Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 42

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 42

Ketika matanya melihat tulisan besar rumah makan di pinggir jalan, ia segera melangkahkan kakinya memasuki rumah makan tersebut. Seorang pelayan tua menyambutnya. Setelah memesan beberapa macam masakan, In Nio mengawasi pengunjung tempat itu dengan lirikan matanya yang jeli.

Ia merasa tidak ada orang yang dikenalnya di sana. Maka, ketika pelayan menghidangkan masakan pesanannya di atas meja, In Nio segera menikmati hidangan itu dengan tenang. Selagi asyik makan siang, tiba-tiba kepala gadis itu ditarik ke belakang dan tangan kanannya yang memegang sumpit bergerak ke depan.

*Sing! Trak!*

Sebuah *piauw* terjepit di sumpitnya. In Nio menoleh ke arah luar rumah makan, namun terlalu banyak orang berlalu-lalang sehingga ia tidak tahu siapa pelemparnya. Ketika diteliti, ternyata pada *piauw* tersebut terdapat gulungan surat.

"Bedebah! Berani betul menantangku!" umpat In Nio lirih usai membaca isi surat tersebut.

Segera ia menyelesaikan makannya. Setelah membayar di kasir, In Nio bertanya mengenai letak Kuil Dewa Air. Pengurus rumah makan memberi tahu arahnya dengan hormat. Setelah mengucapkan terima kasih, In Nio segera menuju ke utara.

In Nio memasuki Kuil Dewa Air. Baru saja ia melangkah masuk, seorang pendeta cilik menyambutnya sambil menyodorkan sebuah surat.

"Lihiap pendekar dari Hoa-san, bukan? Tadi ada seorang juragan gemuk menitipkan surat agar diserahkan kepada Lihiap yang berkunjung ke mari."

"Terima kasih," jawab In Nio. Ia segera membaca isi surat tersebut. Wajahnya memerah dan sepasang matanya yang indah berkilat marah.

"Keparat! Dikira aku tidak berani? Biar sampai ke ujung langit pun aku akan mengejarmu!"

Ia segera membalikkan tubuh dan keluar dari pintu kota. Tak lama kemudian, dara berbaju merah ini telah berlari menuju sebuah bukit kecil. Setelah memasuki hutan, tibalah In Nio di sebuah lapangan luas di puncak bukit. Sepasang matanya meneliti ke sekeliling, namun tidak tampak seorang pun manusia di sana.

"Bangsat pengecut! Aku sudah datang! Tunjukkan ekormu, babi gemuk!" teriak In Nio. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Ia merasa marah karena merasa dipermainkan oleh pengirim surat tersebut.

"Tunggu! Ha-ha-ha, ternyata murid Hoa-san bernyali naga. Mari, mari ke sini, Manis. Mempelai laki-laki sudah tak sabar menanti, ha-ha-ha!" Coa Sim Ok tertawa bergelak.

Di belakang pria pendek gemuk yang menyerupai gentong itu, tampak belasan wanita cantik dengan pedang di pinggang. Entah dari mana mereka datang, tiba-tiba saja mereka sudah berada di puncak bukit tersebut.

"Babi tak berjantung! Sekarang aku tidak akan membiarkanmu lepas dari tanganku! Bersiaplah!"

Tanpa menunggu jawaban lagi, In Nio meluncur menyerang dengan pedangnya.

"Hait!" Coa Sim Ok terkejut melihat kegesitan dara berbaju merah ini. Namun, jago gendut bekas Wakil Ketua Hui-liong-pang ini bukanlah orang sembarangan. Ia mengelak ke kiri, dan saat serangan susulan datang, ia segera mencabut senjatanya untuk menangkis.

*Trang!*

Bunga api berpijar. Kedua orang itu terlempar ke belakang. In Nio segera memeriksa pedangnya dan merasa lega karena senjatanya tidak rusak saat beradu dengan golok besar milik Coa Sim Ok. Sementara itu, Sim Ok tertawa bergelak karena menyadari bahwa tenaga dalam mereka berimbang. Ia segera menggelundung maju menyerang. In Nio pun memainkan ilmu pedang *Ngo-heng-kiam* ajaran Ketua Hoa-san.

Terjadilah pertarungan sengit di puncak bukit. Sinar pedang panjang berkelebatan dan menusuk dengan kecepatan kilat, diimbangi dengan babatan golok yang diputar seperti payung perak di depan tubuh si gendut. Belasan wanita cantik anak buah Cu Kiok Sianli, si Iblis Penghisap Sukma, hanya memandang pertarungan itu sambil mengepung kedua orang yang sedang bertarung.

Akan tetapi, beberapa saat kemudian, belasan wanita itu mulai memandang khawatir ke tengah medan laga. Ternyata In Nio masih unggul dalam hal kelincahan dibandingkan lawannya. Gerakan ilmu pedang *Ngo-heng-kiam* ternyata dapat dimainkan seorang diri dengan baik, meski tidak sehebat jika dimainkan berlima. Pedang di tangan In Nio terus menusuk dan menebas di sekeliling tubuh Sim Ok. Orang gendut itu mulai kerepotan mengikuti gerakan lawannya; tenaganya banyak terkuras untuk menggerakkan golok beratnya.

Sim Ok berusaha menahan gempuran. "Cepat bantu tangkap kuda binal ini!" serunya.

Tanpa perintah dua kali, belasan wanita itu merangsek maju dengan pedang terhunus.

"Awas! Jangan lukai dia! Tangkap saja hidup-hidup! Sayang kalau kulitnya yang halus tergores!" teriak Sim Ok sambil membanting tubuhnya menggelundung menjauh. Hampir saja kepalanya terkena sabetan pedang saat ia kehilangan fokus karena memperingatkan anak buahnya.

"Hampir saja!" Sim Ok mengusap peluh dingin di dahi dengan wajah pucat. Namun, ia segera terjun kembali ke arena pertarungan untuk membantu anak buah Cu Kiok Sianli.

*Trang! Trak! Tuk!*

Dara berpakaian merah itu akhirnya terkulai lemas. Pedangnya terlepas setelah menangkis serangan lawan-lawannya. Dalam keadaan terdesak, In Nio berusaha menahan golok Coa Sim Ok yang menyambar dahsyat, namun pedangnya terpental karena tangannya tak lagi kuat menahan beban. Saat ia mencoba mengelak dari ujung pedang dua orang wanita, Coa Sim Ok tidak melewatkan kesempatan. Tangan kirinya menyambar dan dara berbaju merah itu pun terkena totokan.

"Ringkus dia!" perintah Sim Ok. Dua orang maju untuk mengikat In Nio.

Sambil tertawa kegirangan, Sim Ok memerintahkan rombongannya untuk kembali. Namun, baru beberapa tindak mereka melangkah, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan.

"Tahan! Lepaskan dara itu!" terdengar bentakan nyaring.

Seorang gadis remaja berdiri anggun menghalangi jalan mereka. Sepasang mata Coa Sim Ok bersinar penuh nafsu melihat kecantikan gadis di depannya. Ia merasa pernah melihat gadis ini, namun lupa di mana.

"Eh, manis, mengapa menahan kami? Lebih baik kau ikut aku menikmati surga dunia, ha-ha-ha!" Sim Ok berlagak gagah di depan gadis itu, meski ia justru terlihat seperti babi mencium terasi.

"Siluman babi! Cepat lepaskan dia!" bentak Tan Gin Nio lantang.

"Kalau tidak kulepaskan, kau mau apa?" tanyanya mengejek.

Sebelum Tan Gin Nio menjawab, tiba-tiba terdengar teriakan dari jauh. "Nona di depan, jangan lepaskan babi gemuk itu! Dia murid Sim Tok To-jin, penjahat besar!"

Mendengar hal itu, wajah Gin Nio berubah tegang. Ia teringat kepada pendeta yang pernah menculiknya. Untungnya, ia sempat ditolong oleh seorang pertapa tua bernama San In Lojin.

Dahulu, saat Gin Nio dilarikan oleh Sim Tok To-jin dan pendeta berjubah merah bernama Takonaya, seorang kakek tua mendadak menghadang jalan mereka.

"Sim Tok! Semakin tua perbuatanmu semakin jauh dari kebenaran! Lepaskan dara itu!" seru sang kakek.

"Siapa kau? Kenapa mencampuri urusanku?" balas Sim Tok To-jin.

"Aku? Aku sendiri sudah lupa siapa diriku. Tapi yang jelas, Sim Tok, kembalilah ke jalan yang benar sebelum terlambat."

"Tua bangka keparat!" bentak Takonaya sambil melancarkan serangan. Belasan jarum hitam menyambar ke arah kakek tersebut. Namun, kakek itu hanya tersenyum tenang meski jarum-jarum menancap di pakaian putihnya.

"Takonaya, apakah gurumu tidak mengajarkan kejujuran?" tanya sang kakek damai.

"Iblis!" umpat Takonaya dengan gentar.

Sim Tok To-jin pun terkejut. Ia segera melancarkan pukulan jarak jauh yang mengandung racun dahsyat. Namun, justru Sim Tok yang terpental ke belakang dengan wajah pucat pasi. Ia tidak percaya ada manusia yang kuat menerima pukulannya. Karena ketakutan, kedua penjahat itu melarikan diri dan meninggalkan Gin Nio begitu saja. San In Lojin hanya tersenyum melihat mereka pergi, lalu mengebutkan jubahnya hingga jarum-jarum tersebut berguguran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment