Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 55

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 55

Trak! Trang! Cring!

Bunga api berhamburan ke segala arah. Dua tenaga raksasa yang menggerakkan senjata itu untuk kesekian kalinya bertemu.

"Hancur kakimu!" bentak Sim Tok Tojin menggelegar.

Li Cu Liong, yang sudah memperhitungkan semua gerakannya, tidak menjadi gugup dengan sambutan lawannya. Tanpa ragu sedikit pun, Cu Liong menotolkan sepatunya menyambut tongkat.

Tuk!

Tubuh Cu Liong terpental balik ke atas. Dari atas, kembali Cu Liong menggerakkan tangan kanan. Sing! Sinar hijau berkelebat ke arah kepala Sim Tok Tojin. Jangan dipandang ringan golok berputar yang menyerang kepala ini; sekali saja kepala Sim Tok Tojin terkena tebasan, jangan harap pendeta bau ini bisa melihat matahari keesokan harinya!

Trak!

Sim Tok Tojin menjerit kaget ketika tongkat di tangannya terasa ringan. Ketika sepasang matanya melihat ujung tongkat, hatinya tercekat. "Gila!" umpatnya dalam hati.

Sim Tok Tojin mengawasi anak muda di depannya penuh kemarahan. Akan tetapi, hatinya telah hancur berkeping-keping mendapat kenyataan betapa lihainya anak muda itu. Sambil berkemak-kemik, Sim Tok Tojin mendorongkan kedua tangan setelah melempar potongan tongkat!

Dess!

Cu Liong menyambut pukulan kedua tangan itu dengan kontan. Keras lawan keras. Pemuda ini tidak mau menggunakan kesempatan saat lawannya tidak memegang senjata, ia pun memasukkan golok pusaka ke sarung. Dua tangan Cu Liong disaluri tenaga dalam dari ajaran San In Lojin. Sim Tok Tojin terpental ke belakang sampai dua tombak. Tubuh pendeta ini bergulingan di tanah. Kebetulan sekali ia berguling ke arah orang-orang yang sedang menonton pertarungan antara Nelayan Pantai Timur yang dibantu murid perempuannya melawan Cu Kiok Sianli yang sedang dalam keadaan bugil.

"Bunuh!" teriak salah seorang saat melihat tubuh pendeta itu menuju ke arah mereka. Mendengar teriakan ini, mereka menengok dan mengangkat senjata untuk menyambut.

Plak! Plak!

Beberapa orang terdepan mencelat ke kanan dan kiri akibat amukan pendeta berjubah abu-abu tersebut. Ternyata, walaupun dalam keadaan setengah tidak berdaya akibat beradunya tenaga pukulan tadi, Sim Tok Tojin masih tidak boleh dipandang ringan. Begitu orang-orang itu mendekat, segera saja Sim Tok Tojin membalik dan menggerakkan kaki tangannya mengamuk. Tentu saja mereka menjadi makanan empuk bagi Sim Tok Tojin.

Akan tetapi, sebelum pendeta itu dapat memuaskan amukannya, tiba-tiba terasa angin dingin menerpa punggungnya!

Dess!

Kembali Sim Tok Tojin terlempar bergulingan.

"Mundur! Biarkan aku sendiri yang menghadapi pendeta murtad ini!" Cu Liong berteriak lantang. Lalu, ia menerjang ke depan lagi.

Serr! Tak!

Dua pisau terbang itu pun runtuh ke tanah karena dikibas tangan Cu Liong. Tubuhnya tetap meluncur ke depan menerjang Sim Tok Tojin.

"Haiit!" Sim Tok Tojin membentak dan melemparkan dua bola bulat ke arah Cu Liong.

"Hati-hati! Benda itu bisa meledak!" Pek-tung Lo-kai memperingatkan.

Walaupun tidak diperingatkan sekalipun, Cu Liong telah tahu. Sebab, pernah di Hong-ma-cung pendeta ini berbuat hal yang serupa ketika menghilang dari kepungan itu. Maka, dengan tangkas Cu Liong mengulurkan kedua tangan.

Tap! Tap!

Dua bola mendarat lunak di telapak tangan yang lembut itu. Cu Liong menggunakan tenaga lembek Bian-ciang untuk menyambut, dan langsung saja ia lempar ke arah atas!

Duaaarr!

"Awas! Minggir! Batu besar itu runtuh!" Terdengar suara gemuruh ketika patung kepala iblis itu jatuh menggelinding akibat ledakan dua bola. Ternyata altar batu itu pun hancur tertimpa patung batu. Batu besar bundar itu menggelinding menuruni undakan batu dan terus menerjang ke depan, melumatkan apa saja yang menghalangi jalannya.

Broool!

Tembok dinding belakang kuil itu pun jebol tertabrak batu bundar besar tersebut. Batu itu masih terus menggelinding turun, menghancurkan bangunan kuil hingga debu mengepul tebal saat kuil itu ambruk! Kembali terdengar suara menggelegar ketika batu besar itu menabrak tembok depan dan terus menggelinding keluar menuju ke arah barisan batu depan kuil.

Brak!

Semakin banyak batu-batu menggelundung mengikuti batu besar itu karena kuat dan beratnya batu yang menggelinding dari puncak tersebut. Terdengar suara keras sekali ketika akhirnya batu besar bundar itu jatuh ke jurang yang curam. Debu tebal menutupi puncak!

Cu Liong tidak mau melepaskan pembunuh sadis Sim Tok Tojin. Apalagi bayangan dada terbuka di atas altar tadi masih membayang di depan matanya, korban kekejian pendeta penyembah berhala ini. Cepat sekali Cu Liong mencecar Sim Tok Tojin dengan ilmu silat tangan kosong. Sim Tok Tojin masih mencoba untuk membendung semua serangan Pendekar Naga Terbang, namun tetap saja beberapa pukulan lolos dari perhatiannya dan mendarat di tubuh tuanya. Beberapa kali pendeta berjubah abu-abu ini berteriak kesakitan ketika tubuhnya yang penuh tulang itu harus menerima hajaran penuh sinkang dari Pendekar Naga Terbang!

"Mau lari ke mana, bangsat!" Cu Liong tak memberi kesempatan sama sekali kepada pendeta itu.

Dess! Tendangan terbang pemuda itu tepat mendarat di punggung Sim Tok Tojin yang sedang mencoba kabur.

Bluk!

"Huueek!" Begitu mengukur tanah, Sim Tok Tojin muntah darah!

"Hati-hati!" Cu Liong memperingatkan.

Crott!

Tangan kanan Sim Tok Tojin masuk ke dalam kepala Mo Sin Kou, murid kepala Perguruan Kera Sakti. Tanpa mengeluarkan teriakan lagi, tubuh Sin Kou menindih Sim Tok Tojin. Beberapa orang lagi maju dengan senjata teracung!

Prak!

Dua kepala pecah akibat beradu dengan kepala Mo Sin Kou yang kakinya dipegang Sim Tok Tojin dan diputar-putarkan. Dengan buas bagaikan orang kesurupan setan, Sim Tok Tojin kembali mengamuk.

"Mundur!" kembali Cu Liong berteriak menggelegar!

Langsung saja tangan kanan Cu Liong meraih ke pinggang dan berkelebat ke arah depan.

Sing! Wir!

Sim Tok Tojin yang mendengar desing tajam dari arah samping menjadi kaget. Begitu pendeta berjubah abu-abu ini menoleh, sepasang matanya terbelalak melihat kitiran bersinar hijau dari putaran Golok Pusaka Naga Terbang telah berada di depan mata! Sebelum ia dapat menguasai diri untuk memusnahkan senjata itu atau menghindar, tahu-tahu kepalanya telah tercelat akibat terlanggar lehernya oleh sinar hijau.

Tubuh tanpa kepala itu masih dapat maju beberapa langkah, namun akhirnya jatuh tersungkur ke depan mengukur panjang tanah di bawahnya!

Cu Liong menerima kembali golok yang berputar dengan tangan kanannya, lalu tanpa banyak suara lagi, pemuda itu menuju ke arah pertempuran di tepi jurang. Langkahnya tampak berat melihat korban yang berjatuhan di puncak bukit itu. Sepasang matanya basah oleh rasa kasihan!

"Hi-hi-hik, menyerahlah, Nenek tua! Ini di sini ada...!" Pek-tung Lo-kai segera menahan omongannya ketika sepasang matanya beradu pandang dengan guru dan murid pelajar itu. "Kami yang siap untuk mengeroyokmu kalau kau tidak cepat menyerah!" akhirnya keluar juga kata-kata yang lain dari maksudnya yang pertama tadi.

"Lebih baik mati!" Cu Kiok Sianli menjadi nekat ketika melihat semua sekutunya telah tewas. Dengan nekat, wanita iblis ini lalu merangsek kepada gadis cantik itu. Semua serangan mautnya diarahkan kepada Gin Nio. Cu Kiok Sianli ingin mengajak gadis muda itu menjadi kawan seperjalanan menuju ke akhirat menghadap Giam-lo-ong. Ini adalah kemauan dari Iblis Penghisap Sukma itu.

Yang diajak dan dicecar tentu saja tidak mau. Dengan lincah dan gesit, Gin Nio mengelak dari setiap serangan lawan. Malahan ia tidak mau kalah dalam membalas serangan. Perhatian Dewi Seruni Ungu yang hanya tertuju kepada gadis muda itu membuat banyak lowongan di tubuhnya sendiri yang bugil. Nelayan Pantai Timur tentu saja tidak mau melewatkan kesempatan yang amat baik ini. Maka, ketika dalam marahnya Cu Kiok Sianli menubruk muridnya dengan kedua tangan membentuk cengkeraman terulur ke depan, nelayan tua itu pun melesat ke depan dengan kedua kaki melakukan tendangan terbang berantai.

Wut!

Cengkeraman Cu Kiok Sianli dihindarkan Gin Nio dengan lompatan ke samping. Sebelum Cu Kiok Sianli dapat menguasai tubuhnya kembali, ia kaget melihat kedua kaki nelayan tua itu meluncur cepat sekali di depan matanya. Dengan susah payah wanita ini berusaha untuk membendung datangnya sepasang kaki yang melakukan tendangan berantai itu. Namun celaka! Cu Kiok Sianli tidak melihat di belakangnya telah menanti jurang yang curam luar biasa. Sebelah kakinya menginjak tempat kosong.

Dess!

Dada Iblis Penghisap Sukma terhajar tendangan Nelayan Pantai Timur. Tubuh Cu Kiok Sianli mencelat ke tengah jurang! Terdengar lengking kematian panjang keluar dari mulut wanita jalang itu. Tubuhnya jatuh ke jurang yang tak terukur dalamnya dari puncak Bukit Iblis, dan di bawah telah siap menyambut tubuh bugil itu dengan batu-batu besar yang runcing! Nyawa wanita pengumbar nafsu itu segera menyusul sekutu mereka menemui tuannya dan meminta tempat di neraka, di mana yang ada hanyalah siksaan abadi!

Gin Nio menoleh ketika mendengar langkah kaki berat ke arahnya. Sepasang mata murid Nelayan Pantai Timur itu bercahaya ketika tahu siapa laki-laki muda tampan yang mendekatinya.

"Liong-ko!" desahnya lirih.

"Gin-moi!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment