Chapter 53
"Tasss! Tasss! Cringg-cringgg!!"
Tubuh Gin Nio terhuyung ke depan begitu rantai kaki dan tangannya terputus oleh Golok Pusaka Naga Terbang. Gadis cantik itu nyaris menubruk lelaki di depannya jika saja sebuah lengan kokoh tidak menyambar lengan kanannya.
"Terima kasih, Liong-ko," ucap Gin Nio dengan mata basah. Ia tidak berani menatap mata Cu Liong karena malu.
Tuk! Gin Nio merasa jalan darahnya kembali lancar. Segera ia menyalurkan tenaga dari *tan-tian* ke seluruh tubuh. Begitu merasa pulih, ia memandang ke arena pertempuran di bawah altar.
"Celaka... Kita harus cepat menolong mereka!" serunya kaget melihat Pek-tung Lo-kai, Siucai Sinting, dan Thio Hwie Kian pontang-panting menahan serangan Sim Tok Tojin.
Li Cu Liong menoleh dan wajahnya berubah cemas saat melihat Hwie Kian terancam maut di tangan tosu durjana itu. Tanpa basa-basi, Cu Liong melesat dari atas altar menubruk Sim Tok Tojin. Kedua tangannya terulur membentuk cakar. Bagaikan meteor, tubuhnya meluncur cepat.
Sim Tok Tojin yang sedang tertawa-tawa menghajar lawan-lawannya merasa kaget saat merasakan angin dingin mengarah ke tengkuknya. Cepat ia membalikkan tubuh, memasang kuda-kuda, dan mengangkat tangan untuk menyambut pukulan itu dengan mengerahkan seluruh tenaga *lweekang*. Ia yakin lawannya akan mampus terkena pukulan beracun miliknya.
*Blarrrr!*
Akibatnya dahsyat. Sim Tok Tojin terdorong mundur lima langkah. Wajahnya berubah mengerikan saat memandang lelaki muda yang berdiri sepuluh langkah di depannya.
"Kau... Keparat!" umpatnya.
Li Cu Liong sempat terlempar ke atas akibat ledakan tenaga tersebut, namun dengan gerakan indah, ia menggeliatkan tubuh dan mendarat ringan di batu depan altar. Ia memandang tenang ke arah lawannya.
"Iblis kerak neraka! Lihat itu korban terakhirmu! Biadab!" Cu Liong tak mampu berkata-kata lagi melihat tubuh tanpa jantung milik Lie In Nio, murid wanita Hoa-san, yang tergeletak di atas altar.
"Ha-ha-ha, malam ini malam terakhir kalian melihat indahnya dunia! Semua orang *kang-ouw* harus tunduk kepadaku! Akulah Dewa Kehidupan, haha!" Sim Tok Tojin tertawa ngakak.
"Tosu gila! Manusia iblis, agaknya kau sudah sinting!" bentak Cu Liong sambil mengelak dari serangan. Ia membalas dengan hebat. Saat tangannya beradu dengan lengan kurus pendeta berambut putih itu, terdengar suara tulang beradu dan Sim Tok Tojin kembali terhuyung mundur. Pendeta itu kaget luar biasa karena tenaga hitamnya tidak mampu menembus tenaga sakti milik Pendekar Naga Terbang.
"Keparat, mampuslah!" Sim Tok Tojin menggerakkan tongkat hitamnya yang muncul secara misterius seolah menggunakan sihir.
Li Cu Liong tidak lengah. Ia segera mencabut golok hijaunya dan memainkan Ilmu Silat Seribu Bintang. Sinar hijau bergulung-gulung, membelit sinar hitam dari tongkat Sim Tok Tojin. Keduanya terlibat pertempuran sengit yang hanya menyisakan kilatan cahaya hijau dan hitam.
Sementara itu, Ang I Hwesio Takonaya yang sempat terlempar akibat tendangan Cu Liong berhasil bangkit. Ia menyelinap dan mengenakan jubah seorang pendeta yang telah tewas di tengah banjir darah di puncak tersebut. Baru saja ia selesai berpakaian, sebuah toya putih meluncur ke arah perutnya. Takonaya melompat ke samping dan menangkis totokan *mouw-pit* besi milik Thio Hwie Kian, lalu meloncat ke undakan altar.
"Mau lari ke mana, bangsat gundul?" Si Tua Tonggos mengejar diikuti Hwie Kian. Takonaya segera mengambil senjata rantai dengan ujung tengkorak dan pisau tajam, lalu meladeni kedua orang itu.
Pek-tung Lo-kai menggerakkan tongkatnya dengan Ilmu Tongkat Penakluk Srigala, namun Takonaya mampu mengimbangi dengan ilmu sihirnya. Rintihan memilukan terdengar dari kepala tengkorak di ujung rantai itu. Pek-tung Lo-kai bergidik ngeri saat bau amis melewati kepalanya. Namun, berkat kertas jimat pemberian Tan Gin Nio, ilmu sihir Takonaya nyaris tidak berfungsi, sehingga ia perlahan mulai terdesak.
Di sisi lain, Cu Kiok Sianli mengamuk hebat. Wanita itu menghajar para penyerang dengan kelincahan yang mematikan. Lima orang terlempar dengan kepala remuk akibat tamparannya.
"Mundur kalian! Serahkan iblis betina ini kepadaku!" teriak sebuah bayangan. Tan Gin Nio melesat dan menangkis tendangan Cu Kiok Sianli yang mengarah ke kepala salah seorang murid Kera Sakti.
*Duk!*
Cu Kiok Sianli menjerit kaget, namun segera berputar di udara dan mendarat dengan anggun. Dengan mata merah penuh amarah, ia menerjang Gin Nio. Keduanya terlibat pertarungan sengit. Saat Cu Kiok Sianli menerjang dengan kedua tangan membentuk tombak, Gin Nio menghindar, menggeliat di udara, dan menotok tengkuk lawannya. Tanah berlubang saat totokan Gin Nio meleset tipis, dan segera gadis itu mengejar Ketua Cu-kiok-pang tersebut.