Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 44

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 44

Namun, dalam pendengaran Coa Sim Ok menjadi lain sekali, penuh ancaman dan dingin menakutkan.

"Tolong tanya sekalian di mana markas gurunya, Nona!" teriak Hwie Kian.

Lalu kembali ia menatap sepasang mata sipit milik Si Gendut.

"Kau dengar apa ucapan pendekar muda itu? Hayo ceritakan sekalian!" "Ampuuunnnnn..." Sim Ok merintih.

Dasar pengecut, di mana-mana sama. Selalu menindas yang lemah dan menjilat yang lebih kuat!

"Tawanan itu tentu dibawa ke Bukit Iblis. Itu bukit yang menjulang tinggi di sana. Bukit berbatu yang kelihatan hitam menyeramkan. Suuu... huuu juga berrr diiiii... aaammm di sanaaaaa... Tolonggggg ampuniiiii... aaaaa... duuuduuuuuhhhhh!!" ratapnya kembali.

"Pengecut!" "Bunuh saja babi pengecut tiada guna ini" Sebal aku melihat roman mukanya!" seru Hwie Kian.

"Jaaaaa... ammmpunnnnn... tooooo... ddduuuhhh!!" "Hayo antarkan kami ke sana! Bangunnn..." Tan Gin Nio menggerakkan kaki kecilnya.

Dukkk!! Tubuh Sim Ok terlontar ke udara dan totokan di tubuhnya telah terlepas kembali.

Dengan tubuh gemetaran, orang gendut seperti bola ini menuju ke Bukit Iblis, bukit yang menjadi benteng pertahanan terakhir gurunya!

Kita tinggalkan Coa Sin Ok yang mengantar dua teruna pendekar yang menodongnya dan memaksanya mengantarkan ke Bukit Iblis yang menjadi sarang Sim Tok Tojin, yang menjadi penculik Tan Gin Nio, serta pendeta biadab yang melakukan perkosaan dan pembunuhan itu.

Marilah kita melihat keadaan di atas bukit, di mana terdapat sebuah kuil raksasa peninggalan kuno.

Letak kuil itu sangatlah strategis sekali. Berada di ujung puncak, di mana di kanan kirinya nampak membentang jurang yang tak terukur dalamnya. Sedangkan di belakang kuil terdapat bukit kecil sebagai benteng dari belakang, apabila diserang musuh.

Benteng berbatu yang tak mungkin dapat dinaiki oleh sembarang orang karena terjal dan curamnya!

Jauh di depan kuil nampak barisan batu-batu besar yang diatur secara nyeni! Sepertinya batu-batu itu prajurit yang menjaga kuil terus-menerus tak kenal lelah, baik panas maupun hujan! Siang atau malam tetap setia menjaga kuil.

Jangan dipandang rendah batu-batu yang diatur nyeni tersebut. Banyak sudah tokoh kang-ouw yang tewas di barisan batu yang merupakan sebuah tin yang menyesatkan.

Apabila kebetulan dapat masuk sampai di tengah barisan batu, orang akan menemui serangan dari sesuatu yang tak dapat diterima dengan akal sehat! Karena apa? Dia akan berhadapan dengan alam khayal penuh misteri! Penuh pesona daya menyesatkan dari ilmu hitam!

Di lapangan luas depan kuil jangan dianggap mudah untuk melewatinya, salah-salah tubuh terjeblos dalam lubang penuh ular dan penuh tombak runcing dengan ujung kehitaman karena racun jahat!

Ini semua masih ditambah tempat itu dapat dijangkau serangan anak panah dari tembok pagar benteng yang tinggi yang baik sekali untuk menahan pasukan yang berapa banyaknya pun!

Apalagi dari kanan kiri kuil, terang tak mungkin untuk orang mendaki naik. Selain tiada jalan sama sekali juga merupakan hal langka kalau mau menyerang ke sana dengan mendaki jurang!

Sedangkan jalan masuk masih dapat dilewati secara enak dari bawah bukit!

Di belakang kuil nampak area besar dari batu. Bentuknya seperti kepala kambing dengan tanduk yang melingkar-lingkar aneh. Sedangkan di bawahnya nampak batu memanjang berwarna kehitaman yang halus permukaannya. Setinggi perut orang dewasa. Nampak pula rantai-rantai kecil bergelang aneh. Entah untuk apa benda tersebut di tempat itu? Apa untuk latihan samadhi atau untuk berlatih sinkang?

"Suhu, ampunnnnn. Kami berusaha membawa tawanan ini." Dua orang wanita yang membawa Lie In Nio, murid wanita Hoa-san, mohon ampun kepada Sim Tok Tojin yang duduk di kursi batu di atas undakan dalam ruang tengah kuil.

Kedua wanita itu membentur-benturkan dahinya ke ubin.

"Ke mana itu muridku? Sampai sekian lama belum juga dia nongol" Siapa lelaki perempuan yang kalian keroyok tadi?" "Ammmpunnn... kami berdua tidak tahu. Kami hanya tahu bahwa pemuda itu bertubuh tinggi besar dan berwajah tampan menarik..." Salah seorang menjawab cepat dan gugup.

"Keparattttt! Memuji lawan malah! Perempuan sundelllll!" maki Sim Tok marah. "Dasar murid Cu Kiok, perempuan doyan lelaki!" Sedangkan seorang pendeta gundul berjubah kemerahan nampak mendengarkan ucapan itu penuh perhatian. Mengingat-ingat siapa pemuda bersenjatakan sepasang pit besi.

Namun sebelum pendeta itu menemukan jawaban, tiba-tiba terdengar suara merdu dari luar ruangan.

"Hik-hik-hikkk... yang perempuan sundelll" Yang lelakinya apaaa" Hi-hi-hi, Sim Tok, jangan asal membuang angin busuk! Kalian dapat menikmati semua kebutuhan kalian di tempat kediamanku, sedangkan aku dapat apa? Paling-paling daging alot kalian berdua, hi-hi-hik..." Berkelebat bayangan ungu dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita cantik berkulit putih mulus dan bertubuh tinggi semampai.

Bentuk tubuhnya mengguncangkan iman pria yang kuat sekali pun. Sepasang matanya bersinar tajam penuh tantangan dan menjanjikan seribu janji bagi lelaki yang doyan perempuan! Sedikit lidah kemerahan nampak menjulur keluar indah sekali ketika wanita itu menjilat bibirnya yang merah.

Siapakah wanita ini? Dia bukan lain Ketua Cu-kiok-pang atau Dewi Seruni Ungu yang di dunia kangouw dapat poyokan Iblis Penghisap Sukma! Seorang iblis yang membunuh laki-laki ganteng, dibunuh setelah diambil sari perjakanya sepuasnya!

"Dasar perempuan doyan keluyuran! Sekarang bagaimana coba..." Sim Tok menegur.

"Bagaimana apanya?" "Tentu saja menahan musuh! Kalau tidak apalagi?" tegur Sim Tok Tojin mengkal.

"Kalau itu yang kau tanyakan" Sialannn! Sampai-sampai rumah penghasil uangku hancur gara-gara ulahmu..." Cu Kiok Sianli menjawab sewot.

"Kenapa kita malah bertengkar sendiri! Apa tidak lebih baik kalau kita menyusun siasat baru untuk menghadapi kurcaci-kurcaci itu?" Pendeta gundul berjubah merah Takonaya mencela.

Memang melihat ulah teman baiknya dan perempuan bahenol yang juga menjadi kekasih atau teman tidur dikala senggang itu, pendeta ini menjadi jengkel juga. Musuh telah siap depan mata dan kedua pucuk pimpinan ini malah bertengkar. Apa tidak gilaaaaa...

"Heh-heh-heh, sabar. Lohu hanya ingin mengetahui gerakan musuh sekarang ini. Menurut keterangan kedua murid Cu-kiok-pang tadi, di sebelah timur bukit datang dua orang pendekar menyatroni Sim Ok dan belasan murid perempuan dan sekarang yang pulang hanya dua bocah itu sambil membawa budak perempuan murid Hoa-san itu. Sekarang Lohu ingin meminta bantuan untuk melihat keadaan di sana, ha-ha-ha." Sim Tok Tojin ketawa bergelak untuk menutupi rasa tidak enak hatinya.

"Kenapa kalian tidak cepat pergi! Cepat beritahu kawan-kawan kalian dan suruh berjaga lebih ketat!" Dewi Seruni Ungu membentak dua orang muridnya.

Kedua orang wanita yang masih berlutut itu menjura mengucapkan terima kasih dan berlalu dari ruangan itu dengan hati terasa ringan. Untung Ketua mereka telah datang, kalau tidak entah apa hukuman yang bakal diterima dari pendeta tua berjubah abu-abu itu.

Begitu kedua anak murid Cu-kiok-pang telah tidak nampak, ketiga pucuk pimpinan itu saling pandang. Dewi Seruni Ungu melangkah mendekati pendeta gundul Takonaya dan merangkul pinggang pendeta jubah merah itu. Bibirnya yang merah membasah mencium kepala gundul penuh nafsu.

Sim Tok Tojin yang melihat adegan ini hanya terkekeh dan memandang murid perempuan Hoa-san yang masih menggeletak di lantai.

"Untuk menambah daya kekuatan sihir kita, besok tepat di malam purnama pinto akan mengadakan persembahan Darah Suci Perawan pada junjungan kita!" katanya lirih sambil memandang angkasa, melihat bulan yang bersinar di malam itu.

"Hi-hi-hik, lebih baik aku menikmati daging alot daripada tidak sama sekali." Cu Kiok Sianli pun mengikik sambil menarik pendeta Takonaya menuju ke ruangan dalam.

Sudah hapal tosu tua ini dengan kesenangan kekasihnya yang cantik cabul itu. Maka ia pun lalu mengangkat tubuh Lie In Nio ke pundaknya dan dengan wajah berseri menuju ke belakang, di mana altar batu berada.

Bagaikan semut digebah dari sarang, orang-orang berbagai perkumpulan itu menaiki bukit berbatu. Bukit Iblis, sarang terkutuk! Telah tiga hari lamanya mereka mencari jalan mendaki. Namun tetap saja belum ketemu jalan yang mudah untuk mendaki Bukit Iblis.

Akhirnya secara kebetulan saja salah satu rombongan itu menemukan jalan setapak menuju puncak. Sambil berteriak-teriak keras, majulah mereka ke puncak. Mendaki dengan susah payah di jalan berbatu! Hati terasa mantap melihat begitu banyak rekan bersama mereka memburu penjahat kejam di atas bukit.

Namun perjalanan ke puncak bukit itu tidaklah semulus perkiraan mereka setelah menemukan jalan setapak. Ternyata jalan itu pun bukan jalan umum seperti perkiraan semula. Tiba-tiba terdengar jeritan mengerikan di depan, di mana nampak tiga orang terperosok lubang jebakan!

"Hati-hati! Menyebarrrrr... Pasang mata kalian lebih teliti, di sini banyak jebakan!" Teriak salah seorang pemimpin rombongan.

Maka mereka pun mendaki terus dengan hati-hati. Ketika mereka melewati lubang jebakan di mana ketiga orang itu terjebak, wajah orang-orang menjadi beringas di samping ngeri! Beringas karena marah dan ngeri melihat tubuh ketiga orang itu disate tombak-tombak dengan ujung menghadap ke atas!

"Aaaaa...!!" Kembali lima orang tergelincir masuk jurang ketika batu yang dinaikinya menggelinding. Ternyata batu itu pun jebakan pula!

"Goblokkkkk! Tololllll..." umpat kepala rombongan sambil meloncat ke lain batu di depan dan... "Bruuukkkkk! Ketika tanah yang diinjak kedua kakinya amblas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment