Chapter 46
"Mari kita cepat ke sana! Kita buktikan omongan babi gendut tadi." Thio Hwie Kian mengajak dara cantik itu menuju bukit tempat Sim Tok Tojin bersembunyi.
"Baik!" Tan Gin Nio lalu melesat seperti terbang menuju Bukit Iblis.
Thio Hwie Kian segera mengejar. Ia mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya untuk mengejar dara cantik luar biasa itu. Namun, ia tetap tidak dapat menyusul lari Gin Nio. Maka, tanpa malu-malu lagi, ia berteriak memanggil.
"Nona di depan, tunggguuu...!" Gin Nio menoleh dan memperlambat larinya.
Thio Hwie Kian datang menyusul. Dengan napas memburu, pemuda ini menjura kepada Gin Nio.
"Nona sungguh lihai. Boleh aku mengenal nama Nona?" "Aku marga Thio, bernama Hwie Kian. Murid Soo Kian Kun, Suhu..."
"Siucai Sinting... Hi-hi-hi, ternyata murid pelajar aneh itu. Hi-hi-hi," Tan Gin Nio terkekeh geli mendengar pemuda tinggi besar ini adalah murid Siucai Sinting, orang tua aneh berpakaian sastrawan itu.
"Aku bernama Gin Nio, margaku Tan. Kakek Nelayan dari Pantai Timur adalah pembimbingku, ha-ha-ha."
"Wuaaaahhh, kiranya murid Nelayan Pantai Timur Locianpwe!" Mulut Thio Hwie Kian melongo dan sepasang mata pemuda tinggi besar itu terbelalak terpesona.
"Sudah, ah, jangan memandangku seperti itu. Apa aku begitu menakutkan, rupaku?"
"Menakutkan? Tidak, oh, tidak menakutkan! Malah cantik jelita sekali!" Hwie Kian tak terasa lagi memuji penuh kagum kepada dara yang baru pertama kali dijumpainya itu.
"Idihhh, genit, ah, kamu!" Gin Nio tersipu malu.
"Berani sumpah tujuh turunan aku! Apa yang kuucapkan tadi benar semata. Tidak ada maksud sedikit pun mencela atau memuji-muji kosong." Hwie Kian menunjukkan roman sungguh-sungguh dan serius sekali melihat pandang mata Si Jelita.
"Ihh, rayuan gombal!"
"Benar! Aku tidak merayu, betul-betul apa adanya."
"Sudah! Sudah! Ayo cepat kita ke sarang iblis tua itu." Gin Nio berkelebat menuju Bukit Iblis.
"Tunggu... Nona Gin Nio, jangan tinggalkan aku!" Hwie Kian kembali mengejar. Akan tetapi, kini pemuda tinggi besar itu tak usah bersusah payah merendengi lari Gin Nio, sebab dara itu berlari biasa saja. Dara itu ingin menjaga agar pemuda itu dapat menyamainya berlari mendaki bukit.
Dan secara kebetulan, keduanya melihat orang-orang berkerumun di belakang batu, berjajar membentuk barisan di depan kuil.
Maka Thio Hwie Kian segera bertanya dari kejauhan. Setelah melihat jenazah korban racun itu, Thio Hwie Kian segera berkata lantang.
"Saudara harap mengikuti aku! Jangan sampai salah melangkah! Sekali salah langkah, mautlah hadiahnya, ha-ha-ha!" Dasar murid Siucai Sinting, Hwie Kian sedikit banyak tertular watak gurunya yang angin-anginan.
Sementara Gin Nio hanya diam saja melihat ulah pemuda tinggi besar itu. Semua orang bersorak keras, sorak kegembiraan.
Sebelum Hwie Kian melangkah memasuki benteng batu berupa barisan itu, tampak sesosok tubuh langsing mendahului masuk.
"Heii, Nona, tungguuu...!" Pemuda tinggi besar itu pun segera memasuki barisan batu. Di belakangnya, segera memburu orang-orang kang-ouw yang ingin segera membalas dendam kepada penghuni kuil yang telah banyak mendatangkan korban di antara teman-teman mereka.
