Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 54

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 54

Sing! Tak!

Ternyata sambil bergulingan, Cu Kiok Sianli menyambar sebatang pedang bekas lawannya dan menyambitkannya ke arah tubuh yang meluncur datang. Begitu melihat serangan itu dipunahkan, Cu Kiok Sianli menyambar kembali sebatang pedang di tanah dan memutarnya cepat di depan dada.

Terdengar suara bercuitan tajam ketika Iblis Penghisap Sukma yang bugil itu menerjang maju. Pedangnya bergerak cepat dan susul-menyusul ketika dapat dielakkan lawan, tanpa memberi kesempatan bernapas sama sekali. Ke mana pun Gin Nio mengelak, terus dikejar sinar pedangnya.

Wir!

"Ih, hampir saja!" Gin Nio mendesah sambil berputar di udara lima kali. Tubuhnya melompat menjauhi lawannya.

"Mampuslah!" Cu Kiok Sianli meluncur dengan ujung pedang melakukan tusukan secara beruntun.

"Celaka!" Tanpa sadar Gin Nio menjerit. Tubuhnya terguling ke belakang saat mengelak mundur dan kakinya tersandung mayat seorang tosu berjubah abu-abu. Gin Nio melihat ujung pedang yang mendatangi itu dengan mata tak berkedip.

"Hi-hi-hik!" Cu Kiok Sianli merasa bahwa sekarang ujung pedang di tangan kanannya akan mendarat di dada lawan muda itu. Ia tertawa senang penuh kemenangan.

Cring! Des!

Cu Kiok Sianli melepaskan pedangnya. Telapak tangan yang memegang gagang pedang serasa terkelupas saking hebatnya tenaga yang menangkis senjatanya. Sebelum wanita itu dapat menguasai diri, tahu-tahu sebuah tendangan telah mendarat di pahanya.

"Bedebah! Siapa kau?" bentak Cu Kiok Sianli sambil memasang kuda-kuda sejajar.

"Gila! Cabul! Tak tahu malu!" Kakek itu menyumpah-nyumpah.

Ternyata kakek aneh yang dapat meloloskan Gin Nio dari maut itu adalah seorang nelayan tua. Benar sekali, dia tidak lain adalah Nelayan Pantai Timur.

"Suhu, awas!" Wut!

Cakaran kedua tangan Cu Kiok Sianli luput. Begitu ia mau melanjutkan serangannya, Gin Nio telah meloncat dengan kedua tangan melakukan serangan berbahaya. Otomatis Cu Kiok Sianli membatalkan serangannya tadi dan menangkis.

Plak! Duk!

Kedua wanita itu terdorong ke belakang saking hebatnya tenaga yang tersalur. Akan tetapi, Cu Kiok Sianli segera menyambar senjata di bawah kakinya ketika melihat dua orang lawannya mendekat bersamaan. Sambil mengeluarkan umpatan keji dan kotor, ia memainkan ilmu pedangnya menahan serangan lawan. Pertarungan sengit segera terjadi. Yang tampak hanya tiga bayangan berkejaran di dalam gulungan sinar pedang Cu Kiok Sianli.

Dalam hati iblis wanita ini mengeluh. Pembasmian anak buah Cu Kiok Pang dan para tosu berjubah abu-abu terjadi dengan hebat dan buas. Apabila ada seorang wanita Cu Kiok Pang yang roboh, segera saja mereka dihujani senjata tajam hingga tubuhnya menjadi onggokan daging. Demikian pula dengan para tosu tersebut, tak seorang pun dibiarkan lolos. Ternyata semua ilmu yang mereka latih, yang menurut pemimpin mereka dapat menjamin kehidupan abadi, hanyalah kosong belaka.

Tubuh mereka yang katanya kebal ternyata masih dapat termakan senjata orang-orang yang mengenakan kertas bertuliskan huruf merah pemberian Gin Nio tadi. Maka setelah orang terakhir dari para tosu itu terguling dan menjadi cacahan, murid Cu Kiok Pang pun harus menebus dosa mereka. Mampus di bawah hujan senjata para pengeroyoknya!

Jumlah pengeroyok itu kini hanya tinggal sepertiga. Mereka melihat ke arah tiga arena dengan penuh kagum. Tampak Siucai Sinting Soo Kian Kun berloncatan menuju ke atas altar.

"Cepat habiskan nyawa keledai gundul itu!"

"Main perintah saja mudah! Cepat bantu aku!" Pek-tung Lo-kai menjawab sewot sambil menggulingkan tubuh mengelak dari pisau di ujung rantai. Pisau berantai itu masih meluncur ke arah altar.

Crot!

Dada lelaki tinggi besar korban racun Iblis Penghisap Sukma terpantek pisau sampai tembus. Lelaki ini agaknya telah terbebas dari totokan yang tidak berat yang dilakukan Pendekar Naga Terbang tadi. Di bawah pengaruh racun yang dijejalkan Cu Kiok Sianli, pemuda itu melangkah terhuyung-huyung ke arah altar, di mana tubuh bugil Lie In Nio masih telentang di atas batu hitam. Dada dara murid Hoa-san ini masih mengucurkan darah dari lubang yang dibuat oleh Sim Tok Tojin saat iblis itu mengambil jantungnya. Tanpa mengerti apa-apa, orang tinggi besar itu menaiki tubuh tersebut dan ingin menyalurkan nafsu kebinatangan yang dikobarkan obat Cu Kiok Sianli.

