Chapter 48
Sepasang mata gadis itu mencorong mengawasi gerakan asap yang semakin tebal itu, bagaikan digerakkan oleh tangan yang tak tampak. Asap hitam tersebut bergulung tebal menuju ke arah gadis yang berdiri di tengah lapangan seorang diri. Tiba-tiba, rembulan bundar di langit tertutup awan sehingga keadaan di tempat itu menjadi gelap, semakin gelap oleh gulungan asap hitam yang pekat.
"Lihat!" Pek-tung Lo-kai berseru.
Orang-orang melihat ke atas, ke arah asap hitam, dan pandangan mata mereka terbeliak, melotot tak berkedip seakan tak percaya dengan pemandangan yang tersaji di depan mata.
"Naga... Naga siluman!" teriak mereka ketakutan.
Memang benar apa yang disaksikan orang-orang itu. Seekor naga besar tampak keluar dari dalam gumpalan asap. Kepala naga tersebut luar biasa besar dan sepasang matanya mencorong berwarna merah ke arah orang-orang yang ingin menyerbu kuil Cu Kiok-pang. Uap keputihan keluar dari hidung naga, membentuk gumpalan-gumpalan seperti lingkaran, dan dari mulut yang terbuka keluar api yang panasnya menggila.
Kepala naga itu meluncur ke arah Tan Gin Nio, dara cantik murid Nelayan Pantai Timur yang seakan menjadi mangsa yang dikorbankan di tengah lapangan. Terdengar pekik ketakutan di sana-sini. Sementara itu, Tan Gin Nio yang berdiri di tengah lapangan tiba-tiba menggerakkan jari tangannya ke udara. Entah dari mana, di tangan kanannya telah terjepit kertas hu (jimat) yang dicepit oleh jari telunjuk dan jari tengah. Gin Nio membuat lingkaran aneh di depan dada.
Ketika kepala naga meluncur turun ke arahnya, Gin Nio menggerakkan tangan kanan menuding ke depan dengan jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan. Nampak api keluar dari jari-jarinya menyambut kepala naga, sementara naga itu menyemburkan api panas dari mulutnya. Kedua api bertemu di tengah udara dan saling dorong, akan tetapi pelan tapi pasti, kobaran api dari jari tangan Gin Nio mendesak kobaran api dari mulut naga. Kepala naga itu terbakar hebat, terdengar lengkingan mengerikan ketika asap tersebut berbalik lari memasuki kelenteng.
"Hebat! Luar biasa!" terdengar sorak-sorai menggegap-gempita dari belakang. Tepuk tangan dan sorakan paling lantang keluar dari mulut pengemis gigi tonggos, Pek-tung Lo-kai.
"Wah, cocok! Ya, cocok dia kalau berjodoh dengan dia!"
"Dia siapa, Locianpwe?" tanya Hwie Kian yang berada di samping sobat gurunya itu.
"Dia... ya dia."
"Siapa lagi?"
"Iya, saya tahu, tetapi tentu ada namanya, bukan?"
"Tentu saja!"
"Siapa, kalau saya boleh mengetahui, Locianpwe?"
"Tak usah ya! Itu sih masih rahasia," jawab Pek-tung Lo-kai terkekeh.
"Kalian berdua sedang bisik-bisik apakah? Nampaknya serius benar?" tegur Soo Kian Kun sambil mendekati mereka.
"Lihat! Kembali datang serangan!" Seruan itu mengalihkan perhatian mereka ke arah asap hitam yang datang bergulung cepat, memenuhi seluruh angkasa seakan hendak menutupi permukaan puncak. Namun, asap hitam itu justru turun melingkupi Gin Nio yang masih berdiri tegak menanti serangan. Dari dalam asap keluarlah berbagai macam senjata menghujani dara cantik itu, namun api dari tubuh Gin Nio membungkus dirinya sehingga tak satu pun senjata mampu menembus benteng tersebut.
"Terimalah api dari surga ini!" bentak Gin Nio sambil mendorongkan kedua tangan ke atas. Sinar putih kekuningan meluncur menembus ke dalam asap hitam hingga terdengar ledakan dahsyat disusul kilatan petir yang menyambar ke delapan penjuru angin. Setelah ledakan itu, bulan yang tadi tertutup awan kini kembali bersinar terang.
"Maju! Kita serbu kuil setan itu! Gempur! Basmi sarang iblis!" teriak rombongan itu sambil berlarian menuju pintu kuil dengan senjata terhunus.
Sebelum mengikuti serbuan di pintu kuil Bukit Iblis, mari kita mundur sejenak untuk mengikuti perjalanan Li Cu Liong, Pendekar Naga Terbang, yang mengejar Nelayan Pantai Timur menuju ke Bukit Iblis. Cu Liong berlari seenaknya agar tidak menimbulkan perhatian. Matahari telah sepenggalah tingginya ketika Nelayan Pantai Timur tiba di hutan bambu di lereng Bukit Iblis sebelah utara.
Tanpa menoleh, kakek nelayan itu memasuki hutan bambu. Li Cu Liong merasa dongkol karena sejak berangkat, kakek itu berlari terus tanpa mempedulikannya. Cu Liong mengerahkan ilmu meringankan tubuh dan melesat cepat mengejar. Begitu tiba di samping nelayan tua itu, Cu Liong ditegur, "Cepat! Nanti keburu muridku menjadi korban!"
Nelayan Pantai Timur menikung beberapa kali di rumpun bambu, lalu tiba-tiba merandek di dekat rumpun yang menutup jalan setapak. Ia menoleh ke kanan kiri mencari jalan, tetapi tetap saja tidak ada celah. Sambil menggerutu, ia berbelok di tikungan lain, namun jalan tetap terhalang.
"Kenapa selalu mencari jalan buntu? Apa tidak dapat mencari jalan menuju ke puncak untuk mengejar waktu?" tanya Cu Liong setengah mengejek.
Nelayan Pantai Timur tak memedulikan ejekan itu dan terus mencari jalan hingga keringat membasahi pakaiannya. Akhirnya, ia kesal dan menyuruh Cu Liong untuk memandu mereka. Li Cu Liong diam-diam tertawa, lalu mengangguk.
"Maaf, Locianpwe. Hutan bambu ini bukan sembarang hutan, melainkan sebuah barisan menyesatkan," ujar Cu Liong. Ia pun menghitung langkah kakinya, berbelok setiap tujuh langkah mengikuti pola barisan bintang. Tak lama kemudian, mereka berhasil keluar dari hutan tersebut. Nelayan tua itu tampak kagum dan terus mengikuti Cu Liong hingga mereka memasuki hutan berikutnya. Namun, saat kakek itu mendahului langkah, ia hampir terkena dua anak panah yang meluncur ke arahnya. Cu Liong yang pendengarannya lebih peka telah menangkap desir suara itu dan bersiap menangkis.