Untung sekali, yang berjalan paling depan adalah murid Nelayan Pantai Timur dan Hwie Kian, murid Siucai Sinting, yang juga memiliki ilmu kepandaian lumayan tinggi. Kalau tidak, walaupun mereka dapat melalui barisan batu sampai hampir ke tengah, sudah dapat dipastikan bahwa korban jatuh tentu tak terhitung banyaknya. Mungkin mereka akan tewas semua di tengah barisan batu akibat hadangan murid wanita Cu-kiok-pang.
Beberapa kali, Gin Nio dan Hwie Kian bergerak cepat mendahului para penghadang itu. Pendengaran kedua pendekar muda itu telah mencapai taraf yang mendekati sempurna. Maka, selalu mendengar desah napas di balik batu atau dalam batu buatan itu, dengan pukulan jarak jauh maupun totokan pit besi, kedua pendekar muda itu dapat menghancurkan para penghalang mereka.
Akan tetapi, tak urung keduanya terkejut juga ketika mendengar suara keras saling bantah di balik batu besar yang menutup jalan di depan mereka. Penuh perhatian, keduanya mendengarkan ucapan saling tuduh menyalahkan itu.
"Dasar pelajar gagal! Mulut sih gampang dibuka. Nyatanya? Nyatanya mana? Kita terkurung di sini tiga hari tiga malam! Sialannn...!"
"Pengemis bau! Jangan asal keluar angin busuk saja. Sejak semula sudah kubilang, 'kita tunggu yang lainnya,' namun kau, pengemis tak sabaran ini, selalu mendorong-dorongku. Mengatakan aku takut segala! Tidak tega lagi...!"
"Benar, kan? Kau pasti tidak tega kepada mantan kekasih hatimu itu. Ngaku saja terus terang... heh-heh-heh!"
"Tidak tega gigimu itu! Tinggal dua saja tak mau copot-copot! Seperti gigi tikus buntung!" Kemudian sunyi, tak terdengar suara sedikit pun. Entah apa yang dikerjakan kedua orang tua yang tak lain adalah dua sahabat karib itu.
"Itu suara Suhu!" Hwie Kian keheranan. Sepasang matanya memandang wajah dara di depannya lekat-lekat, sehingga Gin Nio jengkel melihat ulah Si Tinggi Besar itu.
"Kalau benar Suhumu, kenapa sepasang mata bolamu itu melotot memandangiku terus! Panggil kek, atau menyapa? Kok seperti kunyuk melihat apel masak? Memangnya ada apa di mukaku ini?" tanya Gin Nio.
Hwie Kian tersadar dari keadaan tersihir bibir merah membasah milik dara cantik murid Nelayan Pantai Timur itu. Entah mengapa, seluruh jiwa raganya terasa tersedot oleh semua keindahan dara di depannya itu. Ia menjadi kebingungan dan gelagapan sendiri mendengar teguran Gin Nio tadi. Dengan gugup, ia pun berteriak lantang.
"Suuhuuu...!"
"Ehh, kenapa kau berteriak-teriak tidak karuan? Apakah kau ingin agar mereka mengetahui kedatangan kita? Iya, begitu maksudmu?" Thio Hwie Kian yang mendapat teguran ini tersipu.
Ia merasa seperti anak kecil yang senang melihat kedatangan orang tuanya dari pasar membawa oleh-oleh. Dengan wajah kemerahan, malu, Hwie Kian segera menyangkal.
"Tidak! Bukan, bukan begitu maksudku! Tetapi..." Gin Nio tidak tega melihat pemuda tinggi besar itu salah tingkah oleh ucapannya tadi, maka ia segera menolong pemuda itu menghilangkan rasa jengahnya.
"Kalau tidak, ayo cepat kita cari kedua Locianpwe itu. Hati-hati kalian! Kalau dua orang Locianpwe itu sampai tiga hari belum dapat keluar dari barisan batu itu, pasti ada apa-apa yang tidak sewajarnya."
Setelah membelok beberapa kali dan memutari batu-batu besar yang terkadang harus berjalan kembali mundur untuk dapat memasuki barisan batu, akhirnya Tan Gin Nio bersama Thio Hwie Kian yang berjalan paling depan tiba di tempat kedua kakek itu.
Kedua orang muda itu terbelalak melihat betapa di samping kedua kakek itu, mereka melihat belasan wanita rebah malang melintang dalam keadaan lemas tak berdaya. Lemas karena tertotok jalan darahnya.
"He-he-he, akhirnya datang juga orang yang bersedia menemani kita, he-he-he. Hwie Kian, bocah gagah seperti Thio Hwie, siapa gadis cantik jelita yang kau bawa kemari? Pacarmu, ya? Bagus, bagus, segera aku, pengemis tua ini, merasakan arak pengantin. Eh, Pelajar Rudin, jangan pelit kalau kau nanti merayakan pernikahan murid tunggalmu itu, ya?" Pek-tung Lo-kai nyerocos melihat kedatangan murid sahabatnya itu.
Kenapa bocah itu menyusul dia sehingga mungkin tak bisa keluar dari barisan batu yang aneh itu? Celaka, semua akan tewas di tempat ini, pikir pelajar tua itu.
"Suhuuu, maafkan teecu yang datang terlambat!"
"Celaka... celaka tiga belas! Ini semua pasti gara-gara teriakan pengemis bau itu sehingga kalian sampai terjebak dalam barisan aneh ini! Celaka...! Kita semua akan mati di tempat terkutuk ini, huhu...!" Soo Kian Kun malah menangis mendapat penghormatan muridnya. Hatinya nelangsa karena melihat masa depan muridnya yang akan berakhir di dalam barisan batu yang aneh itu.
"Pelajar gila! Ditolong malah menangis! Kita kan mendapat teman mengobrol? Apa ini tidak menyenangkan hatimu...?" Pek-tung Lo-kai menegur sahabatnya.
Wajah pengemis tua yang tonggos gigi depannya itu kemerahan karena penasaran mengapa kedatangan anak muda, murid sahabatnya itu, malah membuat Soo Kian Kun melolong sedih. Soo Kian Kun mengangkat mukanya. Sepasang mata yang basah itu memandang teman karibnya penuh kedongkolan. Dengan suara tak jelas, Soo Kian Kun mendamprat.
"Dasar tua bangka tak memiliki nurani! Melihat orang-orang mati sia-sia, malah senang? Di mana rasa belas kasihanmu? Apakah telah hilang karena tiga hari tiga malam tidak makan minum dan didatangi hantu-hantu tanpa kepala? Dasar orang tua mau mampus tak pernah mandi! Melihat anak muda yang belum banyak makan asam garam mati, malah senang! Gilaaa...!"
Tan Gin Nio yang sejak tadi mendongkol mendengar sambutan dari pengemis tua itu ketika datang bersama Hwie Kian, mengerutkan keningnya. Sebelum dia berkata, tiba-tiba saja ia tercekat hatinya. "Ahhh, benar dugaanku! Pasti ada apa-apa di balik barisan batu ini," pikirnya.
Pek-tung Lo-kai tidak menjawab umpatan Si Siucai Sinting. Tiba-tiba saja, dia mengeluarkan bentakan menggelegar mengagetkan semua orang.
"Tahannn! Jangan dibunuh...!" Namun teriakan itu terlambat. Beberapa orang rombongan yang tiba di tempat itu telah menggerakkan senjata mereka. Tidak peduli bahwa para wanita itu telah tak berdaya karena totokan, mereka membunuh dengan kejam.
"Keparat kaliannnn! Datang-datang membunuh orang! Tanya dulu dong kepadaku, boleh dibunuh atau tidak? Eh-eh, datang-datang seperti orang gila mengamuk tak keruan. Dasar orang-orang miring semua!" Pek-tung Lo-kai marah-marah kepada rombongan orang yang telah berbuat kejam kepada anak buah Cu-kiok-pang.