Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 40

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 40

Tampak seorang lelaki dan seorang perempuan sedang memadu kasih dalam keremangan cahaya lampion tanpa rasa malu sedikit pun. Mereka mengabaikan orang lain yang berada di tempat itu. Memang sudah jamak bahwa dosa tidak berdiri sendiri; dosa selalu mencari teman. Perbuatan asusila yang dilakukan pria dan wanita di taman serta ruangan itu sudah membudaya sejak zaman kuno.

Wajah Cu Liong memerah karena jengah. Dengan cepat, ia mengalihkan pandangan ke bagian belakang ruangan induk.

"Kita dapat menyusup melalui pohon itu, Locianpwe," kata Cu Liong sambil menunjuk sebatang pohon berdaun lebat di samping tembok pagar.

"Mungkin saja," sahut Nelayan Pantai Timur sambil memperhitungkan jeda waktu para peronda yang lewat. "Sesaat setelah para peronda itu lewat, kita akan langsung naik ke atas loteng di sana!"

"Baik, Locianpwe."

Cu Liong pun mengendap-endap mendekati pohon, diikuti oleh si nelayan tua tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Bagaikan dua ekor burung yang terbang melintas, keduanya telah bertengger di balik bubungan rumah. Kedua penyusup ini mengawasi keadaan sekeliling; situasi aman.

"Ha-ha-ha, mengapa harus bersusah payah?" terdengar suara parau yang mengejek. "Serahkan saja bajingan kecil itu kepadaku! Besok akan kubawa kepalanya ke sini. Ha-ha-ha!"

Suara kecupan terdengar jelas di tengah malam yang dingin itu. Perlahan-lahan, Nelayan Pantai Timur dan Cu Liong membuka genting. Saat mengintip dari celah tersebut, tampak beberapa orang sedang berpesta di dalam ruangan.

"Dasar iblis pejantan! Baru saja menggumuli lima orang, tetapi masih belum puas juga! Hei, Muka Singa, kapan kau bisa menjauh dari pinggul wanita itu? Dari tadi kulihat kau mendekam terus di situ!" ucap seorang lelaki bertubuh kurus tinggi dengan wajah pucat seperti kekurangan darah.

"Iblis tua bangka! Tentu saja kau iri kepadaku. Mayat Hidup sepertimu mana ada wanita yang mau mendekat, haha...!" ejek Iblis Muka Singa.

Si Mayat Hidup melotot menatap rekannya. "Kau pikir aku tidak bisa mendekati perempuan? Lihat!"

Si Mayat Hidup memanggil seorang perempuan muda yang mengenakan pakaian sutra tipis tembus pandang. "Hei, kau ke mari!"

Perempuan cantik itu pun mendekat. Si Mayat Hidup menatap tajam kedua mata perempuan tersebut. "Tanggalkan pakaianmu! Menarilah!" perintahnya dengan lantang.

Ajaib, perempuan muda itu menuruti perintah Si Mayat Hidup. Ia menanggalkan pakaiannya dan menari tanpa sehelai benang pun.

"Hayo, teruslah menari dengan menggoda!" Si Mayat Hidup kembali membentak dengan suara yang penuh pengaruh.

Perempuan itu pun melakukan perintah tersebut dengan patuh. Terdengar siulan di sana-sini dari lelaki-lelaki bertampang seram. Si Mayat Hidup semakin bangga dan bertindak semakin gila.

"Kau! Kau! Dan kau! Ayo, ikuti teman kalian dan menarilah!"

Tiga wanita muda lainnya turut menanggalkan pakaian sutra mereka. Ketiganya menari tanpa aturan di tengah ruangan. Empat penari bugil itu meliuk-liukkan tubuh mereka. Akibatnya sungguh nyata. Para lelaki berwajah kriminal di ruangan itu terbelalak melihat keempat penari tersebut; mata mereka seakan hendak melompat keluar.

Namun, sebelum kegilaan itu mencapai puncaknya, tiba-tiba terdengar suara lantang.

"Hentikan! Ayo, semuanya kembali ke dalam!"

"Eh, mengapa aku menanggalkan pakaianku?"

"Dingin sekali!"

"Cepat ambil pakaian!"

Mendengar perintah itu, keempat wanita tersebut berlomba lari mengambil pakaian mereka. Meskipun mereka adalah wanita penghibur, mereka tetap merasa malu mendapati diri mereka telanjang di tengah ruangan, apalagi di bawah tatapan penuh nafsu dari orang-orang berwajah seram.

"Cukup! Kita sedang menghadapi masalah serius. Kuharap Cu-wi sekalian mempersiapkan diri. Dua orang anak buahku telah melapor tentang kegagalan mereka menangkap pemuda itu," kata pendeta tua itu dengan lantang. "Sianli telah memesanku agar mencegat mereka di kota ini. Kuharap bantuan Cu-wi sekalian untuk melakukan apa yang diperintahkan Sianli. Semua kebaikan Cu-wi tentu akan mendapat imbalan semestinya dari perkumpulan kami."

"Beres! Biar kubawa kepala pemuda bergelar Pendekar Naga Terbang itu ke sini. Ha-ha-ha, ayo kita berlomba, Mayat Hidup! Siapa yang lebih lihai di antara kita?" Iblis Muka Singa tertawa terbahak-bahak.

"Kuharap Cu-wi jangan memandang rendah anak muda tersebut, sebab..." Tosu itu menghentikan ucapannya saat melihat sesosok bayangan berkelebat ke tengah ruangan.

"Siapa kau?"

"Heh, tempat maksiat memang menjadi sarang iblis di mana pun berada!" Begitu tiba, Nelayan Pantai Timur langsung tertawa terbahak-bahak.

Orang-orang di ruangan itu sangat terkejut melihat orang tua aneh tersebut tiba-tiba muncul di tengah ruangan. Beberapa dari mereka berseru, "Nelayan Pantai Timur?"

"Bunuh tua bangka itu!" teriak tosu tua yang menjadi pemimpin di rumah pelesiran Seruni tersebut.

Perintah itu segera disambut dengan teriakan-teriakan liar. Orang-orang itu maju mengeroyok Nelayan Pantai Timur. Senjata di tangan mereka berkilat tertimpa cahaya lampion, menandakan ketajamannya. Desing senjata tajam berdesing membelah angin setiap kali meleset dari sasaran. Namun, Nelayan Pantai Timur adalah seorang jagoan tua yang berpengalaman. Sambil mengejek, ia menyelinap di antara hujan senjata dan sesekali membalas dengan serangan hebat. Empat orang telah tersungkur akibat tamparan dan tendangan Nelayan Pantai Timur.

"Mampuslah kau, bajingan!" teriak Muka Singa sambil membacokkan golok besarnya dengan tenaga raksasa.

"Hiaat!" Dari arah belakang, menyambar senjata sekop multifungsi milik Si Mayat Hidup. Dari kanan dan kiri, golok, pedang, serta tombak juga datang hampir bersamaan, siap menghujam tubuh Nelayan Pantai Timur. Seolah tidak ada celah untuk meloloskan diri.

"Aih, mati aku!" Nelayan Pantai Timur menjatuhkan tubuhnya ke samping, lalu bergulingan menyerang kaki lawan.

"Awas!"

Salah seorang lelaki berjenggot mendekap dadanya yang terkena ujung tombak temannya sendiri karena sasarannya menghilang. Sementara itu, golok besar di tangan Si Muka Singa menghantam sekop milik Si Mayat Hidup.

"He-he-he, bagaimana? Sedap, bukan?" kakek tua itu mengejek dari sudut ruangan.

Tiba-tiba, belasan senjata rahasia meluncur cepat ke arahnya. Ternyata tosu tua yang sejak tadi hanya menonton kini turun tangan.

"Hampir saja! Hei, kenapa tidak segera turun? Nyawaku hampir melayang, Bocah!" Nelayan itu melesat ke atas balok penyangga bangunan untuk menghindar.

"Kebakaran! Kebakaran! Tolong, ada kebakaran!" terdengar teriakan orang meminta tolong.

Saat orang-orang itu kebingungan, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat, disusul sinar kehijauan yang menyambar secepat kilat. Terdengar suara senjata-senjata yang berjatuhan menimpa ubin. Di tengah ruangan, berdiri seorang pemuda tampan mengenakan rompi bergambar naga bersayap, tersenyum mengejek. Di tangan kanannya, tampak sebatang golok yang memancarkan sinar kehijauan.

Si Mayat Hidup dan Si Muka Singa tergetar hatinya melihat kelihaian pemuda yang baru tiba ini. Sementara itu, wajah tosu tua berjubah abu-abu berubah pucat.

"Pendekar Naga Terbang!" serunya dengan gentar.

"Apa? Pendekar Naga Terbang?" seru Si Muka Singa terkejut. Ia tidak menyangka pemuda itu begitu lihai. Nyalinya yang tadi besar seketika menciut.

"Bunuh!" Si Mayat Hidup berteriak untuk membangkitkan semangat. Tubuhnya yang tinggi kurus meluncur maju dengan senjata sekopnya, mengincar kepala Cu Liong.

"Mampus!" Golok besar Si Muka Singa pun turut menyerang ke arah perut. Orang-orang lainnya serta tosu tua itu pun bergerak maju menyerang secara bersamaan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment