Chapter 41
Pendeta berjubah abu-abu itu memegang sepasang belati pendek di kedua tangannya. Walaupun usianya telah uzur, gerakan tosu tua itu masih sangat gesit. Namun, mereka semua kini sedang menghadapi seorang jago muda yang namanya baru saja melambung karena kelihaiannya. Perbuatan Cu Liong di Hong-ma-cung telah membuktikan bahwa pendekar muda ini bukanlah pendekar kacangan belaka.
Melihat datangnya serangan itu, Cu Liong melengking panjang. Tubuhnya berputar cepat sambil menggerakkan senjata Hui-liong-to di tangan.
Trang! Trang!
Crak! Crak!
Crok!
Des!
Blek!
Lima orang terlempar ke belakang dan tidak bangun lagi karena nyawa mereka telah menemui Giam-lo-ong untuk melaporkan perbuatan yang telah dilakukan semasa hidup di dunia. Pemuda itu memang sangat hebat. Ketika tubuhnya berputar tadi, tangan kiri dan kakinya masih dapat membantu serangan Hui-liong-to setelah senjata itu menangkis serangan para pengeroyoknya.
Sekarang yang tersisa hanya tosu tua bersenjata belati di tangan kiri, si Mayat Hidup yang melotot memandangi gagang sekop dwifungsinya, serta si Muka Singa yang berwajah pucat seputih kertas. Si Muka Singa mengelus dagunya yang kini bersih dari berewok kawat karena baru saja dicukur oleh senjata si pemuda.
"Hebat! Luar biasa!" puji Nelayan Pantai Timur.
"Sebelum kalian mati, cepat katakan di mana Iblis Seruni Ungu?" ejek Cu Liong kepada ketiga lawannya.
"Setan!" umpat tosu tua itu sambil meludah.
"Bangsat!" Si Muka Singa pun mengumpat dengan gagap.
"Lebih baik mati daripada membuka rahasia!" si Mayat Hidup menyumpah.
"Maju!"
Sebelum ketiga orang itu bergerak maju, tiba-tiba terdengar bentakan lantang, "Tahan!"
Nelayan Pantai Timur telah berdiri di depan ketiga orang itu. "Tunggu sebentar, sabar! Lohu ingin mencari keterangan dulu."
"Bangsat tua, apa maksudmu? Keterangan apa yang kau mau?" Si Muka Singa mencoba memperlihatkan kegarangannya, meskipun sebenarnya nyalinya telah hancur.
"He-he-he, orang mau mampus saja terburu-buru. Sabar, dong!" Nelayan tua itu tertawa mengejek. "Tahukah kalian di mana murid perempuanku? Seorang dara cantik jelita bak bidadari. Ayo mengaku!"
"Tua bangka gila! Siapa sudi mengurus muridmu? Di sini tidak ada tawanan wanita! Minggir!" Tosu tua itu mendorongkan tangan kirinya ke depan. Angin dingin menyambar dada nelayan tua dengan deru yang cukup kuat.
"He-he-he, mau mencoba, ya? Baik, sambutlah!" Nelayan Pantai Timur mendorongkan sebelah tangannya untuk menyambut serangan tersebut.
Des!
Tosu tua berjubah abu-abu itu terlempar ke belakang hingga menabrak dinding. Tubuhnya merosot seperti kain basah. Darah segar mengalir dari mulutnya dan sepasang matanya terbelalak tanpa sinar lagi. Ia tewas seketika. Tenaga pukulannya membalik, ditambah lagi dengan dorongan tenaga sakti kakek nelayan itu.
"Cu Liong, ampuni dua cecunguk itu, he-he-he!" Nelayan Pantai Timur mengajak pendekar muda itu pergi.
"Baik, Locianpwe," jawab Cu Liong sambil mengikuti si kakek keluar.
Baru dua langkah berjalan, tiba-tiba Cu Liong berbalik sambil menggerakkan tangan kanannya.
Sing! Wir! Wir!
Si Muka Singa dan si Mayat Hidup terjungkal dengan tubuh tanpa kepala. Saat keduanya mencoba menyerang dari belakang dengan pukulan jarak jauh sambil melompat, seleret sinar hijau melayang menyambar. Sebelum mereka menyadari apa yang terjadi, kepala mereka telah terpental terkena sambaran sinar hijau tersebut. Dua kepala itu meringis memperlihatkan gigi yang tidak rata.
"Uh, dasar penjahat! Dikasih ampun tidak mau, ya sudah!" Nelayan Pantai Timur mengejek.
Sebentar saja, kedua orang itu telah berloncatan meninggalkan tempat tersebut. Api masih berkobar membakar ruangan depan yang biasanya digunakan sebagai tempat pelesir untuk memuaskan nafsu. Cu Liong sengaja membakar sarang maksiat itu untuk melampiaskan kedongkolannya sekaligus mencegah tempat itu menjadi sarang iblis lagi.
Namun, mungkinkah ini akan abadi? Tidak mungkin. Setan telah turun ke dunia. Kuasa kegelapan telah melingkupi dunia serta manusia yang lemah iman. Mereka mudah ditipu dengan bujuk rayu kenikmatan dunia yang sementara. Dengan licik, setan memasuki pikiran manusia sehingga mereka selalu membenarkan tindakannya dengan dalih yang muluk, mencari kebenaran semu, dan memuaskan keinginan pribadi. Semua ini ditambah dengan kebudayaan yang diwariskan oleh para penyembah berhala dan pengabdi setan. Sejak zaman dahulu hingga sekarang, kuasa kegelapan terus mencari teman untuk menghuni neraka, tempat setan menjalani hukuman abadi. Kuasa kegelapan tidak mau sendirian di tempat terkutuk itu, maka mereka menjerat manusia agar melawan Sang Pencipta Langit dan Bumi. Bagi orang beriman, mereka tidak akan menuruti bujuk rayu iblis dan akan menyandarkan hidup sepenuhnya dalam lindungan-Nya dengan menjalankan perintah serta petunjuk-Nya.
Banyak orang berusaha memadamkan api yang membakar Rumah Pelesir Seruni. Namun, karena gedung itu sengaja dibakar oleh Cu Liong menggunakan minyak, usaha mereka sia-sia. Hingga pagi hari, asap kehitaman masih mengepul dari reruntuhan.
Cu Liong dan Nelayan Pantai Timur kembali ke penginapan. Keduanya masuk melalui jendela samping yang menghadap ke jalan.
"Wah, tak kusangka ilmu kepandaianmu sehebat itu! Siapa yang mengajarimu? Apakah Liok Ing Gie sendiri?" tanya Nelayan Pantai Timur memuji Cu Liong sesampainya di kamar.
Sambil berbenah, Cu Liong menjawab, "Saya belajar dari kitab peninggalan Suhu, Locianpwe."
"Aneh. Ing Gie dapat dari mana kitab itu? Setahuku ilmu andalannya hanya permainan Golok Terbang. Kapan ia menciptakan ilmu sedahsyat itu?" Nelayan Pantai Timur bergumam sendiri, sementara Cu Liong tidak menyahut dan sibuk membungkus pakaiannya.
Hari telah menjelang pagi. Penduduk kota sudah ramai berlalu-lalang, apalagi kebakaran di Rumah Pelesir Seruni membuat banyak orang tidak bisa tidur dan keluar untuk menyaksikan kejadian itu, meski jarang ada yang membantu memadamkannya.
Setelah membayar sewa kamar, Cu Liong bersama Nelayan Pantai Timur menuju luar kota. Kakek itu mendesak Cu Liong menceritakan pengalamannya. Cu Liong pun menceritakan kejadian di Hong-ma-cung dan perjalanannya mengejar tosu tua Sim Tok Tojin, penculik murid si nelayan.
"Saya ingin mengejarnya ke Bukit Iblis, Locianpwe. Menurut murid pendeta keparat itu, Coa Sim Ok, Bukit Iblis terletak di perbatasan Shensi dan Shansi, dekat dengan Kota Delapan Dewa," Cu Liong mengakhiri penjelasannya.
"Hem, Bukit Iblis? Disambar geledek! Bangsat tua, awas kau! Berani mengganggu seujung rambut muridku, kuhancurkan tubuhmu dan kucabut jantungmu!" ancam Nelayan Pantai Timur.
Cu Liong menoleh, merasa geli melihat nelayan tua itu mencak-mencak.
"Bocah! Ayo cepat kita ke sarang tua bangka keparat itu!" Nelayan tua itu segera melesat mendahului. Cu Liong pun mengerahkan seluruh ilmu lari cepatnya untuk mengejar orang tua yang ternyata memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat tersebut. Tak lama kemudian, hanya nampak dua titik kecil yang saling kejar di kejauhan.
Kota Delapan Dewa adalah sebuah kota besar yang terletak di perbatasan Provinsi Shensi dan Provinsi Shansi. Di sebelah utara kota terdapat pelabuhan besar yang dilalui aliran Sungai Kuning. Kota itu sangat ramai sebagai pusat perdagangan dan persimpangan dari empat kota besar. Di setiap delapan penjuru pintu kota terdapat kelenteng yang memuja dewa yang berbeda-beda.
Siang itu, keadaan di Kota Delapan Dewa semakin ramai. Kedatangan tokoh-tokoh kang-ouw yang beraneka ragam membuat suasana kian semrawut, apalagi dengan hadirnya berbagai perkumpulan persilatan yang membawa banyak anak buah. Kedatangan mereka berkaitan dengan pengejaran terhadap Sim Tok Tojin, pendeta tua berjubah abu-abu yang menyamar sebagai Pendekar Naga Terbang. Pendeta itu telah membunuh dan memperkosa banyak murid partai persilatan di daratan dengan bantuan dua pendeta ahli sihir dari tanah barat, yakni Takonaya dan Takonana.
Di tengah keramaian itu, tampak seorang gadis berbaju merah berjalan sendirian. Wajahnya kemerahan tertimpa terik matahari musim kemarau, menambah kecantikannya. Gadis muda itu adalah sisa dari Hoa-san Ngo-liong-kiam, sang pendekar wanita dari Hoa-san bernama Lie In Nio. Ia berjalan sambil menebarkan pandangan ke sekelilingnya.