Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 49

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 49

Tak-tak!

Empat potongan anak panah jatuh di dekat kakinya. Akan tetapi, keadaan Nelayan Pantai Timur yang meloncat menghindar tadi malahan lebih parah. Kakek ini tidak sengaja menginjak tanah yang menjadi penggerak alat rahasia lainnya.

Siuuttttt!

Daaakkkkk!

Gagang tombak itu bergoyang-goyang mengeluarkan dengung aneh.

"Gila! Semua jalan naik penuh jebakan?" umpat kakek nelayan itu.

"Bagaimana kalau kita melalui pucuk pepohonan, Locianpwe?" usul Cu Liong mencoba mencari jalan keluar untuk mendaki bukit.

Nelayan Pantai Timur tidak segera menjawab. Kaki kanannya mencungkil sebuah batu besar di dekat kakinya.

Krooosakkkkk!

Siuttt-siuuttttt!

Belasan batang anak panah meluncur dari semak-semak rimbun. Sebelum anak panah tersebut habis, tiba-tiba terdengar suara keras di belakang mereka dan Cu Liong dengan cepat meloncat naik sambil menggerakkan tangan kanannya.

Singgg!

Wirr-wierr-wirrr!

Crakkk!

Bruuukkkkk!

Tanah muncrat ke mana-mana tertimpa balok runcing tersebut. Di kanan kiri batang itu tampak mencuat benda mengkilap berwarna putih.

"Uwaaahhhhh, gerigi pedang!" Tanpa dapat ditahan lagi, mulut nelayan tua itu menggumam. Pundaknya diangkat ke atas, bergidik.

Setelah menanti sejenak dan tidak terjadi apa-apa lagi, kedua orang itu pun meloncat ke pucuk pepohonan. Bagaikan dua ekor burung bangau, keduanya meloncat dari pucuk pohon satu ke pucuk pohon lain. Cepat dan indah kedua orang itu bergerak naik. Akan tetapi, Bukit Iblis tidak dapat disebut Bukit Iblis jika begitu mudah dilalui oleh orang yang berkepandaian tinggi sekalipun.

Selagi kedua orang itu berloncatan naik, tiba-tiba tampak dua titik hitam meluncur cepat ke arah mereka.

"Locianpwe, awas!"

Wuttttt!

Plakkkkk!

Krosakkkkk!

Hampir bersamaan, Nelayan Pantai Timur dan Pendekar Naga Terbang terlempar ke dalam rimbunnya dedaunan setelah disambar dua benda hitam tersebut.

"Keparat! Setan hitam pun menanti kita di atas! Benar-benar Bukit Iblis!" umpat kakek itu.

"Garuda hitam?" Cu Liong berseru kagum.

Baru sekali ini pemuda itu melihat burung yang sedemikian besar dan kuatnya. Itu adalah garuda hitam yang besar sekali! Pemuda itu pernah mendengar tentang keganasan burung garuda hitam seperti ini, tetapi tak pernah disangkanya akan bertemu dengan binatang tersebut di hutan iblis ini.

"Hati-hati, binatang itu berbahaya sekali!"

"Ke mana perginya garuda hitam itu, Locianpwe?"

"Entah!"

Li Cu Liong menebarkan pandangan matanya ke angkasa, mencari-cari. Cukup lama ia melihat ke angkasa, namun yang dicarinya tidak muncul juga. Jauh di atas, dari balik awan berarak, tampak dua titik hitam berputar-putar. Makin lama kedua titik itu makin cepat berputar dan terdengar lengkingan tinggi yang menusuk ketika sang jantan memekik memberi tanda kepada betinanya.

Cu Liong mendongak. Tampak dua titik hitam meluncur cepat ke arahnya.

"Cu Liong! Turun kau! Berbahaya!" Suara kakek itu terdengar gemetar. Namun, pendekar kita tetap diam menanti dengan tangan kanan siap di gagang golok pusakanya.

"Haiittttt!" Cu Liong meloncat tinggi ke samping untuk menghindar. Dari samping, tangan kanannya bergerak.

Singgggg!

Tasssss!

Krossakkkkk!

Burung garuda hitam itu menabrak pohon.

"Kaaaaakkkkk! Kaaaaakkkkk!" Terdengar pekik si betina dan burung garuda itu berputar-putar, tidak berani mendekat. Sedangkan burung garuda hitam jantan tampak memekik-mekik kesakitan di kerimbunan daun dan cabang. Suaranya terdengar memilukan. Tampak darah mengucur deras dari sayap kirinya.

"Cepat, Locianpwe!" Nelayan Pantai Timur segera menggenjot tubuhnya melesat ke atas pucuk pohon, disusul dengan cepat oleh pemuda itu. Keduanya berlalu cepat menuju ke pinggir jurang.

"Lho, kenapa malah ke pinggir jurang? Kita akan menuju puncak bukit, bukan kembali turun?" tegur nelayan tua itu.

Cu Liong berhenti sejenak mengawasi kakek tua di sampingnya, lalu tersenyum manis. "Kita mendaki dari tebing itu, Locianpwe. Semua jalan naik penuh dengan jebakan maut. Saya menduga bahwa jalan di pinggir jurang tentu tidak akan dipenuhi dengan jebakan. Maka, kita berdua akan aman jika melalui jalan yang tak pernah diduga manusia akan dilewati, sehingga pendakian kita tidak mendapat gangguan. Betul tidak, Locianpwe?"

"Iya, benar juga jalan pikiranmu, Bocah!"

"Marilah!" Cu Liong lalu melesat mendaki kembali. Keduanya berloncatan dari batu ke batu. Sesekali mereka berhenti karena batu-batu bergulir ketika diinjak kaki Cu Liong yang memimpin di depan. Nelayan tua itu merasa lelah diajak berloncat-loncatan seperti itu, tetapi keinginan yang mendesak untuk membebaskan murid perempuannya membuat kakek itu nekat mendaki, walaupun suara pernapasannya terdengar seperti bunyi lokomotif.

"Kita mengaso di sini dulu! Aku tidak kuat lagi..." Nelayan Pantai Timur langsung duduk di atas batu. Sepasang mata tuanya mengawasi puncak yang sudah tidak begitu jauh lagi. Akan tetapi, melihat tebing menjulang rata menghadang jalan, ia menghela napas panjang.

Bulan telah naik hampir sepenggalah tingginya, bundar bersinar keemasan. Cahayanya yang kuning keemasan itu seakan membuat bumi diselaputi sinar yang membawa perbawa aneh.

"Wah, bulan sedang purnama... Celaka!" kakek tua itu kebingungan sendiri. Napasnya belum begitu sempurna kembali. Menurut cerita, setiap bulan purnama selalu diadakan persembahan bagi dewa-dewa mereka. Dapat dibayangkan betapa bingungnya hati nelayan tua ini. Ia gelisah tidak karuan.

Cu Liong yang melihat ulah kakek nelayan itu menjadi bingung. "Celaka kenapa, Locianpwe? Kan malah kebetulan ada cahaya rembulan yang menyinari sehingga kita dapat meneruskan mendaki tanpa takut jatuh ke jurang."

"Wah, celaka! Benar-benar sialan awakku!"

"Sebabnya?" desak Cu Liong.

"Tepat tengah malam nanti dia... dia... muridku itu pasti dikorbankan. Celaka!" keluhnya.

"Kalau begitu, harap Locianpwe menyusul sendiri!" Tanpa banyak bicara lagi, Cu Liong telah melesat ke atas puncak. Ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sempurna tidak mengalami banyak hambatan mendaki tebing tersebut. Sebentar saja, ia hanya tampak setitik hitam berloncatan cepat menuju ke puncak dan hilang ditelan kegelapan ketika awan lewat menutupi rembulan.

Tan Gin Nio berkelebatan di antara orang-orang yang berlarian menuju ke kuil. Setiap kali tangan Gin Nio bergerak, tampak kertas kuning berizim menempel di kepala orang-orang itu. Sedangkan kepada Pek-tung Lo-kai, Siucai Sinting Soo Kian Kun, serta Thio Hwie Kian, Gin Nio menyerahkan selembar kertas kuning. Masing-masing lalu menempelkan kertas tersebut di dada.

Brakkkkk!

Pintu tebal dari kayu besi tua itu pecah berantakan ketika dihajar tiga tenaga raksasa: Pek-tung Lo-kai, Soo Kian Kun, dan muridnya, si Tinggi Besar. Orang-orang bersorak dan menyerbu masuk. Delapan orang wanita anak buah Cukiok-pang menyambut serbuan itu. Segera terdengar suara dencing beradunya logam. Terjadi perang campuh di pelataran kuil.

Di sudut kuil, tampak bayangan merah berkelebatan menghindar dari serangan kedua tangan kecil yang mengeluarkan suara bercuitan ketika dara jelita murid Nelayan Pantai Timur itu melakukan serangan-serangan hebat.

Pendeta berjubah merah Takonaya kebingungan menghadapi ilmu tangan kosong yang aneh dari lawannya. Tentu saja kebingungan! Semua ilmu hitamnya menjadi tidak ada artinya ketika menghadapi anak gadis yang cantik ini. Anak dara yang pernah akan dijadikan korbannya itu sekarang memiliki ilmu sihir yang lebih kuat dari miliknya.

"Setan!" Ang I Hwesio Takonaya memutar tubuhnya mengelak dan dari samping kaki kanannya melakukan tendangan putaran!

Duukkkkk!

Tubuh Takonaya terlempar ke belakang. Tan Gin Nio menanti dengan kedua kaki terpentang. Sepasang mata dara ini tersenyum mengejek ke arah lawan dan bibirnya mengeluarkan dengusan menghina.

"Bagaimana pendeta cabul? Mana ilmu silumanmu? Keluarkan semua!"

Busssss!

Takonaya membanting benda bulat di depan kakinya dan asap hitam menyelimuti tubuhnya.

Wuttttt!

Gin Nio mendorongkan kedua tangan ke depan. Terlambat sudah! Asap hitam buyar terkena angin pukulan jarak jauh dara murid Nelayan Pantai Timur. Namun, pendeta gundul Takonaya telah raib dari tempat itu. Gin Nio membanting kaki dengan marah. Cepat tubuhnya berkelebat ke dalam kuil.

Pertempuran di pelataran tidak berjalan lama. Para wanita anak buah Cukiok-pang tersebut tidak mampu menahan amukan para tokoh silat dari delapan penjuru yang marah karena banyak kawan mereka tewas akibat jebakan saat menuju puncak bukit. Tanpa memberi ampun kepada lawan sedikit pun, ketika wanita terakhir jatuh, mereka lalu menyerbu ke dalam kuil.

"Kosong?" terdengar teriakan kecewa.

"Aneh... Tak mungkin mereka lenyap begitu saja!"

"Kita cari lebih teliti. Kalau tidak ketemu, bakar saja kuil ini!"

Sebelum orang-orang itu melakukan niat mereka membakar kuil, tiba-tiba terdengar sorakan dan dari pintu kuil yang terbuka masuklah puluhan orang dengan semangat menggebu. Namun, begitu sampai ke halaman, mereka terheran melihat bahwa di tempat itu telah banyak kawan mereka.

"Kenapa kalian tidak masuk saja?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment