Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 45

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 45

Batu itu pun turut amblas ke dalam tanah. Sebelum pemimpin rombongan ini dapat menguasai rasa kagetnya, tiba-tiba dari sekelilingnya menyembur asap hitam.

"Sshhh... Aauuu... Tobat!"

Sepi! Keadaan menjadi lengang setelah teriakan laki-laki brewok itu lenyap. Tatkala asap hitam tersapu angin, nampaklah orang brewok itu menelungkup dengan tubuh berubah hitam akibat racun dahsyat.

"Hii!" Beberapa orang bergidik penuh kengerian.

Namun, segera terdengar teriakan pemberi semangat dari samping kiri, di mana rombongan lain tengah mendaki. Akan tetapi, agaknya pendakian di tanah berbatu di tempat itu sedikit berkurang bahayanya. Melihat hal tersebut, mereka berusaha mendekati tempat itu dan mencontoh rekan-rekan mereka untuk maju ke atas.

Banyak sudah korban jebakan rahasia di Bukit Iblis. Puluhan orang tewas mengenaskan. Namun, tetap saja masih ada puluhan orang dengan semangat membara yang terus mendaki. Di bawah puncak pun masih terlihat rombongan lain. Rombongan di belakang ini agaknya dipimpin oleh orang sakti. Gerakan mereka saat mendaki bagaikan kera, gesit dan lincah, cepat sekali melewati anak buah perkumpulan yang datang berbondong-bondong tadi. Ketika melewati mayat-mayat akibat jebakan, pandangan mata mereka tidak menunjukkan rasa ngeri sedikit pun, malahan tampak berkilat penuh nafsu membunuh.

Tak berapa lama kemudian, tibalah mereka di barisan batu depan kuil.

"Tunggu sebentar!" cegah pemimpin rombongan saat dua orang hendak memasuki barisan batu tersebut. Suaranya berat dan berwibawa.

Bagaikan pemain akrobat, dua orang berpakaian serba hijau itu melompat ke belakang sambil bersalto. Mo Sin Kou, pemimpin rombongan berbaju hijau yang merupakan anak buah Kera Sakti, meneliti kedudukan batu-batu besar itu dengan penuh perhatian.

"Kenapa tidak lekas maju? Ayo serbu! Tembok kuil sudah kelihatan!" tiba-tiba terdengar suara lantang dari belakang. Ternyata rombongan orang-orang perkumpulan dunia persilatan telah datang menyusul. Mereka keheranan melihat orang-orang berseragam hijau itu hanya berdiri diam di barisan batu. Maka, mereka mendesak maju melewati rombongan hijau untuk memasuki barisan batu tersebut.

"Hei, tahan! Hati-hati jebakan!" Mo Sin Kou memperingatkan.

Terlambat! Beberapa orang telah memasuki barisan batu secara bergerombol sambil berteriak-teriak membesarkan semangat juang. Tanpa memedulikan peringatan tadi, mereka menyelinap di antara celah-celah sempit batu. Sebentar saja, puluhan orang telah hilang tertutup formasi batu.

"Kita menyusul mereka, Toako?" tanya salah seorang lelaki kurus berbaju hijau.

"Tunggu! Barisan batu ini tak boleh dihadapi dengan gegabah." Mo Sin Kou memandang ke kanan dan ke kiri. Tak lama kemudian, tubuhnya berkelebat menuju ke atas tebing batu yang tinggi.

Dari atas sana, Mo Sin Kou mengawasi bagian dalam barisan batu tersebut. Dengan senjata terhunus, anak buah perkumpulan itu menyelinap di sela-sela batu yang ditata aneh. Namun, sebentar saja mereka kebingungan. Jalan yang semula memiliki celah ternyata buntu. Tak ada sedikit pun celah yang tampak. Selagi mereka kebingungan dan hendak berbalik, mendadak asap kehitaman mengepul dari bawah batu.

"Awas! Asap beracun!"

Terlambat! Beberapa orang telah menghirup asap yang menyembur mendadak tadi.

"Akhhh! Akhhh!" Beberapa orang roboh dengan wajah menghitam sambil mendekap leher, lalu terjungkal mati.

Beberapa orang berusaha menahan napas dan menghindar. Namun, mereka tidak tahu harus menghindar ke mana. Jalan yang mereka lalui tadi telah hilang dari pandangan. Dengan gugup dan bingung, mereka menyerang membabi buta di tengah gumpalan kabut hitam, tetapi senjata mereka hanya menghantam batu-batu saja. Akhirnya, mereka tidak kuat lagi menahan napas. Begitu mereka menarik napas, asap beracun segera menyerbu dan meracuni mereka. Berjatuhanlah semua ke tanah berbatu dengan nyawa meninggalkan tubuh yang telah menghitam.

Mo Sin Kou yang melihat kejadian itu dari atas menjadi pucat wajahnya. "Betul-betul berbahaya!" desisnya lirih.

Ketika pandangannya dialihkan ke bagian lain, tiba-tiba sepasang mata Sin Kou mencerong penuh kemarahan. Di dalam barisan batu di tempat lain, tampak puluhan orang berusaha mendaki batu yang menghalangi jalan masuk. Baru saja dua orang berdiri di atas batu dan berusaha menarik temannya, tiba-tiba berkelebat sinar keputihan yang menebas.

*Crak! Tas!*

Dua kepala menggelinding ke bawah. Belum hilang rasa kaget mereka, terdengar desiran anak panah yang menyerang dari delapan penjuru. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, tetapi nyatanya serangan itu datang bertubi-tubi.

*Srrr... Siut! Cap! Cap! Ting!*

Walaupun ada beberapa anak panah yang berhasil ditangkis, namun saking banyaknya hujan anak panah tersebut, akhirnya mereka terjungkal dengan tubuh penuh luka. Malah ada pula yang terkena matanya hingga menembus ke dalam otak. Dalam waktu singkat, kesunyian kembali merambah barisan batu. Tinggallah mayat-mayat penuh anak panah yang tergelimpang di sana-sini di atas bebatuan. Darah merah mengalir dari luka-luka yang menembus tubuh.

"Sungguh berbahaya!" Sin Kou melayang turun. Dengan pelan, ia menceritakan apa yang baru saja disaksikannya di tengah barisan batu. "Semua binasa! Mereka tak mampu menembus barisan batu aneh ini. Di dalam masih terdapat jebakan dan orang-orang yang siap mengendap-endap menyerang siapa pun yang nekat masuk."

"Lalu bagaimana? Apa kita akan menanti di sini selamanya?" tanya seorang pendekar yang membawa senjata golok besar bergerigi tajam. "Akan kuhancurkan batu-batu keparat ini!" Tanpa menanti jawaban, tubuhnya meloncat tinggi sambil mengayunkan golok besarnya.

*Trang!*

Tubuh yang tinggi besar itu terlontar kembali. Begitu kakinya mendarat, ia mengumpat panjang pendek. "Bedebah! Ternyata ini bukan batu gunung, melainkan besi!"

"Hah? Besi? Yang benar saja!" Salah seorang maju ke depan untuk membuktikan. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk batu tersebut. Setelah puas, ia kembali lagi. Namun baru berjalan beberapa tindak, ia berteriak, "Aduh!" Tubuhnya melengkung ke depan lalu tersungkur. Tangan yang tadi digunakan untuk mengetuk batu telah berubah hitam akibat racun jahat. Sebelum ada yang sempat menolong, ia sudah tewas setelah mengeluarkan jeritan memilukan.

Teman-temannya terbelalak melihat kejadian ini. Sungguh tidak mereka sangka bahwa batu-batu itu ada yang diolesi racun sedemikian jahat.

"Tahan! Harap para saudara tidak melakukan sesuatu dengan gegabah. Telah banyak korban yang berjatuhan akibat terlalu terburu nafsu. Lebih baik sekarang kita berunding bagaimana sebaiknya melalui barisan batu aneh ini," Mo Sin Kou mencegah orang-orang yang mulai nekat hendak memasuki barisan batu. Mereka saling pandang dan berbisik-bisik hingga terdengar suara bising, namun tetap belum menemukan jalan keluar.

"Kenapa semua berhenti di sini? Apakah ada lawan tangguh yang menanti di dalam barisan batu itu?" tiba-tiba terdengar suara lantang dari belakang.

Ketika semua orang menoleh, tampak dua sosok bayangan, besar dan kecil, datang dengan sangat cepat.

"Saudara Thio Hwie Kian!" Mo Sin Kou berseru girang menyapa lelaki tinggi besar yang merupakan murid Pelajar Sinting, So Kian Kun. Di samping pemuda itu, berjalan seorang dara cantik jelita. Usianya masih belasan tahun, namun ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkannya saat mendaki bukit sungguh luar biasa. Perempuan muda itu tidak lain adalah Tan Gin Nio, murid Nelayan Pantai Timur.

"Wah, celaka Saudara Thio. Barisan batu ini sungguh sukar ditembus. Sudah banyak korban berjatuhan di sana. Sekarang bagaimana baiknya? Tolong Saudara Thio memberi petunjuk," pinta Sin Kou.

"He-he-he, terang saja kalian tidak dapat masuk. Barisan batu itu tidak sembarangan dibuat. Sudah ratusan tahun tempat ini menjadi benteng, sehingga banyak korban tersesat di dalamnya dan tidak bisa keluar lagi. Itulah sebabnya tempat ini dinamakan Bukit Iblis," Hwie Kian menceritakan sedikit riwayat bukit tersebut. Pengetahuan ini ia dapatkan dari si pendek gemuk, Coa Sim Ok, wakil ketua Hui-liong-pang yang juga murid kesayangan Sim Tok Tojin.

Tan Gin Nio yang sebelumnya curiga kepada dua wanita yang menawan seorang gadis berpakaian serba merah murid Hoa-san, segera menginterogasi Sim Ok. Tadinya orang gendut itu tidak mau mengaku, namun setelah gadis itu menotok pinggangnya dua kali, Sim Ok menjerit-jerit menahan sakit.

"Baik, baik! Aku mengaku! Tolong bebaskan aku!" Maka, seluruh rahasia jalan menuju kuil di atas bukit itu pun diberitahukan kepada mereka. Sayangnya, ketika mendapat sedikit kesempatan, Sim Ok berusaha melarikan diri melalui jalan rahasia di balik gunung.

Namun, Tan Gin Nio yang masih memegang pedang melihatnya. "Bangsat gendut! Jangan lari!" bentaknya nyaring. Tangan kanan Gin Nio bergerak ke depan.

*Sing... Crot!*

Pedang itu menembus punggung Sim Ok hingga ke gagangnya. Tubuh Sim Ok terjerembab ke depan dan nyawanya pun melayang menghadap Giam-lo-ong untuk menerima hukuman.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment