip (kerak) neraka!" Begitu selesai mereka mengeluarkan umpatan, ketiganya menubruk maju dengan kedua tangan membentuk cengkeraman.
Wut-wut-wut...!!
Dielakkan Cu Liong dengan loncatan tinggi dan pemuda itu pun segera berkelebat ke sana-sini mengelakkan ceceran yang tak boleh dipandang ringan itu. Sesekali pemuda itu membalas serangan ketiga gadis telanjang itu. Setiap kali Cu Liong menggerakkan tangan menangkis, terdengar suara keras dari tulang tangan beradu dan teriakan lirih dari dara yang tangannya beradu dengan tangan Cu Liong.
Akan tetapi, serangan wanita itu pun semakin hebat. Terdengar suara bersiut ketika jari-jari yang membentuk cakar elang itu melakukan serangan-serangan ganas! Beberapa belas jurus berlalu dengan cepat sekali. Cu Liong menghilangkan rasa jengahnya menghadapi wanita telanjang yang memiliki lekuk lengkung sempurna itu.
Ketika serangan tiga wanita telanjang itu semakin liar dan ganas, ia lalu menurunkan tangan berat kepada ketiga wanita tak tahu malu itu.
Des...!!
Kembali jari tangan Cu Liong berhasil menotok gadis bertahi lalat di atas bibirnya.
Plak... Blug... Sang Toaci pun menyusul kedua adiknya meringkuk di atas ubin dingin kuil. Lehernya terkena tamparan cukup keras dari tangan kanan Cu Liong.
Cu Liong berdiri di tengah ruangan melihat mereka satu per satu. Dalam benak pemuda ini tidak sedikit pun terusik oleh keindahan tubuh mulus ketiga gadis cantik telanjang itu. Ia hanya memandang mereka penuh penasaran dan pertanyaan. Cepat Cu Liong maju dan menotok dengan kedua jarinya.
Tuk-tuk...!!
Dan gadis tertua itu pun menggeliat-geliat menahan rasa sakit luar biasa, merasa tubuhnya seperti ditusuk ribuan jarum di bagian dalam tubuhnya.
"Ssshhh... aaadduh... shhhhaaa... kiiiiit... toloooong... ampuunn..." rintihnya menyedihkan sekali.
Akan tetapi, Cu Liong hanya melihat saja. Sama sekali tidak turun tangan untuk menolong.
"Katakan siapa kalian? Mengapa menjebakku? Jika kalian tak ingin merasakan siksaan yang lebih hebat dariku!" "Baik... akan kukatakan...!" Akhirnya Sang Toaci menyerah juga. Tidak kuat ia menahan penderitaan itu. Kedua adiknya ternyata telah tertidur panjang alias pingsan!
"Siapa kalian?" Tanya Cu Liong setelah menotok dua kali, membebaskan gadis itu dari siksaan.
Dengan kedua mata basah oleh air mata yang tak mau berhenti mengalir, Sang Toaci ini menjawab tersendat.
"Kami bertiga murid Perkumpulan Seruni Ungu." "Mengapa berusaha menangkapku?" "Kami hanya menjalankan perintah Sianli, guru kami." "Hem..." Cu Liong mendengus pendek.
"Di mana markas kalian? Cepat! Aku tidak mempunyai banyak waktu!" "Di... di kota..." "Tepatnya di mana?" Cu Liong mendesak. Sama sekali tidak dapat menggunakan racun-racun mereka yang berada di dalam saku bajunya. Sungguh celaka sekali! Demikian bisik hatinya pelan, penuh sesal!
Mendengar bentakan Cu Liong yang tadi hampir saja menjadi korbannya itu, gadis tertua ini segera menjawab cepat. Ingin segera terlepas dari siksa dan hinaan lebih lama.
"Di rumah penghibur Seruni!" "Awas! Jika bohong akan kutabas kepala kalian!" Cu Liong segera berjalan pelan keluar dari ruangan kuil. Tanpa menengok sama sekali kepada wanita cantik bertubuh tanpa benang sehelai pun itu.
Baru saja pemuda itu tiba di pintu depan kuil, tiba-tiba saja Cu Liong menggerakkan tangan kanan dan seleret sinar kehijauan terbang membalik ke belakang.
Wir... krak... Bruk...!!
Tubuh indah itu pun menggeletak bersimbah darahnya sendiri ketika dadanya tertancap Golok Naga Terbang! Maksudnya, gadis itu hendak membokong jago kita dengan serangan senjata rahasianya yang ampuh. Yakni peluru besi yang dapat meledak! Akan tetapi dengan sekali lirik saja, Cu Liong telah tahu bahaya sehingga cepat menggerakkan golok dengan Ilmu Golok Terbang yang diajarkan San In Tojin.
"Diberi jalan hidup, malah memilih mampus. Salahmu sendiri!" Cu Liong pun segera berkelebat keluar kuil setelah mencabut senjata pusakanya dari dada wanita telanjang.
Tak lama kemudian, pemuda itu telah tiba di rumah penginapannya. Hari telah menjelang tengah malam ketika Cu Liong tiba di jalan samping rumah penginapan itu. Sekali mengentak kaki, tubuhnya telah melayang memasuki jendela kamarnya.
Memang sengaja Cu Liong tidak mengunci daun jendela kamarnya, tanpa mengeluarkan suara sama sekali, pemuda itu memasuki kamar. Akan tetapi, begitu berada di tengah kamar, Cu Liong merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya.
"Siapa...?" serunya.
Byar...! Setelah terdengar suara kecil, api pun menyala menyambar sumbu pelita. Dan dalam ruangan itu tampak seorang kakek berpakaian nelayan. Wajahnya tersenyum memandang Cu Liong.
"He he-he... apa kabar, anak muda? Kaget...?" "Maafkan kalau Lohu mengagetkanmu, he-he-he...!" Si Nelayan Pantai Timur tertawa geli melihat anak muda murid Liok Ing Gie siap menyerangnya.
"Ah, Locianpwe? Kukira... utusan?" Cu Liong terpaksa menahan ucapannya ketika Nelayan Pantai Timur bertanya.
"Kau kira siapa...?" "Itu... Iblis Seruni Ungu...?" jawab Cu Liong sambil maju menuju ke tempat duduk, mendekati orang tua itu.
"Ha...?" Si Nelayan Pantai Timur kaget mendengar ucapan Cu Liong ini.
"Celaka... tahukah kau di mana muridku, Gin Nio...?" "Gin Nio...?" Cu Liong tergagap. Pikirannya melayang ketika murid nelayan itu bersamanya saat itu. Dan ia tidak kuasa menolong ketika Gin Nio dilarikan tosu busuk yang menyamar dirinya itu.
"Ya, Gin Nio! Pergi ke mana anak nakal itu? Apakah tidak bersamamu...?" "Gin-moi... Gin-moi..." Cu Liong merasa tenggorokannya tersumbat ketika hendak menceritakan kejadian itu. Akan tetapi, setelah dapat menenangkan diri, ia pun lalu menceritakan kejadian ketika Gin Nio terkena sihir pendeta berjubah merah Takonaya dan akhirnya ketika ia hendak menolong, telah dibawa lari pendeta Sim Tok Tojin. Sampai sekarang Cu Liong belum berjumpa lagi.
"Entah ke mana dia setelah berpisah itu. Mungkin masih disekap Sim Tok Tojin atau bisa juga telah lolos dari cengkeraman bangsat cabul tersebut. Sampai sekarang hamba belum bertemu, Locianpwe." "Disambar geledek...!" umpat Si Nelayan Pantai Timur.
"Wah, celaka jika begitu. Aku harus menuntut bela muridku!" "Di kota ini juga ada sarang dari Cu Kiok Sianli, Locianpwe. Iblis berbaju ungu itu hamba kejar sampai ke kota ini, dan tadi ketiga utusannya telah hamba lumpuhkan di kuil. Menurut keterangan mereka, markas mereka di rumah penghibur Seruni!" Wajah Nelayan Pantai Timur berubah kemerahan mendengar ucapan Cu Liong. Secercah cahaya memasuki relung hatinya yang pepat mendengar murid perempuannya ditangkap Sim Tok Tojin.
"Cepat kita ke sana!" Tanpa menanti jawaban lagi, Nelayan Pantai Timur meloncat keluar dari jendela yang masih terbuka. Cu Liong menggerakkan tangan dan lampu itu pun padam. Lalu ia pun meloncat keluar dari jendela, mengejar Nelayan Pantai Timur menuju rumah penghibur Seruni di sebelah utara kota.
Seperti dua ekor burung raksasa, keduanya beterbangan dari satu rumah ke rumah lainnya. Gerakan mereka cepat dan lincah. Tak lama kemudian mereka tiba di samping Rumah Penghibur Seruni.
"Hati-hati, Liong! Di belakang bangunan utama itu tampak banyak penjaga berjalan hilir mudik." Cu Liong mengangguk. Sepasang matanya mengawasi rumah depan yang penuh lampion warna-warni. Sepasang mata pemuda ini melihat pemandangan yang seumur hidup belum pernah dilihatnya.