"Uh-uh-uh!" Takonaya menarik rantainya, tetapi agaknya rantai tersebut terselip di tulang korbannya. Korban yang sedianya ditujukan kepada Pek-tung Lo-kai itu meleset dan mengenai lelaki yang sedang menaiki tubuh di atas altar.

Croot-crott! Takk!

Kepala Takonaya kena kemplang tongkat putih Pek-tung Lo-kai. Agaknya kepala gundul itu keras luar biasa sehingga hanya isi kepala yang hancur di sebelah dalam, sementara kepala itu melesak ke dalam dada melalui leher. Ketika kepala itu terpukul tongkat putih, tusukan mouw-pit besi di tangan Thio Hwie Kian telah lebih dahulu mengenai dada pendeta jubah merah itu. Pendeta gundul itu tewas secara mengerikan.

"Heh-heh-heh! Akhirnya mampus juga keparat gundul ini!" Pek-tung Lo-kai meludahi kepala gundul Takonaya. Lalu ia membalik dan memutuskan rantai yang mengikat Lie In Nio, sebelum mengambil pakaian Dewi Seruni Ungu dan menutupkannya di tubuh murid Hoa-san itu.

"Ih, kasihan!" Ketika ketiganya menebarkan pandangan, tampak Dewi Seruni Ungu terdesak ke tepi jurang oleh Nelayan Pantai Timur dan muridnya. Sementara di pihak lain, dua sinar hitam dan kehijauan saling libat dengan seru antara Sim Tok Tojin dan Li Cu Liong, Si Pendekar Naga Terbang.

Ketiganya merasa kagum melihat kelihaian anak muda tersebut.

"Heh-heh, lihat semua mata melotot melihat kekasihmu itu," Pek-tung Lo-kai berkata lirih kepada Soo Kian Kun.

"Tentu mereka membayangkan bagaimana nikmatnya tidur dengan tubuh demikian eloknya, ya?"

"Huuih, cabul kau, Pek-tung! Agaknya senjatamu itu pun bernyanyi, ya? Cepat sana mendekat agar lebih jelas lagi!" Soo Kian Kun mengejek.

"Aku? Senjataku? Tak usah ya. Aku tahu siapa nenek-nenek itu sebetulnya, ha-ha-ha!" Pek-tung Lo-kai tertawa terbahak. "Tetapi kau yang tergila-gila kepadanya itu pasti tidak tega kalau kecintaanmu mampus! Benar, nggak?"

"Gila! Omongan bau apa ini?"

"Eit-eit! Tak usah marah-marah!" Pek-tung Lo-kai melesat menghindar ketika Soo Kian Kun menggerakkan senjata pit yang ampuh.

"Jangan lari kau, pengemis bau! Kau harus menebus penghinaan ini!"

"Eh-eh-eh, sabar!" Pek-tung Lo-kai pun menggerakkan tongkat putihnya menahan serangan sepasang mouw-pit besi yang tak boleh dipandang ringan. Soo Kian Kun segera menghentikan serangannya dan melotot penuh kemarahan ke arah pengemis tonggos itu. Yang dipelototi hanya cengar-cengir.

Sim Tok Tojin, ketika melirik ke arah teman-temannya, berubah wajahnya. Pendeta itu menjadi keder. Apalagi ketika terdengar sorakan girang atas terbunuhnya Takonaya, hatinya tambah menciut. Namun, pendeta berambut putih ini semakin ganas memainkan toya hitamnya. Ia menyerang kalang-kabut dibarengi bentakan penuh tenaga sihir.

Akan tetapi, lawannya adalah Pendekar Naga Terbang, pewaris ilmu dalam Kitab Menjala Langit yang luar biasa. Semua bentakan sihir Sim Tok Tojin bagaikan angin lalu di telinganya. Malah sekarang, permainan Golok Naga Terbang yang bersinar hijau itu semakin hebat. Jurus-jurus aneh dan sukar yang dulu tidak dapat diuraikan, sekarang menjadi terbuka ketika berkelebatan mengelilingi tosu berjubah abu-abu itu.

Tak satu pun serangan tongkat hitam dapat menyentuh ujung baju pemuda itu. Malah, beberapa kali Sim Tok Tojin mengeluarkan teriakan terkejut saat mendapat serangan balasan.

"Hiaaat!" Cu Liong melesat dari atas sambil menebas kepala Sim Tok Tojin. Terdengar angin bercuit mendahului babatan golok hijaunya. Sim Tok Tojin, yang tubuhnya terputar akibat kuatnya serangan tongkat, terkejut setengah mati. Dengan susah payah ia merendahkan tubuh dan bergulingan, sementara tongkat hitam diputar melindungi tubuh atasnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment