Chapter 50
"Hayo, basmi iblis-iblis terkutuk itu!" tegur seorang bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam yang bersenjatakan ruyung besi.
"Maju!" Bagaikan air bah, orang-orang yang baru tiba itu berlarian menuju ruangan depan kuil.
Pek-tung Lo-kai dan Siucai Sinting, Soo Kian Kun, menoleh ke kanan dan kiri, tetapi sosok yang mereka cari tidak terlihat. Begitu melihat orang-orang baru itu memasuki kuil, kedua tokoh tua tersebut kaget.
"Tahan! Jangan gegabah!" seru Pek-tung Lo-kai sambil memburu ke depan.
Sebagian besar orang-orang kangouw itu telah tiba di tengah ruangan depan kuil. Dengan berteriak-teriak dan mengacungkan senjata, mereka membacoki tiang-tiang kuil dan menggulingkan altar sembahyang. Mereka mengamuk seolah-olah kehilangan akal sehat untuk memuaskan kemarahan.
Terdengar suara berderit keras. *Serr-siut!*
"Awas!"
*Ting-ting-ting! Cep-cep-cepp!*
"Aduh, mati aku!"
"Tobat!"
Tubuh-tubuh bergelimpangan, terpantek anak panah atau tombak yang menyambar dari atas penglari. Belum usai kekacauan itu, dari dinding samping menyembur asap berwarna kehitaman. Banyak orang menghirup asap beracun tersebut. Setelah mengeluarkan teriakan mengerikan, mereka berjatuhan dengan kulit tubuh yang berubah hitam akibat racun ganas.
"Kembali cepat! Mundur kalian!" teriak Soo Kian Kun dari halaman kuil.
Tanpa perlu diperintah dua kali, orang-orang yang tadi lancang memasuki kuil segera berlarian mundur keluar. Wajah mereka pucat ketakutan. Mereka tidak menyangka bahwa kuil yang tampak kosong itu menyimpan jebakan yang mampu menimbulkan kerusakan hebat. Begitu tiba di halaman kuil, dengan tubuh menggigil, mereka memandang rekan-rekan mereka yang telah bergelimpangan.
"Huh! Dasar tolol! Tidak mendengar kata orang tua! Sekarang bagaimana? Masih mau unjuk gigi lagi?" tegur Pek-tung Lo-kai kepada rombongan itu. Tak seorang pun berani menjawab.
"Hwie Kian! Ke mana gadis cantik itu? Cepat cari, dan hati-hati terhadap jebakan dalam kuil," perintah Pek-tung Lo-kai kepada pemuda tinggi besar yang mendekat.
"Tunggu! Jangan gegabah!" Soo Kian Kun menarik muridnya ke belakang. Sepasang mata sastrawan tua ini melotot memandang teman karibnya dengan tidak senang.
"Kenapa?" tanya Pek-tung Lo-kai heran.
"Kau ingin muridku mampus ya, dasar tua bangka pikun!"
"Siapa yang menginginkan muridmu mampus? Dia kusuruh mencari dara cantik itu dan membantunya jika menghadapi musuh tangguh. Aku ingin menjodohkan muridmu yang gagah ini dengannya," balas Pek-tung Lo-kai.
"Tua bangka edan! Kau kira tempat ini tidak berbahaya? Lihat buktinya! Darah orang-orang yang terkena perangkap maut itu masih panas, pandang itu baik-baik!" umpat Siucai Sinting.
Pek-tung Lo-kai hanya tertawa terkekeh melihat sahabatnya marah-marah. Thio Hwie Kian sendiri kebingungan menghadapi dua orang tua yang dihormatinya itu. Ia menebarkan pandangan mencari murid Nelayan Pantai Timur yang tadi melawan pendeta gundul berjubah merah, Takonaya. Akan tetapi, sosok mereka tidak terlihat sama sekali.
"Maafkan saya, Locianpwe," ujar seorang lelaki tinggi besar brewok yang menghampiri mereka.
"Ada apa?" bentak Pek-tung Lo-kai.
"Anu, Locianpwe. Apakah tidak sebaiknya kita bersatu untuk mencari musuh bersama? Dengan begitu, kita akan lebih kuat dalam menghadapi ancaman bahaya," usul lelaki itu.
"Benar sekali!" sambut pengemis tua itu dengan cepat. Ia pun memimpin rombongan memasuki ruangan depan dan memeriksa seluruh kuil dengan peringatan agar tidak menyentuh benda apa pun.
"Aneh, ke mana perginya iblis-iblis itu?" Hwie Kian bergumam lirih.
"Ke akhirat mungkin!" sahut gurunya.
Sebelum mereka sempat membuka ruangan besar di belakang, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring di balik tembok kuil. "Lihat asap mengepul di belakang itu!"
Mereka segera berlari menuju tembok di sisi belakang, bahkan ada yang menjebol pintu tembusan dengan kapak besar. Mereka mendekati kepulan asap keputihan itu dengan senjata terhunus. Di balik asap, tampak beberapa wanita bergerak-gerak dan delapan lelaki berjubah abu-abu berjalan mengikuti garis aneh sambil mengeluarkan pujian-pujian.
Bau harum dupa menusuk hidung, menambah suasana seram di puncak Bukit Iblis. Di balik asap itu, berdiri seorang pendeta berjubah abu-abu berambut putih terurai. Di atas batu hitam, sesosok tubuh bugil telentang, tampak keemasan tertimpa cahaya bulan. Dia adalah Dewi Seruni Ungu atau Iblis Penghisap Sukma yang berdiri di sebelah kanan Sim Tok Tojin. Di sebelah kiri, berdiri Takonaya, sang hwesio gundul berjubah merah.
Mata Takonaya menjelajahi seluruh tubuh yang terpampang di depannya. Nafsu jalang merasuki saraf otak pendeta hamba berahi itu hingga matanya memerah. Di belakang Sim Tok Tojin, seorang gadis cantik bernama Gin Nio terikat dengan tangan dan kaki terpentang di bawah patung kepala domba.
Gin Nio bisa berada di sana karena sebelumnya ia mengejar Takonaya ke dalam kuil. Saat ia melancarkan pukulan jarak jauh ke arah pendeta itu, Takonaya menyelinap di balik pintu, menyebabkan pintu tersebut hancur terkena pukulan Gin Nio. Gadis itu kemudian nekat masuk ke dalam kamar, namun kamar tersebut kosong. Ia meneliti ruangan dan menemukan sebuah lubang kecil di dinding. Setelah menusuk lubang itu dengan benda runcing, dinding batu terbuka dan membawanya menuju undakan batu hingga tiba di sebuah ruangan kecil dengan lampu yang bergoyang redup.
"Gundul keparat, serahkan nyawamu!" teriak Gin Nio saat melihat Takonaya duduk bersila di dekat dinding.
Tanpa membuang waktu, ia melancarkan serangan. Namun, anehnya, Takonaya tetap duduk bersila dalam sikap samadhi tanpa mengacuhkan serangan Gin Nio yang mengeluarkan angin tajam. Pendeta itu tampak sudah pasrah pada nasibnya. Gin Nio tertegun melihat sikap lawannya itu.