Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 52

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 52

Namun, tak sedikit pun jeritan keluar dari mulut dara ini. Darah mengalir membasahi altar. Tubuh Lie In Nio menggeliat dan kejang-kejang sebentar sebelum napasnya meninggalkan tubuh yang menjadi korban bagi Dewa Iblis junjungan ketiga orang itu.

Begitu tangan Sim Tok Tojin diangkat, tampak sebuah benda kemerahan bergerak-gerak di tangan tosu berjubah abu-abu itu. Setelah diangkat ke arah patung iblis yang menyerupai domba, benda itu didekatkan ke mulutnya, digigit sedikit, lalu diserahkan kepada Cu Kiok Sianli.

"Hi-hi-hik!" Cu Kiok Sianli menerima benda kemerahan itu, menggigitnya sedikit, lalu menyerahkannya kembali kepada Sim Tok Tojin.

Begitu menerima benda itu, Sim Tok Tojin mengangsurkannya kepada rekannya, yaitu Ang I Hwesio Takonaya. Pendeta gundul ini pun dengan rakus melakukan perbuatan yang sama seperti kedua rekannya. Setelah itu, benda tersebut diserahkan kembali kepada Sim Tok Tojin yang masih berkemak-kemik membaca mantra.

Delapan tosu berjubah abu-abu berbaris maju dengan kepala tertunduk. Satu per satu berlutut dengan sebelah kaki di depan Sim Tok Tojin. Dengan tetap berlutut, para tosu itu melakukan hal yang sama seperti ketiga pemimpinnya secara bergilir. Sementara itu, delapan murid wanita Cukiok-pang hanya maju untuk menerima cawan besar berisi darah wanita korban persembahan.

Ternyata, darah yang mengalir tadi ditampung dalam sebuah cawan perak yang diukir dengan gambar binatang mengerikan seperti iblis bertanduk dengan sepasang sayap kehitaman. Mereka dilayani oleh Cu Kiok Sianli yang maju ke depan mengangkat cawan tersebut.

Bulan agaknya tidak mau melihat kebinatangan manusia penyembah berhala itu. Jijik dan ngeri! Perbuatan para budak iblis itu sungguh luar biasa kejam dan terkutuk. Di mana pun orang telah menjadi budak iblis, perbuatannya pasti tidak ada yang benar. Mereka hanya memuaskan nafsu kebinatangan dan kemaksiatan, tanpa menghiraukan panggilan Thian (Tuhan) yang menuntun manusia menuju jalan yang benar melalui para utusan-Nya. Mereka lupa bahwa akan datang masa pengadilan; pengadilan di mana manusia harus menanggung seluruh perbuatannya ketika masih hidup dan mempertanggungjawabkannya.

Setelah melakukan upacara tersebut, orang-orang itu membentuk barisan kipas. Di belakang mereka, tampak Tan Gin Nio, murid Nelayan Pantai Timur, masih terbentang dalam keadaan terikat di batu iblis.

"Ha-ha-ha... Ayo semua majulah, terima binasa! Ha-ha-ha!" Sim Tok Tojin menantang dengan suara penuh ejekan.

"Budak setan celaka! Penghuni neraka!" umpat beberapa orang lantang.

Aneh sekali! Tiba-tiba garis yang tadi tampak menghitam seperti lingkaran telah hilang tanpa bekas. Ketika para orang kang-ouw melihat itu, mereka melangkah maju. Ternyata tidak terjadi apa pun. Dengan kemarahan yang meluap melihat perbuatan iblis tersebut, para pesilat itu maju dengan satu tekad: bunuh semua iblis bertopeng manusia itu dan jangan biarkan satu pun lolos!

"Bunuh! Musnahkan mereka!"

"Basmi iblis neraka!"

"Maju! Serang!"

Melihat para pesilat telah mencapai undakan bawah altar, Sim Tok Tojin mengeluarkan lengkingan tinggi yang menusuk jantung. Kedua tangan pendeta berambut putih itu bergerak melakukan pukulan jarak jauh menyongsong para penyerbu. Bibir pendeta tua itu menyunggingkan senyum menghina.

"Tahan!" teriak Pek-tung Lo-kai dan Soo Kian Kun beserta muridnya sambil menjulurkan tangan untuk menyambut.

*Glaaarrr!*

Ketiga orang itu terpental ke belakang bagaikan layang-layang putus tali, menabrak orang-orang di belakang mereka hingga jatuh tumpang tindih. Sungguh hebat luar biasa kekuatan tenaga sakti Sim Tok Tojin saat ini, beberapa kali lipat lebih kuat daripada ketika mereka keroyok di Hong-ma-cung tempo hari.

"Haha! Hihik-hik! Huahhahkek!" Tawa penuh ejekan bergema di puncak Bukit Iblis.

Melihat lawan tumpang tindih dalam sekali serang saja membuat mereka tertawa senang. Namun, ulah para penyembah berhala itu tidak berhenti di situ. Sekali mengangkat tangan memberi isyarat, Sim Tok Tojin meluncur ke depan.

*Trang-tring-cring!*

Begitu tosu tua itu bergerak, banyak senjata terpental dari tangan para pengeroyok.

"Ha-ha-ha, mampuslah!" Sambil tertawa terbahak-bahak, Sim Tok Tojin menebar maut. Setiap kali kedua tangan dan kakinya bergerak, pasti ada korban. Ada yang terlempar dengan kepala remuk akibat tamparan tosu tua ini, ada pula yang hancur dadanya terkena gedoran tenaga dalam yang luar biasa. Banyak juga yang terkena tendangan menggelegar dari kaki yang memiliki tenaga gajah.

"Hi-hi-hik, mari, mari tampan. Mari ikutlah aku!" Cu Kiok Sianli melakukan tendangan dua kali ke arah dua pengeroyok tua. Kaki kanannya menangkis tangan berpedang lawan dengan satu sapuan terbang. Begitu tangan lawan tertangkis, Cu Kiok Sianli menggunakan tenaga dorong itu untuk membalik dan melakukan tendangan berputar cepat.

*Kleeeakkk!*

Begitu kepala musuhnya pecah dan terkulai, nyawanya segera menghadap Giam-lo-ong. Cu Kiok Sianli kemudian menubruk seorang lelaki muda yang bertubuh tinggi besar.

"Hi-hi-hik, mau lari ke mana?"

*Plakk!*

Pemuda itu lemas dalam pondongan wanita iblis tersebut. Sambil mengeluarkan kekeh genit, wanita itu membawa tubuh korbannya ke atas altar. Tanpa mempedulikan rekan mereka yang masih menebar maut, begitu tiba di belakang batu hitam, wanita cabul tersebut melucuti pakaian korbannya lalu memasukkan segenggam pil ke dalam mulut pria itu. Tanpa malu, iblis itu melolos seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya sendiri. Tanpa menunggu reaksi obatnya, Cu Kiok Sianli melakukan perbuatan tak senonoh di bawah patung sesembahannya. Sepasang mata kemerahan dari patung itu bersinar girang melihat manusia melakukan dosa.

"Hieh-hieh-hieh, sekaranglah aku dapat memuaskan hasratku kepadamu, Manis!" Ang I Hwesio melangkah satu per satu mendekati wanita yang masih terikat di patung batu. Sepasang mata pendeta gundul Takonaya itu menjelajahi lekuk tubuh Gin Nio. Napasnya mendengus-dengus menahan gelora, sementara air liur menetes di sudut bibirnya seperti anjing gila.

"Tunggu sebentar, Manis, pinto akan membawamu terbang ke surga, ha-hahakkk!"

Melihat wanita cabul itu telah menaiki kuda tunggangnya, Takonaya dengan tergesa melolos jubah merahnya dan menubruk korbannya yang sekarang sudah siuman. Tan Gin Nio membelalakkan mata melihat pemandangan di depannya. Di mana Cu Kiok Sianli sedang melahap orang tinggi berwajah tampan yang tampak seperti gila menyambut serangan perempuan cabul itu. Gin Nio segera membuang muka ke kiri dan ingin memejamkan mata saja. Namun, bangsat gundul itu mendekatinya selangkah demi selangkah bagaikan macan yang siap mengoyak buruannya.

"Hiiiaaaaatttt!!!"

*Desssss!*

Ang I Hwesio Takonaya terpental ke belakang saat menyambut pukulan seseorang yang melayang datang. Tubuh pendeta itu berguling-guling menuruni undakan batu altar. Untunglah, pendeta gundul itu memiliki tubuh kebal sehingga tidak menderita luka dalam yang parah. Namun, begitu Takonaya berdiri dan melihat siapa penyerangnya, mata hwesio berjubah merah itu melotot tak percaya.

Li Cu Liong telah berada di dekat Cu Kiok Sianli yang sedang menghisap hawa murni melalui perbuatan mesumnya. Wanita itu tidak mempedulikan sekeliling, perhatiannya hanya tertuju pada rasa nikmat. Ia tidak mendengar teriakan kaget rekannya.

*Desssss!*

Tubuh wanita cabul itu terlempar ke udara setelah ditendang pinggulnya oleh Cu Liong. Walaupun berhasil menendang pinggul wanita iblis tersebut, tak urung wajah pemuda itu memerah melihat perbuatan tak tahu malu itu.

"Jangan pergi... Aku, aku masih mau..." Pemuda tinggi besar itu berteriak keras. Sepasang matanya merah mengawasi ke kanan dan ke kiri. Begitu melihat dara yang terikat di patung batu, ia segera menubruk maju!

"Ihhhh!" Gin Nio membuang muka sambil memejamkan mata, hatinya terasa ngeri membayangkan apa yang akan menimpa dirinya yang tak berdaya. Ia telah berkali-kali mencoba mengerahkan tenaga lweekang untuk memutuskan rantai di tangan dan kakinya, namun tenaga dalamnya tidak mau timbul. Gin Nio menjadi panik luar biasa.

*Tuk! Tuk! Bluk!*

Sepasang matanya bertemu dengan senyum manis dan tatapan penuh kasihan dari Li Cu Liong, murid Pendekar Golok Terbang, sahabat gurunya. Sebelum Gin Nio membuka mulut, tiba-tiba ia melihat bayangan hijau berkelebat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment