Chapter 43
Lalu, pertapa tua ini menggerakkan tangan kanan mengusap wajah Tan Gin Nio.
"Eh, di mana aku?" Begitu membuka mata, murid Nelayan Pantai Timur itu bertanya.
Sepasang mata gadis ini memandang curiga kepada kakek tua di depannya.
Akan tetapi, begitu sepasang matanya beradu pandang dengan sinar lembut kakek itu, Gin Nio menunduk.
"Gin Nio, kau telah terbebas dari sihir pendeta itu. Sekarang lebih baik kau ikut Lohu."
"Ehem, untuk apa?" Dasar gadis berwatak keras.
Gin Nio malahan bertanya ketika diajak pertapa suci tadi.
"Hmmm, belajar menolak sihir dan ilmu-ilmu hitam, mau tidak?" Entah mengapa Tan Gin Nio merasakan debaran senang mendengar ucapan kakek yang tidak dikenalnya ini.
Hatinya berbisik bahwa apa yang dikehendaki kakek ini pasti berguna baginya.
Tak sabar, Gin Nio mengangguk-angguk bagaikan ayam makan padi.
"Heh-heh-heh, Babi gemuk, sekarang mau lari ke mana?" Begitu tiba di tempat itu, Thio Hwie Kian mengejek Coa Sim Ok, mantan Wakil Ketua Hui-liong-pang.
"Seranggg...! Bunuh kedua keparat ini!" Sim Ok mendahului menyerang.
Golok besarnya dibacokkan ke kepala Hwie Kian.
Sedangkan sembilan wanita anak buah Cu-kiok-pang itu pun tak ketinggalan menggerakkan pedang menyerang.
Lima orang menyerang wanita muda berwajah cantik luar biasa itu, dan keempat orang lainnya membantu murid pendeta tosu kekasih guru mereka!
Sinar pedang berkilat-kilat melakukan serangan dahsyat!
Tranggg-tranggg-tranggg...!
Hwie Kian menggerakkan senjata mow-pit besinya.
Tubuhnya berkelebat di bawah hujan serangan.
Denting senjata beradu memekakkan telinga di puncak bukit itu.
Sedangkan kelima wanita anak buah Cu-kiok-pang yang bersenjatakan pedang itu pun tidak mau kalah dengan rekan mereka.
Senjata di tangan bergerak dengan ilmu silat pedang yang ganas dan penuh tipu licik.
Mengejar ke mana pun gadis jelita itu berkelebat.
Akan tetapi, kiranya mereka sekarang menghadapi seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa tingginya.
Murid wanita Nelayan Pantai Timur ini setelah mendapat gemblengan dari pertapa San In Lojin menjadi berlipat kelihaiannya.
Dengan tangan kosong saja, ia menghadapi serangan kelima lawannya.
Malah beberapa kali masih dapat mengirim tamparan-tamparan menghajar wanita-wanita liar itu.
Plakkk-plokkkkk...!
Dua orang terlempar, dan pipi sebelah kanan membekas tamparan.
Panas, pedih sampai menusuk jantung!
Mulut terasa hancur.
"Cuhhhhh... Cuhhhhh...!" Dan mata kedua wanita anak buah Cu-kiok-pang itu mengalirkan air mata.
Begitu meludah, gigi pun ikut keluar! Ternyata tamparan gadis itu luar biasa ampuhnya!
Dengan dendam membara, kedua wanita itu pun maju menyerang kembali.
Gerakan pedangnya sekarang awut-awutan, seperti orang gila.
Niat hati ingin mengadu nyawa, dibunuh atau membunuh!
Kedua orang anak buah yang menjaga tawanan itu pun melihat keadaan di dua bagian ajang perkelahian itu, muka mereka pucat.
Begitu keduanya saling pandang, maka tanpa suara sama sekali, dua orang itu membawa tawanannya ke balik batu dan lenyaplah mereka terhalang batu besar di puncak itu.
Tan Gin Nio masih sempat melihat pemuda tinggi besar bersenjatakan sepasang mow-pit besi.
Melihat pemuda itu kewalahan menghadapi keroyokan wanita murid atau anak buah Cu-kiok-pang dan Coa Sim Ok.
Cepat ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, dan dalam suatu kesempatan baik, tangan kanannya berhasil merampas sebatang pedang lawan.
Desssss...! Wanita itu pun terpelanting dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Tubuhnya telentang memandang angkasa dengan sepasang mata kosong karena nyawanya telah pergi menghadap Malaikat Maut!
Cringgggg... Tranggg... Blesssss... Bleuuuggggg!! Keempat perempuan cantik itu pun menyusul rekan mereka.
Terpelanting ke sana-sini.
Dua orang wanita masih berusaha bangun kembali, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya menekuk ke depan dan tengkurap tak bangun kembali!
Mampus!
"Jangan takut, sahabat! Tinggalkan babi gendut itu untukku!" Langsung saja Tan Gin Nio menggerakkan pedangnya menyerang Coa Sim Ok.
Ketika itu, Coa Sim Ok sedang melancarkan serangan dengan golok besarnya menusuk perut Thio Hwie Kian.
Ini terjadi tatkala pemuda itu sedang menggerakkan sepasang pit besinya untuk menahan serangan empat pedang anak buah Seruni Ungu.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya Thio Hwie Kian mendapat serangan tak terduga ini.
Namun, tetap saja golok besar itu mengejarnya.
Tranggggg...! Blukkkkk...! Coa Sim Ok terlempar karena pundaknya terkena tendangan melayang gadis cantik yang sedianya ingin dijadikan korban nafsu bejatnya itu.
Sedangkan golok besarnya menyimpang ke samping dengan kecepatan tak terduga.
Crakkkkk...! Seorang wanita anak buah Cu-kiok-pang itu pun mengeluarkan jerit kematian ketika dadanya terkena sabetan golok di tangan Sim Ok.
"Keparat...!" maki Sim Ok.
Sepasang matanya merah menyala, penuh kemarahan setelah melihat kelima wanita anak buah Cu-kiok-pang terkapar tak bergerak.
Akan tetapi, di samping rasa marah ini, terdapat pula rasa gentar!
Sedangkan ketiga wanita pembantunya tadi juga memandang ke sana-sini, dan melihat rekan-rekan mereka telah tergeletak tak bernyawa.
Sambil mengeluarkan teriakan melengking, ketiga wanita itu menyerang gadis cantik tersebut.
Tranggg...! Tukkk-tukkk...! Dua orang tergeletak sambil mendekap dada ketika dua pensil besi Thio Hwie Kian berhasil menotok titik kematian di dada.
Ini dapat terjadi karena kedua wanita itu dalam kemarahannya tidak memedulikan lagi pemuda tinggi besar yang sedang telentang ketika tadi menghindar dari tusukan golok Sim Ok.
Sedangkan pedang wanita yang lainnya terlempar ke udara ketika pedang itu ditangkis murid wanita Nelayan Pantai Timur yang menyalurkan lweekang ke dalam mata pedangnya.
Sebelum perempuan itu dapat menguasai dirinya, tiba-tiba sepasang matanya melotot lebar.
Sinar berkilatan meluncur cepat ke arah dada tanpa dapat dihindarkan lagi!
Blesssss...! Dan darah mengucur keluar bagaikan pancuran air ketika pedang itu dicabut dari dada korbannya.
Desssss...! Tubuh wanita itu pun terlempar ke belakang, menuju Coa Sim Ok.
"Gilaaaaa...!" Sim Ok menggulingkan tubuh menghindar dari tubrukan tubuh melayang itu.
Begitu bangun, orang gendut pendek seperti bola itu meloncat melarikan diri.
"Babi gendut, mau lari ke mana kau...!" Baru beberapa langkah Sim Ok berlari, tiba-tiba orang gendut pendek itu membalikkan tubuh sambil mengayun tangan kirinya ke belakang. Serangkum jarum berwarna hitam melesat ke arah pengejarnya.
