Chapter 47
Pengemis tua ini mencak-mencak seperti kera kebakaran jenggot!
"Sekarang kita harus berkumpul dengan bangkai-bangkai sebelum menyusul mereka ke neraka! Dasar kalian terburu nafsu... Sialan!!!"
"Pek-tung, jangan mengumbar kentut busukmu," tegur Soo Kian Kun.
Pelajar tua ini pun lalu menghadapi rombongan yang baru datang dan menegur.
"Sebetulnya tidak perlu kalian membunuh mereka. Semua persoalan dapat diselesaikan dengan kepala dingin!"
"Kepala dingin dengkulmu! Sudah tiga hari kita di sini masih belum juga selesai persoalannya! Untung tadi pagi datang mereka. Kalau tidak... mungkin aku menjadi gila mengikuti... heh-heh-heh!" Pek-tung Lo-kai menjadi sewot dan memaki sahabatnya.
"Maafkan saya, Locianpwe. Saya tidak ingin persoalan ini diperpanjang lagi. Orang-orang itu berbuat begitu karena kemarahan mereka melihat teman-teman, sahabat, adik, atau kakak mereka tewas secara mengenaskan dalam perangkap di sini." Tan Gin Nio berhenti sejenak mengawasi kedua orang tua itu silih berganti.
Sedangkan Soo Kian Kun dan Pek-tung Lo-kai yang mendengar ucapan dara muda itu menjadi malu sendiri. Kenapa tua-tua seperti mereka masih memperlihatkan watak seperti anak kecil!
"Ehhh... ohhh... ehhh... ohhh... ya, ya, yaaaaa...!" Pek-tung Lo-kai menjawab gugup.
"Ini baru seorang kuncu. Eh, ucapan berbobot! Tidak seperti tua bangka tak pernah mandi..." Ucapan Soo Kian Kun Siucai Sinting terputus oleh panggilan muridnya.
"Suhuuu...!" tegur sopan Hwie Kian.
"Ehhh, ya. Maaf, maaf, maafkan aku, tua bangka pikun, ha-ha-ha...!"
"Sebetulnya bagaimana sampai kedua Locianpwe terkurung di batu ini? Kenapa tidak berusaha mencari jalan keluar?" tanya Gin Nio pelan.
Semua orang pun mempunyai pendapat yang sama dengan Gin Nio. Murid tunggal Nelayan Pantai Timur itu menujukan pandangan mata dan perhatian kepada kedua orang kakek itu. Siucai Sinting dan Pek-tung Lo-kai saling pandang. Sorot banyak mata penuh pertanyaan itu sungguh membuat kedua orang ini tak enak!
"Keluar...? Keluar ke mana...? Setiap kali memandang batu-batu itu, seperti melihat air laut tak bertepi, dan kalau malam seperti di dalam gua gelap gulita! Hiiiii, bergidik aku kalau teringat makhluk yang tiba-tiba muncul kemarin malam..." Pek-tung Lo-kai menggeleng-gelengkan kepala bagaikan mengusir bayangan seram dari benaknya.
"Benar sekali! Batu-batu ini dapat berubah menjadi bermacam-macam! Kadang-kadang seperti air laut, dan terkadang pula seperti hutan rimba atau gua. Malahan yang lebih mengerikan kalau siang seperti berada di padang pasir saja layaknya!" Soo Kian Kun menjelaskan penuh kengerian.
Dalam menceritakan ini, pengemis tua dan pelajar sinting itu beberapa kali mengusap keringat dingin. Keduanya memang merasa berada di alam khayalan saja!
"Aneehh! Tak mungkin itu!" Terdengar suara dari dalam rombongan, menunjukkan ketidakpercayaan akan ucapan kedua Locianpwe itu.
"Kalian tidak percaya? Kalian anggap kami berdua bohong? Baik, sebentar lagi gelap. Coba lihat ke sekeliling kalian dan cari jalan dari mana kalian masuk tadi!" Pek-tung Lo-kai marah mendengar ucapan yang tidak mempercayai mereka itu.
"Heh-heh-heh, rasakan sekarang, pengemis bau! Biar sudah tiga hari kita tak makan minum tetap saja dianggap mengeluarkan angin busuk, heh-heh-heh!" Siucai Sinting itu pun mendongkol mendengar serta melihat pandangan mata tak percaya itu.
Orang-orang yang berada di situ pun berusaha mencari jalan masuk tadi. Namun, betapa kaget hati mereka ketika mereka telah terkurung batu-batu besar dan tak sedikit pun ada celah untuk keluar kembali. Malah bersama dengan datangnya gelap malam, keanehan pun terjadi. Batu-batu yang semula berdiri mengelilingi mereka secara samar-samar seperti mengeluarkan kabut tipis, dan semua mata orang-orang itu terbelalak ketika melihat kenyataan di depan mata mereka.
"Hah, laut... laut?"
"Benarkah ini...?"
"Apa matamu buta? Jelas kita berada di tengah lautan." bentak temannya jengkel.
"Tak mungkin! Mustahil...! Aku tidak percaya!" Dan orang itu pun meloncat terjun ke laut.
"Tahan...!" cegah Pek-tung Lo-kai.
Terlambat! *Brakkkk...!* Kepala orang itu pun pecah ketika kepalanya mengenai air laut! Ternyata bukan air laut yang dihantamnya melainkan batu besar di depannya, yang secara aneh telah berubah seperti air dalam pandangan mata mereka.
Gin Nio segera menyatukan seluruh semangat dan batinnya, mengikuti petunjuk kakek penolongnya, San In Lojin.
"Haiittt...!" Gin Nio membentak keras sekali, penuh tenaga *khikang*.
Orang-orang sampai terlonjak kaget. Dan laut yang tadi tampak kini hilang kembali.
"Huiihhh! Setan...!"
"Sihir...!" Beberapa orang berteriak kagum dan takjub, penuh keheranan dan kengerian melihat keanehan demi keanehan yang terdapat dalam barisan batu itu.
"Tenang! Saudara harap tenang! Jangan mengganggu!" Hwie Kian cepat tanggap akan keadaan dan menyuruh mereka untuk tidak panik dan membuyarkan konsentrasi dara jelita murid Nelayan Pantai Timur yang sedang mengerahkan seluruh jiwa raganya itu.
Sedangkan kedua tokoh tua itu hanya melongo memandang kejadian di luar dugaan ini.
"Uwah, lihai sekali calon menantumu ini?" Pek-tung Lo-kai tak dapat menahan mulutnya lebih lama.
Hwie Kian malah memerah wajahnya mendengar ucapan pengemis, sobat gurunya ini. Untung kegelapan malam telah membuat wajahnya yang kemerahan tak tampak. Sedangkan Soo Kian Kun Siucai Sinting hanya terlongong bagai orang tolol!
"Locianpwe, harap jangan membuat saya malu! Gin Nio ini murid Nelayan Pantai Timur, Locianpwe. Sama sekali bukan ca...!" Hwie Kian tak dapat meneruskan ucapannya karena merasa tenggorokannya tersekat.
Lain di mulut, lain di hati! Ingin ia membenarkan pendapat pengemis tua itu, namun tetap saja ucapan ini tak bisa dikeluarkan melalui mulutnya!
"Cepat kita keluar dari tempat terkutuk ini! Selagi keadaan gelap!" Tan Gin Nio tidak memedulikan ocehan pengemis tua tonggos itu, gigi depannya tampak mengkilap dalam kegelapan malam. Ingin Gin Nio tertawa melihat pemandangan ini, namun untuk menjaga perasaan pengemis tua ini, ia hanya tersenyum kecil.
*Uhh, menantu apa-apaan? Tidak sedikit pun aku merasa cinta pada pemuda murid Siucai Sinting itu!* Umpatnya dalam hati.
Ternyata rahasia yang dibeberkan oleh orang gemuk pendek Coa Sim Ok itu benar. Tak berapa lama kemudian mereka telah keluar dari barisan batu aneh itu. Padang rumput luas tampak membentang di depan kuil, di mana tampak pintu gerbang yang tertutup rapat. Beberapa orang segera berlarian untuk menyerbu dengan senjata terhunus di tangan!
"Maju...! Serbu...! Bunuh tosu gadungan...!?" Teriakan penambah semangat juang terdengar di sana-sini ketika belasan orang itu berlarian ke depan.
Namun, teriakan penuh semangat itu segera terganti dengan teriakan kematian! Teriakan kesakitan karena tubuh terjeblos dalam lubang perangkap! Hampir separuh orang yang berlari paling depan masuk ke dalam perangkap maut Cu-kiok-pang!
"Mundur...! Awas jebakan lawan...!" Pek-tung Lo-kai berteriak memperingatkan.
Peringatan itu pun terlambat! Ketika orang-orang itu membalik untuk mundur, tiba-tiba dari tembok benteng kuil tampak sinar berkilat menghujani mereka! Di bawah sinar rembulan tampak belasan anak panah mengejar orang-orang yang ingin melarikan diri kembali kepada rombongannya tadi. Namun tetap saja laju anak panah tersebut lebih cepat dari lari mereka.
Berapa orang terjungkal dengan punggung tertancap anak panah. Sedangkan ketika belasan anak panah kembali datang menyerang, tampak empat sosok tubuh meluncur menghadang!
*Trakkk-trakkk-trangg...! Cring-cring-cringgg...! Taktakkk...! Tappppp...! Sienggg-wirrr-siuttttt...!*
"Aduh... mati aku...!" Gin Nio menyambar tiga batang anak panah dan mengembalikan senjata tersebut kepada pemiliknya yang tampak berdiri di atas benteng kuil.
Kecepatan anak panah yang dilempar Tan Gin Nio, murid Nelayan Pantai Timur ini, dua kali lebih cepat dari anak panah yang tadi datang menyambar. Sebelum orang-orang di atas benteng itu tahu atau menyadari, mereka telah termakan senjatanya sendiri!
Sedangkan anak-anak panah yang lain dapat dimusnahkan oleh Pek-tung Lo-kai yang memutar senjata tongkat putih di depan tubuhnya seperti sebuah payung putih melindungi tubuhnya. Sementara itu, Soo Kian Kun beserta muridnya, Thio Hwie Kian, menggerakkan senjata *po-koan-pit* besi untuk menangkis senjata terbang berupa anak panah itu.
Ketika keempat orang itu berdiri di lapangan, serangan anak panah pun berhenti menyerang. Di bawah sinar rembulan yang terang benderang itu tak tampak gerakan di atas benteng kuil. Tiba-tiba tampak asap mengepul tebal membubung ke angkasa. Asap berwarna kehitaman. Pek-tung Lo-kai berubah pucat wajahnya ketika melihat asap itu. Ia ingat pengalamannya ketika berada di Hong-Ma-Cung! Dari dalam asap itu dapat keluar binatang jadi-jadian yang mengiris hati!
"Siiisiii... hiiir...!!!" Terdengar suaranya gemetar. Lalu ia berteriak, "Mundur...!" Dan Pek-tung Lo-kai pun mendahului meloncat mundur, berkumpul dengan sisa rombongan yang tinggal belasan orang itu.
Siucai Sinting merasa heran melihat ulah sahabat karibnya itu.
*"Aneeh, kenapa pengemis bau itu ketakutan?"* tanyanya dalam hati.
Dengan mata penuh pertanyaan, Siucai Sinting memandang sahabatnya. Pek-tung Lo-kai tidak banyak bicara lagi, hanya telunjuk kanannya menuding ke belakang, ke arah asap kehitaman yang membubung semakin tebal itu.
Tan Gin Nio tetap berdiri di tengah lapangan, berdiri tegak seorang diri.