"Haiittttt...!" Tingtingg! Bagaikan dua payung kecil, mow-pit besi itu diputar di depan dada.
Thio Hwie Kian tidak menduga sama sekali akan kelicikan bekas Wakil Hui-liong-pang ini.
Maka ketika tiba-tiba dirinya disambar oleh sinar-sinar hitam halus itu, dengan gugup ia memutar senjatanya.
Walaupun dia banyak meruntuhkan jarum-jarum itu, tetap saja dua batang jarum hitam menancap di pundak kanannya.
"Aduhhhhh...!" Hwie Kian menjerit dan terguling.
Tan Gin Nio yang tidak menyangka sama sekali akan kejadian ini terlambat menolong. Namun tubuhnya masih meluncur maju, didahului hujaman pedang ke arah babi gemuk Sim Ok, biang penculiknya itu!
Tranggcringgggg...! Empat kali sudah Sim Ok dapat menangkis serangan pedang.
Namun, serangan yang kelima kalinya tak dapat dihindarkan lagi!
Croooookkkkk...! Pangkal lengannya tertebas putus.
"Aduhhhhh...!" Sim Ok pun terguling sambil menjerit-jerit karena tak kuat menahan rasa sakit seperti babi disembelih.
Tan Gin Nio melesat datang sambil menggerakkan tangan kirinya menotok.
Sim Ok dengan wajah pucat ketakutan berteriak keras.
Maut datang menjemput di depan mata, membuat orang gemuk pendek itu tak dapat mengontrol emosinya lagi!
"Tooooo... looooongggggg...!" Tuk-tukk... Ternyata Tan Gin Nio hanya menotok hingga roboh orang gemuk pendek, murid biang penculiknya itu.
Lalu cepat dia pun mendekati lelaki gagah tinggi besar bersenjatakan mow-pit.
Dengan teliti ia memeriksa luka sabetan jarum.
Keningnya bergerak dan alisnya menaik ketika melihat kulit tempat jarum itu menancap.
Kulit putih itu berubah menjadi hitam sehitam arang!
"Keparat! Jarum beracun...!" Dengan sekali loncatan saja, Gin Nio telah berdiri di samping Sim Ok yang kaku tertotok.
"Cepat serahkan obat pemusnah jarum keparatmu! Awas kalau menipu aku. Jangan salahkan aku kalau kukerat kulitmu sekerat demi sekerat!" Begitu selesai mengeluarkan ancaman, ia lalu membebaskan totokannya.
Coa Sim Ok tak berkutik!
Di samping masih merasakan sakit di pundak akibat tertebas pedang, ia pun tahu tak mungkin dapat lari dari gadis yang memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa ini.
Dengan cepat Sim Ok menggerakkan sebelah tangan untuk mengambil obat pemusnah racun jarum.
Tan Gin Nio cepat menyambar bungkusan itu.
Lalu tanpa membuang waktu, ia mencabut jarum hitam dan menaburkan bubuk putih di atas luka.
Darah kehitaman mengalir keluar begitu luka itu terkena bubuk putih, tak berapa lama kemudian kulit itu pun kembali menjadi putih.
Setelah tahu bahwa pemuda itu selamat, Gin Nio lalu mendekati Sim Ok.
Ketika itu pula Thio Hwie Kian sadar dari pingsannya.
Meraba pundak dan kaget ketika melihat darah hitam membasahi baju.
Akan tetapi, tak sedikit pun terasa nyeri lukanya itu, menandakan bahwa luka itu telah diobati.
Penuh rasa syukur, Hwie Kian memandang gadis cantik yang memikat yang sedang menanyai Coa Sim Ok.
"Babi gendut, kalau kau ingin tetap melihat matahari keesokan hari, cepat katakan di mana gadis yang ditawan teman wanitamu tadi! Jangan menunggu aku habis sabar. Kalau kau tak mengaku, jangan anggap aku kejam kalau kau kusiksa sehingga untuk mati pun kau tidak akan dapat!" Ucapan ini pelan namun merdu.